Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam nahas
"Tidaak!!! Tolong jangan lakukan ini Joe, aku mohon. Tolong!" mohon seorang wanita di dalam sebuah ruangan yang tidak dia ketahui dimana.
"Kenapa sayang? Jangan berteriak seperti itu, lebih baik kau nikmati apa yang akan kita lakukan malam ini, kau akan aku bawa terbang hingga ke langit ketujuh Vello!" Pria yang dipanggil Joe tersebut tesenyum miring.
Gadis yang tak disebut Vello terus memberontak berusaha melepaskan diri.
Joe memeluk erat gadis di depannya lalu menghimpitnya pada salah satu tiang di tengah ruangan tersebut.
Matanya memandangi tubuh Vellona dengan tatapan liar, mulai dari mata, bibir hingga berhenti pada area yang sedikit menyembul pada bagian atas tubuh gadis tersebut.
Satu tangannya mengunci kedua tangan Vellona yang terus memberontak, sedangkan tangan lainnya menyentuh tubuhh Vello bahkan sesekali meremas area dadanya.
Selain itu, Joe juga berusaha menyentuh area tubuh sensitif Vellona dengan menggesekkan jari-jarinya dari luar jeans yang Vello kenakan.
"Tidak!! Hentikan Joe, aku mohon. Jangan lakukan ini tolong!" isakan Vello mulai terdengar, saat Joe mulai berusaha membuka kancing celana Jeans nya setelah resleting berhasil Joe turunkan.
"Ekhem!! Hei Joe, apa yang kau lakukan? Kenapa kau bermain-main dengannya seperti itu? Lihatlah dia sampai ketakutan bahkan sampai menangis!" ucap seorang pria di belakang Vello.
"Bryan?" lirih Vello.
"Iya sayang ini aku!" sahut Bryan, lalu kemudian memandang ke arah Joe. "Kenapa kau menakutinya seperti itu? Sebaiknya kau lepaskan dia sekarang, biarkan dia bebas!" perintah Bryan pada Joe, sebelah alisnya terangkat memberikan kode.
"Kau tidak apa-apa cantik, hmm?" Bryan tersenyum saat menanyakan keadaan Vello setelah tangan Vello berhasil lepas dari cengkraman Joe.
Bryan mendekati Vello, menangkup wajahnya dengan kedua tangan lalu melihat keadaannya seperti tengah memberikan perhatian.
Namun Vello yang sudah tahu bagaimana sifat asli Bryan yang juga temannya Joe, hanya menggeleng pelan dan menepis tangan Bryan yang menangkup wajahnya. Vello menghindari Bryan, dan berusaha menjauhinya.
Vello sangat tahu, Bryan tidak benar-benar perhatian padanya, tapi justru malah sebaliknya. Perhatian itu memilik maksud tersendiri.
Pelan- pelan Vello menggeser tubuhnya menjauhi Bryan, lalu dengan gerakan cepat Vello berusaha menggapai pintu yang letaknya sedikit jauh dari posisinya saat ini.
Ketika sudah nyaris mendekati pintu, tiba- tiba langkah Vello di halangi oleh dua orang teman Bryan yang lainnya menghadang langkah Vello.
"Hallo sayang, kau kemana pergi kemana? Kenapa terlihat buru-buru, apa kau mau melewatkan malam yang indah ini bersama kami?" kekeh salah seorang pria.
Mata Vello membelalak melihat dua teman Bryan yang lainnya, tubuhnya bergetar dan semakin ketakutan saat ini.
Vello diam-diam melihat ke arah samping dan tengah kedua pria tersebut, berusaha mencari celah untuk keluar.
Bryan tersenyum miring, saat melihat Vello yang sedang berusaha mencari celah untuk bebas dari kedua temannya.
"Rishi, jangan halangi dia. Biarkan dia pergi!"perintah Bryan.
Mendengar hal itu, pria yang di panggil Rishi tersebut menggeser tubuhnya memberikan jalan untuk Vello menggapai pintu.
Melihat hal itu, Vello tak ingin membuang kesempatan. Vello langsung berlari hingga akhirnya sampai di dekat pintu, Vello mencoba membuka pintu tersebut.
Vello yang berpikir bisa terbebas dari Bryan dan temannya, harus menelan harapannya sendiri. Karena pada nyatanya, pintu ruangan itu sudah di kunci dari dalam.
Vello terus menggerakkan knop pintu dengan sesekali menggedor dengan kencang. Bahkan Vello berteriak berusaha minta pertolongan berharap ada orang lain yang mendengar di luar sana.
Namun hingga suara Vello terdengar serak pun, tak ada jawaban dari luar ataupun ada yang datang karena mendengar teriakannya.
"Tolong! Tolong buka pintunya!!"