Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUANG SESAK YANG SAMA
Begitu tiba di dalam kamar, Dea menghela napas panjang, rasa lega menyelimuti dadanya. Ia menutup pintu perlahan, kemudian bersandar sejenak pada kayu pintu, membiarkan kehangatan hati dan rasa aman setelah momen di meja makan tadi meresap sepenuhnya.
Sungguh, ingatan tentang insiden itu menolak untuk surut, terus mengalir dan menghantam benak Dea layaknya ombak yang tak kenal lelah.
Ia masih bisa merasakan sensasi limbung saat tubuhnya menghantam lantai, disusul beban berat tubuh Vhirel yang memerangkapnya. Deru napas lelaki itu tergesa—panas dan memburu di permukaan kulitnya—menciptakan desir aneh yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Lalu, selanjutnya ada Sofia.
Sentuhan tangan Sofia di pipinya bukanlah tamparan yang menghina, melainkan sebuah deklarasi. Tamparan ringan namun berani itu meninggalkan rasa hangat yang menjalar, sebuah validasi yang tak terduga. Bagi Dea, rasa perih itu justru terasa manis.
Ya. Di detik itu, Dea menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar bayang-bayang atau "adik kecil" yang harus dijaga dengan hati-hati. Ia telah menjadi pusaran, ia adalah penyebab kekacauan, alasan di balik napas yang menderu, dan target dari kemarahan yang jujur. Dan, untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar terlihat. Ia merasa diakui sebagai seorang wanita yang memiliki eksistensi, kekuatan, dan bahayanya sendiri.
Tapi, mengapa perasaan ini terjadi? Batinnya seketika.
"Bahkan rasa perih ini justru terasa seperti pelukan. Kenapa?" Tanya Dea pada dirinya sendiri di balik cermin kaca lemari kayu yang tergeletak di sudut kamar. Sebelah tangannya masih menempel di pipi, merasakan titik perih yang membuatnya tak bisa lupa bagaimana wanita itu menamparnya—rasa sakitnya masih terngiang, tapi bersatu dengan kekaguman dan rasa diakui yang tak kalah kuat.
"Enggak... enggak!" Geleng Dea kemudian. "Sadar Andreaaaa! Kak Vhirel itu kakak kamu. Tapi..."
Dea meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi, mencoba mengusir sisa-sisa napas Vhirel yang seolah masih tertinggal di ceruk lehernya. Nama "Andrea" yang ia sebut dengan penekanan itu seharusnya menjadi pengingat, sebuah jangkar agar ia tidak hanyut lebih jauh. Dan, kata "Tapi..." itu menggantung di udara, tajam dan menyakitkan seperti duri.
"Haisish!" Dea menggeram pelan, ia melangkah menuju ranjang lalu menjatuhkan diri kesana. Di saat itu juga, ia membenamkan wajahnya ke bantal yang mendadak terasa terlalu dingin.
Kenapa Vhirel tadi tidak menatapnya seperti seorang kakak menatap adiknya yang ceroboh? Sungguh. Tatapan itu gelap, berat, dan penuh dengan sesuatu yang tidak bisa Dea definisikan, namun sanggup membuat lututnya lemas. Dan Sofia? Jika Sofia benar-benar menganggap Dea hanyalah seorang "adik" bagi Vhirel, dia tidak akan menamparnya dengan kemarahan sebesar itu.
Tamparan itu adalah pengakuan bahwa Sofia merasa terancam. Dan yang membuat Dea merasa ngeri pada dirinya sendiri adalah, ia menyukai rasa terancam itu.
"Sadar, Dea! Kamu gila," bisiknya pada kain bantal yang meredam suaranya.
Ia mencoba membayangkan wajah Vhirel yang biasanya—yang ketus, yang protektif, yang membosankan. Namun, yang muncul di pelupuk matanya justru bayangan Vhirel yang berada tepat di atasnya, dengan kancing kemeja yang sedikit terbuka dan aroma maskulin yang menguar kuat karena peluh.
