NovelToon NovelToon
Bukan Sistem Biasa

Bukan Sistem Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:173.9k
Nilai: 4.6
Nama Author: Sarif Hidayat

Beberapa bulan setelah ditinggalkan kedua orang tuanya, Rama harus menopang hidup di atas gubuk reot warisan, sambil terus dihantui utang yang ditinggalkan. Ia seorang yatim piatu yang bekerja keras, tetapi itu tidak berarti apa-apa bagi dunia yang kejam.
​Puncaknya datang saat Kohar, rentenir paling bengis di kampung, menagih utang dengan bunga mencekik. Dalam satu malam yang brutal, Rama kehilangan segalanya: rumahnya dibakar, tanah peninggalan orang tuanya direbut, dan pengkhianatan dingin Pamannya sendiri menjadi pukulan terakhir.
​Rama bukan hanya dipukuli hingga berdarah. Ia dihancurkan hingga ke titik terendah. Kehampaan dan dendam membakar jiwanya. Ia memutuskan untuk menyerah pada hidup.
​Namun, tepat di ambang keputusasaan, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
​[PEMBERITAHUAN BUKAN SISTEM BIASA AKTIF UNTUK MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA TUAN YANG SEDANG PUTUS ASA!
APAKAH ANDA INGIN MENERIMANYA? YA, ATAU TIDAK.
​Suara mekanis itu menawarkan kesepakatan mutlak: kekuatan, uang,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarif Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 menunda keberangkatan ke kota

Rama duduk di tepi ranjang, termenung. Di telapak tangannya, Pil Kultivator itu memancarkan aura lembut, pil yang menjanjikan lompatan bakat tertinggi.

​Ia mengamati sekeliling kamar yang sederhana—sebuah rumah yang asing untuk melakukan terobosan sebesar ini. Apalagi, Sistemnya sudah mewanti-wanti, prosesnya membutuhkan sepuluh hari penuh. Rama menggeleng pelan. Keputusan sudah bulat: ia harus menundanya dan mungkin memundurkan jadwal keberangkatannya ke kota.

​“Sistem,” bisiknya, “bisakah kamu simpan kembali pil ini?”

​[DING! Tentu, Tuan. Sistem tidak seperti pepatah 'kucing bisa naik tidak bisa turun'. Jika Sistem bisa mengeluarkan, akan memalukan sekali jika tak bisa memasukkannya lagi.]

​Rama sempat terpaku. "Rupanya kau pandai berbudi bahasa juga, Sistem," gumamnya, tersenyum tipis.

​[DING! Proses penyimpanan pil diproses...]

​Seketika, pil di telapak tangannya lenyap, seolah tak pernah ada.

​“Sistem, buka profil,” perintah Rama.

​[DING! PROFIL TUAN RUMAH PEMILIK BUKAN SISTEM BIASA]

NAMA | Rama Keswara

RAS | Manusia

UMUR | 17 Tahun

KEKUATAN TUBUH | 70% / 1000%

POIN TUKAR | 580

KEAHLIAN KHUSUS | Memasak Raja Chef |

| HADIAH BELUM DIAMBIL | Uang Tunai Rp 25.000.000 & Pil Kultivator Bakat Tertinggi |

​Melihat barisan data itu, senyum Rama melebar menjadi tawa kecil yang tertahan. Dua puluh lima juta Rupiah! Uang sebanyak itu, bagi Rama yang dulu, berarti setidaknya satu tahun kerja keras tanpa henti—sekarang hanya hadiah sampingan.

​Jam di dinding menunjukkan pukul empat sore. Waktunya bergerak. Ia segera menyambar handuk dan bergegas mandi. Setelahnya, ia langsung menuju dapur. Aroma masakan Bu Maya sudah menyambutnya di sana.

Di Dapur Bu Maya

​Bu Maya tampak sibuk di depan kompor.

​“Rama, kapan kamu pulang?” tanya Bu Maya tanpa menoleh, terkejut karena tak menyadari kepulangan pemuda itu dari pasar.

​“Baru saja, Bu,” jawab Rama ringan. “Oh iya, sekalian tadi aku beli beberapa bahan untuk masak.” Ia meletakkan beberapa kantong plastik berisi belanjaan di meja.

​Bu Maya akhirnya menoleh, alisnya terangkat. “Loh, kenapa kamu malah beli bahan-bahan ini? Bukannya kamu mau beli beberapa set pakaian?”

​“Aku sudah membelinya, Bu. Masih ada sisa sedikit, jadi aku belikan bahan-bahan ini,” jelas Rama.

