Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Pembalasan
Mereka memacu mobil itu keluar dari kompleks dermaga tepat saat peluru-peluru mulai menghantam kaca belakang. Mobil itu melesat menembus malam, membawa sisa-sisa kehormatan Suteja dan harapan Dizan menuju tempat persembunyian yang aman di pinggiran Bogor.
****
Di Jakarta, kabar tentang bobolnya gudang pengasingan sampai ke telinga Rini Susilowati seperti sambaran petir di tengah cuaca cerah. Ia sedang menyesap anggur merah di ruang kerjanya yang megah ketika Liana masuk dengan wajah pucat pasi.
"Nyonya... mereka membawa Januar pergi. Nirmala dan mahasiswa itu... mereka menyerbu gudang dengan... ledakan dan bubuk kimia."
Rini tertegun sejenak. Gelas kristal di tangannya perlahan bergetar, lalu tiba-tiba ia melempar gelas itu ke arah potret Marwan Dizan yang masih tersisa di dinding. PRANG! Cairan merah itu mengalir di wajah foto kakaknya seperti darah segar.
"Berani-beraninya dia..." suara Rini bergetar, rendah dan berbahaya. "Keponakan kecilku yang manis... putri kesayangan Marwan... berani mengacaukan kesenanganku?"
Rini mulai tertawa. Awalnya hanya dengusan kecil, lalu berubah menjadi tawa histeris yang memenuhi ruangan. Ia menarik selendang sutra hitamnya, menutup mulutnya saat tubuhnya mulai berguncang tak terkendali.
"Mmph... Hmph... Hahahahahaha!"
Ia tertawa sampai air matanya tumpah ruah, membasahi kain sutra mahal itu. Ia merasa terhina sekaligus terhibur. Baginya, Nirmala yang melawan adalah sebuah komedi yang sangat lucu sebelum berakhir menjadi tragedi.
"Liana!" Rini berteriak di sela tawanya, suaranya parau dan mengerikan. "Jangan bawa dia hidup-hidup lagi. Aku tidak peduli dengan surat pernyataan itu! Bunuh Nirmala! Penggal kepalanya dan bawa ke hadapanku! Aku ingin melihat apakah matanya masih berani menatapku saat sudah terpisah dari tubuhnya!"
Rini mengambil tisu, menyeka ingus yang menetes karena tawanya yang terlalu menggebu. Matanya yang merah menatap kosong ke arah kegelapan di luar jendela.
"Kalian pikir bisa lari dariku?" bisik Rini, tawanya mereda menjadi senyum iblis yang menetap. "Dunia ini terlalu kecil untuk persembunyian kalian. Aku akan membakar setiap jengkal tanah yang kalian injak."
Ia kembali melilitkan selendang sutranya ke leher, seolah-olah kain itu adalah tali gantungan yang sedang ia persiapkan untuk Nirmala. Kegilaan Rini telah mencapai puncaknya; ia tidak lagi peduli pada perusahaan atau uang. Kini, yang ia inginkan hanyalah melihat keponakannya hancur secara fisik dan jiwa.
****
Di sebuah pondok tua di lereng gunung, Ale sedang membersihkan luka-luka Januar. Nirmala duduk di sudut, menatap tangannya yang masih berbau cabai dan mesiu. Ia gemetar, bukan karena takut, tapi karena ia baru saja menyadari bahwa ia mampu melakukan kekerasan demi bertahan hidup.
Januar menatapnya dengan sisa kekuatannya. "Nirmala... lo sudah berubah."
Nirmala mendongak, matanya dingin dan tajam. "Rini yang mengubahku, Januar. Dan besok, dia akan menyesal karena telah membiarkan aku tetap bernapas."
Ale menatap mereka berdua, menyadari bahwa perang ini tidak akan berakhir dengan tanda tangan di atas kertas, melainkan dengan kehancuran total salah satu pihak. Di bawah sinar bulan yang redup, rencana terakhir mulai disusun.
****
Dinginnya udara pegunungan di lereng Bogor menusuk hingga ke tulang, namun di dalam pondok tua berdinding kayu itu, atmosfer terasa panas oleh bara dendam yang kian membara. Januar Suteja duduk di sebuah kursi kayu tua, tubuhnya masih dibalut perban yang sesekali merembeskan warna merah muda, namun matanya—mata yang sebelumnya bengkak dan tertutup—kini terbuka dengan binar predator yang telah kembali.
