Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
"Ng ... Ini Bu, nasi goreng telur kuning ... Resep dari almarhumah Ibu. Semoga kalian suka ya." Kata Nisa, tangannya sibuk menuang nasi goreng pada tempat besar untuk di sajikan di meja makan.
Mm
"Pasti juara nih rasanya, baunya harum banget ... Rempahnya kerasa banget."
Nisa terkekeh, "Semoga sesuai dengan aroma ya Bu."
"Oh ya Nis, jangan bilang ini masakan kamu ya ... Ibu mau tau respon Gian apa, soalnya dia sangat pemilih terhadap makanan."
"Oh begitu, baiklah Bu."
Semua sudah berkumpul di meja makan, cukup lama Gian memandang hidangan yang sudah di siapkan, Nasi dengan telur orak-arik yang berwarna kuning itu asing baginya.
"Apa ini?" Tanyanya pada Lulu.
"Makanan lah, enak, sehat dan tidak beracun!" Ucap Lulu dengan ketus.
"Ibu masak?"
"Terus siapa lagi?"
Tak banyak bicara lagi, Gian langsung menyendokan nasi itu pada piringnya, awalnya hanya setengah centong nasi dia pindahkan ke atas piringnya.
Lulu dan Nisa sangat menunggu momen reaksi Gian terhadap makanannya.
Kunyahan pertama, Gian seperti mengecap ... Merasakan rasa dari makan itu, suapan kedua dia mulai mengunyah dengan cepat ... Itu tanda bahwa Gian menyukai makanan yang di buat oleh Nisa.
Lulu memberikan jempolnya pada Nisa diam-diam, Nisa hanya bisa tersenyum sambil tertunduk malu.
"Kamu ke cabang mana hari ini?" Tanya Akbar pada Gian.
"Utara, tapi nanti agak siang ... Mereka seperti grogi kalau aku datang pagi hari."
Lulu langsung mempunyai ide cemerlang saat Gian mengatakan itu. "Ajak Nisa, kasian dia bosan di rumah. Ibu mau pergi arisan."
"Ajak lah sama Ibu."
"Gak bisa dong Gian, hanya boleh peserta saja yang datang." Kata Lulu beralasan, padahal siapapun bisa di ajaknya.
"Ck ... Terserah, yang penting dia tidak memalukan."
"Nanti Ibu yang dandani Nisa."
Setelah selesai sarapan pagi, Nisa langsung di bawa oleh Lulu ke kamarnya, tentunya setelah Akbar berangkat bekerja.
"Nih, coba dress yang ini." Kata Lulu memberikan dress berwarna pastel selutut.
Nisa menerima lalu langsung menggunakannya, karena tubuh Nisa yang lebih tinggi dari Lulu dress-nya menjadi lebih pendek di atas lutut.
"Bu ... pendek." Kata Nisa terkekeh.
"Bagus ... Seksi jadinya, kulitmu bersih ... Jadi tidak usah malu." Puji Lulu.
*Pintu kamar di ketuk.
"Cepatlah Bu, aku mau bekerja ... Bukan main-main!" Kata Gian dengan suara berteriak dari luar kamar.
"Tuh dengar, suamimu sudah mengoceh."
"Hehe iya Bu ... Kalau begitu aku keluar dulu, terimakasih Bu sudah meriasku, dan terimakasih juga untuk bajunya."
"Sssh ... Sudah sudah, tidak usah banyak berterimakasih, ayo lekas temui suamimu."
*Pintu di buka
Gian sedikit terkejut dengan perubahan gaya berpakaian dan riasan di wajah Nisa. Tapi pria itu tetap memasang wajah ketusnya.
"Selama itu, hasilnya kayak gini? Ya ampun ... Buang-buang waktu!"
Lagi dan lagi Nisa tak tahan untuk tidak membalas perkataan Gian, mumpung Ibu mertuanya berada di dalam kamar.
"Kecewa sama hasilnya? Silahkan komentari Ibu, bukan aku! Kalau yang kamu maksud adalah wajahku yang tidak pantas, itu sudah tidak bisa di ganggu gugat! Sebenarnya aku juga malas ikut ke tempat kamu bekerja, kalau bukan atas suruhan Ibu!"
"Banyak omong, cepet!" Kata Gian tak ingin mendengar apapun lagi dari mulut Nisa, pria itu berjalan lebih dulu keluar rumah dengan langkah yang cepat.
Di dalam mobil.
