NovelToon NovelToon
Exclusive My Executor

Exclusive My Executor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mengubah Takdir
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

​Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.

Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".

​Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.

Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# Bab 21 : Pelayan yang menarik

Reggiano dan Caspian berdiri berdampingan, dua sosok yang sangat kontras namun kini terikat oleh tujuan yang sama. Saat tangan Reggiano yang berselubung tanda mawar emas menyentuh permukaan dingin nan pekat dari The Void Thorn, dan Caspian meletakkan jemarinya pada inti pedang dengan getaran energi peraknya, realitas di sekitar mereka seolah tersedak.

Bumi di bawah kaki mereka tidak lagi terasa seperti beludru. Pohon Yggdrasil Minor yang sedang sekarat itu mengeluarkan rintihan yang mengguncang dimensi Eden. Akar-akar raksasa yang tadinya diam mendadak bangkit seperti ular-ular purba yang terbangun dari tidur ribuan tahun.

Bagi pohon yang telah menderita begitu lama, sentuhan apa pun, bahkan niat baik sekalipun, terasa seperti ancaman baru yang ingin menambah luka.

"Sial! Dia panik, Reggiano!" teriak Caspian sambil berusaha menjaga keseimbangan saat akar sebesar tubuh manusia melesat dari bawah, mencoba melilit pinggangnya.

"Dia tidak bisa membedakan antara penyelamat dan pembunuh sekarang!"

Akar-akar itu bergerak liar, mencambuk udara dan mulai melilit kaki Reggiano dengan kekuatan yang mampu meremukkan baja.

Reggiano mencoba memanggil kekuatan regenerasinya, namun pohon itu menolak energinya, menganggapnya sebagai parasit yang mencoba masuk lebih dalam. Di saat yang sama, duri-duri hitam dari pedang itu mulai menjalar ke tangan mereka, mencoba mengonsumsi energi hidup siapa pun yang berani menyentuhnya.

"Oh! Jika kita tidak melepaskannya sekarang, kita akan menjadi pupuk sebelum sempat mencabut benda ini!" Caspian berteriak, wajahnya terlihat semakin senang karena tekanan energi ketiadaan yang menghisap kekuatannya.

Namun, tepat saat sebuah akar raksasa bersiap untuk menghantam mereka berdua menjadi serpihan, sebuah cahaya hijau yang sangat lembut dan murni turun dari langit-langit Eden yang tak berujung. Itu bukan cahaya emas Reggiano yang agresif, bukan pula energi perak Caspian yang asing.

Melainkan itu adalah cahaya dari Seraphine Florence.

Suara Seraphine bergema di seluruh ruangan, tenang dan berwibawa, meredam raungan pohon yang marah.

"Tenanglah, wahai Jantung Dunia. Penjagamu tidak datang untuk menebas, dia datang untuk menyembuh. Kenalilah napas yang aku titipkan padanya."

Keajaiban itu pun terjadi.

Kelopak-kelopak bunga mawar putih dari toko roti Seraphine tiba-tiba berjatuhan dari udara, menyelimuti akar-akar yang liar tersebut.

Setiap kali kelopak mawar itu menyentuh akar yang mengamuk, akar tersebut langsung melunak, kembali bersandar ke tanah dengan getaran yang tenang. Sebuah perisai cahaya berbentuk kubah bunga menyelimuti Reggiano dan Caspian, mengisolasi mereka dari kemarahan pohon namun tetap membiarkan mereka terhubung dengan pedang hitam itu.

Reggiano merasakan aliran kekuatan Seraphine masuk ke punggungnya, memberinya ketenangan batin yang luar biasa.

"Caspian, sekarang! Nona Florence sedang menahan pohon ini untuk kita! Jangan sia-siakan waktunya!"

Caspian menyeringai, meskipun peluh mengucur di dahinya.

"Nona itu benar-benar punya gaya nyentrik. Baik, mari kita cabut duri busuk ini dari tanah tandus!"

Dengan perlindungan Seraphine yang meredam pemberontakan Yggdrasil, Reggiano mengerahkan seluruh kekuatan "Tuan Bumi". Tanda mawar di tangannya bersinar begitu terang hingga menembus kegelapan The Void Thorn.

Bersama-sama, mereka menarik.

