Kirana menatap kedua anaknya dengan sedih. Arka, yang baru berusia delapan tahun, dan Tiara, yang berusia lima tahun. Setelah kematian suaminya, Arya, tiga tahun yang lalu, Kirana memilih untuk tidak menikah lagi. Ia bertekad, apa pun yang terjadi, ia akan menjadi pelindung tunggal bagi dua harta yang ditinggalkan suaminya.
Meskipun hidup mereka pas-pasan, di mana Kirana bekerja sebagai karyawan di sebuah toko sembako dengan gaji yang hanya cukup untuk membayar kontrakan bulanan dan menyambung makan harian, ia berusaha menutupi kepahitan hidupnya dengan senyum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
H-1 menjelang akad nikah, suasana di rumah Kirana benar-benar sibuk. Tenda sederhana berwarna putih tulang sudah terpasang rapi di halaman. Di area dapur dan samping rumah, belasan ibu-ibu tetangga sedang berkumpul untuk rewang tradisi gotong royong menyiapkan hidangan hajatan. Walaupun sederhana tapi seluruh penghuni kampung di undang .
"Iya, saya sih herannya kok Pak Yuda mau ya sama janda anak dua?" celetuk Bu Endang, salah satu tetangga yang memang terkenal paling senang bergosip. Tangannya lincah mengupas bawang, tapi matanya melirik sinis ke arah Kirana yang sedang sibuk di dalam.
"Iya, apalagi katanya Pak Yuda itu bos pabrik besar. Masa iya nikahnya di rumah begini? Apa jangan-jangan Kirana yang minta biar kelihatan sederhana, padahal aslinya mau morotin?" timpal Bu Lastri, sambil memanyunkan bibirnya.
Bu Ratih, tetangga yang cukup dekat dengan Kirana, mencoba menengahi. "Duh, Bu... jangan suudzon begitu. Kirana itu orangnya jujur. Mungkin memang maunya yang khidmat saja. Toh yudanya juga ngga masalah"
Namun Bu Endang belum mau berhenti. "Alah, Bu Ratih... jaman sekarang mana ada yang nggak mau pesta mewah kalau dapet orang kaya. Kecuali kalau memang Pak Yuda-nya yang dipagari biar nurut sama Kirana. Tahu sendiri kan, janda kalau sudah pakai ilmu..."
Mbak Rita yang baru saja datang membawa nampan berisi teh hangat untuk ibu-ibu, kebetulan mendengar kalimat terakhir itu. Wajahnya langsung memerah menahan amarah. Ia meletakkan nampan itu dengan sedikit keras di atas meja kayu.
"Mohon maaf ya, Ibu-ibu," potong Mbak Rita dengan nada tajam yang membuat suasana seketika hening. "Kirana itu adik saya. Dia dipinang baik-baik oleh Pak Yuda. Masalah sederhana atau mewah, itu kesepakatan mereka. Pak Yuda yang malah berterima kasih karena Kirana nggak minta yang aneh-aneh. Jadi, tolong tangannya saja yang bekerja, mulutnya disimpan dulu supaya hajatannya berkah."
Ibu-ibu yang tadi bergosip langsung pura-pura sibuk dengan bawang dan sayuran mereka. Bu Endang hanya berdehem canggung, tak berani menatap mata Mbak Rita.
Di dalam rumah, Kirana sebenarnya mendengar samar-samar obrolan itu. Ia sempat terhenti sejenak saat merapikan baju koko untuk Arka.
"Sabar, Ra..." bisik Kirana pada dirinya sendiri, mencoba menguatkan hati nya.
.......
Yuda baru saja kembali dari salon pria langganannya. Rambutnya kini terpangkas rapi dengan potongan classic taper yang membuatnya terlihat jauh lebih muda dan segar. Ia juga memutuskan untuk mencukur habis jenggot yang biasanya ia biarkan tumbuh pendek, hanya menyisakan kumis tipis.
