Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Ancaman di Balik Kegelapan
Aruna menarik napas panjang, melepaskan sandiwara wajah lugu yang sejak tadi ia pasang. Bahunya tegak, tatapan matanya berubah menjadi sedingin es, tatapan asli seorang Aruna Ardiansyah yang sanggup meruntuhkan nyali lawan bicaranya di ruang rapat. Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit karena ketegangan yang memuncak.
"Kamu cerdas, Aliando. Lebih cerdas dari yang aku perkirakan," ucap Aruna dengan suara rendah namun penuh wibawa.
Aruna akhirnya membeberkan semuanya. Ia menjelaskan tentang kontrak pertukaran identitas, uang ratusan juta yang dikirim sebagai uang muka, hingga misi besar yang sedang ia jalankan di balik nama Alisha.
Aliando mendengarkan dalam diam, namun rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat di bawah meja.
"Jadi, dengarkan aku baik-baik," lanjut Aruna, nadanya kini mengandung ancaman yang tak terbantahkan.
"Jika kamu sampai membuka mulut pada orang tuamu, atau mencoba menggagalkan rencana ini, konsekuensinya tidak main-main. Aku bisa mencabut seluruh biaya kuliahmu dalam satu kedipan mata. Dan yang lebih parah... keselamatan Alisha akan menjadi taruhannya. Dia berada di sarang serigala sekarang. Satu langkah salah darimu, nyawanya yang melayang."
Aruna mencondongkan tubuh, menatap Aliando tepat di manik matanya. "Cukup diam. Jalani hari-harimu seperti biasa. Anggap aku adalah kakakmu. Jika kamu kooperatif, keluargamu akan tetap aman dan kaya."
Aliando tertegun. Jantungnya berdegup kencang antara amarah dan ketakutan. Feeling-nya selama ini benar. Sejak awal, ia merasa aneh saat kakaknya tiba-tiba mendapatkan uang seratus juta dan pekerjaan mewah secara instan. Meski alasan Alisha saat itu masuk akal, insting Aliando sebagai adik tidak bisa dibohongi. Namun, ia tidak menyangka alasan di baliknya sejauh ini, sebuah konspirasi yang mengerikan.
Aliando menatap Aruna cukup dalam, mencoba mencari setitik kemanusiaan di balik mata wanita itu.
"Jika Anda berani melukai kakak saya, sedikit saja... ingat ini, saya tidak akan melepaskan Anda. Saya tidak peduli seberapa kaya atau berkuasanya Anda," ucap Aliando dengan nada yang nyata dan penuh keberanian.
Aruna sedikit mengangkat alisnya. Ia terkesan. Keberanian Aliando bukan sekadar gertakan, itu adalah nyali murni dari seorang adik yang ingin melindungi kakaknya. Di dalam hatinya, Aruna sebenarnya tidak berniat menyakiti Alisha. Gadis itu sudah sangat berjasa, dan Aruna merasa berterima kasih meski ia sulit mengungkapkannya.
"Selama kakakmu menjalankan perannya dengan benar, dia akan aman," jawab Aruna lebih lunak, meski tetap tegas.
"Jika misiku selesai dan aku menemukan semua yang kucari, aku berjanji akan memberikan sesuatu yang istimewa untuknya sebagai imbalan. Tapi untuk mencapai itu, kita harus memastikan sandiwara ini tetap berjalan."
Aliando hanya terdiam, menatap laptop di meja yang masih menyala redup. Ia tahu ia tidak punya pilihan. Untuk melindungi kakaknya, ia harus mau membiarkan orang asing ini masuk ke dalam rumahnya dan berperan sebagai bagian dari keluarganya.
Malam itu, di kamar kecil yang penuh rahasia, sebuah aliansi paksa terbentuk. Aruna kembali pada datanya, sementara Aliando melangkah keluar dengan beban rahasia yang kini menghimpit pundaknya.
***
Keesokan paginya, suasana di kantor pusat Ardiansyah Group terasa sangat tegang. Pertemuan Gathan dan Baskara yang tertunda semalam akhirnya terealisasi di ruangan Gathan yang kedap suara. Baskara datang dengan wajah kelelahan namun membawa data yang krusial.
Gathan duduk di balik meja besarnya, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang tidak sabar.
"Jelaskan padaku, Bas. Apa yang kamu temukan?"
"Sesuai dugaan Anda, Pak. Kecelakaan Nona Aruna sangat janggal," Baskara membuka laptopnya dan menunjukkan peta lokasi kejadian.
"Dua CCTV jalanan di area itu mati total selama tiga puluh menit tepat saat kejadian berlangsung. Sistemnya baru pulih kembali setelah proses evakuasi selesai. Itu sabotase yang sangat rapi."
Gathan menggerakkan rahangnya. "Tidak mungkin kebetulan."
"Benar, Pak. Namun saya berhasil mendapatkan rekaman dari dashcam mobil seorang warga yang kebetulan sedang menepi di bahu jalan beberapa meter dari lokasi," Baskara memutar video tersebut.
Dalam rekaman buram itu, terlihat taksi yang membawa Aruna melaju kencang, lalu tiba-tiba pintu pengemudi terbuka sedikit dan sang sopir melompat keluar sesaat sebelum mobil menghantam pembatas jalan dan terjun ke jurang. Yang paling mengejutkan, dari sudut pandang kamera, bagian belakang mobil tampak kosong, meski kaca film yang gelap membuat segalanya tidak pasti.
Gathan memejamkan mata erat, memijat pelipisnya. Masalah ini ternyata jauh lebih dalam dan berbahaya dari sekadar kecelakaan biasa. Ingatannya kembali pada tekstur halus di pelipis "Aruna" yang ia sentuh semalam. Keraguan itu kini berubah menjadi kecurigaan yang membara.
Gathan menutup laptop Baskara dengan suara dentuman pelan. Ia menatap asistennya itu dengan tatapan yang sangat tajam.
"Hentikan penyelidikan kecelakaan ini sekarang juga," perintah Gathan tegas.
Baskara tertegun, matanya membelalak bingung.
"Tapi Pak, kita baru saja mendapatkan titik terang. Kenapa dihentikan?"
"Karena ada yang lebih penting," Gathan mencondongkan tubuhnya, lalu membisikkan sesuatu tepat di telinga Baskara.
Mata Baskara membulat sempurna mendengar instruksi tersebut. Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang luar biasa, seolah baru saja mendengar sebuah rencana gila. Namun, sebagai asisten yang setia, ia segera menguasai diri, mengangguk patuh, dan pamit keluar dari ruangan tanpa bertanya lebih lanjut.
Gathan bersandar di kursinya, menatap pemandangan kota dari balik jendela kacanya yang besar. Jika wanita di rumahnya memang bukan adiknya, maka ia harus tahu siapa wanita itu, dan siapa yang cukup berani mengirimnya masuk ke dalam keluarganya.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