NovelToon NovelToon
Rumah Yang Kami Pilih

Rumah Yang Kami Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Healing / Chicklit / Dark Romance
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Anggriani

Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”

Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Masuk Toko

Rutinitas adalah satu-satunya hal yang mencegah Alea Niskala dari kegilaan. Sejak dunianya runtuh, ia belajar untuk mencintai hal-hal yang dapat diprediksi, jam dinding yang berdetak konstan di ruang istirahat, bunyi beep dari pemindai kode batang di kasir, dan aroma debu kertas yang menenangkan. Di sini, di balik rak-rak buku yang tinggi, ia merasa aman dari tatapan kasihan orang-orang yang mengetahui kegagalannya. Di sini, ia hanya seorang pelayan toko yang rajin, bukan seorang wanita yang ditinggalkan tanpa penjelasan.

Namun, keamanan itu kini terus terusik oleh kehadiran satu orang.

Sore itu, mendung di atap Jakarta, memberikan nuansa abu-abu yang suram pada kaca depan toko Litera & Latte. Udara di dalam toko terasa sejuk oleh pendingin ruangan, namun suasana batin Alea terasa gerah. Ia sedang berjongkok di lorong kategori hobi, mencoba mengatur ulang deretan novel best-seller yang berantakan karena ulah pengunjung remaja tadi siang.

Saat itulah, ia mendengar bunyi langkah sepatu kulit yang berat dan mantap di atas lantai kayu. Langkah yang tidak pernah ragu, seolah setiap inci lantai yang diinjaknya adalah miliknya.

“Kamu melewatkan satu buku di baris bawah. Letaknya miring,” suara bariton itu terdengar tepat di belakang telinganya, dingin dan berwibawa.

Alea tersentak pelan, jantungnya mencelos sesaat. Ia segera bangkit berdiri, merapikan celemek cokelatnya yang sedikit kusut. Di depannya, Aksa Pratama berdiri menjulang. Pria itu mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan lengan yang digulung seperti biasa dan memperlihatkan jam tangan kronograf yang tampak mahal.

“Itu buku terakhir yang akan saya rapihkan, Pak,” jawab Alea otomatis, suaranya diusahakan sedatar mungkin meski ia merasa terintimidasi.

Aksa tidak segera menjawab. Ia menatap Alea lurus-lurus, memindai ekspresi wajahnya dengan ketelitian yang membuat Alea ingin bersembunyi. Lalu, pria itu menggeleng pelan dengan raut tidak suka.

“Hentikan itu,” ucap Aksa rendah.

Alea mengerutkan kening, bingung. “Maaf? Melewatkan buku?”

“Bukan. Berhenti memanggilku ‘Pak’. Itu terdengar seperti aku adalah atasanmu atau orang tua yang butuh dihormati secara berlebihan hanya karena posisi sosial,” ucap Aksa dengan nada yang tidak bisa dibantah. “Panggil aku Aksa.”

Alea tertegun, lidahnya mendadak kelu. “Tapi Anda pelanggan di sini. Kebijakan toko mengharuskan saya bersikap sopan kepada siapa pun—“

“Sopan santun berlebihan adalah topeng bagi orang yang takut menunjukkan jati dirinya, Alea,” potong Aksa tajam. Ia melangkah satu tindak lebih dekat, menginvasi ruang pribadi Alea hingga aroma parfum sandalwood dan cedar miliknya memenuhi indra penciuman Alea.

“Dan kita berdua tahu, kamu tidak sedang dalam posisi untuk memakai topeng apa pun di depanku. Aku sudah melihatmu di titik paling berantakan. Panggil namaku. Sekarang.”

Alea menelan ludah, dadanya berdenyut kencang. Rasanya sangat aneh menyebut nama pria yang auranya begitu dominan ini tanpa embel-embel formalitas.

“Baiklah... Aksa. Apa yang kamu cari hari ini? Stok majalah bisnis baru akan datang besok.”

Aksa menyeringai tipis, sebuah ekspresi puas yang membuat garis wajahnya sedikit melunak, namun tetap terasa berbahaya. “Lebih baik. Aku tidak butuh majalah hari ini. Aku butuh struktur. Cari buku tentang arsitektur lanskap atau desain ruang kota. Ada?”

