Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.
Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.
Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.
Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.
Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.
Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di rumah, suasana jauh lebih hangat. Azalea duduk di halaman belakang bersama Elora. Tanah gembur di bawah pohon mangga menjadi “dapur” mereka hari itu. Elora mengenakan topi kecil, tangannya penuh tanah, wajahnya berseri-seri.
“Mommy, ini kuenya sudah jadi!” Elora menyodorkan gumpalan tanah yang dibentuk bulat.
Azalea tertawa kecil. “Wah, kue cokelat spesial.”
“Aku jual seratus ribu aja,” kata Elora serius.
“Apa harganya tidak kemahalan? Seratus ribu,” tanya Azalea menahan tawa.
“Hmmm, kalau begitu harganya sepuluh ribu,” balas Elora setelah berpikir lama. Itu harga dia beli es krim ukuran kecil.
Azalea pura-pura membuka dompet imajiner. “Murah sekali. Mommy beli dua.”
Keduanya tertawa bersama. Tawa yang ringan dan lepas. Menghapus sisa ketegangan malam sebelumnya.
Azalea menepuk-nepuk tangan Elora pelan. “Nanti habis ini kita cuci tangan, ya.”
“Oke, Mommy!” jawab Elora patuh.
Kebahagiaan kecil itu tak pernah luput dari pandangan dingin. Wanita paruh baya itu berdiri dengan ekspresi wajah kesal.
“Apa-apaan ini?!” suara Mami Elsa terdengar tajam dari teras belakang.
Azalea menoleh. “Ada apa, Nyonya?”
Mami Elsa melangkah mendekat, wajahnya penuh ketidaksenangan. “Lihat tangan Elora! Kotor semua!”
Elora refleks menyembunyikan tangannya ke belakang, matanya membulat ketakutan.
“Kamu mengajarkan hal jorok pada anak!” bentak Mami Elsa. “Main tanah? Kamu tahu berapa banyak kuman dan bakteri di sana? Anak kecil bisa sakit!”
Azalea bangkit berdiri perlahan, lalu berjongkok di hadapan Elora. Ia meraih tangan kecil itu dengan lembut.
“Tidak apa-apa, Sayang,” ucapnya menenangkan. “Tanahnya tidak masuk mulut, kan?”
Elora menggeleng.
Azalea lalu menoleh ke Mami Elsa. Wajahnya tetap tenang, suaranya rendah, namun tegas. “Bermain tanah bukan hal yang salah, Nyonya.”
Mami Elsa mendengus. “Kamu ini selalu saja membantah ucapan ku. Anak-anak harus bersih. Steril!”
Azalea tersenyum kecil. “Anak-anak perlu bersih, iya. Tapi mereka juga perlu bermain.”
Wanita berjilbab itu berhenti sejenak, memastikan Elora mendengarkan dengan tenang. “Tidak semua yang kotor itu berbahaya,” lanjut Azalea.
“Dan tidak semua yang bersih itu menyehatkan.”
Mami Elsa terdiam, tetapi tatapnya tajam dan rahangnya mengeras.
“Selama kita mengajarkan cuci tangan setelah bermain, menjaga kebersihan, dan tidak memasukkan tanah ke mulut,” sambung Azalea lembut, “bermain seperti ini justru melatih imajinasi, keberanian, dan kebahagiaan anak.”
Azalea menggenggam tangan Elora lebih erat. “Dan anak yang bahagia biasanya lebih jarang sakit.”
Mami Elsa membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Tak ada kata yang langsung bisa ia sanggah tanpa terlihat berlebihan.
Azalea menunduk ke Elora. “Sekarang kita cuci tangan, ya.”
Elora mengangguk, lalu tersenyum kecil.
Saat mereka berjalan menuju keran, Mami Elsa berdiri terpaku di tempatnya. Wanita paruh baya itu kehabisan kata-kata.
Di halaman belakang itu, di bawah langit cerah dan tanah yang sederhana, Azalea kembali membuktikan satu hal, bahwa mendidik anak bukan tentang melarang segalanya demi ketakutan, melainkan mengajarkan cara hidup dengan seimbang, aman, dan penuh cinta.
Tanpa disadari siapa pun, di kantor dan di rumah, Enzo dan Azalea sedang berjalan di jalur yang sama. Belajar menahan amarah. Belajar memahami. Belajar menjadi orang tua dengan hati.
