NovelToon NovelToon
Jika Cinta Tidak Cukup

Jika Cinta Tidak Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: LilacPink

Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.

Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.

Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:

apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang ada di Depanku

...****************...

Aku bukan tipe orang yang mudah mengambil keputusan soal hati.

Tapi setelah beberapa hari bersama Linda—live bareng, pulang bareng, makan bareng—aku mulai lelah melawan situasi yang terus mendorongku ke arahnya.

Ia tidak memberi jarak.

Dan entah kenapa… aku juga tidak benar-benar menjauh.

Hari itu, setelah live selesai, ruangan terasa lebih sepi dari biasanya. Tim lain sudah keluar untuk istirahat makan siang.

Aku masih duduk di kursi host, membuka botol minum.

Linda berdiri di depanku, menatap tanpa senyum bercanda seperti biasanya.

“Ka,” katanya pelan. “Aku nggak suka hubungan yang gantung.”

Aku menelan ludah.

Aku tahu momen ini akan datang.

Aku menarik napas panjang.

“Kita coba jalani dulu,” ucapku akhirnya. “Aku nggak janji apa-apa. Tapi aku mau coba.”

Wajahnya berubah. Bukan kaget. Bukan juga meledak bahagia.

Lebih ke… lega.

“Serius?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk.

Ia melangkah mendekat. Terlalu dekat untuk ukuran rekan kerja.

“Berarti sekarang aku boleh lebih dari sekadar partner live?” bisiknya setengah menggoda.

Aku tertawa kecil, berusaha terlihat santai padahal jantungku sudah tidak karuan.

Jam istirahat membuat ruangan benar-benar kosong.

Lampu utama redup. Hanya lampu ring light yang belum dimatikan sepenuhnya.

Linda menarik tanganku pelan.

“Ayo ke belakang,” katanya.

Di sudut ruang live ada area kecil yang tidak terjangkau kamera CCTV—terhalang backdrop dan rak properti.

Kami berdiri di sana. Hening.

Dekat sekali.

Aku bisa mencium aroma parfumnya.

Tangan kami masih saling menggenggam.

“Jangan setengah-setengah kalau sama aku,” katanya pelan.

Sebelum aku sempat merespons, ia mengalungkan tangannya di leherku.

Refleks, aku menahan pinggangnya.

Degup jantungku semakin keras.

Tatapannya turun ke bibirku, lalu kembali ke mataku.

“Kamu tegang banget,” bisiknya.

“Ya… ini kantor,” jawabku pelan.

Ia tersenyum miring.

“Makanya deg-degan.”

Linda mendekat. Bukan terburu-buru.

Pelan. Sengaja.

Bibirnya menyentuh bibirku singkat—k hanya sepersekian detik. Cukup untuk membuat pikiranku kosong.

Aku tidak menolak. Tapi juga tidak sepenuhnya tenggelam. Saat ia menjauh, ia tersenyum puas.

“Sekarang rasanya lebih resmi,” katanya ringan.

Aku tersenyum tipis.

Aku bukan pria yang suka menggantung perasaan.

Dan saat aku bilang, “Kita coba jalani dulu,”

itu bukan sekadar kalimat untuk menenangkan Linda. Aku sungguh ingin menjalaninya.

Hari-hari setelah itu terasa berbeda.

Lebih hangat. Lebih hidup.

Aku mulai terbiasa menunggunya datang pagi-pagi. Membawakan kopi favoritnya tanpa diminta. Menyimpan camilan kecil di meja live karena aku tahu dia gampang lapar saat siaran panjang.

Linda tertawa lebih sering sekarang.

Dan aku… menikmati menjadi alasan di balik tawanya.

Saat live, tanganku refleks menyentuh punggungnya saat ia gugup.

Saat istirahat, aku memastikan dia makan.

Saat pulang, aku berdiri sedikit lebih dekat dari biasanya.

Aku laki-laki normal. Dan perempuan yang setiap hari bersamaku itu… membuatku jatuh.

Bukan karena dramatis.

Bukan karena memaksa.

Tapi karena ia ada.

Di depanku.

Nyata.

Suatu siang, saat ruangan live kosong di jam istirahat, kami duduk berdampingan di lantai beralaskan karpet tipis. Backdrop menutup sebagian sudut ruangan.

Linda menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Kamu berubah, ya,” katanya pelan.

“Berubah gimana?”

“Lebih perhatian. Lebih… milik aku.”

Aku tersenyum kecil.

Tanganku menggenggam jemarinya.

“Aku nggak setengah-setengah kalau sayang sama orang,” jawabku jujur.

Ia menatapku. Lama.

“Aku cinta kamu, Ka.”

Kali ini aku tidak ragu.

“Aku juga cinta kamu, Linda.”

Dan saat aku mengatakannya, aku tidak sedang berbohong.

Aku mencintainya. Dengan caraku.

Dengan caraku yang sederhana hadir, menjaga, menemani. Ia mendekat dan menciumku pelan.

Bukan terburu-buru seperti pertama kali.

Lebih dalam. Lebih yakin.

Tanganku memeluknya lebih erat.

Aku ingin ia tah aku memilihnya. Mungkin benar

di dalam hati setiap manusia ada ruang-ruang kecil yang tak semua orang bisa masuki.

Hana?

Ia ada di sudut yang tersembunyi.

Tenang. Diam. Tidak mengganggu.

Tapi yang ada di depanku sekarang adalah Linda.

Dan aku menjalani yang nyata.

1
Rara Purnama
q suka banget. kayak di dunia nyata. ceritanya reltade dan masuk akal ga dbuat2 gitu ga alay
LilacPink: makasih ya ka
total 1 replies
Rara Purnama
thor itu lagu Element ya. vokalisnya baru meningga tgl 25 tepat saat kamu mulai menulis ya thor. semangat thor💪
LilacPink: iya sedih banget lucky meninggal innailaihi wa innailaihi rojiun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!