Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebencian Maya
Ramainya media yang memberitakan tentang pencapaian Ellea sebagai calon menteri, akhirnya sampai juga pada Maya.
Maya yang sedang menonton Tv bersama Thomas, langsung mengepalkan tangannya erat saat melihat wajah seorang wanita yang tergambar jelas disana.
Melihat wajah Ellea di sebuah televisi, membuat Maya tiba-tiba menggeleng kuat dengan tangan yang mengepal. dari sorot mata Maya, terlihat pancaran ketakutan bercampur kebencian dari sorot mata Maya. Wajahnya memerah, rahangnya seketika mengeras serta buku jari tangan yang memutih akibat ia genggam kuat-kuat.
"Kau malah bahagia setelah semua yang kau lakukan, Ellea," batin Maya dengan penuh kebencian.
Semakin ia memandang wajah Ellea yang tengah tersenyum ramah menjawab pertanyaan wartawan, seketika kilasan rasa sakit yang di dapatkannya dari Ellea terus berkelindan dalam benaknya. Bahkan, sedikit demi sedikit rasa sakit yang sudah menumpuk tersebut, kini menimbulkan rasa dendam yang amat sangat dan juga mendalam.
Maya bahkan masih sangat ingat bagaimana ekspresi Ellea yang begitu jijik saat melihat dirinya dan juga Vellona ketika di persidangan menghadapi Bryan.
"Gadis yang sangat menjijikan. Demi uang, rela menggadaikan harga dirinya dengan cara yang jauh lebih menjijikan."
Selain itu, Ellea meyebut Vellona sebagai gadis menjijikan, murahan dan juga gadis dari kasta rendahan yang tidak akan mungkin di sentuh oleh gelandangan sekalipun, dengan beraninya menjebak Bryan demi bisa menjadi seorang Lewis yang memiliki nama besar.
Bahkan dengan tanpa perasaannya, Ellea juga mengatakan jika Fernand sang ayah dari Vellona, merupakan pria miskin yang tidak memiliki otak. Karena menggunakan anak-anaknya, untuk menjerat pria kaya dengan trik murahan.
"Fernand memang tidak memiliki otak. Pria sialan yang membiarkan anaknya menjual diri di depan putraku, hanya demi naik derajat. Dia pikir, penyapu jalanan sepertinya bisa mendapatkan seorang putra mahkota seperti Bryan?"
"Anak itu memang tidak punya harga diri. Bahkan meski dijual murah sekali pun harga diri anak-anak Fernand, aku rasa tidak akan pernah ada yang mau. Bahkan mungkin di berikan gratis pun, tidak akan ada yang menampung. Mereka jelas sudah jijik dengan apa yang sudah dua gadis itu lakukan!"
Kalimat menyakitkan Ellea, masih terngiang jelas di telinga Maya. Menambah rasa perih yang semakin menekan dadanya.
Sakit hati bercampur amarah yang dirasakan Maya saat ini semakin bertambah saat melihat Bryan berada dalam layar kaca, dengan seyum kebanggaannya menemani sang ibu yang melakukan konferensi pers.
Rasa trauma dan juga rasa amarahnya bertumpuk menjadi satu. Ingin rasanya Maya menghancurkan televisi, agar orang yang berada didalam sana juga ikut hancur.
"Iblis seperimu tidak pantas untuk hidup, apalagi menjadi menteri, Ellea!" gumam Maya tiba-tiba, dengan raut yang begitu marah dan tangan terkepal kuat.
Mungkin bagi Maya, ucapannya hanya terdengar untuk dirinya sendiri. Namun, tanpa dia sadari ucapan itu terdengar jelas di telinga Thomas.
"Kau mengenal mereka, Maya?" tanya Thomas pelan. Tangannya bergerak mengusap kepala Maya, agar sedikit lebih tenang.
"Me-mereka iblis, Thom. Mereka iblis dan tidak pantas menjadi seorang menteri!" ucap Maya dengan jari telunjuk mengarah pada Televisi.