Suara logam yang bergesekan dengan serat kayu terdengar memekakkan telinga, bercampur dengan aroma wangi bunga dari Seraphine yang melawan bau belerang dari pedang tersebut.

Perlahan namun pasti, pedang hitam itu mulai terangkat keluar dari jantung pohon. Cahaya putih mulai merembes keluar dari lubang luka pohon, menandakan bahwa kehidupan sedang berusaha merebut kembali tempatnya.

"Satu dorongan lagi, Reggiano!" seru Caspian, matanya kini berkilat dengan energi perak yang menyatu dengan api hijau murni.

Di tengah perjuangan hidup dan mati itu, Reggiano merasakan sesuatu yang aneh. Saat pedang itu hampir tercabut sepenuhnya, ia melihat visi singkat di dalam kayu pohon, wajah ibunya yang tersenyum, seolah-olah beban yang selama ini menghimpit dunianya akhirnya terangkat.

Pedang The Void Thorn akhirnya terlepas dengan satu sentakan hebat, namun ledakan energi yang dihasilkan melemparkan Reggiano dan Caspian ke arah yang berlawanan.

Kesadaran Reggiano kembali perlahan, seperti sebuah perahu yang baru saja melewati badai hebat dan akhirnya terdampar di pantai yang tenang.

Hal terakhir yang ia ingat adalah ledakan cahaya yang membutakan saat pedang The Void Thorn terlepas dari jantung Yggdrasil, diikuti oleh sensasi jatuh ke dalam kekosongan yang hangat.

Ia mengerang pelan, merasakan seluruh ototnya seperti baru saja ditarik dari dua arah yang berbeda. Saat ia membuka mata, langit-langit kayu yang akrab menyambut pandangannya, itu adalah langit-langit kamarnya di lantai atas Flower’s Patisserie. Sinar matahari pagi yang lembut masuk melalui celah gorden, membawa serta aroma ragi yang sedang mengembang dan mentega yang dipanggang.

Namun, ketenangan itu terusik oleh suara kunyahan yang cukup keras dari samping tempat tidurnya.

Reggiano menoleh dengan kaku, insting eksekutornya masih mencoba memberikan peringatan meski tubuhnya menolak untuk bergerak cepat. Di sana, duduk di atas kursi kayu antik miliknya, adalah Caspian Roosevelt.

Pria misterius itu masih mengenakan jas abu-abu yang kini tampak sedikit lebih kusut, dengan kaki yang disilangkan dengan santai. Di tangannya terdapat sebuah croissant almond yang besar juga Tart Lemon, dan ia tampak sangat menikmatinya.

"Oh, kau sudah bangun, Tuan Penjaga?" ucap Caspian dengan mulut yang masih setengah penuh. Ia menelan roti itu lalu meminum kopi dari cangkir porselen favorit Reggiano.

"Jujur saja, Nona Florence benar-benar jenius dalam urusan kue manis. Aku belum pernah merasakan mentega sesegar ini di dimensi mana pun."

Reggiano mencoba duduk, namun rasa pening langsung menghantam kepalanya.

"Caspian... bagaimana kita bisa sampai di sini? Dan di mana Seraphine?"

"Tenanglah, Reggiano. Nona Florence membawamu kembali melalui jalur akar setelah kau pingsan seperti bayi di bawah pohon itu. Aku? Aku hanya mengekor di belakang karena, yah, aku tidak punya tempat tinggal tetap dan aroma toko ini terlalu menggoda untuk dilewatkan," jawab Caspian sambil tersenyum lebar. Ia meletakkan sisa rotinya di piring dan menatap Reggiano dengan tatapan yang sedikit lebih serius.

"Kita berhasil mencabut benda itu. Pohon itu sedang dalam masa pemulihan sekarang. Dan kau... kau baru saja menyelamatkan dunia, setidaknya untuk hari ini."

Pintu kamar terbuka dengan suara decitan halus. Elena muncul dari balik pintu, wajahnya yang tadinya penuh kekhawatiran langsung cerah saat melihat kakaknya sudah sadar. Ia berlari dan melompat ke tepi tempat tidur, memeluk lengan Reggiano yang masih dibalut perban tipis.

