Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM YANG MENEGANGKAN.
Malam semakin larut saat sedan mewah milik Adnan membelah jalanan protokol yang mulai sepi. Cahaya lampu merkuri jalanan masuk bergantian ke dalam kabin, menyinari wajah Adnan yang tegang dan Nayla yang sibuk mengunyah permen karet dengan suara berisik. Suasana kemenangan setelah berhasil meretas data Prasetyo mendadak buyar saat Adnan menyadari ada dua mobil SUV hitam yang membuntuti mereka sejak keluar dari gang samping gedung Global Media.
"Pegangan yang erat, Nayla. Kita punya tamu tak diundang," ucap Adnan sambil mempercepat laju mobilnya.
Nayla menoleh ke belakang, matanya menyipit melihat dua mobil itu melakukan manuver untuk menjepit mereka. "Wah, Pak Es. Sepertinya Mas Prasetyo itu tipe orang yang susah move on ya? Padahal saya sudah kasih kenang-kenangan berupa virus di komputernya tadi."
"Ini bukan waktunya bercanda! Mereka mencoba menabrak kita!" bentak Adnan saat mobil mereka dihantam dari samping hingga berguncang hebat.
Nayla bukannya takut, ia justru membuka sabuk pengamannya dan berpindah ke kursi belakang dengan lincah. "Pak tetap fokus nyetir! Jangan sampai lecet mobilnya, ini kan aset masa depan saya kalau kita cerai nanti! Rugi bandar kalau dapet mobil baret-baret!"
"Nayla! Pakai sabuk pengamanmu sekarang! Kamu mau mati konyol?!" teriak Adnan panik melihat istrinya malah asyik jungkir balik di jok belakang.
"Sstt! Bapak berisik deh, ganggu konsentrasi saja! Saya mau cari senjata rahasia di tas sekolah saya," balas Nayla ketus. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sekotak kelereng kaca hasil menang taruhan di sekolah dan sebotol oli mesin kecil yang entah sejak kapan ia simpan di sana.
Mobil SUV di belakang semakin beringas. Salah satu penumpang di mobil pengejar mengeluarkan senjata api dan mulai membidik ban mobil Adnan. Duar! Suara tembakan pecah, namun meleset mengenai aspal.
"Mereka pakai pistol, Pak Es! Wah, ini sudah di luar kontrak pernikahan kita! Saya nggak dibayar buat jadi sasaran tembak begini! Saya minta kenaikan uang jajan kalau kita selamat!" teriak Nayla sambil membuka sedikit kaca jendela belakang.
"Makanya duduk manis di bawah kursi! Dasar bocah nekat!" perintah Adnan sambil membanting setir ke kanan untuk menghindari tabrakan.
"Nggak seru kalau cuma duduk! Nih, makan camilan dari istri sholehah!" Nayla melemparkan segenggam kelereng ke jalanan dan menyiramkan oli ke aspal tepat saat mobil pengejar berada di posisi paling dekat.
Efeknya instan. Mobil SUV pertama tergelincir hebat karena oli dan kelereng itu, banting setir ke kiri dan menghantam trotoar hingga terguling. Namun, mobil kedua masih bertahan dan justru semakin mempercepat laju kendaraannya.
"Satu tumbang, satu lagi bandel! Kayaknya dia minum vitamin banyak tadi pagi," seru Nayla kegirangan seolah sedang main game balap.
"Nayla, di depan ada blokade! Prasetyo benar-benar menutup jalan!" Adnan mengerem mendadak. Di depan mereka, dua mobil melintang menutup jalanan satu arah tersebut.
Adnan terpaksa memutar balik, namun mobil pengejar kedua sudah menutup jalan di belakang mereka. Mereka terjebak di tengah jembatan layang yang sepi. Lima orang pria berbadan kekar turun dari mobil-mobil itu, masing-masing memegang balok besi.
"Turun, Adnan! Serahkan ponsel itu!" teriak salah satu pria itu.
Adnan melirik Nayla. Wajahnya yang kaku nampak penuh kecemasan. "Nayla, tetap di dalam mobil. Kunci pintunya. Saya akan coba bicara."
Nayla justru melepaskan blazer kremnya, menyisakan kaos hitam lengan panjang di balik pakaian formalnya. Ia mengikat jilbabnya ke belakang dengan kencang menyerupai ninja. "Halah, bicara sama orang kayak gitu mah buang-buang ludah, Pak Es. Mending Bapak simpan ludahnya buat minum obat nanti."
"Kamu mau apa?!" tanya Adnan kaget melihat Nayla sudah memegang gagang pintu mobil.
"Mau arisan, Pak Es! Ya mau beresin mereka lah! Bapak mending cari batu atau apa pun di dalam mobil buat jaga diri. Kalau terpaksa, pakai saja parfum mahal Bapak itu buat semprot mata mereka sampai perih!" Nayla keluar dari mobil dengan gerakan salto yang sangat dramatis namun sedikit tersandung rok plisketnya sendiri.
"Aduh! Rok ini ganggu banget sih!" umpat Nayla sambil membenarkan posisinya.
Para pria itu tertawa melihat seorang gadis mungil yang menantang mereka. "Nona manis, mending kamu pulang belajar matematika sana."
"Matematika saya sudah dapat nilai seratus, Om! Sekarang waktunya praktek Biologi, yaitu membedah tulang kalian!" tantang Nayla sambil memasang kuda-kuda silat.
