Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebahagiaan di Tengah Badai
Malam itu rumah yang biasanya sepi jadi penuh kehangatan yang aneh. Aneh tapi indah.
Arga duduk di sofa dengan selimut menutupi tubuhnya yang kurus, tapi wajahnya berseri. Matanya berbinar menatap Safira yang duduk di sampingnya dengan tangan tidak lepas dari perut istrinya. Seolah takut kalau dia lepas, keajaiban itu akan hilang.
"Berapa bulan?" tanya Arga untuk kesekian kali malam ini, suaranya masih gemetar karena belum percaya sepenuhnya.
"Nenek Aminah bilang baru beberapa minggu," jawab Safira sambil tersenyum walau matanya masih merah bekas menangis. "Tapi pertumbuhannya akan lebih cepat dari bayi manusia biasa. Mungkin... mungkin lima sampai enam bulan sudah lahir."
"Lima bulan," Arga mengulangi sambil mengusap perut Safira dengan sangat lembut, seperti takut menyakiti. "Berarti lima bulan lagi kita akan jadi orang tua."
Safira mengangguk sambil menahan tangis lagi. Lima bulan. Waktu yang sangat singkat. Tapi menurut Nenek Aminah, Arga mungkin tidak akan bertahan selama itu kalau Safira tidak memberikan sebagian jiwanya.
Dan Safira sudah memutuskan. Besok dia akan melakukan ritual itu. Tanpa sepengetahuan Arga.
"Ga, lo serius bakal jadi bapak?" Bagas yang dari tadi mondar mandir dengan wajah bingung akhirnya duduk di lantai di depan mereka. "Gue masih nggak percaya. Maksud gue, lo nikah sama jin udah bikin gue shock. Sekarang lo bilang lo bakal punya anak setengah jin? Ini udah kayak film luar negeri yang aneh aneh itu."
Arga tertawa. Tertawa untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu. Suaranya lemah tapi tulus. "Gue juga nggak percaya, Gas. Tapi ini nyata. Ini beneran terjadi."
"Lo seneng?" tanya Bagas sambil menatap Arga dengan tatapan serius.
"Seneng?" Arga menatap Bagas dengan mata berkaca-kaca. "Gue nggak tahu ada kata yang lebih kuat dari seneng. Gue bahagia, Gas. Sangat bahagia. Untuk pertama kalinya sejak semuanya kacau, gue merasa hidup gue punya arti lagi."
Bagas tersenyum walau air matanya ikut keluar. "Gila lo, Ga. Beneran gila. Tapi gue seneng lihat lo bahagia. Udah lama gue nggak lihat lo senyum kayak gini."
"Itu karena Safira," Arga menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta. "Dia yang bikin gue bisa senyum lagi. Dia yang bikin gue mau hidup lagi. Dan sekarang dia kasih gue anak. Apa ada yang lebih sempurna dari ini?"
Safira tidak bisa menahan tangisnya lagi. Dia memeluk Arga dengan erat, menangis di bahu suaminya. "Maafkan aku, Arga. Maafkan aku."
"Kenapa kamu minta maaf?" Arga bingung sambil mengusap punggung Safira. "Kamu justru memberiku kebahagiaan."
"Karena aku," Safira mau bilang sesuatu tapi dia tahan. Tidak. Tidak sekarang. Biarkan Arga bahagia dulu. "Karena aku mencintaimu terlalu egois."
"Nggak ada yang egois dari cinta kita," Arga mencium puncak kepala Safira. "Kita saling mencintai. Saling membutuhkan. Dan sekarang kita punya anak. Ini sempurna."
Bagas yang melihat mereka berpelukan ikut nangis sambil ngusap ingus dengan lengan baju. "Anjir kenapa gue jadi ikutan nangis sih. Kalian berdua bikin gue jadi cengeng."
Arga dan Safira tertawa di antara tangis mereka.
***
Malam semakin larut. Bagas sudah pulang dengan pesan berkali kali agar Arga jaga kesehatan dan makan yang banyak. "Lo sekarang calon bapak, Ga. Harus kuat. Jangan sampai anak lo lahir, bapaknya udah..."
Bagas nggak sanggup ngelanjutin kalimatnya. Dia cuma meluk Arga erat lalu pergi dengan motor bebeknya yang suara knalpotnya berisik.
Sekarang tinggal Arga dan Safira di ruang tamu yang remang-remang, hanya diterangi satu lampu tidur di sudut.
