Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku bukan mesin uang
Keesokan harinya.
Laras bangun seperti biasa. Namun kali ini, ia sengaja tidak menyentuh peralatan dapur. Tak ada aroma masakan yang tercium, karena ia hanya membeli satu bungkus sarapan untuk dirinya sendiri. Rumah pun ia biarkan berantakan, sisa pesta kecil keluarga suaminya semalam masih berserakan, piring-piring kotor menumpuk di wastafel layaknya gunung kecil yang siap runtuh.
"Sarapanku mana, Ras?" tanya Arga, menghampiri Laras yang sedang makan di ruang tamu, satu-satunya sudut ruangan yang masih lumayan bersih.
"Aku tidak masak. Bukannya semua bahan makanan sudah diberikan ibumu kepada Mbak Ratih?" jawab Laras santai, tanpa mengalihkan pandangan dari makanannya. "Aku beli ini di depan. Kalau mau makan, ya beli saja sendiri."
Arga mengernyitkan dahi. "Tadi kan bisa sekalian beli untukku. Terus Ibu sama Tiara bagaimana? Lihat rumah ini, berantakan sekali. Dapur kotor, piring menumpuk. Kenapa tidak kamu bereskan dulu, sih?"
Laras berhenti mengunyah. Ia hanya tersenyum tipis sembari melirik Arga dengan tatapan jengah. Siapa yang membuat kotor, siapa pula yang dituntut untuk membersihkan. Lucu sekali.
"Kamu dengar tidak sih yang aku bicarakan?" cecar Arga mulai kesal melihat sikap cuek istrinya.
"Memangnya kamu ada memberiku uang untuk beli makanan?" Laras balik bertanya. "Soal rumah yang berantakan dan piring kotor, itu bukan urusanku. Itu semua ulah kalian, jadi kenapa harus aku yang membereskan? Kalau tidak mau dibersihkan, ya silakan nikmati saja pemandangan ini."
"LARASSSS...!!!"
Tiba-tiba dari arah dapur terdengar teriakan melengking Bu Ajeng. Laras yang sudah hafal betul tabiat mertuanya itu hanya diam, menghabiskan suapan terakhir sarapannya.
"Laras. Kenapa tidak ada sarapan? Dan kenapa rumah masih seperti kapal pecah begini? Pemalas. Malah enak-enakan makan sendirian. " bentak Bu Ajeng yang datang dengan wajah merah padam.
"Mau sarapan? Beli saja, Bu. Salah siapa semua stok bahan makanan dikasih ke Mbak Ratih semua? Memangnya belanja itu pakai daun?" Laras berdiri, menatap mertuanya dengan tegas. "Mulai sekarang, aku tidak peduli kalian mau makan apa tidak. Masalah rumah kotor, itu ulah kalian. Jangan harap aku mau belanja atau membelikan makanan sebelum rumah ini bersih dan rapi kembali."
Laras menghela napas panjang, menatap Arga dan ibunya bergantian. "Dan satu lagi, ingat baik-baik. AKU BUKAN MESIN UANG yang bisa kalian tekan kapan saja lalu keluar uang dari mulutku. Paham."
Selesai bicara, Laras melipat bungkus makanannya dan membuangnya ke tempat sampah. Tanpa memedulikan omelan Arga dan Bu Ajeng, ia menyambar kunci mobilnya untuk berangkat ke kantor.
"Laras. Jangan pergi dulu. Tinggalkan uang belanja, Laras." teriak Bu Ajeng dari ambang pintu.
Brummm!
"Menantu kurang ajar. Lihat saja, setelah Arga menceraikanmu, aku sumpahin hidupmu menderita. Tidak akan ada pria yang mau denganmu. " maki Bu Ajeng sambil berkacak pinggang di depan rumah.
"Ga, bagaimana ini? Laras belum kasih uang untuk Ibu berangkat ke Bali." keluh Bu Ajeng saat kembali masuk. "Padahal yang lain sudah bayar semua untuk booking tiket. Hari Minggu besok sudah berangkat. Malu kalau Ibu tidak ikut. Ini sudah hari Kamis, Arga."
Arga mengacak rambutnya frustrasi. "Aduh, Bu, Arga juga bingung. Ibu tahu sendiri selama ini kita pakai uang Laras. Arga juga lagi pusing soal pernikahan dengan Angel. Laras pasti tidak mau kasih uang untuk mahar. Kalau Arga tidak bisa kasih emas 30 gram dan uang tunai 50 juta seperti permintaan Angel, Arga malu, Bu. Orang tua Angel bisa membatalkan pernikahan ini."
Arga merasa buntu. Kas bon di kantor sudah menumpuk, utang pada teman-teman kerjanya pun sudah tak terhitung.
"Kamu harus bisa merayu Laras agar dia mau mengeluarkan uangnya lagi. " hasut Bu Ajeng. "Kalau sampai batal, kita rugi. Soal Angel yang hamil, itu urusan gampang. Orang tuanya pasti tidak mau ambil pusing, tinggal kirim ke luar negeri saja kalau mau sembunyi."
"Nanti malam Arga coba bicara baik-baik. Biasanya kalau disanjung sedikit, dia akan luluh." sahut Arga dengan senyum sinis.
"Iya, buat dia tunduk.”
"Pasti, Bu. Arga akan membuat Laras tunduk lagi." Arga mulai menyusun rencana. "Apa aku gadaikan saja sertifikat rumah ini untuk biaya nikah dan mahar Angel ya? Tapi di mana Laras menyimpannya?".gumamnya dalam hati.
**
Baru dua minggu berada di kota, Pak Harun dan Bu Sulis sudah merasa tidak betah. Mereka lebih suka suasana di kampung, mengurus perkebunan cengkeh dan kakao mereka yang sangat luas.
"Bu, sebelum balik ke kampung, kita ke rumah Laras dulu ya. Menginap satu-dua malam. Ada yang mau Bapak tanyakan ke Laras." ujar Pak Harun.
"Ibu juga mau begitu, Pak. Tapi di sana kan ada besan dan adik ipar Laras. Kita mau tidur di mana nanti? Memangnya apa yang mau Bapak bicarakan?" tanya Bu Sulis penasaran.
Pak Harun menghela napas kasar. Sebagai ayah, perasaannya tidak enak. Ia merasa pernikahan Laras dan Arga yang sudah berjalan empat tahun ini sedang tidak baik-baik saja.
"Bu, Bapak merasa tidak? Sejak Laras pulang dari luar kota dua hari lalu, dia kelihatan beda. Murung sekali. Apa dia ada masalah sama Arga?"
"Ibu juga merasa begitu, Pak. Ibu tunggu dia cerita, tapi sampai sekarang dia diam saja. Mau tanya langsung, takut dia merasa kita ikut campur. Bapak tahu sendiri Laras itu mandiri dan keras kepala." sahut Bu Sulis.
"Ya sudah, nanti sore kita ke sana. Masalah tidur itu gampang. Siapkan bawaan ya, Bu."
Seperti biasa, mereka akan membawa stok sembako melimpah. Beras, minyak, hingga jajanan pasar agar putri mereka tidak kekurangan. Mereka tidak tahu bahwa selama ini, barang-barang itu sering kali justru diangkut pulang oleh Bu Ajeng.
"Ibu cari Pak Komar dulu ya di paviliun, mau minta antar belanja ke swalayan." kata Bu Sulis.
Di paviliun, Pak Komar sedang memperbaiki televisi. "Tidak sibuk, Bu. Ini cuma benerin TV sedikit." jawab Pak Komar saat disapa.
"Oh, ya sudah lanjut saja. Angel mana? Biar dia saja yang antar saya ke swalayan." tanya Bu Sulis.
Pak Komar memanggil anaknya. Angel yang sedang bermalas-malasan di kamar segera keluar. Begitu melihat Bu Sulis, wajahnya langsung berubah manis dan santun berbeda jauh dengan sikap aslinya yang kasar pada orang tuanya sendiri.
"Bisa banget, Bu Sulis. Mau sekarang?" tanya Angel semangat. Dalam hatinya, ia sudah berencana untuk meminta uang jajan atau dibelikan kosmetik baru.
Angel juga sedang memikirkan kebohongannya pada Arga. Ia mengaku pada semua orang bahwa syarat dari orang tuanya agar bisa menikmati warisan adalah harus hidup mandiri dan serba pas-pasan bersama suaminya nanti selama satu tahun penuh. Padahal, itu hanyalah taktiknya untuk mengikat Arga.
"Sekarang saja. Ibu tunggu di depan ya." ucap Bu Sulis ramah, tanpa menaruh curiga pada calon perusak rumah tangga anaknya tersebut.
itung itung kamu sambil PDKT sama damar.
dan aku sangat yakin damar mau membeli itu tanah
tolonglah arga.
jangan biarkan ibu mertuamu memanfaatkan harta ayahnya arga.