"Kak Reggi! Kakak tidur lama sekali!" seru Elena. Ia melirik ke arah Caspian dengan ekspresi sebal yang dibuat-buat.

"Laki-laki aneh ini terus-menerus memakan semua jatah kue ku sejak pagi!"

Caspian tertawa lepas, mengacak rambut Elena dengan santai.

"Hei, anak kecil, aku sudah menyelamatkan nyawa kakakmu berkali-kali di bawah sana. Satu atau dua croissant adalah biaya yang sangat murah."

Reggiano menatap interaksi itu dengan perasaan aneh. Di satu sisi, ia merasa lega melihat Elena aman dan toko tetap berdiri. Di sisi lain, kehadiran Caspian, seorang pria yang baru ia kenal di jantung bumi namun kini duduk di dalam ruang pribadinya, memberikan dinamika baru yang tidak pernah ia bayangkan.

"Di mana Malachai?" tanya Reggiano, suaranya kini lebih stabil.

Caspian terdiam sejenak, menatap cangkir kopinya.

"Pria tua itu... dia memilih tinggal di bawah. Dia bilang dia harus menjaga masa pemulihan Yggdrasil agar tidak ada sisa-sisa energi hitam yang kembali tumbuh. Tapi dia menitipkan sesuatu untukmu."

Caspian merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kunci kecil yang terbuat dari kayu perak yang terus berpendar.

"Dia bilang, ini adalah kunci untuk mengakses 'gudang pengetahuan' Eden. Kau adalah Penjaga penuh sekarang, Reggiano. Kau tidak bisa lagi hanya bersembunyi di balik tepung dan gula."

Reggiano menerima kunci itu, merasakannya berdenyut sinkron dengan tanda mawar di tangannya. Ia menatap Caspian, pria yang kini tampak lebih seperti rekan kerja daripada ancaman.

"Lalu, apa rencanamu sekarang, Caspian?"

Caspian berdiri, membersihkan remah-remah roti dari jasnya.

"Rencanaku? Yah, aku dengar faksi Utara sedang mengirimkan 'tim pembersih' ke kota ini karena mereka gagal di bawah tanah. Dan karena aku sudah terlanjur menyukai kue di sini, kurasa aku akan tinggal sebentar. Kau butuh seseorang yang bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh Penjaga, bukan?"

Reggiano menarik napas panjang, lalu akhirnya mengangguk kecil. Untuk pertama kalinya dalam karier panjangnya sebagai eksekutor yang kesepian, ia merasa memiliki sesuatu yang menyerupai sebuah tim.

"Baiklah. Tapi kau harus bekerja," ucap Reggiano datar.

"Seraphine tentunya butuh bantuan untuk mengangkat karung gandum, dan kau berhutang banyak padanya."

Caspian menyeringai, memberikan hormat yang mengejek. "Siap, Tuan Bos. Mari kita jaga taman ini tetap hijau."

Reggiano menghela napas panjang... kini ia memiliki sekutu baru dalam diri Caspian, sementara ancaman dari faksi Utara semakin mendekat ke permukaan kota.

......................

Matahari pagi di Distrik 7 bersinar lebih cerah dari biasanya, seolah-olah atmosfer kota telah dicuci bersih dari polusi spiritual setelah pencabutan The Void Thorn.

Di dalam Flower’s Patisserie, Reggiano masih merasa sedikit kaku dengan perubahan status miliknya. Ia berdiri di balik meja kasir, mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang digulung, menutupi tanda mawar emasnya yang kini tampak lebih tenang, meresap jauh ke dalam kulitnya.

Namun, pemandangan yang paling tidak biasa adalah sosok di sampingnya. Caspian, dengan jas abu-abu yang sudah disetrika rapi oleh Seraphine, kini mengenakan celemek hijau berlogo bunga mawar. Ia tidak tampak seperti pelayan toko roti pada umumnya, ia lebih terlihat seperti seorang pesulap yang sedang menyamar.

"Reggiano, kawan, wajahmu terlalu tegang," ucap Caspian sambil menata deretan pain au chocolat dengan ketepatan yang keren.

"Ingat, kita sedang menjual kebahagiaan manis dan lezat, bukan sedang menginterogasi tahanan faksi Utara."