Pria pertama merangsek maju dengan balok besi. Nayla merunduk secepat kilat, menghantam ulu hati pria itu dengan sikutnya, lalu memutar tubuhnya untuk memberikan tendangan memutar tepat di rahang lawan. Brak! Pria itu tumbang seketika.
Adnan yang melihat dari dalam mobil merasa jantungnya mau copot. Ia keluar dari mobil sambil membawa kunci roda dengan tangan gemetar. "Nayla, di belakangmu! Awas!"
Nayla melompat ke kap mobil Adnan, menghindari tebasan pisau, lalu menggunakan momentum itu untuk menendang dada pria kedua hingga terjungkal ke aspal. "Makasih, Pak Es! Ternyata Bapak berguna juga jadi alarm manual!"
Pertarungan menjadi sangat sengit. Meskipun Nayla ahli bela diri, ia kewalahan menghadapi tiga pria besar sekaligus dalam kondisi tubuh yang baru pulih. Salah satu pria berhasil menangkap tangan Nayla dan mendorongnya ke dinding jembatan.
"Nayla!" Adnan berlari maju, ia mengayunkan kunci roda ke arah pria itu. Adnan bukan petarung, gerakannya kaku, namun ia berhasil memukul punggung pria itu. Naas, sebuah dorongan kuat membuat Adnan tersungkur ke aspal.
"Berani sekali CEO manja ini ikut campur," ejek si pemimpin preman sambil mengangkat balok besinya ke arah Adnan.
Melihat suaminya dalam bahaya, mata Nayla berkilat merah. "Woy! Jangan sentuh Pak Es! Dia itu mesin ATM berjalan saya!"
Nayla bangkit dengan kecepatan yang luar biasa, menerjang pria itu dan melakukan kuncian leher dari belakang. Dengan teknik judo yang sempurna, ia membanting pria bertubuh dua kali lipat darinya itu ke aspal.
"Hish! Berat banget sih, kayak dosa Bapak!" keluh Nayla sambil terengah-engah.
Sisa preman yang melihat pemimpin mereka tumbang seketika kehilangan nyali. Suara sirine polisi mulai terdengar mendekat. Mereka segera berlari menuju mobil mereka dan melesat pergi meninggalkan lokasi.
Nayla langsung lari menghampiri Adnan. "Pak Es! Masih hidup kan? Jangan mati dulu, saya belum minta hadiah kelulusan!"
Adnan terbatuk, memegangi lengannya yang lecet, namun ia mendengus melihat wajah cemas Nayla yang tetap terselip ketengilan. "Saya... saya tidak apa-apa. Kamu sendiri? Ada yang luka?"
"Hati saya yang luka lihat blazer ini robek, Pak Es! Ini mahal tahu!" Nayla membantu Adnan berdiri, menyandarkan tubuh pria itu ke mobil.
Tak lama kemudian, tiga mobil polisi sampai di tempat kejadian. Polisi segera mengamankan lokasi dan mengambil bukti-bukti yang tertinggal.
Di dalam mobil ambulans yang datang untuk mengecek luka ringan mereka, Adnan duduk bersandar sementara Nayla sibuk mengobati luka lecetnya sendiri dengan alkohol sambil meringis-ringis lucu.
"Sakit ya? Makanya, jangan sok jagoan jadi pahlawan kesiangan," sindir Adnan lembut, meski tangannya terulur membantu mengelap keringat di dahi Nayla.
"Ini namanya loyalitas, Pak Es! Bapak harusnya bangga punya istri yang bisa gantiin bodyguard profesional tanpa perlu dibayar asuransi," balas Nayla. Ia menoleh ke arah Adnan, raut wajahnya mendadak polos. "Tapi By... hm data di ponsel itu sudah aman kan?"
"Sudah. Besok Prasetyo tamat," jawab Adnan. Ia menatap Nayla lama, ada rasa haru yang ia sembunyikan di balik wajah kakunya. "Terima kasih, Nayla. Kamu... lumayan juga."
"Hah? Lumayan? Cuma lumayan?! Saya sudah taruhan nyawa dibilang cuma lumayan? Besok saya mogok manggil Bapak 'Hubby' ya!" ancam Nayla sambil melipat tangan di dada.
Adnan tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Terserah kamu. Sekarang ayo pulang, Adiva pasti menunggu."
Nayla menyeringai lebar. "Boleh, tapi mampir beli sate padang dulu ya? Sepuluh porsi, Bapak yang bayar! Anggap saja bonus karena saya sudah jadi tameng hidup Bapak!"
Adnan menggelengkan kepala, benar-benar tidak habis pikir dengan isi kepala gadis ini. "Iya, dasar beo rakus."
Saat mobil polisi mulai mengawal mereka pulang, ponsel Adnan berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal: "Prasetyo hanyalah pembuka jalan, Adnan. Kau pikir kematian istrimu setahun lalu sesederhana itu?"
Nayla yang ikut mengintip pesan itu langsung berhenti mengunyah permen karetnya. "Waduh, Pak Es. Sepertinya episode detektif kita bakal diperpanjang nih. Masih kuat kan bayar sate padang buat episode selanjutnya?"
Adnan menatap jalanan yang gelap, menyadari bahwa kabut misteri ini ternyata jauh lebih pekat, sementara di sampingnya, Nayla mulai bersenandung tidak jelas seolah tak ada beban.
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