Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 – My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
Mobil melaju pelan meninggalkan halaman rumah Citra. Lagu masih diputar pelan, suasana awalnya santai.
“Jadinya kita ke mana dulu nih?” tanya Reno sambil melirik sebentar ke Citra.
Citra menyenderkan punggung ke jok, tangannya mainin ujung tas. “Ke mall dulu aja, yuk. Aku mau cari sesuatu.”
Reno mengangkat alis sedikit. “Mall lagi?”
Tangannya tetap di setir, tapi nadanya berubah dikit. Bukan nolak, lebih ke… ragu.
“Kenapa?” Citra menoleh.
“Kita kan jarang keluar santai. Aku pengen jalan, liat-liat.”
Reno menghembuskan napas pelan. “Gue mikirnya nanti aja. Sekarang ke tempat yang nggak rame dulu. Capek ngadepin orang.”
Citra diam sebentar. “Lo capek, atau lo males nemenin gue ke mall?”
Reno refleks melirik. “Bukan gitu maksud gue.”
“Terus apa?”
Nada Citra mulai naik dikit, tapi matanya masih nahan.
Reno menggaruk tengkuk. “Gue cuma pengen kita… nggak ribet. Mall tuh rame, berisik, antri.”
“Justru itu yang namanya jalan bareng,” potong Citra.
“Kalau cuma pengen yang lo nyamanin doang, ya jalan sendiri aja.”
Kalimat itu bikin Reno refleks ngerem dikit—bukan berhenti, tapi cukup buat suasana di mobil jadi sunyi.
“Citra,” ucap Reno lebih pelan.
“Gue ngajak lo keluar bukan buat ribut.”
Citra menoleh ke jendela. “Gue juga nggak mau ribut. Tapi masa semua harus ngikut lo terus?”
Beberapa detik hening. Lagu masih muter, tapi kayak nggak ada yang denger.
Reno akhirnya menghela napas panjang. “Oke. Kita ke mall dulu.”
Citra menoleh cepat. “Beneran?”
“Iya,” jawab Reno singkat.
“Tapi abis itu kita ke tempat gue, ya. Gue juga pengen lo ikut hal yang gue suka.”
Citra menatap Reno beberapa detik, lalu mengangguk kecil. “Deal.”
Mobil kembali melaju lebih stabil.
Nggak sepenuhnya adem… tapi cukup buat lanjut jalan bareng.
Dan di balik kaca mobil itu, dua orang sama-sama mikir:
👉 bukan soal mau ke mana, tapi soal mau saling ngalah sejauh apa.
Pintu mobil tertutup pelan. Reno langsung nyalain mesin. AC menyala, musik pelan diputer—lagu yang biasanya bikin santai.
Citra duduk di kursi penumpang, paper bag di pangkuannya. Tangannya merapikan tali tas, matanya menatap lurus ke depan.
Mobil mulai jalan.
Beberapa detik pertama hening.
“Capek?” tanya Reno akhirnya, mata tetap ke jalan.
“Nggak,” jawab Citra singkat.
Reno melirik sekilas. Biasanya Citra bakal nambahin cerita, atau nanya balik. Tapi sekarang… nggak.
“Kita ke tempat latihan bentar ya,” kata Reno. “Nggak lama.”
Citra mengangguk kecil.
“Iya.”
Nada suaranya datar. Terlalu datar buat ukuran Citra.
Reno ngerasa ada yang aneh.
“Kamu kenapa?”
Citra menoleh, senyum tipis muncul.
“Kenapa apa?”
“Kayak… diem aja.”
Citra memandang ke luar jendela. Gedung-gedung mall makin menjauh.
“Nggak apa-apa,” katanya. “Lagi mikir aja.”
“Mikir apa?”
Citra diam sebentar, lalu menjawab pelan, hati-hati.
“Aku ngerasa… lagi sama kamu, tapi kamu sebenernya lagi sama hal lain.”
Reno refleks ngerem dikit karena lampu merah.
“Maksud kamu?” tanyanya.
“Basket,” jawab Citra jujur. “Temen kamu. Pikiran kamu.”
Reno menghela napas kecil.
“Itu kan tanggung jawab gue, Cit.”
“Aku tau,” Citra cepat menyahut. “Aku nggak nyuruh kamu ninggalin itu.”
Sunyi lagi.
Lampu hijau. Mobil jalan.
Citra memainkan ujung sedotan minumannya.
“Aku cuma… pengen kamu ada sepenuhnya pas lagi sama aku.”
Reno menggenggam setir lebih erat.
“Gue ada kok.”
Citra tersenyum, lagi-lagi tipis.
“Iya. Ada. Tapi kadang rasanya setengah.”
Kalimat itu ringan. Nggak tinggi nada.
Tapi kena.
Reno menelan ludah.
“Maaf.”
Citra menoleh, agak kaget.
“Kenapa minta maaf?”
“Kalau bikin kamu ngerasa gitu.”
Citra mengangguk pelan.
“Thanks.”
Mobil terus melaju. Musik masih sama. AC masih dingin.
Tapi di dalam mobil itu, ada jarak kecil yang mulai terasa.
Bukan karena marah.
Tapi karena ada hal-hal yang mulai nggak seimbang.
Dan kadang… yang paling berbahaya bukan pertengkaran.
Tapi rasa ditahan sendiri.
Lapangan basket sore itu ramai. Suara sepatu berdecit, bola memantul, teriakan pelatih sesekali terdengar.
Citra duduk di bangku pinggir lapangan, kaki disilangkan, tas di sampingnya. Wajahnya tenang—terlalu tenang.
Reno berdiri di pinggir lapangan, ngobrol sambil minum.
Dan di sampingnya… Sella.