​Bu Maya segera memeriksa isi kantong: ada potongan daging ayam, ikan segar, dan bermacam sayuran. Kerutan di keningnya tak hilang. "Kamu ini. Memangnya berapa potong pakaian yang kamu beli? Bukannya memiliki banyak pakaian lebih baik?"

​Bu Maya tampak kurang senang. Ia mengira Rama terlalu memaksakan diri, padahal di matanya, pemuda itu tidak punya banyak uang.

​“Cukup kok, Bu May. Meskipun tidak banyak, tapi cukup untuk sementara waktu,” jawab Rama menenangkan.

​“Ya sudah, Ibu masak dulu,” ujar Bu Maya, mulai fokus kembali pada wajan.

​Namun, ucapan Rama selanjutnya membuatnya terpaksa menoleh lagi.

​"Bu… bagaimana kalau aku saja yang memasak?"

​Bu Maya memandangi Rama dari kepala sampai kaki, ada nada ingin tahu dalam suaranya. “Memangnya kamu sudah mandi?”

​Rama mengangguk, sorot matanya yakin. "Sudah, Bu."

​“Kalau begitu, biarkan Ibu membantu sedikit saja,” ujar Bu Maya, hatinya tergelitik rasa penasaran. Ia masih ingat betul rasa nasi goreng istimewa yang Rama buat pagi tadi.

​Rama tersenyum, mengangguk setuju, dan segera mengambil alih meja masak.

Rama berdiri di depan meja dapur, menguasai ruang itu seolah-olah ia berada di dapur restoran bintang lima. Meskipun dapurnya sederhana, aura yang terpancar dari gerakannya sungguh berbeda.

​Bu Maya berdiri di samping, awalnya berniat membantu, tetapi kini ia hanya terdiam. Di tangannya, pisau yang ia pegang terasa berat, dan niatnya untuk memotong sayuran pun terhenti.

​Rama mulai bekerja dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa.

​Ia mengambil daging ayam dan ikan yang baru dibeli. Gerakan pisaunya cepat, presisi, dan nyaris tanpa suara. Potongan daging ayam yang harusnya tebal menjadi irisan sempurna yang sama rata; ikan dibersihkan dari tulang dan duri tanpa menyisakan serpihan sedikit pun.

​“Pola potongannya… kenapa bisa begitu rapi?” gumam Bu Maya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia telah memasak selama puluhan tahun, tetapi belum pernah melihat teknik memotong seefisien itu.

​Rama tidak banyak bicara. Ia bekerja secara insting. Ia menyiapkan bumbu. Bawang putih, bawang merah, cabai—semua dihancurkan dengan gerakan batu ulekan yang ritmis, menghasilkan pasta bumbu yang teksturnya sangat halus dan aroma yang seketika memenuhi dapur, mengalahkan aroma masakan Bu Maya sebelumnya.

​Saat ia mulai menumis bumbu, suhu wajan seolah-olah patuh pada perintahnya. Minyak panas berinteraksi dengan bumbu-bumbu, melepaskan gelombang aroma yang pekat dan berlapis-lapis.

​Rama memutuskan untuk membuat tiga menu sederhana: Ayam Mentega, Ikan Bumbu Kuning, dan Tumis Sayur Bunga Kol.

​Sret! Sret!

​Daging ayam dilemparkan ke wajan dengan sedikit mentega, menghasilkan suara sizzling renyah. Rama menggunakan spatula seperti seorang konduktor orkestra. Ia menggoreng, menumis, dan melempar bahan-bahan dengan kontrol panas yang absolut. Setiap butir bumbu, setiap helai sayur, dimasak hingga mencapai titik kematangan terbaiknya, tidak kurang dan tidak lebih.

​Bu Maya memejamkan mata sejenak saat aroma Ayam Mentega yang manis, gurih, dan smoky itu menerpa indranya. Air liurnya tercekat.

​“Ini bukan hanya wangi masakan biasa…” bisik Bu Maya pada dirinya sendiri. “Ini… wangi seperti masakan kota yang ada di.”

​Ketika Ikan Bumbu Kuning mulai mendidih di panci terpisah, warna kuningnya tampak begitu menggugah, dan kuahnya mengeluarkan uap harum rempah yang kuat namun lembut di hidung. Sementara itu, Tumis Bunga Kol hanya dimasak sebentar, menjaga tekstur renyah alami dari sayuran itu.

​Dalam waktu yang terasa sangat singkat, tiga hidangan sudah tersaji di meja dapur.

