Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Mustahil
Pagi itu Arga terbangun dengan tekad yang bulat. Ia akan menikahi Safira. Secara resmi. Secara syariat. Di hadapan penghulu, dengan saksi, dengan ijab kabul yang sah.
Tapi bagaimana caranya?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya saat ia duduk di ruang makan dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Matanya menatap kosong ke luar jendela, otaknya bekerja keras mencari solusi.
Safira bukan manusia. Safira tidak punya KTP. Tidak punya akta kelahiran. Tidak punya dokumen apapun yang membuktikan bahwa ia warga negara Indonesia. Lalu bagaimana cara menikah secara resmi tanpa dokumen-dokumen itu?
"Sial..." gumam Arga sambil mengacak rambutnya frustasi. "Bagaimana ini? Bagaimana caranya?"
Ia bahkan sudah googling sejak tadi pagi. Tapi semua situs bilang untuk menikah butuh KTP, Kartu Keluarga, akta kelahiran. Tidak ada yang menjelaskan bagaimana cara menikahi jin.
Tentu saja tidak ada. Siapa yang gila sampai mau menikahi jin?
Arga tertawa pahit. Ia yang gila.
Sorenya, saat Arga masih pusing memikirkan solusi, tiba-tiba Bagas datang lagi. Kali ini sendirian tanpa Ustadz Hasyim. Wajahnya terlihat lelah, mata berkantung hitam.
"Lo kelihatan makin parah, Ga," kata Bagas begitu turun dari motor. "Serius, lo kayak orang sakit parah. Kapan terakhir lo makan yang bener?"
"Aku baik-baik aja," Arga menjawab datar sambil membukakan gerbang.
"Baik-baik aja apanya? Lo kurus banget! Pipi lo kempot! Mata lo cekung kayak tengkorak!"
Mereka masuk ke rumah. Bagas langsung menjatuhkan diri di sofa dengan helaan napas panjang.
"Gue datang bukan buat ngomel," kata Bagas sambil menatap Arga dengan serius. "Gue datang karena gue... gue khawatir, Ga. Gue tahu gue nggak bisa merubah keputusan lo. Tapi setidaknya gue mau nemenin lo. Biar lo nggak sendirian ngadepin semua ini."
Arga merasakan dadanya hangat mendengar itu. Ia duduk di sebelah Bagas, menepuk bahu sepupunya dengan lembut. "Makasih, Gas. Makasih udah nggak nyerah sama aku."
"Ya gimana mau nyerah. Lo kan sodara gue. Satu-satunya sodara yang bener-bener gue anggap saudara."
Mereka terdiam sebentar. Lalu Arga menarik napas dalam.
"Gas, gue... gue mau bilang sesuatu."
"Apa?"
"Gue mau nikah sama Safira."
Bagas langsung menatap Arga dengan mata melotot. "HAH?! LO MAU APA?!"
"Nikah. Gue mau nikah sama dia. Secara resmi. Dengan ijab kabul."
Bagas berdiri, mondar-mandir dengan panik. "Gila! Lo bener-bener gila, Ga! Gimana caranya lo mau nikah sama hantu?! Dia nggak punya KTP! Nggak punya akte! Nggak punya apa-apa!"
"Gue tahu!" Arga ikut berdiri, frustasi. "Gue tahu itu masalahnya! Makanya gue pusing! Gue nggak tahu harus gimana!"
"Lah terus kenapa masih mau nikah?! Pikir dong, Ga! Ini bukan main-main!"
"GUE SERIUS!" Arga berteriak. "Gue serius, Gas! Gue mau dia jadi istri gue! Gue mau... gue mau punya ikatan yang sah sama dia!"
Bagas menatap Arga dengan tatapan tidak percaya. Lalu ia terduduk lagi di sofa, memegang kepalanya dengan frustasi. "Anjir... anjir, gue nggak tahu harus bilang apa lagi. Lo udah kelewat jauh, Ga. Kelewat jauh..."
Saat mereka masih berdebat, tiba-tiba suhu ruangan turun drastis. Dingin. Sangat dingin. Napas mereka keluar seperti kabut.
Dan Safira muncul. Di siang hari. Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Tubuhnya lebih transparan dari biasanya, seperti bayangan yang hampir memudar. Wajahnya pucat, terlihat lelah.
"Safira?!" Arga langsung menghampirinya dengan panik. "Kenapa kamu muncul siang-siang? Bukankah matahari menyakitimu?"
"Aku... aku mendengar pembicaraan kalian," Safira berkata dengan suara yang sangat pelan. "Aku tahu kamu kebingungan, Arga. Dan aku... aku punya solusi."
Bagas yang melihat Safira langsung melompat dari sofa, bersembunyi di belakang Arga. "Ha... hantu... dia muncul siang-siang..."
"Aku bukan hantu," Safira menjawab dengan suara lelah. "Aku Safira. Dan aku akan jadi istri Arga."
"Lo dengar sendiri kan, Gas?" Arga menatap Bagas. "Dia bukan hantu."
"Jin juga sama aja seram!" Bagas masih gemetar.
Safira mengabaikan Bagas, menatap Arga dengan serius. "Ada cara untuk membuat identitas sementara, Arga. Aku bisa mewujudkan dokumen-dokumen yang kamu butuhkan."
"Bagaimana caranya?" Arga bertanya dengan harap-harap cemas.
"Dengan kekuatan gaib," Safira menjawab pelan. "Aku bisa meminta bantuan makhluk gaib lain untuk membuat identitas palsu yang terlihat nyata. KTP, Kartu Keluarga, akta kelahiran. Semuanya bisa dibuat."