Alea mengangguk pelan, mencoba menguasai kembali fokusnya yang berhamburan. “Ada di rak seni dan desain, di lorong paling ujung. Ikuti aku.”

Mereka berjalan beriringan melewati lorong-lorong buku yang sempit. Keheningan di antara mereka terasa tebal, hanya dipecah oleh gesekan sepatu mereka pada lantai kayu. Alea merasa sangat sadar bahwa Aksa sedang memperhatikannya dari belakang,memperhatikan caranya berjalan, caranya menunduk, seolah-olah dia adalah sebuah spesimen dalam laboratorium.

“Kenapa arsitektur lanskap?” tanya Alea akhirnya, mencoba memecah ketegangan yang ia rasakan sendiri.

“Hidup butuh rencana, Alea. Sama seperti sebuah taman atau tata kota,” jawab Aksa sembari menatap deretan punggung buku yang mereka lewati.

“Banyak orang gagal membangun hidup karena mereka hanya fokus pada bunga yang indah di permukaan, tapi lupa memperkuat fondasi tanahnya. Saat badai datang, mereka tercerabut karena akarnya lemah. Kamu paham maksudku, kan?”

Alea berhenti tepat di depan rak seni. Ia mengambil sebuah buku tebal bersampul hijau tua dengan ilustrasi taman minimalis dan menyerahkannya pada Aksa. “Aku paham kamu sedang mencoba menggunakan metafora untuk menghina kerapuhanku lagi, Aksa. Bisa tidak, satu hari saja, kamu datang ke sini tanpa harus membedah hidupku seperti seorang profesor sosiologi?”

Aksa menerima buku itu, membolak-balik halamannya dengan gerakan tangan yang presisi. “Itu bukan hinaan. Itu observasi objektif. Jika kamu merasa terhina, itu artinya kamu secara tidak sadar setuju dengan penilaianku bahwa kamu sedang berada di titik terlemahmu.”

“Siapa yang tidak merasa lemah setelah dikhianati?”seru Alea sedikit meninggi, membuat seorang ibu yang sedang memilih buku mewarnai di rak sebelah menoleh sekilas. Alea menarik napas, merendahkan suaranya kembali. “Aku hanya butuh waktu untuk tenang.”

Aksa tidak bergeming. Ia justru menutup buku itu dengan bunyi brak yang tegas, suaranya bergema di antara rak-rak tinggi. lWaktu tidak akan melakukan apa pun jika kamu hanya duduk diam di bawah reruntuhan. Banyak orang memilih untuk membangun kembali tanahnya, bukan terus-menerus meratapi bunga yang sudah mati dan tidak akan mekar lagi.”

Alea tidak menjawab. Ia merasa matanya sedikit panas, namun ia menolak untuk terlihat kalah. Ia segera berjalan cepat menuju meja kasir, menghindari perdebatan yang lebih jauh yang hanya akan menguras sisa-sisa energinya. Aksa mengikutinya dengan langkah santai, tampak sangat menikmati bagaimana dia berhasil mengusik ketenangan semu Alea.

“Seratus delapan puluh ribu,” ucap Alea saat mereka sampai di konter. Ia fokus pada layar komputer, menolak menatap mata pria di depannya.

Aksa mengeluarkan kartu debitnya dari dompet kulit yang rapi.

“Simpan struknya. Aku mungkin akan mengembalikan buku ini jika isinya tidak sesuai dengan ekspektasiku.”

Alea memproses transaksi itu dengan gerakan kaku. “Toko ini punya kebijakan pengembalian tujuh hari, tapi buku harus dalam keadaan sempurna tanpa cacat sedikit pun. Sama seperti standar tinggi yang kamu terapkan pada orang lain, kan?”

Kali ini Aksa terdiam sebentar. Ia menatap Alea dengan tatapan yang sedikit berbeda, ada kilat penghargaan yang samar di matanya. Sudut bibirnya terangkat sedikit.

“Kamu mulai berani membalas. Bagus. Itu tandanya ada sedikit api yang tersisa di bawah semua debu dan reruntuhan harga dirimu itu. Jauh lebih baik daripada pelayan yang hanya bisa menunduk ketakutan.”

Alea menyerahkan buku yang sudah dibungkus dengan kantong kertas ramah lingkungan. “Besok majalah bisnis pesananmu datang. Apa kamu akan datang lagi?” tanya Alea.

“Tentu saja,” jawab Aksa sembari menerima buku itu. Ia menatap Alea lurus-lurus sebelum berbalik.

“Melihatmu mencoba terlihat normal di balik meja ini jauh lebih menarik daripada memantau pergerakan saham yang membosankan. Sampai besok, Alea.”

Tanpa menunggu balasan, Aksa berbalik dan berjalan keluar toko. Pintu berdenting pelan, meninggalkan Alea yang terpaku sendirian di balik meja kasir. Ia menatap tangannya; tangannya benar-benar diam, tidak gemetar seperti biasanya, namun ia bisa merasakan jantungnya berdegup dengan ritme yang asing.

Kehadiran Aksa yang profesional namun tajam itu kini resmi menjadi bagian dari rutinitasnya. Bukan sebagai hal yang menyenangkan yang ia nantikan, tapi sebagai pengingat konstan bahwa dunianya yang hancur sedang diawasi. Namun, anehnya, kata-kata kasar Aksa justru memberikan sensasi nyata di tengah rasa hampa yang selama ini menyelimutinya. Untuk pertama kalinya sejak Han pergi, Alea tidak merasa seperti hantu, ia merasa seperti seseorang yang sedang ditantang untuk kembali hidup.

1
Gaza Nesia
dewasa bnr si aksa
Gaza Nesia
tapi emang rata rata gitu gak sih, klo banyak masalah jdi nggak fokus kerja😓
falea sezi
Lea ini egois bgt males
Aviciena
thor, aku tinggal dulu ya,. nanti aku balik lagi klo sdh sengganng waktunya
AtNy Aby
😭apa sesulit itu alea keluaf dari zona itu
Ika Anggriani: orang klo kecintaan ya susah kak😭
total 1 replies
Aviciena
kayaknya lbh enak di baca dlm bentuk buku nih novel
Ika Anggriani: kenapa kak?😭
semoga yaa kak
total 1 replies
Aviciena
nungguin arahnya kmn
Aviciena
misterius
Ranita Rani
cwe bego gk pny otak,,,,jelas2 cwonya dh gk beres tetep ja ngemis2 kyak gk pny hrg dri ja,,,mbok yo sadar,pngalaman ortumu jgn d bikin truma tp bikin itu sebuah pelajaran,,,,
Ika Anggriani: emang ngeselin banget si alea ya kak😭
total 1 replies
Aviciena
karya sastra luar biasa
Aviciena
maaf thor, d awal penulisan , pake sudut pandang orang 1 ya... kemudian setelahnya jadi berubah
Ika Anggriani: tetap sudut pandang orang ketiga kok kak dari pertama juga
total 1 replies
falea sezi
wanita malu maluin aja ngemis2
Ika Anggriani: sabar kak😭
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Aduh-aduh siapa ya
Panda%Sya🐼
giliran selingkuh gak malu tuch
Panda%Sya🐼
Kenapa sih lelaki selalu gini, udah bagi harapan malah di balas santapan 😤
Anonymous
brengseknya nggak kira" bangett tuh cowok
Anonymous
dominan banget auranya si aksa
Panda%Sya🐼
Alea please sadar, kamu gak kurang apa-apa dia aja yang tidak tahu menghargai 🤧
Ika Anggriani: Han yang kurang padahal😭
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Ihhh Han lu benar-benar bego! 😡
Panda%Sya🐼
Dia laki-laki gak tahu apa itu wanita setia! emang kampret lu ya Han, gue masak lu campur seblak biar lu tahu panasnya hati Al yang selalu nungguin pesan-pesan chat lu 😤😤
Ika Anggriani: banyak modelan han di dunia nya wkwkw
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!