Di dalam kamar, Yuda berdiri di depan cermin besar. Ia mengeluarkan beskap putih tulang yang akan ia kenakan besok. Dengan perlahan, ia mencoba mengenakannya. Ia mematut diri, membetulkan letak kerah dan kancingnya.
"Pas," gumamnya dengan senyum kecil.
Menyapu rambutnya kebelakang dengan satu tangan. "aduhhh gantengnya" ucapnya senyum-senyum sendiri.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya... Kirana binti..."
Ia berhenti sejenak, mengulang lagi dengan nada yang lebih mantap.
"Saya terima nikahnya Kirana binti almarhum...
Yuda terus melatih lidahnya, menyebut nama lengkap Kirana berulang kali. Ia tidak ingin ada satu kata pun yang tersangkut atau salah ucap.
Ketukan pelan di pintu seketika membuyarkan lamunan Yuda. Ia tersentak kaget, menyadari dirinya masih memakai beskap lengkap sambil senyum-senyum sendiri di depan cermin.
"Yud, sudah tidur?" suara Lasma, ibundanya, terdengar dari balik pintu.
"Belum, Bu! Sebentar!" jawab Yuda gugup. Dengan gerakan panik yang hampir lucu, ia buru-buru melepas beskap putih tulang itu.
Ia melepas kancingnya dengan cepat, menyampirkan baju itu ke kursi, dan segera menyambar kaos oblong yang ada di tempat tidur.
"Belum tidur juga? Tadi Ibu dengar ada suara orang bicara, Ibu pikir ada tamu," tanya Lasma sambil mendekat.
"Eh, nggak ada, Bu. Cuma... itu, lagi baca-baca berkas," bohong Yuda sambil mengusap tengkuknya, berusaha menutupi kegugupannya.
Lasma duduk di tepi tempat tidur dan memberi isyarat agar anak laki-lakinya itu ikut duduk di sampingnya. Ia bisa melihat raut wajah Yuda yang tampak tegang sekaligus bahagia. Lasma menggenggam tangan Yuda yang terasa dingin.
"Yud, dengerin Ibu ya," ucap Lasma memulai wejangannya. "Menikah dengan Kirana itu berarti kamu bukan cuma mengambil dia sebagai istri, tapi kamu juga mengambil tanggung jawab atas dua nyawa kecil, Arka dan Tiara. Mereka itu titipan Tuhan melalui tangan Kirana."
Yuda terdiam, mendengarkan setiap kata ibunya dengan khidmat.
"Menjadi suami itu mudah bagi pria seperti kamu, tapi menjadi ayah bagi anak yang tidak lahir dari darahmu sendiri itu butuh keluasan hati," lanjut Lasma. "Jangan pernah bandingkan mereka dengan siapa pun. Jadilah peneduh buat Kirana. Kamu tahu sendiri kan, di luar sana orang suka bicara aneh-aneh tentang status Kirana. Tutup telinga kamu, cukup buka hati kamu untuk mereka."
"Iya, Bu. Yuda janji akan jaga mereka seperti nyawa Yuda sendiri," jawab Yuda mantap.
Lasma mengusap kepala Yuda dengan kasih sayang. "Ibu percaya kamu bisa. Satu lagi, besok saat kamu jabat tangan walinya, ingatlah bahwa kamu sedang membuat janji bukan cuma sama manusia, tapi sama Allah. Sayangi Kirana dalam kurang dan lebihnya. Jangan pernah kasar, karena hatinya sudah cukup banyak terluka di masa lalu."
Wejangan ibunya itu terasa meresap jauh ke dalam sanubari Yuda. Rasa gugup yang tadi menyelimuti, kini perlahan berganti menjadi tekad yang kuat.
"Terima kasih, Bu. Wejangan Ibu bakal Yuda ingat terus."
"Ya sudah, sekarang benar-benar tidur. Jangan latihan lagi, nanti malah suaranya habis besok pagi," goda Lasma sambil tertawa kecil, rupanya ia tahu kalau anaknya tadi sedang latihan ijab kabul.
Yuda tertawa malu. Setelah ibunya keluar, ia merebahkan diri dengan perasaan yang jauh lebih tenang.