Steve Lim tak pernah menyangka dirinya akan dijebak oleh oknum pemerintah yang bekerja sama dengan organisasi mafia yang dipimpinnya, mereka ingin menjebloskan Steve Lim ke penjara dengan dugaan pemerasan serta pencucian uang atas tanah di wilayah Makau yang terkenal dengan pusat industri kasino globalnya. Dimana Makau dijuluki Las Vegas dari Timur.
Pada saat dia mencoba menyelamatkan dirinya dari jebakan para oknum pemerintah, tak sengaja dia bertemu dengan seorang gadis bernama Ruolan Tan yang membantunya bersembunyi dari kejaran musuhnya.
Bagaimana kisah mereka berdua selanjutnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 APA YANG TERJADI ?
Setelah Steve Lim selesai menjelaskan semuanya, Ruolan Tan memandang ke luar jendela, mencoba memproses semua informasi yang baru saja dia dengar. Setelah beberapa menit, dia memandang Steve Lim dengan mata yang penuh emosi.
"Steve, aku... aku tidak tahu apa yang harus aku katakan," katanya, suaranya bergetar.
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh kesedihan. "Aku tahu, Ruolan. Aku tahu aku telah membuat kamu tidak percaya. Tapi aku berjanji, aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kepercayaan kamu kembali."
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan mata yang penuh kecurigaan. "Aku ingin tahu, Steve. Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku akan melakukan apa saja untuk menghentikan Menteri Chen. Aku akan mengungkap kebenaran tentang kematian Wong dan membuat Menteri Chen membayar atas kejahatannya."
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan mata yang penuh tekad. "Aku akan membantu kamu, Steve. Aku tidak akan membiarkan Menteri Chen lolos begitu saja."
Steve Lim tersenyum, merasa lega bahwa Ruolan Tan masih bersedia membantunya. "Terima kasih, Ruolan. Aku tidak bisa melakukan ini tanpa kamu."
Tiba-tiba, suara ponsel Steve Lim berbunyi. Dia memandang layar dan matanya melebar dengan kejutan.
"Apa itu, Steve?" Ruolan Tan bertanya, melihat ekspresi Steve Lim.
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku dapat pesan dari seseorang yang mengaku tahu tentang kematian Wong. Dia ingin bertemu dengan kita di sebuah kafe di pusat kota."
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan mata yang penuh kecurigaan. "Aku tidak percaya. Apa yang harus kita lakukan?"
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku pikir kita harus pergi, Ruolan. Aku ingin tahu apa yang dia tahu."
"Baik, aku siap," kata Ruolan Tan, suaranya penuh tekad.
Steve Lim mengangguk dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Aku akan menghubungi tim kita untuk siap siaga. Aku tidak ingin ada kejutan."
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan mata yang penuh kecurigaan. "Aku tidak percaya kita benar-benar akan melakukan ini, Steve."
Steve Lim tersenyum. "Aku tahu, Ruolan. Aku juga tidak percaya. Tapi aku yakin ini adalah langkah yang tepat."
Mereka berdua keluar dari mobil dan menuju ke kafe di pusat kota. Saat mereka tiba, mereka melihat seseorang yang sudah menunggu mereka di meja pojok.
"Siapa itu?" Ruolan Tan bertanya, suaranya lembut.
Steve Lim memandang orang itu dengan mata yang penuh kecurigaan. "Aku tidak tahu, tapi aku akan tahu segera."
Mereka berdua mendekati meja dan orang itu memandang mereka dengan mata yang penuh keseriusan.
"Selama ini, aku telah menunggu kalian," katanya, suaranya lembut.
Steve Lim memandang orang itu dengan mata yang penuh kecurigaan. "Siapa kamu? Apa yang kamu tahu tentang kematian Wong?"
Orang itu tersenyum. "Aku tahu banyak, Steve. Aku tahu tentang Menteri Chen, aku tahu tentang Wong, dan aku tahu tentang kamu."
Ruolan Tan memandang orang itu dengan mata yang penuh kecurigaan. "Apa yang kamu inginkan?"
Orang itu memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku ingin membantu kalian. Aku ingin mengungkap kebenaran tentang kematian Wong dan membuat Menteri Chen membayar atas kejahatannya."
Steve Lim memandang orang itu dengan mata yang penuh kecurigaan. "Mengapa kamu ingin membantu kami?"
