NovelToon NovelToon
Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

Langkah kaki kami beradu dengan tanah setapak yang mulai lembap. Rumah kayu kami yang mungil namun kokoh tampak berpijar hangat di kejauhan, cahaya lampu minyak dari jendelanya seolah melambai memanggil kami pulang.

Begitu pintu depan terbuka, aroma sup jagung manis dan rempah-rempah langsung menyelimuti indra penciumanku. Ibu sedang menata meja, ia tersenyum lebar saat melihatku masuk.

"Cuci tanganmu, Kazumi. Ibu sudah memasak khusus untuk merayakan hari ini," ujar Ibu lembut.

Aku duduk di kursi kayu favoritku, merasa ada ketegangan kecil namun manis di udara. Setelah kami semua berkumpul melingkari meja kayu tua itu, Ayah berdehem pelan. Ia mengeluarkan sebuah amplop tua yang terlihat sangat terjaga dari saku kemejanya.

"Kazumi," Ayah memulai dengan nada serius namun bangga. "Lembah Biru adalah warisan kakek buyutmu. Dan hari ini, kau genap berusia delapan belas tahun. Ada sebuah surat wasiat yang hanya boleh dibuka saat kau sudah cukup dewasa untuk memahami tanggung jawab menjaga harmoni tempat ini."

Ayah menyerahkan amplop itu padaku. Tanganku sedikit gemetar saat menyentuh kertas yang terasa kasar itu. Di pojok amplop, tertulis satu kalimat pendek:

“Kepada Sang Penjaga Bunga.”

"Penjaga bunga?" bisikku pelan. "Maksudnya aku, Ayah?"

Ibu mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Lembah ini bukan sekadar tempat tinggal, Nak. Ada alasan mengapa bunga-bunga di sini mekar lebih indah dari tempat mana pun di dunia. Dan rahasia itu kini menjadi milikmu."

Aku menatap amplop di tanganku, jantung berdebar kencang. 'Sang Penjaga Bunga.' Kata-kata itu berputar-putar di benakku, terasa asing namun sekaligus memanggil jiwaku yang sedari tadi merindukan penjelasan. Dengan napas tertahan, aku membuka segel amplop yang sudah menguning itu. Di dalamnya terdapat selembar perkamen tua, tulisan tangan yang anggun namun samar-samar terlihat di bawah cahaya lampu minyak.

"Bacakan untuk kami, Nak," pinta Ibu, suaranya dipenuhi haru dan antisipasi.

Aku mulai membaca, setiap kata seperti bisikan dari masa lalu yang kini hidup kembali.

"Kepada Kazumi, keturunan terakhir dari Penjaga Bunga. Saat kau membaca ini, kau telah mencapai usia di mana Lembah Biru akan memanggilmu dengan kekuatannya yang sebenarnya. Bunga-bunga yang kau cintai bukan hanya sekadar hiasan. Mereka adalah penanda, pelindung, dan juga kunci. Jaga Harmoni Lembah Biru, karena di balik keindahannya, tersembunyi sebuah gerbang. Gerbang antara dunia kita dan 'Dunia Seberang'."

Aku berhenti membaca, mataku melebar. Dunia Seberang? Apa maksudnya? Ayah dan Ibu saling berpandangan, wajah mereka serius.

"Dahulu kala, leluhur kita, bersama dengan makhluk-makhluk penjaga lembah, bersumpah untuk menjaga gerbang itu tetap tertutup. Energi negatif dari Dunia Seberang dapat merusak Lembah Biru, mengeringkan bunga-bunga, dan bahkan mencuri jiwa-jiwa tak berdosa. Kau, Kazumi, memiliki darah Penjaga Bunga, darah yang mampu merasakan gejolak gerbang itu dan berkomunikasi dengan bunga-bunga. Mereka akan membimbingmu."

Ketegangan mencengkeram ruang makan kami. Aroma sup jagung yang tadi hangat kini terasa hambar. Aku menelan ludah, melanjutkan membaca, kali ini dengan suara lebih pelan, seolah takut mengganggu roh-roh kuno yang kini terasa dekat.

"***Namun, setiap kekuatan memiliki bayangannya. Ada yang menginginkan gerbang itu terbuka. Sebuah entitas kuno, bersembunyi di balik kabut tebal di pinggiran lembah, perlahan-lahan berusaha melemahkan segel. Kau akan bertemu dengannya. Waspadalah. Jangan pernah biarkan keraguan merasuki hatimu, karena keraguan adalah celah bagi kegelapan. ***"

"Ayah, Ibu... apa ini semua nyata?" tanyaku, suaraku nyaris tak terdengar. Fantasi yang kubaca dalam buku-buku lama, kini seperti menjadi kenyataan di hadapanku.

Ayah meraih tanganku, genggamannya erat. "Sangat nyata, Kazumi. Sejak kau kecil, bunga-bunga selalu merespons kehadiranmu. Kau melihat warna yang tak semua orang lihat, mendengar bisikan yang tak semua orang dengar. Kami hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahumu."

"Dan 'entitas kuno' itu?" tanyaku, rasa dingin menjalar di tulang belakangku.

Ibu menatapku dengan mata penuh kekhawatiran. "Kami tidak tahu pasti, Nak. Tapi kami merasakan perubahan di lembah. Bunga-bunga di pinggiran hutan sering layu tanpa sebab, dan terkadang, ada bisikan aneh terbawa angin malam."

Tiba-tiba, dari luar jendela, terdengar lolongan serigala yang panjang dan menusuk, diikuti oleh suara gemerisik daun yang tidak wajar, seolah ada sesuatu yang besar sedang bergerak cepat di kegelapan. Lampu minyak di atas meja berkedip-kedip, hampir padam, seolah merespons ancaman tak kasat mata.

Ayah segera berdiri, meraih kapak kecil yang selalu ia simpan di dekat pintu. "Tidak pernah sejelas ini sebelumnya," gumamnya, matanya menyiratkan kewaspadaan tinggi.

Aku menatap bunga-bunga yang kuletakkan di vas di atas meja. Kelopaknya terlihat sedikit layu, seolah merasakan ketakutan yang sama denganku. Dan di tengah kegelapan yang menyelimuti malam Lembah Biru, sebuah bayangan panjang melintas cepat di luar jendela, menghilang di balik pepohonan. Ini bukan lagi sekadar dongeng. Ini adalah takdirku, dan sebuah misteri kelam baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!