Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.
Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?
Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21: Bangkitnya Kekuatan Sejati
Shiera menyandarkan tubuhnya dengan manja di pelukan Valerius. Senyumnya yang lembut di depan pria itu seketika berubah menjadi seringai sinis yang mematikan saat ia menatap bayangannya di cermin.
"Valerius," bisik Shiera, suaranya terdengar seperti malaikat yang khawatir. "Aku bermimpi buruk... Kakak Rubellite pergi ke Tebing Barat Laut. Dia ingin membangkitkan kutukan kuno untuk menghancurkan pernikahan kita. Aku takut..."
Valerius, pria yang dulu bersumpah akan menjadi pedang pelindung Rubellite, kini justru membelai rambut Shiera dengan tatapan kosong yang terhipnotis. "Jangan takut, Cahayaku. Dia bukan lagi putri yang kita kenal. Dia hanya noda yang harus dihapus."
Valerius berdiri, memasang jubah perangnya dengan dingin. "Aku sudah mengirim Ksatria Elit ke tebing itu. Perintahnya jelas: Bawa kepalanya, atau jangan kembali sama sekali."
]Di Tebing Barat Laut – Mulut Kuil Matahari]
Rubellite terhenti di depan altar batu yang berlumut. Dadanya sesak bukan karena lelah, tapi karena ia merasakan aura pedang yang sangat ia kenal sedang mendekat—Pedang Divisi Pertama, pasukan kesayangan Valerius.
"Nona, mereka sudah di kaki bukit," lapor Raze, suaranya berat. "Panji yang mereka bawa... itu milik Valerius."
Rubellite tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Valerius... pria yang dulu mengajariku cara memegang belati agar bisa melindungi diri. Sekarang dia mengirim belati itu untuk menusuk jantungku sendiri."
"Nona, jangan biarkan ingatan itu melemahkan Anda," Raze mengingatkan sambil menghunus pedang besarnya.
"Aku tidak lemah, Raze. Aku hanya sedang mengingat betapa bodohnya aku di kehidupan pertamaku," jawab Rubellite dingin. Matanya menatap ke arah laut yang mengamuk. "Dia mengirim pasukan ini karena Shiera yang memintanya. Valerius bukan lagi manusia, dia hanya anjing peliharaan si penyusup itu."
Rubellite melangkah masuk ke dalam kegelapan kuil yang pengap. "Tahan mereka, Raze. Jika Valerius sendiri yang datang... katakan padanya, hadiah yang dia kirimkan akan kukembalikan dalam bentuk abu."
Derap kaki kuda yang masif menggetarkan tanah berbatu. Panji-panji perak dengan lambang Elang Langit berkibar tinggi sebagai tanda bahwa unit ksatria elit kiriman Valerius telah tiba. Mereka bukan prajurit sembarangan, melainkan rekan-rekan Raze di masa lalu yang kini datang sebagai algojo.
Komandan Kael berteriak dari atas kudanya sambil menunjuk ke arah celah gua. Ia memerintahkan Raze untuk menyingkir karena dianggap melindungi penyihir terkutuk yang mencoba mencelakai Nona Shiera. Kael menegaskan bahwa Panglima Valerius sendiri yang memberikan perintah untuk membawa kepala Rubellite atau mereka semua akan mati sebagai pengkhianat.
Raze meludah ke tanah dengan mata berkilat penuh amarah. Ia membalas bahwa panglima mereka sudah buta oleh sihir jalang tersebut. Raze menghunus pedangnya dan memasang kuda-kuda di celah sempit gua sebagai satu-satunya dinding yang memisahkan Rubellite dengan puluhan mata pedang yang haus darah.
[Di Dalam Kuil – Ruang Altar Helios]
Di dalam kegelapan yang pengap, Rubellite berdiri di depan sebuah retakan dinding yang mengeluarkan uap panas. Bukan cahaya yang ia temukan, melainkan sebuah jantung api yang berdetak pelan sebagai pusat jiwa Helios yang terkurung selama berabad-abad.
Suara Helios bergema di dalam kepalanya seperti ribuan suara yang menyatu. Entitas purba itu bertanya apakah Rubellite merasakannya, bahwa pria yang dulu berjanji akan menjaganya sekarang justru mengirimkan ksatria terbaik untuk menebas lehernya sendiri.
Rubellite memejamkan mata sesaat untuk menghancurkan bayangan masa lalu. Kenangan tentang Valerius yang tersenyum saat ia masih kecil kini hancur berkeping-keping. Di kepalanya hanya ada satu gambaran nyata yaitu Shiera yang sedang memeluk Valerius sambil tersenyum licik.
Cukup, bisik Rubellite dengan suara dingin seolah semua rasa cintanya sudah membeku. Ia menyatakan tidak butuh perlindungan pria itu lagi. Rubellite melangkah maju dan menyentuh jantung api tersebut dengan tangan yang gemetar.
Ia menantang Helios untuk masuk ke dalam nadinya daripada mencarinya dalam kepingan-kepingan bodoh. Rubellite menawarkan dirinya sebagai wadah agar ia bisa menjadi tangan yang membakar dunia palsu ciptakan Shiera.
Seketika seluruh kuil bergetar hebat. Jantung api itu meledak dan meresap ke dalam pori-pori kulit Rubellite. Rasa sakitnya luar biasa seolah darahnya mendidih dan tulang-tulangnya patah secara bersamaan. Di luar gua, sebuah tekanan atmosfer yang dahsyat meledak hingga membuat para ksatria terjungkal.
Rubellite berteriak dan dari punggungnya muncul sayap api yang membubung tinggi ke langit tebing. Cahaya itu menghalau awan hitam dan menerangi laut yang gelap dengan warna emas murni.
Di istana, Shiera yang sedang tertawa tiba-tiba terdiam dengan wajah pucat pasi. Gelas anggur di tangannya pecah berantakan karena ia merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada dalam plot ceritanya. Kebangkitan Sang Naga Matahari yang asli kini telah dimulai.
Dinding kuil yang dingin itu bergetar hebat saat tangan Rubellite menyentuh jantung api Helios. Seketika, bukan kekuatan hangat yang ia rasakan, melainkan sensasi seperti ribuan jarum panas yang menusuk masuk ke dalam pembuluh darahnya. Cahaya emas yang menyilaukan mulai merayap naik dari ujung jemarinya, membakar kulit dan meresap ke dalam dagingnya dengan paksa.
Rubellite jatuh berlutut sambil mencengkeram dadanya yang terasa hendak meledak. Di dalam kepalanya, jeritan Helios bukan lagi sebuah suara, melainkan badai ingatan yang menghantam kesadarannya tanpa ampun. Setiap kepingan rasa sakit yang selama ini ia tekan dalam-dalam mendadak diputar ulang dengan intensitas yang berkali-kali lipat lebih menyakitkan.
Ia melihat kembali momen saat ayahnya memalingkan wajah dengan tatapan jijik di ruang pengadilan. Ia merasakan kembali dinginnya lantai penjara bawah tanah saat kulitnya membeku karena salju yang merembes masuk. Namun, yang paling menghancurkan adalah saat Helios membongkar paksa memori regresinya, memperlihatkan detik-detik saat Valerius menghunuskan pedang ke arahnya di kehidupan pertama demi melindungi senyuman palsu Shiera.
Seluruh saraf di tubuh Rubellite seolah ditarik paksa hingga ia melengkungkan punggungnya dengan kaku. Keringat dingin bercampur darah mulai mengucur dari pori-porinya saat jiwa Helios mulai menjahit ulang keberadaannya. Rasa sakit itu bukan hanya tentang fisik, tapi tentang bagaimana Helios memakan rasa kemanusiaan Rubellite dan menggantinya dengan api amarah yang murni.
Di luar gua, Raze yang sedang bertarung mati-matian mendadak membeku saat mendengar teriakan Rubellite yang tidak lagi terdengar seperti suara manusia. Itu adalah raungan keputusasaan yang bercampur dengan kekuatan purba yang sangat besar. Tekanan atmosfer di sekitar tebing mendadak berubah menjadi sangat berat, membuat para ksatria kerajaan jatuh tersungkur sambil memegangi leher mereka yang seolah tercekik udara panas.
Rubellite mendongak dengan mata yang sudah kehilangan warna hitamnya, digantikan oleh pendar emas cair yang mengerikan. Ia tidak lagi merasakan perih di luka kakinya atau lelah di tubuhnya. Semua rasa sakit itu telah dibakar habis oleh api Helios, menyisakan sebuah kekosongan dingin yang hanya bisa diisi oleh satu hal, yaitu pembalasan dendam yang tuntas.
Seketika ledakan energi emas menyapu seluruh ruangan kuil hingga menghancurkan pilar-pilar batu di sekitarnya. Rubellite berdiri di tengah pusaran api yang tidak membakarnya, melainkan melindunginya seperti jubah kebesaran yang terbuat dari matahari. Di kejauhan, Shiera yang sedang menikmati anggurnya tiba-tiba merasakan jantungnya berhenti berdetak sesaat karena aura kematian yang baru saja terbangkitkan di ujung dunia.