Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak angkat laki-lakinya itu.
Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.
Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.
Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?
ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Permintaan Pindah Sekolah
Di tempat lain, keluarga Leonardo juga sedang sarapan bersama. Jam tangan Vano kini menunjukkan pukul 06.15 dan waktu sarapan sudah hampir usai.
"Pa, aku mau ngomong sesuatu" Vano memecah keheningan.
Hendra yang sedang mengelap ujung bibirnya dengan tisu pun menoleh.
"Ada apa?" tanya nya. Sang istri juga ikut menoleh ke arah putra mereka, menunggu jawaban.
"Aku, Radit sama Tian mau pindah sekolah. Tian di jodohin dan aku pengen ikut Tian pindah juga. Boleh kan pa?" jelas Vano. Raut wajahnya menyorot penuh harap.
"Mau pindah kemana memangnya?" tanya Hendra lagi.
"Kalo nggak salah di SMA Bhakti Wiratmadja pa" jawab Vano.
"Hem, Wiratmadja ya? Sekolah swasta yang harus papa akui lebih unggul dari sekolah milik kakek kamu"
"Boleh boleh saja. Siapa tau nantinya papa bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan besar itu" lanjutnya. Sebuah ambisi terbit dalam benaknya.
"Kali aja mama juga bisa ketemu sama Nyonya Wiratmadja. Butik sama Toko Perhiasannya udah terkenal banget, mama nge fans sama beliau. Sayang nya Nyonya Wiratmadja itu tertutup dan cuman bisa di temui dalam pesta tertentu saja. Circle nya tertutup banget, mama nggak bisa join" ucap Ria dengan menggebu-gebu.
Vano menaikkan sebelah alisnya. "Sejak kapan mama jadi ibu-ibu sosialita?" tanya nya sedikit heran.
"Loh ini bukan tentang circle ibu-ibu tukang pamer harta ya asal kamu tau. Tapi mama nyari koneksi juga buat perusahaan kita dengan gabung ke circle para istri-istri pengusaha"
Vano menghela napas kasar "Apa kata mama aja deh. Btw boleh nih ya berarti? Biar cepet nanti papa bantuin aku, Radit sama Tian urus pindahan sekolah ya?"
"Iya nanti papa bantu urus" jawab Hendra.
"Kalau gitu Vano berangkat dulu ya" Vano pun bangkit lalu mencium tangan kedua orangtuanya.
******
"Nah ini dia, ahirnya datang juga lo" sambut Tian saat Vano mulai masuk ke dalam ruang kelasnya.
"Tadi lo di cariin tuh sama Vera. Mukanya keliatan kesel banget. Abis lo apain tuh nenek rempong njirrr? Sumpah sumpek banget kuping gw dengerin bacotan nya" cerocos Tian. Seperti biasa, Radit yang duduk di meja di depan Tian hanya diam saja sambil mendengarkan.
"Tadi malem gw tinggal gitu aja waktu ke rumah Radit" jawab Vano tanpa dosa. Ia kini duduk sambil menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Wahh parah lo" respon Tian.
"Ya lagian masa....... " Vano pun menceritakan tentang perlakuan kedua orangtua Vera sebelum Vera mengenalkan dirinya sebagai keluarga Leonardo.
"Wahhh parah tu orangtuanya"
"Eh bangke! Lo tuh sebenernya dukung siapa sih?" karena kesal, Vano meninju pelan bahu Tian yang duduk di sebelah nya.
"Gimana soal pindahan sekolah?" tanya Radit tiba-tiba. Kedua sahabatnya yang sedang beradu mulut itupun seketika diam lalu bebarengan menatap Radit.
"Udah gw bilangin ke bokap. Kalian terima beres aja. Malahan bokap nyokap gw keliatan seneng banget gw mau pindah ke sekolah itu" jawab Vano ahirnya.
"Yeah, Wiratmadja emang se berpengaruh itu sih" ucap Tian.
"Yang gw denger, anak tunggal nya sekolah disitu. Tapi nggak ada yang tau identitas nya, kaya sengaja di sembunyiin" lanjutnya. Tian mulai mengajak dua sahabat nya untuk bergosip.