Dunia yang selama ini ia tempati sebagai "zona nyaman" mendadak runtuh. Garis yang selama ini memisahkan antara keluarga dan orang asing mendadak kabur, berubah menjadi wilayah abu-abu yang berbahaya sekaligus menggoda untuk dijelajahi.
Bahkan, lebih parah lagi...
Kata “putus” yang meluncur dari bibir Sofia kepada Vhirel—tepat saat ia menjadi saksi—justru menghadirkan kelegaan yang luar biasa. Entah mengapa, perasaan itu begitu nyata, mengalir tanpa bisa ia cegah.
"Apa aku sudah gila?!"
****
Vhirel akhirnya melangkah keluar, meninggalkan vila yang mendadak terasa seperti kotak kaca yang kehabisan oksigen. Dinding-dinding tinggi bangunan itu seolah bergerak menghimpitnya, memerangkapnya dalam atmosfer yang terlalu berat untuk dihirup. Sungguh, udara pegunungan yang seharusnya segar justru terasa mencekik.
Ia keluar dari gerbang vila dan mulai berjalan menelusuri jalan setapak. Di kepalanya, suara Sofia yang melengking meminta putus masih bergema, namun anehnya, kata-kata itu terasa kosong. Putus? Akhir dari hubungan mereka? Vhirel mendengus sinis. Hal itu sama sekali tidak mengusik nuraninya. Kehilangan Sofia hanyalah statistik kecil yang tak berarti di tengah kekacauan yang lebih besar.
Ya. Bukan Sofia yang membuatnya nyaris gila. Bukan juga tamparan atau drama di ruang tengah tadi. Yang benar-benar menghancurkan pertahanan dirinya adalah justru ingatan tentang beberapa saat yang lalu—di dalam kamar, saat tubuhnya terjatuh tepat di atas tubuh Dea.
Ia masih bisa merasakan kelembutan tubuh Dea di bawah dekapannya. Sesuatu yang seharusnya ia lindungi dengan kasih sayang persaudaraan, namun tadi... rasanya jauh lebih dalam.
Dea tidak pernah memakai parfum yang menyengat seperti Sofia. Gadis itu beraroma seperti kombinasi antara sabun bayi, bunga lembut, dan aroma alami kulit yang hangat karena keringat tipis. Aroma yang begitu murni, namun entah bagaimana, terasa jauh lebih menggoda daripada aroma manapun yang pernah ia hirup dari wanita manapun yang selama ini dekat dengannya.
Vhirel kemudian memejamkan mata erat-erat sambil menatap langit yang berkabut, namun ia justru kembali melihat mata Dea yang melebar, bibirnya yang sedikit terbuka, dan dadanya yang naik-turun karena napas yang tergesa.
"Sial!" Umpatnya seraya memukul kepalanya sendiri.
Ia adalah seorang kakak. Ia seharusnya menjadi pelindung, bukannya pria yang merasakan gejolak asing saat menindih adiknya sendiri. Namun, pengakuan itu menghantamnya tanpa ampun.
Sungguh. Saat ia berada di atas tubuh Dea, otaknya sama sekali tidak memikirkan hubungan darah, yang ada hanyalah insting, panas, dan rasa haus akan pengakuan dari gadis yang selama ini ia anggap kecil.
"Gila! Ini gilaaaaa!" Umpat Vhirel lagi, setengah memekik, seraya menambah kecepatan langkah kakinya.
Seorang pejalan kaki—wanita dengan caping di kepalanya—sempat melirik ke arahnya. Bukan karena penampilannya yang jelas berasal dari kota, melainkan karena ekspresi frustrasi yang tak bisa ia sembunyikan sama sekali. Namun Vhirel tak peduli. Langkahnya tetap melaju, pikirannya kusut, dipenuhi emosi yang saling bertabrakan dari seorang gadis yang telah membuatnya hilang kewarasan. Bukan Sofia. Tapi Dea, sosok gadis yang perlahan ia pandang bukan lagi sebagai adiknya, melainkan seorang wanita.
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,