Arga berbaring di pangkuan Safira, tangannya masih setia di perut istrinya. "Safira."
"Hm?"
"Kalau anaknya cowok, kita kasih nama apa?"
Safira tersenyum sambil mengusap rambut Arga yang mulai rontok. "Kamu yang pilih."
"Rama," jawab Arga tanpa ragu. "Rama Maheswara. Bagus nggak?"
"Bagus," Safira mengangguk sambil berusaha tidak nangis lagi. "Rama. Nama yang kuat."
"Kalau cewek?"
"Ramadhani," Safira menjawab pelan. "Ramadhani Aluna Maheswara."
Arga menatap Safira dengan tatapan takjub. "Cantik banget namanya. Kenapa pake Ramadhani?"
"Karena..." Safira mengusap air mata yang mulai turun lagi. "Karena di bulan Ramadhan dulu, aku pertama kali bertemu Arjuna. Dan di bulan Ramadhan juga, aku pertama kali merasakan cinta lagi saat bertemu kamu. Bulan itu, bulan yang istimewa."
Arga menggenggam tangan Safira yang dingin. "Kalau begitu kita doain aja anaknya cewek biar bisa pake nama Ramadhani."
"Cowok atau cewek aku akan sayang sama dia," Safira tersenyum sedih. "Sangat sayang."
Mereka terdiam sebentar, hanya suara detak jam dinding yang tik tok tik tok memecah keheningan.
"Arga," Safira akhirnya bicara dengan nada serius. "Nanti kalau aku kenapa-kenapa..."
"Jangan," Arga langsung bangkit duduk walau tubuhnya limbung. "Jangan mulai bicara kayak gitu."
"Tapi aku harus bilang," Safira bersikeras sambil menatap mata Arga. "Kalau nanti aku tidak bisa menemani kamu dan anak kita, kamu janji ya, kamu akan ceritakan tentang aku pada dia. Ceritakan bahwa ibunya sangat mencintainya. Sangat ingin melihatnya tumbuh besar."
"Safira."
"Janji, Arga. Kumohon," Safira menatap Arga dengan mata penuh air mata.
Arga memeluk Safira dengan sangat erat walau tubuhnya gemetar. "Aku janji. Tapi kamu harus janji juga. Janji kamu akan tetap di sini. Akan melahirkan anak kita dengan selamat. Akan melihat dia tumbuh besar bersama kita."
"Aku akan berusaha," Safira membalas pelukan sambil menangis. "Aku akan berusaha sebisa aku."
Mereka berpelukan lama sampai Arga mulai tertidur di pelukan Safira karena kelelahan. Napasnya berat, tubuhnya panas dingin.
Safira mengusap wajah Arga yang tidur dengan sangat lembut. "Maafkan aku, suamiku. Besok aku akan melakukan sesuatu yang akan membuatku sangat lemah. Tapi itu demi kamu. Demi anak kita. Demi kita bisa tetap bersama walau hanya sebentar lagi."
Dia mencium kening Arga dengan lembut. Lalu dengan hati-hati dia membaringkan Arga di sofa, menyelimutinya dengan selimut tebal.
Safira berjalan ke mushala kecil di sudut rumah. Mengambil wudhu dengan air yang terasa sangat dingin di kulitnya yang sekarang lebih sensitif karena kehamilan.
Dia berdiri menghadap kiblat, mengangkat takbir dengan tangan yang gemetar.
Shalat malam ini terasa sangat berat. Setiap gerakan terasa menyakitkan. Setiap sujud terasa seperti seluruh beban dunia ada di punggungnya.
Tapi dia bertahan.
Setelah salam, dia duduk bersimpuh dengan tangan terangkat tinggi.
"Ya Allah," suaranya gemetar hebat. "Hamba tidak tahu apa yang harus hamba katakan lagi. Hamba sudah berdoa banyak hal. Memohon banyak keajaiban. Dan engkau memberikan lebih dari yang hamba minta."
Air matanya mengalir deras.
"Engkau memberikan hamba cinta Arga. Engkau meridhai pernikahan kami. Dan sekarang, engkau anugerahkan kami seorang anak. Hamba tidak layak mendapat semua ini, ya Allah. Tapi Engkau tetap memberikannya."
Safira menunduk, dahinya hampir menyentuh sajadah.