Reggiano mendengus kecil. "Lakukan saja tugasmu, Caspian. Dan jangan sampai kau menghilangkan koin perak mu ke dalam adonan roti."

Pintu toko dibuka, dan lonceng berdenting riang.

Pelanggan pertama pagi itu adalah seorang wanita tua yang merupakan pelanggan tetap, namun ia tampak ragu melihat wajah baru di balik meja. Caspian tidak membuang waktu.

Dengan gerakan yang sangat halus, ia menjentikkan jarinya, dan sebuah aroma bunga lavender yang menenangkan tiba-tiba menyeruak di sekitar wanita itu.

"Selamat pagi, Madame yang terhormat," sapa Caspian dengan senyum yang begitu menawan hingga wanita itu tersipu.

"Saya melihat anda membawa sedikit beban berat di pundak anda pagi ini. Bagaimana jika saya merekomendasikan croissant madu ini? Roti ini dipanggang dengan niat untuk meringankan langkah kaki."

Caspian tidak hanya melayani, ia seolah-olah bisa memanipulasi emosi pelanggan. Ia melakukan trik-trik kecil, seperti membuat selembar tisu terlipat sendiri menjadi bentuk bunga mawar saat menyerahkan kembalian, atau memberikan saran ramalan cuaca yang sangat akurat melalui pola remah roti di piring.

Pelanggan yang tadinya masuk dengan wajah lelah, keluar dengan tawa dan perasaan yang jauh lebih ringan.

"Kau menggunakan manipulasi hanya untuk menarik perhatian pelanggan?" bisik Reggiano saat toko sedang sedikit lengang.

Caspian mengerling ke arahnya. "Ini disebut 'layanan pelanggan tingkat tinggi', Reggiano. Dan lihat hasilnya, kotak tip kita sudah hampir penuh dalam satu jam."

Seraphine muncul dari dapur dengan nampan roti gandum panas. Ia memperhatikan Caspian dengan tatapan setuju yang membuat Reggiano sedikit iri.

"Tuan Caspian memiliki bakat alami untuk menyeimbangkan aura tempat ini, Tuan Herbert. Sementara anda adalah 'Akar' yang kokoh, dia adalah 'Angin' yang menyebarkan serbuk sari. Kombinasi yang menarik."

Namun, di tengah hiruk-pikuk pelayanan yang sukses itu, Caspian tiba-tiba terhenti. Ia sedang melayani seorang pria bertopi pet yang tampak biasa saja, namun mata Caspian sedikit menyipit.

Saat menyerahkan bungkusan roti, ujung jari Caspian menyentuh tangan pria itu sekejap.

Setelah pria itu pergi, Caspian mendekat ke arah Reggiano, wajahnya kehilangan sedikit keceriaannya.

"Pria tadi... dia tidak punya detak jantung yang normal, Reggiano. Dia membawa sisa-sisa energi aneh di bawah kulitnya. Kurasa faksi Utara sudah mulai mengirimkan pengintai untuk melihat siapa yang sebenarnya berada di balik toko ini sekarang."

Reggiano segera mengeraskan rahangnya, tangannya secara insting meraba pergelangan tangannya.

"Haruskah aku mengejarnya?"

"Jangan," cegah Caspian sambil kembali tersenyum lebar saat seorang pelanggan lain masuk.

"Biarkan mereka penasaran. Semakin mereka bingung melihat seorang mantan eksekutor dan seorang pengelana dimensi berjualan kue dan bunga, semakin banyak waktu yang kita punya untuk bersiap. Tapi tetap waspada, kawan. Toko ini sekarang adalah pusat perhatian dunia bawah."

Reggiano menarik napas dalam, menyadari bahwa kehidupan barunya ini memang tidak akan pernah benar-benar tenang. Ia menatap Elena yang sedang tertawa bersama seorang anak kecil di sudut toko, lalu menatap Caspian yang kembali melakukan trik sulap dengan donat gula.

"Baiklah," gumam Reggiano. "Jika mereka ingin menyerang, biarkan mereka datang. Tapi mereka harus menunggu sampai jam operasional toko berakhir."

Caspian terbukti menjadi tambahan yang luar biasa bagi toko, namun ancaman faksi Utara mulai menunjukkan bayang-bayang mereka secara nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!