Dia pikir adiknya sudah tewas dibunuh 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 - Serangan Pertama
Berjalan dua hari, pola baru terbentuk dalam kelompok, menjadi sesuatu yang tidak kuduga ternyata... menyenangkan.
Fiora, dengan sifat supelnya yang alami, langsung mengambil peran sebagai "pembawa suasana". Ia terus mencoba mengajak Corbin berbicara, menanyakan tentang perjalanannya, tentang Cragspire, atau sekadar mengomentari pemandangan perbukitan yang mulai berganti menjadi lereng-lereng berbatu saat kami semakin mendekati Pegunungan Sigil.
Dan Corbin menjalankan peran barunya dengan sempurna.
Dia menanggapi dengan sopan, namun selalu singkat. Ia tampak tidak nyaman menjadi pusat perhatian, seringkali menjawab dengan senyum tipis yang canggung. Dia juga tidak pernah benar-benar memberi informasi. Setiap kali Fiora bertanya tentang dirinya, Corbin dengan halus mengalihkan pembicaraan kembali ke Fiora.
Cerdik.
Mungkin dia hanya canggung sepertiku, tapi lebih luwes dalam bersosialisasi. Atau dia memang lebih suka mendengarkan orang lain saja.
Bagiku, kehadiran Corbin adalah berkah terselubung. Beban basa-basi kini berpindah ke bahunya. Aku bisa kembali jadi diriku sendiri: berjalan dalam diam, mengamati sekitar dam memastikan jalur aman. Mungkin sesekali menjawab pertanyaan jika diperlukan. Kehadiran Corbin memberiku alasan untuk tetap diam tanpa terlihat antisosial.
Kesimpulan pengamatan sementara: Corbin bukan ancaman. Dia kurus, gerakannya tidak terlatih, dan dia memiliki aura selalu berusaha menyenangkan orang lain. Tipe orang yang akan minta maaf jika kakinya kau injak. Variabel kecanggungan sosialku tertutup sepenuhnya. Mantap Corbin.
Kami melintasi dataran terbuka yang luas, di mana angin bertiup kencang, lalu memasuki jalur-jalur sempit yang diapit oleh tebing-tebing batu berwarna kemerahan. Jejak-jejak Pelolong Kilat masih terlihat sesekali, namun tidak ada tanda-tanda serangan baru.
Di kejauhan, puncak-puncak Pegunungan Sigil yang tertutup salju abadi mulai terlihat menjulang, sebuah penanda bahwa tujuan kami, Cragspire, sudah semakin dekat.
Malam terakhir sebelum mencapai Cragspire, kami menemukan sebuah ceruk batu yang cukup terlindung dari angin malam untuk mendirikan kamp.
Setelah makan malam—lagi-lagi olahan Fiora yang berhasil mengubah biskuit keras Tarker menjadi sesuatu yang layak disebut makanan—kami duduk mengelilingi api unggun kecil.
Udara terasa dingin, bulan yang terbelah menggantung indah dengan cahaya temaramnya, bintang-bintang tampak begitu dekat dan terang di langit tanpa awan.
Fiora sedang menceritakan kisah lucu tentang pelanggan di toko Elixir-nya.
"...dan dia bersumpah kalau Elixir itu membuatnya bisa berbicara dengan Kuda Batunya!" Fiora mengakhiri ceritanya dengan tawa kecil.
Corbin ikut tertawa pelan. "Orang-orang di desa kecil memang suka percaya hal-hal aneh." Ucapnya sembari memberikan senyum tipis.
"Ya," Fiora menghela napas, senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh bayangan kesedihan. "Andai saja suasana di Paleside masih seceria itu. Kau tahu? Desa kami baru saja hancur diserang bandit."
Hening.
Hanya suara derak kayu terbakar sedikit meletup.
Aku melihat Corbin sedikit tersentak mendengar kata "bandit". Ia terdiam sejenak, sebelum ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di balik bayang-bayang rambutnya yang kusam.
Fiora, mungkin ingin mengalihkan rasa sedihnya atau sekadar ingin tahu lebih banyak tentang rekan seperjalanan baru mereka, mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
"Ngomong-ngomong, Corbin," ia memulai, suaranya lembut, "kau belum cerita darimana asalmu?"
Aku melirik tajam pada Fiora, memberi isyarat peringatan. Jangan. Aturan pertama zona luar. Tak perlu tahu masa lalu orang asing. Itu sama saja seperti mengundang masalah masuk ke dalam rumahmu.