Cewek itu berdiri terlalu dekat.
Terlalu nyaman.
Tangannya melingkar di lengan Reno—bukan sekadar nyentuh. Tapi menggenggam, kenceng, posesif.
Reno refleks menoleh ke bangku.
Citra.
Mata mereka ketemu sesaat.
Citra cuma mengangguk kecil. Senyum tipis. Aman.
“Ren,” suara Sella manja, sedikit ditarik.
“My mommy sama papi ijinin aku pindah sekolah ke sekolah kamu loh.”
Reno mengernyit kecil.
“Hah? Ngapain pindah-pindah terus, Sell?”
Sella nyengir, jari-jarinya malah makin nekan lengan Reno.
“Kan biar deket kamu. Sama Naya juga.”
Reno menarik lengannya pelan, tapi Sella tetap nempel.
“Itu siapa yang duduk?” Sella menunjuk ke arah bangku.
Reno menoleh sekilas, lalu menjawab singkat.
“Pacar.”
Deg.
Hati Sella seperti disiram bensin.
'What? Reno punya pacar?
Nggak mungkin…'
Alis Sella naik.
“Kamu kan nggak boleh pacaran sama mommy?”
“Boleh, Sell,” jawab Reno santai.
'Tante kan Strict parah… nggak mungkin Reno dibolehin', batin Sella panas.
“Anterin aku pulang ya,” kata Sella cepat, seolah itu wajar.
“Nggak bisa,” Reno tegas. “Aku sama pacarku.”
Di bangku, Citra menatap lurus ke depan.
Ekspresinya biasa.
Tapi dadanya panas.
Oh… jadi ini maksudnya.
'Gue diajak ke sini buat liat dia sama cewek lain.
Brengsek.'
Citra berdiri.
Langkahnya tenang, hak sepatunya berbunyi pelan di lantai lapangan.
Begitu sampai, tanpa ragu—tangannya menggenggam lengan Reno juga. Sama kencangnya.
“Yank,” panggilnya manis.
Sella menoleh cepat. Tatapan mereka bertabrakan.
“Hem? Kenapa?” Reno refleks menoleh ke Citra.
“Bentar ya,” kata Citra lembut tapi jelas. “Aku nungguin Davin beres main dulu.”
Sella menyeringai tipis.
'Oh, dia nggak mau kalah.'
“Kamu inget nggak waktu kita kecil sering main bareng?” Sella sengaja nyeletuk. “Kamu selalu jagain aku.”
“Iya, Sell,” jawab Reno singkat.
Citra mengangguk kecil, lalu menoleh ke Reno.
“Yank, kamu besok jemput aku kan?”
“Iya, Ra,” jawab Reno tanpa mikir.
Sella langsung nyelak.
“Besok main ke rumah ya, Ren!”
Reno ragu sepersekian detik.
“Nanti gue liat ya, Sell.”
Citra menatap Reno—bukan marah, tapi dingin.
“Yank, abis ini kita makan ya. Aku laper.”
“Oke, Ra.”
Sella menggigit bibir.
“Ren, mommy nanyain kamu loh.”
“Iya, salam aja ya,” jawab Reno datar.
Citra menghela napas, lalu—
menghentakkan kakinya kecil.
“YANK.”
“Iya, sayang?” Reno langsung refleks. “Kenapa?”
“Ayo pulang deh,” kata Citra cepat. Nada suaranya tetap manis, tapi final.
Reno menoleh ke lapangan.
“VIN!”
Davin melirik dari tengah lapangan, langsung angkat tangan sambil jempol. Oke.
“Di-call aja,” teriak Reno.
Citra sudah jalan duluan.
Sella menatap punggung Citra, matanya tajam.
“Cewek kamu posesif juga ya.”
Citra berhenti.
Menoleh pelan.
“Bukan posesif,” katanya tenang.
“Cuma tau posisi.”
Sella mendengus.
“Kamu tau nggak, aku kenal Reno dari kecil. Kamu baru.”
Citra tersenyum kecil.
“Iya. Tapi aku yang dipilih.”
Itu kena.
Sella menahan emosi.
“Kamu jangan GR dulu. Hubungan kayak gini cepat putus.”
Citra mendekat setengah langkah.
“Dan kamu jangan lengket ke cowok orang. Nggak cantik.”
Reno datang di tengah-tengah.
“Udah. Cukup.”
Citra langsung jalan.
Reno ngikutin.
Di mobil, hening.
Mesin menyala.
Beberapa detik… sunyi.
“Sella itu anaknya tante aku,” Reno akhirnya buka suara.
“Anak kakaknya mommy. Dari dulu emang lengket.”
Citra menatap ke depan.
“Oh.”
“Itu nggak ada apa-apa,” lanjut Reno cepat.
“Aku minta maaf.”
Citra tersenyum—lelah.
“Tau nggak apa yang bikin capek?”
Reno menoleh.
“Bukan Sella,” kata Citra pelan.
“Tapi rasa dibandingin.”
Reno terdiam.
“Aku nggak cemburu sama Naya,” lanjut Citra jujur.
“Justru aku mikir… kamu bisa selembut itu ke adikmu.”
Ia menelan ludah.
“Dan aku berharap… kamu juga bisa sehadir itu ke aku.”
Reno menggenggam setir.
Kata-kata itu telat masuk—tapi kena.
“Aku beneran minta maaf,” ucapnya lirih.
Citra mengangguk kecil.
“Aku tau.”
Mobil melaju.
Nggak ada teriakan.
Nggak ada marah besar.
Tapi sesuatu di antara mereka…
retak halus.
Dan Reno baru sadar—
kadang, sadar itu datang
setelah hati orang lain keburu panas.
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...