NovelToon NovelToon
One Night Stand With Mafia Boss

One Night Stand With Mafia Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririnamaku

Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------

Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.

Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.

Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 30

Markas Besar, Langley — 09.00 AM

Cahaya dari ponsel itu masih menerangi wajah Arthur yang kini sepucat mayat. Foto-foto Nathan yang hancur di bawah kekuasaan Obsidian baru saja meruntuhkan sisa-sisa wibawanya.

Tepat saat amarahnya hampir meledak, Alice masuk dengan langkah anggun yang tenang. Ia memasang wajah prihatin yang sempurna, meski di balik itu ia tahu persis setiap detak jantung kepanikan Arthur.

"Kau tampak tidak baik, Sayang?" Alice mendekat, duduk di tepi meja kerja Arthur dan melingkarkan lengannya di leher pria itu, memberikan kehangatan palsu yang sangat dibutuhkan Arthur.

"Nathan... bajingan itu menangkap Nathan. Aku kehilangan jejak Megan, dan sekarang agen terbaikku juga menghilang tanpa jejak di London," geram Arthur, suaranya parau penuh kebencian.

Alice turun dari meja, lalu dengan santai duduk di pangkuan Arthur, menatap mata Direktur itu dengan dalam. Jemarinya mulai menjelajahi dada bidang Arthur, sebuah gerakan provokatif yang perlahan melumpuhkan saraf-saraf amarah pria itu.

"Kita akan temukan Nathan, Arthur. Sean Miller harus bertanggung jawab atas kegagalan ini," bisik Alice lembut, suaranya seperti candu.

"Kita akan ke London."

Alice tersentak dalam diam. Ia baru saja berencana meminta izin untuk menghadiri pernikahan Bradley di London, dan sekarang Arthur justru berencana ingin ke London? Ini akan menjadi bencana.

"Kau serius akan ke London, Sayang? Aku rasa itu bukan ide yang bijak," Alice menghentikan gerakannya sejenak, menatap Arthur dengan tatapan memelas. "Markas jauh lebih membutuhkanmu di sini. Di agenda, kau punya pertemuan krusial dengan Presiden dan para petinggi militer di Washington untuk membahas Anggaran Pertahanan Siber dan Inovasi Satelit Spionase Baru. Kau tidak bisa mewakilkan itu pada siapa pun."

Arthur menghela napas panjang. Sentuhan Alice benar-benar melumpuhkan logikanya. Ia meraih dagu Alice, menatap bibir merah itu sebelum menciumnya secara brutal, sebuah pelampiasan rasa frustrasi dan dendamnya pada Bradley Brown yang ia tumpahkan pada Alice. Ia menarik pinggang Alice dengan posesif, tak membiarkan wanita itu menghirup oksigen sejenak pun.

Setelah beberapa saat yang menyesakkan, Arthur melepaskan Alice. Napasnya masih memburu. "Kau sangat brutal, Arthur," desis Alice sambil mengatur napasnya yang tersengal.

"Aku minta maaf, Alice. Tapi apa kau yakin akan ke London sendirian tanpa menungguku?" tanya Arthur, mulai termakan bujukan Alice.

"Pertemuan dengan Presiden adalah prioritas, ini menyangkut Negara, Arthur. Tapi masalah Megan dan Nathan juga tak kalah penting. Biarkan aku yang pergi ke London sebagai perwakilanmu untuk menekan Sean Miller. Aku bisa menangani ini, hanya saja..."

"Hanya apa, Alice? Kau butuh sesuatu? Uang?" Tanpa ragu, Arthur mengeluarkan Black Card-nya dan menyelipkannya di antara jemari Alice. "Ambillah. Kau tidak akan kekurangan apa pun di London nanti."

Alice terkekeh, jemarinya mengusap rahang tegas Arthur dengan penuh kemenangan. "Hanya saja... aku akan sangat merindukanmu selama aku di London nanti, sayang "

"Gadis nakal," gumam Arthur, matanya kembali berkilat penuh gairah, kembali mencium bibir Alice. Ia tidak menyadari bahwa ia baru saja memberikan "tiket gratis" bagi pengkhianat di pelukannya untuk

***

Port of London — 14.00 PM

Angin laut yang menggigit tulang menyapu dermaga pribadi milik Obsidian Syndicate. Langit London yang kelabu tampak serasi dengan deretan kontainer baja yang menjulang tinggi seperti labirin raksasa. Bradley turun dari mobil, jubah overcoat hitamnya berkibar tertiup angin, memberikan kesan predator yang sangat dominan.

Di sampingnya, Megan berdiri dengan wajah pucat yang dibalut mantel berwarna cream. Syal tebal di lehernya tak cukup mampu menghalau rasa dingin yang bukan berasal dari cuaca, melainkan dari pemandangan di depannya.

"Lihat ini, Meg," Bradley menuntun Megan menuju sebuah kontainer yang baru saja dibuka paksa oleh anak buahnya. Di dalamnya, ribuan peti kayu berisi senapan serbu kelas militer tersusun rapi.

Bradley mengambil satu berkas manifes dari tangan Peter, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Megan. Ia tertawa sinis, suara tawa yang terdengar lebih tajam dari semilir angin laut.