Corbin tampak terkejut oleh pertanyaan langsung itu. Ia mengalihkan pandangannya dari api ke Fiora, lalu ke tanah di depannya. Ia menghela napas panjang, seolah memikul beban berat. "Aku... tidak benar-benar punya 'asal'," jawabnya pelan. "Aku sudah berpindah-pindah cukup lama. Mencari pekerjaan, mencoba bertahan hidup. Cragspire... kudengar ada kesempatan kerja di tambang."
Ia berhenti lagi, tampak ragu untuk melanjutkan. Tangannya yang kurus meremas lututnya sendiri, seolah menahan getaran.
"Aku sempat terjebak dalam situasi yang buruk beberapa hari yang lalu, di hutan dekat... dekat Paleside."
Meskipun sejurus tipis, garis senyum Fiora berubah saat mendengar kata Paleside. "Kau diserang hewan buas?" Lanjut Fiora bertanya.
Corbin menatap api lagi, bayangan api itu menari-nari di wajahnya yang tirus.
"Aku kelaparan," akunya lirih. "Aku... aku terpaksa bergabung dengan sekelompok orang... semacam... perkumpulan di hutan. Hanya untuk mendapatkan makanan dan tempat berlindung sementara."
Saat kata-kata itu keluar, aku melihat perubahan pada paras Fiora. Aura ramahnya lenyap seketika, berubah menjadi keterkejutan. Matanya tidak berkedip. Napasnya tertahan, seolah ada racun di udara.
Aku menegakkan punggung. Tanganku perlahan, sangat perlahan, bergeser mendekati baton di pinggangku.
Orang ini bandit! Instingku tidak pernah salah. Ini tidak akan berakhir dengan baik.
Fiora terus menatap Corbin, menunggu kelanjutan ceritanya.
Corbin, mungkin merasakan perubahan suasana atau hanya ingin menyelesaikan ceritanya, melanjutkan dengan suara yang lebih lirih. " Aku hanyalah kacung disana. Melakukan apa yang disuruh, tukang angkat barang.”
“Mereka tidak solid. Seperti terpecah menjadi dua kubu... satu dipimpin oleh pria besar yang kasar, satunya lagi oleh pria yang... yah, setidaknya tampak punya sedikit prinsip."
Ia mengusap wajahnya yang lelah. "Aku mencoba sebisa mungkin tidak terlibat dalam urusan mereka. Tapi malam itu... ketegangan memuncak. Kedua pemimpin itu saling berhadapan, siap bertarung. Aku berada di barisan belakang kelompok yang kupikir lebih 'baik'."
Corbin menelan ludah, tangannya yang tanpa sadar terkepal menjadi gemetar. " Aku takut mereka saling bunuh. Aku menyiapkan Hydrocraft hanya untuk jaga diri.”
Sudut alisnya naik seolah akan menangis.
Tapi... aku sudah tiga hari tidak makan. Kepalaku pusing. Tanganku gemetar..."
Aku tahu jalan cerita ini. Pertempuran dua kubu, kelompok yang kurang makan, tembakan Hydrocraft. Oh tidak, Jangan bilang kalau kelompok banditnya yang...
Ia menatap tangannya sendiri, tampak rasa jijik dan penyesalan. "Aku tak sengaja melepas Hydrocraft...” Wajahnya berganti cemas, seolah kembali ke waktu itu. “... Sudah ku tahan sekuat yang ku bisa. Meriam air itu melesat tak terkendali ke arah kelompok orang-orang kasar itu.”
“Aku tidak bermaksud menembaknya. Itu... kecelakaan." Ucapnya dengan suara lirih, sembari tertunduk menghadap tanah.
Corbin terdiam, bahunya merosot. "Setelah itu, semuanya kacau balau. Mereka semua berkelahi, saling bunuh bahkan.”
Ia mengangkat kepalanya, menatap kami berdua dengan mata basah. “Aku panik. Saat ada kesempatan, aku langsung lari. Lari sekuat tenaga menjauh dari mereka. Aku tidak menoleh lagi ke belakang" Lanjut Corbin, wajahnya seperti berusaha menguatkan diri sendiri.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah aku pergi."
Suaranya menghilang, ditelan angin malam yang menderu. Di momen ini, api unggun tidak lagi memberikan kehangatan
tujuan diganti dan mengesampingkan pekerjaan juga normal² aja. soalnya orang mana yang ga kangen setelah insiden mengerikan itu?/Frown/
karena aku bisa tau rasa cemasnya mengkhawatirkan satu satunya orang yang dipunya
udah biarin aja debat sampe capek /Facepalm/