​Rama menoleh pada Bu Maya, yang masih berdiri mematung di sampingnya, pisau di tangan.

​“Bu, sudah selesai. aku akan membawanya ke meja makan,” ajak Rama, mengakhiri pertunjukan memasaknya.

​Bu Maya tersentak, seperti baru terbangun dari hipnotis. Ia menatap hidangan di depannya—warnanya begitu hidup, penataannya begitu menarik, dan aromanya sungguh memabukkan.

​"Rama... kamu belajar di mana semua ini?" tanyanya, suaranya serak karena kagum yang tak tertahan. "Bukankan kah tadi pagi kamu mengatakan baru pertama kali memasak," Jelas sekali menurutnya terlalu aneh jika pemuda ini baru pertama kali memasak, apalagi melihatnya secara langsung tadi. bahkan keahlian memasak rama jauh lebih terlihat profesional dari pada dirinya yang memasak setiap hari.

"Hanya dari beberapa buku yang aku baca bu," jawab rama tak ada alasan laik yang bisa ia katakan.

Bu maya memandangi masakan itu bergantian dengan rama,"Kamu memiliki bakat yang bagus prihal memasak rama, ibu yakin.. jika di masa depan kamu membuka sebuah rumah makan ibu yakin pasti rumah makanmu akan ramai oleh pembeli,"

"Ibu terlalu berlebihan menilainya, bahkan jika aku membuat usaha seperti itu. mungkin memang ramai.. tetapi bukan ramai karena ingin membeli tapi mengusir agar tidak berbulan lagi,"Ucap rama membuat bu maya langsung tersenyum kecil.

"Kamu ini, ibu serius loh ram.. kamu malah becanda,"

Rama hanya menanggapi dengan cengiran canggung, membawa makanan yang ia masak menaruhnya ke atas meja makan,

"Ya sudah.. klo begitu ibu mandi mandi dulu sekalian mau bangunin bela, gadis itu pasti sedang tidur dengan earphone di telinganya,"

1
Dirman Ha
g book
Dirman Ha
I g nk
Zulterry Apsupi
MC idiot
Memyr 67
𝗋𝖺𝗇𝖽𝗒 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗌𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖺𝗌𝗎𝗁𝖺𝗇 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗁𝖺𝗁? 𝗐𝗂𝖽𝗒𝖺? 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗄𝖺𝗂 𝗉𝗋𝖾𝗆𝗉𝗎𝖺𝗇, 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄?
Memyr 67
𝗍𝗎 𝗄𝖺𝗇? 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍. 𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝗌𝗎𝗉𝖾𝗋𝗂𝗈𝗋 𝗆𝖺𝗎 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂, 𝗒𝗀 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 "𝗆𝖾𝗇𝗒𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇" 𝗋𝖺𝗆𝖺. 𝗋𝖺𝗆𝖺? 𝖽𝗂𝗌𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗎𝗋𝖽 𝗌𝗂𝗁 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗂𝗍𝗎
Memyr 67
𝗌𝖾𝗆𝗈𝗀𝖺 𝗁𝗎𝖻𝗎𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗇 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝖻𝖺𝗍𝖺𝗌 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁. 𝗄𝖺𝗌𝗂𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗌𝖾𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗎𝗌𝖺𝗁𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗆𝗉𝗎.
Manusia Biasa
lucu gw suka interaksi bela x rama😁
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗉𝖾𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖽𝗂𝖺 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗍𝗈𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗅𝗂𝗆𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝖺𝗇. 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝗆𝖾𝗆𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗅𝖺 𝗂𝗇𝖿𝗈𝗋𝗆𝖺𝗌𝗂 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗌𝗁𝖾𝗋𝗅𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗉𝖺𝗋𝗈. 𝗉𝖾𝗇𝗀𝖺𝗐𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗋𝗂𝖼𝗈 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖻𝖾𝗋𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋.
Dirman Ha
hv gi
Dirman Ha
yd dg
Dirman Ha
hv no
Dirman Ha
ig gi
Dirman Ha
ih bko
Dirman Ha
ig gh
Memyr 67
𝗄𝗈𝗄 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 250%? 𝖺𝗉𝖺 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗅𝗎𝗉𝖺?,
Memyr 67
𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗌 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍 𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋 𝗉𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀. 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗄𝖾𝗋𝗃𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖺𝖺𝗍 𝗂𝗍𝗎 𝗍𝖺𝗇𝗉𝖺 𝗆𝖾𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗄𝗂𝖻𝖺𝗍𝗇𝗒𝖺.
Dirman Ha
ih go
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!