"Serius?!" Arga langsung berbinar.
"Tunggu! Tunggu!" Bagas melangkah maju, meski masih gemetar. "Lo... lo bisa bikin dokumen palsu gitu aja? Itu... itu nggak ilegal?"
"Sangat ilegal," Safira mengangguk. "Di dunia kalian dan di dunia kami. Kalau ketahuan oleh penguasa alam gaib, aku bisa dihukum berat. Sangat berat."
"Lalu kenapa kamu mau melakukannya?!" Arga bertanya dengan khawatir.
Safira tersenyum sedih. Ia melangkah maju, tangannya yang dingin menyentuh pipi Arga. "Karena aku mencintaimu. Dan aku mau jadi istrimu dengan cara yang benar. Dengan cara yang direstui Allah. Meski aku harus mengambil risiko besar."
"Safira..."
"Tapi kamu harus tahu," Safira melanjutkan dengan serius. "Identitas ini hanya bertahan sementara. Maksimal empat puluh hari. Setelah itu, semua dokumen akan hilang. Lenyap seperti tidak pernah ada."
"Empat puluh hari?" Arga mengulang.
"Ya. Jadi kita harus menikah dalam waktu empat puluh hari. Sebelum identitasku hilang."
Hening.
Bagas menatap mereka berdua dengan tatapan tidak percaya. "Kalian berdua gila. Beneran gila. Ini bukan cerita dongeng! Ini bukan sinetron! Ini nyata dan bahaya banget!"
"Gue tahu, Gas," Arga menjawab tanpa melepas tatapan dari Safira. "Tapi gue sudah memutuskan. Apapun risikonya."
"Lo bisa mati, Ga! Lo bisa masuk penjara karena dokumen palsu! Lo bisa... bisa..."
"Bisa kehilangan segalanya, aku tahu," Arga menyelesaikan kalimat Bagas. "Tapi aku juga bisa mendapatkan segalanya. Aku bisa mendapatkan Safira sebagai istriku. Dan itu... itu lebih berharga dari apapun."
Bagas menutup wajahnya dengan kedua tangan, frustasi total. "Gila... gila... gue nggak percaya gue ngebantu rencana gila ini..."
"Kamu mau bantu?" Arga menatap Bagas dengan harap.
"Emangnya gue punya pilihan?!" Bagas membuka tangannya, menatap Arga dengan mata yang berkaca-kaca. "Lo sodara gue, Ga. Mau lo mau nikah sama manusia, jin, atau bahkan alien sekalipun, gue tetap akan ngedukung lo. Meski gue tahu ini gila."
Arga memeluk Bagas dengan erat. "Makasih, Gas. Makasih..."
"Iya, iya. Tapi kalau nanti lo mati atau kenapa-kenapa, gue nggak mau disalahin ya!" Bagas membalas pelukan sambil menangis.
Safira tersenyum melihat mereka berdua. Lalu ia berkata, "Kalau begitu, aku akan mulai mempersiapkan semuanya. Tapi aku butuh waktu. Mungkin tiga hari."
"Tiga hari?" Arga melepaskan pelukannya dari Bagas.
"Ya. Untuk membuat dokumen yang terlihat sempurna, aku butuh waktu. Dan aku juga harus... harus meminta izin dari penguasa alam gaib. Meski kemungkinan besar tidak akan diizinkan, setidaknya aku harus mencoba meminta restu mereka."
"Dan kalau tidak diizinkan?"
Safira menatap Arga dengan tatapan yang penuh tekad. "Aku akan tetap melakukannya. Karena ini pilihan kita. Bukan pilihan mereka."
Arga merasakan jantungnya berdegup kencang. Wanita ini... wanita ini berani melawan dunianya sendiri demi dia. Demi cinta mereka.
"Aku janji akan menjagamu," bisik Arga sambil menggenggam tangan Safira. "Apapun yang terjadi, aku akan selalu di sampingmu."
"Aku tahu," Safira tersenyum. "Dan aku juga akan selalu di sampingmu. Sampai akhir."
Tiga hari kemudian, seperti yang dijanjikan, Safira muncul dengan sebuah amplop cokelat. Di dalamnya ada KTP dengan foto Safira yang terlihat sangat nyata, Kartu Keluarga, dan akta kelahiran.
Arga membuka semua dokumen itu dengan tangan gemetar. Semuanya terlihat sempurna. Seperti dokumen asli.
"Ini... ini benar-benar nyata?" tanya Arga tidak percaya.
"Untuk empat puluh hari ke depan, ya," jawab Safira. "Setelah itu, semua akan hilang. Jadi kita harus cepat."
Bagas yang ikut melihat dokumen itu menggeleng-gelengkan kepala. "Gila... ini keajaiban atau sihir sih?"
"Keduanya," Safira menjawab dengan senyum tipis.
"Jadi sekarang gimana?" Bagas bertanya pada Arga.
Arga menatap dokumen di tangannya, lalu menatap Safira dengan tatapan penuh tekad.
"Sekarang kita pergi ke KUA. Kita daftarkan pernikahan kita. Dan kita akan menikah secepat mungkin."
"Kau yakin dengan ini, Arga?" Safira bertanya sekali lagi, memberi Arga kesempatan untuk mundur.
Arga tersenyum. Senyum yang tulus meski air matanya berkaca-kaca. "Aku tidak pernah seyakin ini, Safira. Ayo kita menikah."
Dan di saat itu, dengan dokumen palsu di tangan, dengan cinta yang terlarang di hati, mereka memulai persiapan pernikahan yang mustahil.
Pernikahan antara manusia dan jin.
Pernikahan yang akan mengubah takdir mereka selamanya.