"Tolong jaga sikap, siang ini ada pertemuan dengan banyak teman-temanku, jangan terlalu banyak memberikan informasi pribadi jika mereka bertanya. Diam lebih baik." Kata Gian memberikan arahan.
Nisa hanya memandang ke arah luar di sebelah kirinya, dia mendengar semua apa yang Gian katakan, tapi sikapnya seolah tak mendengar dan tak memperdulikan.
"Nisa! Kau bisu?"
"IYA!" Sahut Nisa tak kalah ketus.
Gian menarik nafasnya, dia berusaha mengelola emosinya agar teman-temannya tidak bisa menebak apa yang sedang dia rasakan saat ini.
Sesampainya di salah satu cabang Cafe milik keluarga Gian, sudah menunggu beberapa orang dengan gaya kekinian, mereka duduk santai di sofa yang tersedia disana.
Nampak salah seorang wanita melambaikan tangan pada Gian, sedangkan Nisa hanya berjalan mengekori Gian, tangannya sibuk menurunkan dress-nya yang terasa tak nyaman karena baru pertama kali Nisa menggunakan baju sependek itu.
"Ingat kata-kataku tadi saat di mobil!" Bisik Gian saat makin mendekati teman-temannya.
"Giaaaaan ... Lama banget kita gak ketemu." Ucap Ranti yang langsung menempelkan pipi kanan kirinya pada Gian.
Ih macam ibu-ibu kondangan saja. Batin Nisa.
Seorang pria bertubuh tinggi, perawakannya hampir mirip dengan Gian, tapi lebih ramah dan sopan tersenyum ke arah Nisa.
"Apa kabar bro?!" Kata Hari, teman pria Gian saat menyapa.
"Eh siapa ini?" Kata Ranti penasaran saat melihat Nisa.
Nisa tersenyum lalu memberanikan diri mengulurkan tangan terlebih dahulu. "Nisa, sepupu Gian dari Desa." Ucapnya pada Ranti dan terdengar jelas oleh Hari dan juga Gian.
Gian sempat terkejut saat mendengar perkataan Nisa, pria itu sebenarnya tidak menyuruh seperti itu, tapi ini semua karena perintahnya tadi di mobil yang membuat Nisa salah paham. Tapi karena sudah terlanjur di sebutkan, Gian pun mengiyakan apa yang di katakan oleh Nisa.
"I-iya ... Nisa mau jadi orang kota katanya haha." Ucap Gian tertawa hambar.
"Wah menarik nih, kita bisa sharing tentang kebiasaan di desa ... Dan aku bisa sharing juga tentang kebiasaan di kota." Ucap Hari.
Nisa hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Mau pesen apa?" Tanya Gian, sambil menyodorkan lembaran menu pada Nisa.
Apa ini, matcha latte? Americano? Red Velvet? Aku asing sekali sama judul minuman ini, tapi di lihat dari warnanya ... Aku pilih yang merah saja.
Dengan ragu Nisa menunjuk minuman Red Velvet pada Gian tanpa menyebutkannya.
"Red Velvet? Makannya apa, sekalian dong."
Dasar menyebalkan, kenapa tidak dia saja yang memilihkan. Apa ini? Chicken katsu? Cordon bleu? Nasi mentai? Chicken Salted egg? Sushi crispy? Argh .... Kenapa tidak ada nasi goreng? Mie rebus? Aku tidak tahu harus memilih apa?! Tidak ada contoh gambar pula seperti minuman tadi.
"Nisa, kamu bingung? Sini biar aku masih rekomendasi yang enak." Hari langsung beranjak pindah tempat duduk, awalnya Nisa bersebelahan dengan Ranti, tapi Hari dengan sengaja pindah untuk membantu Nisa memilih menu.
Gian sedikit melirik saat Hari mendekat ke arah Nisa, tapi matanya kembali fokus pada Ranti yang terus saja bercerita.
"Ini enak loh Cordon bleu ... Ada daging asap sama keju di dalamnya, kamu harus coba."
"Daging asap? Keju? Apa enak?" Tanya Nisa dengan ragu.
"Sangat enak, Kalau tidak enak ... Bukan cafe milik Gian namanya." Kata Hari sambil tersenyum ke arah Gian.
"Bisa aja kamu." Sahut Gian.
Hari langsung menarik Nisa untuk beranjak, niat pria itu ingin memberi tahu Nisa untuk cara pemesanannya.
"Mau apa ri?"Tanya Gian saat tangan Hari menarik sebelah tangan Nisa.