Januar menatap Nirmala yang sedang membersihkan sepucuk pistol tua milik mendiang ayahnya yang sempat disembunyikan Ale. "Rini bukan sekadar gila, Nirmala," suara Januar parau, setiap kata yang keluar terasa berat karena luka di rahangnya. "Dia adalah sebuah sistem. Dia tidak hanya menguasai Dizan Holding, dia telah memindahkan seluruh aset likuid ayahmu ke sebuah bunker digital yang terenkripsi oleh kode-kode kartel Kolombia."
Aleandra Nurdin, yang sedang mengasah sebilah belati di sudut ruangan, menoleh. "Maksud lo, kita nggak bisa cuma ambil alih perusahaannya lewat hukum?"
Januar menggeleng pelan, senyum sinis tersungging di bibirnya yang pecah. "Hukum adalah mainan bagi Rini. Kita harus menghancurkan jantung keuangannya. Saya tahu lokasi server bayangan yang dia gunakan untuk mencuci uang kartel. Itu adalah bunker finansial yang dia sebut sebagai 'Caja de Muerto'—Kotak Kematian. Jika kita bisa membobol itu dan membocorkan datanya ke otoritas internasional, kartel Kolombia itu sendiri yang akan memburu Rini karena telah membahayakan aset mereka."
Nirmala berhenti mengelap pistolnya. Ia menatap Januar dengan tatapan tajam. "Lalu bagaimana dengan sayembara itu? Aku dengar Rini sudah menyebar fotoku ke seluruh jaringan bawah tanah."
Januar terdiam sejenak, raut wajahnya berubah tegang. "Itu yang berbahaya. Dia tidak lagi menginginkan perusahaan. Dia menginginkan kepalamu."
****
Di Jakarta, di dalam penthouse yang berlumuran cahaya temaram, Rini Susilowati sedang memimpin sebuah jamuan yang mengerikan. Di hadapannya, duduk para pemimpin geng jalanan, mantan tentara bayaran, dan para pembunuh profesional yang disewa dari sudut-sudut tergelap ibu kota.
Rini berdiri di depan jendela besar yang menampilkan gemerlap Jakarta, selendang sutra hitamnya melambai lembut ditiup embusan pendingin ruangan. Di atas meja jati di tengah ruangan, tertumpuk tumpukan uang dolar yang diikat rapi, membentuk menara keserakahan yang memuakkan.
"Dua juta dolar," suara Rini berbisik, namun terdengar jelas ke setiap sudut ruangan yang sunyi. "Itu harga untuk satu kepala. Kepala keponakanku yang tersayang, Nirmala Dizan."
Ia berbalik, wajahnya yang kuyu tampak sangat bahagia di bawah cahaya lampu kristal. "Aku tidak butuh dia hidup-hidup. Aku hanya ingin melihat wajahnya yang cantik itu membeku dalam ketakutan. Siapa pun yang membawanya padaku, uang ini hanyalah uang muka. Kalian akan mendapatkan perlindungan abadi dari Dizan Holding."
Seorang pembunuh bayaran bertubuh kekar dengan bekas luka di wajahnya bertanya, "Bagaimana jika ada yang menghalangi, Nyonya?"
Rini tertawa. Awalnya hanya suara decitan kecil di tenggorokannya, lalu perlahan tumbuh menjadi ledakan tawa yang mengguncang seluruh tubuhnya. Ia menarik selendang sutranya, menekan kain itu ke mulutnya saat tawa histerisnya meledak tak terkendali.
"Hmph... Mmph... Hahahahahaha!"
Ia tertawa sampai air matanya membasahi pipi, membasahi kain sutra mahal itu hingga lembap. Ia melangkah mendekati menara uang itu, mengelusnya seperti sedang mengelus kulit bayi.
"Siapa pun yang menghalangi... bakar mereka hidup-hidup!" teriak Rini di sela tawanya yang pecah. "Bakar desanya! Bunuh keluarganya! Aku ingin dunia tahu bahwa melawan Rini Susilowati adalah undangan menuju neraka!"
Ia menyeka ingus yang menetes dengan ujung selendangnya, matanya melotot gila ke arah para pembunuh di depannya. "Kemenangan sudah ada di tanganku! Aku bisa merasakannya! Bau darah Nirmala... itu adalah aroma parfum terbaik yang pernah aku cium!"
Rini kembali tertawa, tawa melengking yang membuat bulu kuduk para pembunuh bayaran itu berdiri. Mereka yang biasa membunuh demi uang pun merasa ngeri melihat kegilaan yang memancar dari wanita yang sedang menari-nari kecil di antara tumpukan uang haram itu.