"Kau lihat stempel ini?" Bradley menunjuk sebuah logo emas di pojok dokumen. "Dan tanda tangan ini? Ini adalah tanda tangan orang yang bulan lalu berpidato tentang perdamaian dunia di televisi. Petinggi pemerintahan yang kau sebut pahlawan itu, baru saja mentransfer jutaan Dollar ke rekeningku untuk mengirim kado maut ini ke Dubai."

Megan membelalak, jemarinya yang terbalut sarung tangan kulit gemetar saat menyentuh kertas itu. "Tidak... ini pasti palsu. Kau memalsukannya untuk menghancurkan pikiranku, kan?"

"Aku tidak butuh trik murahan untuk itu, Sayang," Bradley mendekat, berdiri tepat di belakang Megan hingga dadanya yang bidang bersentuhan dengan punggung Megan. "Duniamu hanyalah panggung sandiwara. Mereka butuh perang agar industri mereka tetap hidup, dan mereka butuh orang sepertiku untuk melakukan pekerjaan kotor yang tidak berani mereka akui."

Bradley tertawa lagi, kali ini terdengar lebih mengejek. "Agen Ford yang terhormat... kau mempertaruhkan nyawamu untuk melindungi sistem yang sebenarnya adalah pelanggan tetapku. Bukankah itu sangat lucu?"

Megan memejamkan mata rapat-rapat. Rasa mual bukan karena kehamilannya, tapi karena kenyataan yang baru saja Bradley telanjangi di depannya. Di pelabuhan yang sunyi ini, Megan merasa lencananya tak lebih dari sekadar sampah yang tak berharga.

"Pahami ini, Meg," bisik Bradley di telinga Megan, aromanya yang maskulin bercampur dengan bau garam laut. "Di London, hukum hanyalah sebuah saran, dan tanda tangan pemerintah hanyalah mahar untuk kerja samaku. Kau tidak akan pernah bisa lari, karena bahkan orang-orang yang kau harapkan akan menjemputmu, sebenarnya berada di pihakku.”

Megan berbalik dengan gerakan cepat. Ia melempar kertas manifes berstempel emas itu tepat ke wajah Bradley, membiarkan lembaran dosa itu terbang tertiup angin laut yang kencang.

"Jangan pikir aku akan percaya padamu, Brown! Kalaupun ada satu kebusukan, bukan berarti seluruh sistem itu busuk!" suara Megan melengking, bergetar oleh amarah yang tertahan. "Aku lahir dari seorang penegak hukum! Aku sudah dibekali prinsip kebenaran sejak aku bahkan belum bisa melihat dunia luar. Tidak seperti anakku nanti... yang akan lahir dari sebuah kebencian dan kejahatan dari tangan kotor ayahnya!"

Bradley tertegun sejenak. Kalimat Megan menghantam ulu hatinya, namun ia justru tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar sangat hampa di tengah deru angin pelabuhan.

"Kau hanya butuh sedikit waktu lagi, Meg," ucap Bradley, melangkah maju hingga bayangan hitam overcoat-nya menelan sosok Megan yang kecil. "Saat kau bersamaku lebih lama, kau akan melihat bahwa hitam tak selamanya hitam, dan putih tak lebih dari sekadar cahaya yang akan hilang ditelan oleh keserakahan manusia. Termasuk pahlawanmu itu."

Megan gemetar, namun ia menolak untuk terlihat gentar di depan sang predator. Ia memilih untuk menjauh, melangkah menuju pinggiran dermaga yang berbatasan langsung dengan laut lepas. Ia membiarkan rambut pirangnya tertiup angin yang mulai bercampur dengan butiran salju tipis London.

Sementara itu, Bradley berdiri mematung. Bibirnya terkatup rapat, rahangnya mengeras sekeras karang. Ucapan Megan tentang "lahir dari seorang penegak hukum" membangkitkan monster di dalam dirinya.

Pria itu menatap punggung Megan dengan tatapan yang sulit diartikan, antara benci karena masa lalu dan obsesi karena masa depan. Baginya, Megan adalah ironi terbesar, putri dari pria yang menghancurkan hidupnya, kini sedang mengandung pewarisnya yang juga mengalir darah dari kebenciannya.

1
🇮🇹 25
kukira plok2 😒
Bintang Kejora
cie cie yg habis dapet durian runtuh🤭
Bintang Kejora
Cie muji/Chuckle/
🇮🇹 25
😒
Riska Memet
Jodoh Meg😄
Azzalea Chanifa
makin penasaran.
axm
alex debenernya suaminya megan ya 🤭
🇮🇹 25
akoh lebih takod otor apdet cuma 2 tiap hari 😭
🇮🇹 25: al menanti apdet banyak2 🌚🌚🌚
total 2 replies
Bintang Kejora
Siapa Ethan?
Bintang Kejora
Kau ini intel yang lemot, menganalisa apapun telat 😪
Bintang Kejora
Kecurigaan lo telat Sean, payah😔
Bintang Kejora
Alice bakal kena masalah sama brown lo
Bintang Kejora
waduh jangan macam2 alice, 🤭
Bintang Kejora
finaly 😀
🇮🇹 25
SERAKAH ADALAH SIFAT UMUM MANUSIA SELAIN IRI 😒
FF
😍Ada visualnya 👍
Je
up nya jangan lama'
Riska Memet
Woy Brown, puasa woy🙈😍🤣🤣
Riska Memet
Bau2 penkhianat sih🤔
Riska Memet
Fix ini Alex 😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!