"Yaelah kaya di novel-novel gitu palingan. Anak itu dandan cupu, pake kacamata bulat, terus rambut kepang dua. Nanti kalo ada yang bully langsung dah tuh kena balesannya karena udah nge gangguin pewaris tunggal konglomerat kaya nomer satu di kota kita. Anjayyyy" Vano malah berkhayal tidak jelas.
"Najis! Kebanyakan baca novel pikiran lo jadi se dramatis itu gilak" semprot Radit.
"Eh tapi gw jadi penasaran bangke! Yang pernah ketemu sih katanya cantik anjay" Tian mendekatkan wajahnya ke arah Radit dan Vano, seolah ucapannya adalah sebuah rahasia yang tak boleh di ketahui oleh orang-orang.
"Inget ya bangsat, lo udah punya tunangan!" peringat Vano dengan nada ngegas.
"Santai aja anjing! gw juga tau" balas Tian tak kalah ngegas.
"Brisik lo pada!" Radit ikut-ikutan ngegas.
"Lah?" Tian dan Vano saling menatap heran.
Sedangkan di SMA Bhakti Wiratmadja, hari ini kelas Vanya untuk mapel pertama adalah olahraga. Kebetulan bebarengan dengan kelas XI IPS 2, kelas Surya.
Guru olahraga menggabungkan kedua kelas itu untuk melakukan pertandingan basket. Masing-masing sisi tempat duduk di isi oleh para murid yang tidak ikut dalam pertandingan, termasuk para siswinya yang ditugaskan untuk mensupport kelas masing-masing.
"Liat deh, Surya keren banget ya kalo udah main basket. Pantesan dia bisa jadi Ketua Tim Basket sekolah kita" puji Lea. Pertandingan basket sudah di mulai 10 menit lalu.
"Woi inget! Lo udah punya tunangan" peringat Vanya.
"Tau tuh. Lagian tau sendiri Surya itu terkenal Playboy" sahut Rain ikut-ikutan.
"Iya iya deh. Btw Tian bilang mau pindah ke sekolah kita loh" pamer Lea.
"Dia juga bilang kalau dua sahabatnya mau ikutan pindah" lanjutnya.
"Ya terus? Gw harus bilang wowww gituuhhh" ucap Vanya dengan muka tengil.
"ihhh ngeselin banget sih lo" Lea mendorong pelan bahu Vanya.
"Sahabat tunangan lo oke nggak? Kalo playboy juga mah gw ogah" Mereka bertiga ini memang sangat benci dengan laki-laki buaya. Beberapa kali Rain dan Lea pernah berpacaran, namun ahirnya harus berahir juga karena laki-laki nya yang tidak setia.
"Lo pengen punya pacar lagi Rain?" tanya Vanya.
"Yaiyalah. Pengen tauk di Ratuin sama cowo. Selama ini gw ga pernah bisa ngedapetin itu dari mantan-mantan gw" ucap Rain dengan dramatis.
"Emangnya elo? Ga pernah pacaran malah suka sendiri sama kakak nya" sindir Lea.
"Wah lo nyindir gw ya!" Vanya menatap tajam ke arah Lea.
"Eh tapi gw juga mau sih sama tipe yang kayak kak Fian" sambar Rain tiba-tiba.
Lea dan Vanya kompak menepuk dahi mereka.
******
"Akan ada murid baru pak di sekolah Nona Vanya. Mereka dari keluarga Santoso, Pramono dan juga Leonardo" lapor Rico selaku asisten pribadi Danu. Mereka berdua sedang berada di ruangan Danu yang berada di Wiratmadja Grub. Perusahaan Multinasional berlantai 30 dalam bidang Properti di Perusahaan Utamanya.
"Santoso dan Pramono, aku tidak terlalu tertarik. Leonardo ya? Mereka sepertinya pernah beberapa kali mengajukan kerjasama dengan perusahaan kita. Nanti coba awasi anak dari keluarga Leonardo, jika anak itu pintar, mungkin aku bisa pertimbangkan untuk bekerjasama dengan perusahaan orangtuanya"
"Mengapa begitu pak?" tanya Rico.
"Jika anak nya saja pintar, sudah pasti orangtuanya juga pintar. Saya tidak mau bekerjasama dengan orang-orang bodoh. Keuntungan yang di dapat selalu banyak jika berurusan dengan orang-orang pintar"
"Baik pak saya mengerti" Rico pun pamit undur diri.