***
Pintu depan terbuka, dan Enzo melangkah masuk dengan beberapa kantong di tangannya. Wajahnya masih menyimpan sisa kelelahan sehabis pulang kerja, tetapi sorot matanya lembut, tidak dingin dan kaku.
“Daddy pulang,” ucap Enzo pelan.
Erza dan Elora yang sedang duduk di karpet langsung menoleh. Elora refleks berdiri, tapi langkahnya terhenti sejenak, masih ada sisa takut dari kejadian semalam.
“Harusnya mengucapkan assalamualaikum, Daddy,” ucap Erza mengingatkan.
“Assalammualaikum," ucap Enzo tersenyum malu.
Azalea yang duduk tidak jauh dari kedua anak itu pun ikut menoleh.
Enzo berjongkok, meletakkan kantong-kantong itu di lantai. Ia mengeluarkan sebuah boneka beruang kecil berwarna cokelat, lalu dua buku cerita anak dengan sampul cerah. Terakhir, ia mengangkat satu kantong plastik dingin.
“Ini buat kalian,” kata Enzo lirih.
Mata Elora membulat. “Boneka beruang,” bisiknya.
“Dan buku cerita,” sambung Enzo, lalu tersenyum kecil. “Sama es krim.”
“Asyik!” Erza bersorak kecil, tapi Elora masih ragu. Ia melirik Azalea, mencari isyarat aman.
Azalea mengangguk pelan, tersenyum lembut. Elora melangkah maju perlahan. Enzo membuka kedua tangannya.
“Papa minta maaf,” ucap Enzo dengan suara yang jujur dan rendah. “Semalam Daddy marah berlebihan. Daddy salah.”
Elora menunduk. Jemarinya memainkan ujung bajunya. “Aku … aku juga minta maaf, Daddy” katanya pelan, hampir tak terdengar. “Aku enggak akan pegang barang Daddy lagi. Kalau Daddy kerja.”
Enzo menutup mata sejenak. Lalu ia menarik Elora ke dalam pelukannya. “Terima kasih,” bisiknya. “Daddy janji… Daddy akan lebih sabar.”
Erza ikut mendekat dan memeluk mereka berdua.
Pemandangan itu membuat dada Azalea menghangat. Matanya berkaca-kaca. Ia menahan napas, tidak ingin mengganggu momen itu. “Inilah yang seharusnya kalian lakukan,” batinnya. Bukan teriakan yang membuat rasa takut, tetapi pelukan hangat yang menenangkan.
Beberapa menit kemudian, mereka duduk bersama di ruang keluarga. Es krim dibagikan. Elora memegang sendok kecil, matanya berbinar.
“Mommy dulu,” katanya sambil menyuapi Azalea.
Azalea terkejut, tapi tersenyum dan menerima suapan itu. “Terima kasih.”
“Sekarang Daddy,” lanjut Elora, menyodorkan sendok yang sama ke Enzo.
Gerakan kecil itu membuat udara di antara orang dewasa mendadak canggung. Azalea dan Enzo saling berpandangan sepersekian detik. Bagi orang dewasa, itu terasa seperti batas yang samar, cium tidak langsung, sesuatu yang terlalu intim untuk dipikirkan.
Namun, Elora tersenyum polos, menunggu.
Enzo mengalah. Ia menunduk dan menerima suapan itu. “Enak,” katanya singkat.
Elora tertawa senang. “Ternyata Daddy suka es krim juga!”
Azalea menahan senyum, menepis rasa kikuk. Ia tahu jika ditolak, Elora bisa sedih. Dan malam ini, mereka semua sedang belajar tentang kehangatan, bukan batasan yang kaku.
Tak lama kemudian, Erza berdiri. “Mommy, aku mau sosis bakar.”
“Sekarang?” Azalea tertawa kecil.
“Iya. Sedikit aja.”
“Baik,” jawab Azalea sambil bangkit. “Mommy ambil alat bakarnya dulu.”
Azalea melangkah ke tempat penyimpanan barang di sudut ruang dekat dapur. Rak besi tinggi berisi panci, wajan, dan peralatan lama. Azalea berjinjit, meraih alat pembakar yang terselip di rak atas.
Pada saat yang sama, Enzo berjalan ke arah dapur.
“Azalea—”
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.
Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi