NovelToon NovelToon
My Dangerous Kenzo

My Dangerous Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Playboy
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Dinan

Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 - My Dangerous Kenzo

...----------------...

...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...

...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...

...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...

...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...

...Cerita ini fiksi yaa ✨...

...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...

...No plagiarism allowed ❌📝...

...----------------...

Jam menunjukkan waktu istirahat.

Kantin sudah ramai. Suara piring beradu, tawa siswa, dan aroma gorengan bercampur jadi satu.

Naya berjalan pelan di samping Citra.

“Pelan aja, Nay,” Citra menggandeng lengannya erat.

“Aman,” jawab Naya singkat, walau langkahnya tetap hati-hati.

Citra membantu Naya duduk di kursi paling pojok, agak jauh dari keramaian.

“Lo duduk aja. Biar gue yang pesenin. Mau makan apa?” tanya Citra sambil meletakkan tasnya di meja.

“Emm… apa ya… roti aja deh sama es teh.”

“Oke. Jangan kemana-mana,” Citra menunjuknya serius.

Naya mengangguk kecil.

Begitu Citra berjalan ke arah warung, Naya menunduk menatap meja. Jarinya memainkan ujung seragamnya.

Belum sampai satu menit—

Kursi di sebelahnya bergeser pelan.

“Nay?”

Suara itu lembut. Hati-hati. Seolah takut membuatnya retak lebih jauh.

Naya tak perlu menoleh untuk tahu siapa.

“Hemm,” jawabnya pelan.

Kenzo duduk di sebelahnya. Wajahnya masih menyisakan bekas pukulan. Sudut bibirnya sedikit bengkak, pelipisnya membiru.

“Aku minta maaf.”

Tangannya perlahan menggenggam tangan Naya di atas meja.

Hangat.

Naya tidak langsung menariknya.

Kenzo menunduk dan mengecup punggung tangan Naya ringan.

“Aku juga minta maaf,” ucap Naya lirih. “Kak Reno udah mukul kamu sampai begini…”

Kenzo tersenyum kecil, meski perih. “Nggak apa-apa, Nay. Ini salah aku.”

Ia menatap lurus ke depan. “Aku pantas dapetin ini.”

Naya menoleh pelan.

“Sakit nggak?”

Kenzo menoleh, menatap matanya.

“Lebih sakit lihat kamu begini.”

Kalimat itu membuat dada Naya kembali sesak.

Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Kenzo.

“Kita udahan aja ya…”

Kalimat itu keluar pelan. Tanpa menatap.

Seolah kalau ia menatap, ia akan batal.

Kenzo langsung menegang.

“Aku bisa jelasin,” suaranya berubah. Lebih cepat. Lebih panik.

“Jelasin gimana?” akhirnya Naya menoleh.

Matanya merah. Bukan marah. Tapi lelah.

“Ini nggak seperti yang kamu pikirin, Nay. Video itu lama. Sebelum kamu. Dan nggak ada yang kayak dia bilang.”

“Dia bilang kamu nolak dia semalam.”

“Iya. Karena aku cuma mau kamu.”

Jawabannya tegas.

Naya menelan ludah.

“Please,” Kenzo menunduk sedikit, suaranya benar-benar memohon sekarang. “Tunggu aku sampai semuanya beres. Aku janji. Aku bakal beresin ini.”

Naya menatap wajahnya lama.

Wajah yang ia suka.

Wajah yang sekarang penuh lebam karena kakaknya.

“Kita break dulu aja ya…” ucap Naya akhirnya.

Bukan putus.

Tapi menjauh.

Kenzo langsung menggeleng pelan. “Nggak.”

Nada suaranya hampir seperti anak kecil yang takut ditinggal.

“Besok kamu buka gips kan? Aku anter.”

Naya menghembuskan napas panjang.

Kenzo masih seperti biasa. Keras kepala kalau soal dia.

“Terserah deh…”

Jawaban itu setengah menyerah. Setengah pasrah.

Kenzo langsung menangkap celah harapan.

“Besok aku jemput,” katanya cepat.

Naya tidak menjawab lagi.

Beberapa detik hening.

Kenzo menatapnya lagi.

“Jangan menjauh dari aku, Nay. Jangan hukum aku sebelum aku bisa buktiin.”

Naya menggigit bibirnya.

“Aku cuma takut, Ken,” suaranya pecah lagi. “Takutnya aku nggak cukup buat kamu.”

Kenzo langsung memegang kedua pipinya pelan.

“Kamu itu lebih dari cukup.”

Mata mereka bertemu.

Dan di momen itu—

“Ehem.”

Suara Citra muncul dari belakang.

Kenzo langsung melepaskan tangannya.

Citra berdiri dengan nampan di tangan. Tatapannya bergantian antara mereka berdua.

“Makanan datang.”

Ia meletakkan roti dan es teh di depan Naya. Satu lagi minuman untuk dirinya.

“Kak Kenzo mau ikut duduk?” tanya Citra datar.

Kenzo berdiri pelan. “Nggak. Gue balik kelas.”

Sebelum pergi, ia menatap Naya sekali lagi.

“Besok pagi.”

Bukan pertanyaan.

Tapi pernyataan.

Naya hanya menunduk, memainkan sedotan es tehnya.

Kenzo berjalan menjauh.

Citra duduk perlahan di kursinya, menatap sahabatnya.

“Lo masih sayang banget ya?”

Naya mengangguk kecil.

Air matanya jatuh lagi, diam-diam.

Dan kali ini—

Bukan cuma karena sakit.

Tapi karena Naya sadar…belum siap kehilangan.

Citra menggenggam lengan Naya di atas meja.

Hangat. Menenangkan.

“Ada apa-apa bilang gue yaa?” ucap Citra pelan, tapi tegas.

Naya mengangguk kecil.

“Thanks ya, Ra…”

Senyumnya tipis. Terlalu tipis.

Padahal sejak Kenzo duduk di sebelahnya tadi, detak jantungnya sudah nggak karuan. Tangannya masih terasa hangat bekas genggaman Kenzo. Bekas kecupan ringan itu seperti masih tertinggal di kulitnya.

'Dia serius kah? ' batin Naya.

'Kenapa masa lalunya dia datang nghantam gue pake banget?'

'Gue ajak udahan dianya nggak mau.'

Lagi dan lagi Naya menarik nafas panjang, berusaha menetralkan hatinya yang kacau.

“Besok lo buka gips?” tanya Citra, memecah lamunannya.

“Hem… kata dokter sih udah bisa dibuka, Ra.”

“Finally. Lo udah kayak ninja satu kaki tau nggak.”

Naya terkekeh kecil.

Baru saja suasana mulai lebih ringan—

Kursi di sebelah Citra tiba-tiba bergeser.

Arsen duduk di sana.

Citra langsung menoleh, sedikit waspada.

“Nay?” sapa Arsen hati-hati.

“Iya, Sen?”

Arsen terlihat berbeda dari biasanya. Nggak ada senyum santai, nggak ada gaya sok cool. Wajahnya serius.

“Maaf… gara-gara gue kaki lo jadi gini.”

Citra otomatis menatap Naya.

Naya menghela napas pelan. “Iya, Sen, nggak apa-apa udah kejadian ini.”

Arsen menggeleng pelan. “Nggak, Nay. Nggak sesimpel itu.”

Tangannya mengepal di atas meja.

“Maaf baru sekarang minta maaf. Gue bener-bener ngerasa bersalah banget.”

Naya terdiam beberapa detik.

Kejadian itu terlintas lagi di kepalanya— salah posisi dan sedikit retakan sampai harus pakai gips berminggu-minggu. Bahkan penyembuhan bisa berbulan- bulan, mungkin.

“Iya, Sen,” jawab Naya singkat lagi.

Bukan ketus. Tapi juga bukan hangat.

Arsen memperhatikan wajah Naya yang masih sembab.

“Lo nangis?” tanyanya pelan.

Citra langsung menyela, “Alergi debu.”

Arsen tidak percaya.

Tatapannya beralih ke arah kelas XI IPA 3 yang terlihat dari kejauhan.

“Gara-gara Kenzo ya?”

Nama itu membuat jantung Naya kembali berdetak lebih cepat.

“Bukan urusan lo,” jawab Citra cepat.

Arsen menghela napas. “Gue cuma nggak mau lo kenapa-kenapa lagi, Nay.”

Naya menatap Arsen kali ini.

Untuk pertama kalinya sejak ia duduk.

“Bukan ranah lo yaa, Sen".

Pernyataan Citra itu keluar pelan. Tapi cukup membuat Arsen diam.

"Peduli banget kayaknya" Lanjut Citra.

Beberapa detik hening.

“Karena gue yang bikin Naya cedera,” jawabnya akhirnya. “Dan... ya jadi gue peduli.”

Citra mengangkat alis sedikit.

Naya terdiam saja.

Arsen melanjutkan, “Kalau ada yang bikin lo nangis, lo sendirian Nay.”

'Kenzo bilang jangan menjauh.

Citra bilang jangan simpan sendiri.

Sekarang Arsen bilang gue nggak sendirian'.

Semua orang tiba-tiba terasa ingin melindunginya?

'Udah kayak barang pecah aja gue'.

'huh', Naya menghembuskan nafas pelan.

Kesal?

Iyalah.

Padahal yang ia butuhkan cuma satu— kepastian.

“Sen,” suara Naya lembut tapi tegas, “aku nggak apa-apa.”

Arsen menatapnya seolah ingin memastikan.

“Kalau dia nyakitin lo…”

“Udah ya,” potong Citra halus tapi jelas. “Naya lagi nggak butuh drama tambahan.”

Arsen tersenyum tipis, mengangguk.

“Oke. Gue cuma mau bilang maaf. Dan… besok kalau lo buka gips, semoga nggak sakit.”

Naya mengangguk kecil. “Makasih.”

Arsen berdiri pelan.

Sebelum pergi, ia sempat melirik Naya sekali lagi.

Bukan tatapan biasa.

Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang belum diucapkan.

Begitu Arsen menjauh, Citra langsung mendekat ke Naya.

“Lo sadar nggak sih?”

“Sadar apa?”

“Itu cowok satu kayaknya bukan ngerasa bersalah.”

Naya mengerutkan dahi. “Apanya sih.”

"Berminggu-minggu gak ngomong apa-apa" ,

"Tiba-tiba nongol minta maaf".

Citra menyeringai kecil. “Hari lo lagi rame banget ya.”

Naya tertawa kecil.

Tapi di dalam dadanya semuanya masih rumit.

Kenzo dengan masa lalunya.

Reno dengan amarahnya.

Arsen datang dengan tiba-tiba.

Dan besok…

Gips itu akan dilepas.

Mungkin bukan cuma kakinya yang harus belajar berdiri lagi.

Tapi juga hatinya.

...----------------...

...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...

...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...

...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...

...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...

...----------------...

1
Salsa aja
kpn up lg thor... nanggung tuhhh..
Dinaneka: jam 8 kak up lagi👍
total 1 replies
Salsa aja
dikit amat tulisannya per episode.. kepanjangan tuhhh awalan dan akhiran curcol penulisnya
Dinaneka: Makasih banyak masukannya kak 🤍
Ke depannya aku coba bikin isi ceritanya lebih panjang yaa.
Smoga kakak tetep betah baca MY DANGEROUS KENZO 💕🙏😍
total 1 replies
Salsa aja
bagus ceritanya.. inspiratif.. positif.. tp terlalu glamor menurutku hahaha.. dunia novel.. dunia mimpi.. tp bikin happy/Good/
Dinaneka: Ceritanya sengaja di buat dreamy💖 xii xii
Semoga tetep seru ya✨🙏 sesuai dreamy penulis nya😄 mimpiin sosok kenzo😍🙏🤭
total 2 replies
nanuna26
semangat kak
Dinaneka: makasih kakak🙏
total 1 replies
Martini .K
semsngatt yah💪
Martini .K: sama2
😊
total 3 replies
Riyanti Bee
Penulisan rapi enak dibaca, cerita menarik.
Dinaneka: makasih banyak kakak selalu setia sama my dangerous kenzo, thankyou banget.
total 2 replies
tamara is here
jangan lupa mampir yaa, kita saling dukung😍💪
Dinaneka: Makasih banyak kakaku🙏🙏
total 1 replies
tamara is here
Cerita yanh baguss
Dinaneka: makasih banyak kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!