"Sekarang hamba mohon lagi, ya Allah. Hamba mohon berikanlah kesehatan untuk bayi di kandungan hamba. Berikanlah kekuatan untuk Arga agar dia bisa bertahan sampai anak kami lahir. Dan kalau memang harus ada yang pergi, ambillah hamba saja. Jangan ambil mereka."
Isak tangisnya pecah di kalimat terakhir.
"Hamba sudah cukup merasakan bahagia di dunia ini. Lima puluh tahun hamba tersiksa dalam kesendirian. Tapi enam bulan terakhir bersama Arga, enam bulan itu sudah cukup membayar semua penderitaan hamba. Jadi... jadi hamba rela pergi asal mereka berdua selamat."
Safira jatuh tersungkur, menangis sejadi-jadinya di lantai mushala itu.
Dia menangis sampai tidak ada air mata lagi yang keluar. Sampai tubuhnya lemas total. Sampai dia tertidur di lantai dengan wajah yang masih basah.
Dan dalam tidurnya, dia bermimpi.
Mimpi tentang seorang bayi yang menangis di pelukannya. Bayi dengan mata seperti Arga tapi rambut hitam seperti Safira. Bayi yang tersenyum saat Safira menciumnya.
Tapi di mimpi itu, Safira melihat dirinya perlahan memudar. Tubuhnya menjadi transparan. Dan bayi itu tidak lagi di pelukannya, tapi di pelukan Arga yang berdiri jauh dari Safira.
Safira ingin menghampiri mereka. Ingin memeluk mereka. Tapi kakinya tidak bisa bergerak. Tubuhnya semakin transparan sampai akhirnya dia benar-benar menghilang.
Dan suara terakhir yang dia dengar adalah tangisan bayinya yang memanggil ibu.
Safira terbangun dengan terlonjak, napasnya tersengal, tubuhnya basah keringat.
"Cuma mimpi," gumamnya sambil memegang dadanya yang berdebar kencang. "Cuma mimpi."
Tapi kenapa mimpi itu terasa sangat nyata?
Kenapa terasa seperti pertanda?
Safira menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran buruk itu. Dia berdiri dengan susah payah, tubuhnya terasa sangat berat sekarang.
Saat keluar dari mushala, dia melihat Arga sudah bangun, duduk di sofa sambil memegang perutnya sendiri dengan wajah kesakitan.
"Arga!" Safira langsung berlari menghampiri. "Kamu kenapa?!"
"Pe-perutku sakit," Arga meringis kesakitan. "Rasanya kayak diremas dari dalam."
Safira panik. Dia tahu ini. Ini karena bayi mulai tumbuh dan menguras energi Arga lebih cepat.
"Bertahan, sayang. Kumohon bertahan," Safira memeluk Arga sambil menangis. "Besok aku akan buat kamu lebih baik. Aku janji."
"A-apa maksudmu?" Arga bertanya di antara ringisan sakitnya.
"Nanti kamu akan tahu," Safira mengusap wajah Arga yang pucat dengan tangan gemetar. "Sekarang kamu istirahat dulu. Aku akan ambilkan obat."
Safira memapah Arga ke kamar, membaringkannya di ranjang dengan lembut. Dia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Arga sampai suaminya tertidur lagi karena kelelahan.
Lalu Safira menatap perut Arga yang naik turun pelan saat bernapas.
"Maafkan aku," bisiknya pelan. "Maafkan aku karena besok aku akan melakukan sesuatu yang sangat berbahaya. Tapi ini satu-satunya cara. Satu-satunya cara agar kamu dan anak kita bisa selamat."
Dia mencium tangan Arga yang dingin.
"Aku mencintaimu, Arga Maheswara. Sangat mencintaimu. Dan karena cinta itu, aku rela memberikan apapun. Bahkan jiwaku."
Malam itu Safira tidak tidur sama sekali.
Dia hanya duduk di samping Arga, menatap wajah suaminya, mengingat setiap detail. Setiap kerutan saat dia tersenyum. Setiap kedipan matanya. Setiap tarikan napasnya.
Mengingat semua itu.
Karena dia tahu.
Setelah besok, setelah dia memberikan sebagian jiwanya, dia mungkin tidak akan punya banyak waktu lagi untuk mengingat.
Dia mungkin tidak akan bertahan lama.
Tapi tidak apa-apa.
Selama Arga dan anaknya selamat.
Itu sudah cukup.
Lebih dari cukup.