"Benarkah? Tapi aku setuju dengan ucapanmu, Iblis memang tidak pantas hidup di dunia, mereka lebih pantas tinggal di neraka!" sahut Thomas menimpali ucapan Maya.
"Mereka memang iblis Thom, mereka kejam. Aku ingin mereka mati, Thom!" rengek Maya, tampak seperti anak-anak yang meminta sesuatu.
Thomas tersenyum mendapati sikap Maya, yang mulai berani merengek padanya tanpa ada ketakutan seperti beberapa hari yang lalu.
"Iya, mereka memang iblis Maya. Tapi yang pantas untuk mereka bukan kematian, tapi penderitaan!" Thomas terdengar menggeram, seolah tengah menahan amarahnya saat melihat Ellea.
Sontak ucapan yang di lontarkan Thom, membuat Maya menoleh padanya dengan pandangan heran.
"Apa yang membuatmu berbicara seperti itu Thom?? Apa kau membenci mereka?" tanya Maya.
"Kau sendiri?? Apa yang membuatmu mengatakan hal seperti tadi?? Apa kau mengenal mereka sampai kau bisa mengatakan mereka iblis??" Thomas balik bertanya.
Maya terdiam mendapati pertanyaan Thomas. Jantungnya berpacu dengan kuat, saat pikirannya mulai mengarahkan dirinya untuk mengingat segala hal yang terjadi, sebelum akhirnya dia seperti saat ini.
"Thom, kenapa kau menanyakan hal itu padanya?" tegur Amora, saat mendapati raut yang mengeras dari wajah Maya, setelah mendapatkan pertanyaan dari Thomas.
"Maaf, aku hanya penasaran!"
"Sayang, dengarkan aku! Kau tidak perlu mengingat apapun yang bisa membuatmu terluka ataupun membuatmu sakit!" ucap Amora, berusaha menenangkan maya yang seketika membuat thom sadar kalau ia sudah salah bertanya hal tersebut pada Maya.
"Maafkan aku Maya, aku tidak bermaksud membuatmu takut!" lirih Thomas.
"Ya, tidak apa-apa!" Maya menjawab lirih,dengan bibir yang tampak berusaha untuk tersenyum.
"Sebaiknya kau istirahat saja. Jangan dulu memaksakan diri, untuk menceritakan apapun yang bisa membuatmu sakit.!"
"Aku tidak apa-apa nyonya, aku baik-baik saja!" sahut Maya. Pikirannya melayang pada apa yang terjadi dengan dirinya dan juga keluarganya.
Maya berusaha menguatkan diri untuk tidak menangis ataupun histeris saat kembali mengingat kejadian tragis yang menimpanya.
"Semua itu berawal dari iblis yang saat ini tengah berbicara di layar kaca!"
"Benarkah?? Ellea atau putranya?"
"Keduanya, bahkan mungkin satu keluarga!"
jawaban Maya jelas membuat Amora dan juga Thomas semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Maya. namun juga mereka tahu, kalau mereka tidak bisa memaksa Maya untuk cerita lebih jauh.
"Maya, sayang. Jujur saja, aku sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu. a-aku juga ingin tahu kenapa kau begitu membenci mereka. Tapi aku sadar kalau hal ini bukan waktu yang tepat untuk di tanyakan sekarang."
"Mama benar. Meski penasaran, kami akan menahannya. sebaiknya, kau jangan menonton tayangan itu kalah malah membuatmu tersiksa."
"Thom," lirih Maya.
Thomas menepuk pelan puncak kepala Maya. "Aku mengerti. Nanti saja ceritanya, kalau kau sudah siap dan keadaan sedikit membaik. hmmm."
Maya akhirnya mengangguk, dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah televisi yang masih menunjukkan wajah Ellea dan juga Bryan.
"Aku bersumpah, aku akan menuntut balas untuk semuanya Ellea. Apapun yang terjadi, aku akan memintamu membayar semua hutangmu hingga lunas, berikut bunganya," batin Maya, dengan tangan yang terkepal kuat mencengkram seprai.