Orang itu tersenyum. "Aku memiliki alasan pribadi. Aku ingin membuat Menteri Chen membayar atas apa yang dia lakukan."
Orang itu memandang Steve Lim dan Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal, tapi aku berjanji aku bisa membantu kalian. Aku memiliki bukti-bukti yang dapat membuktikan kejahatan Menteri Chen."
Steve Lim memandang orang itu dengan mata yang penuh kecurigaan. "Bukti apa?"
Orang itu tersenyum. "Aku memiliki rekaman percakapan antara Menteri Chen dan beberapa orang yang terlibat dalam kematian Wong. Aku juga memiliki dokumen-dokumen yang membuktikan bahwa Menteri Chen telah melakukan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan."
Ruolan Tan memandang orang itu dengan mata yang penuh keseriusan. "Bagaimana kamu mendapatkan bukti-bukti itu?"
Orang itu memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh kesedihan. "Aku... aku memiliki hubungan dengan seseorang yang dekat dengan Menteri Chen. Aku telah mengumpulkan bukti-bukti itu selama beberapa tahun."
Steve Lim memandang orang itu dengan mata yang penuh kecurigaan. "Aku tidak percaya. Apa yang kamu inginkan sebagai imbalan atas bukti-bukti itu?"
Orang itu memandang Steve Lim dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku ingin kalian membantu aku untuk mengungkap kebenaran tentang kematian Wong dan membuat Menteri Chen membayar atas kejahatannya. Aku ingin kalian menjadi bagian dari timku."
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan mata yang penuh kecurigaan. "Aku tidak tahu, Steve. Aku tidak percaya kita bisa mempercayai orang ini."
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku tahu, Ruolan. Tapi aku pikir kita harus mendengarkan apa yang dia katakan. Aku akan menghubungi tim kita untuk memeriksa latar belakangnya."
Orang itu memandang Steve Lim dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku siap untuk diperiksa. Aku hanya ingin mengungkap kebenaran."
Tiba-tiba, ponsel Steve Lim berbunyi. Dia memandang layar dan matanya melebar dengan kejutan.
"Apa itu, Steve?" Ruolan Tan bertanya, melihat ekspresi Steve Lim.
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku dapat pesan dari tim kita. Mereka telah memeriksa latar belakang orang ini... dan hasilnya tidak baik."
Steve Lim memandang orang itu dengan mata yang penuh kecurigaan. "Apa yang kamu katakan? Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"
Orang itu memandang Steve Lim dengan mata yang penuh kesedihan. "Aku... aku tidak bisa mengatakan. Aku hanya bisa mengatakan bahwa aku ingin membantu kalian."
Ruolan Tan memandang orang itu dengan mata yang penuh kecurigaan. "Aku tidak percaya. Aku pikir kita harus pergi dari sini, Steve."
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku setuju. Aku tidak percaya kita bisa mempercayai orang ini."
Orang itu memandang Steve Lim dan Ruolan Tan dengan mata yang penuh kesedihan. "Aku tidak ingin kalian pergi. Aku ingin membantu kalian."
Tiba-tiba, Steve Lim berdiri dan menarik Ruolan Tan untuk pergi. "Aku pikir kita sudah cukup mendengar, Ruolan. Aku tidak ingin kita menjadi target."
Orang itu memandang Steve Lim dan Ruolan Tan dengan mata yang penuh kesedihan. "Aku tidak akan menyerah. Aku akan menemukan cara untuk membantu kalian."
Steve Lim dan Ruolan Tan berlari keluar dari kafe, meninggalkan orang itu sendirian di meja. Saat mereka tiba di luar, Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan.
"Aku tidak percaya kita hampir tertipu, Ruolan. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya orang itu inginkan."
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan mata yang penuh kecurigaan. "Aku tidak tahu, Steve. Tapi aku yakin kita harus berhati-hati. Aku tidak ingin kita menjadi target."
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku juga tidak ingin, Ruolan. Aku akan menghubungi tim kita untuk meningkatkan keamanan."
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari arah kafe. Steve Lim dan Ruolan Tan memandang ke arah suara itu dengan mata yang penuh kecurigaan.
"Apa itu?" Ruolan Tan bertanya, suaranya bergetar.
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku tidak tahu, tapi aku pikir kita harus pergi dari sini. Sekarang!"