Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.
Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Malam Jumat di Gangnam seharusnya berdenyut dengan kehidupan. Tapi malam ini, kabut tipis yang turun dari langit seperti selubung kotor yang menyelimuti kemewahan, mengubah cahaya-cahaya itu menjadi noda-noda buram yang melayang di udara lembap. Lisa berdiri di seberang jalan, menatap ke arah The Zenith, sebuah menara kaca dan baja yang menjulang seperti nisan raksasa bagi mimpi-mimpi yang terkubur di dalamnya.
Unit 404. Angka-angka itu terngiang di kepalanya. Garis polisi kuning yang melintang di depan pintu masih ada, meski sudah kusut dan terlepas sebagian di satu ujung, mengepak pelan dalam angin malam yang sepoi-sepoi. Lisa merasa dorongan yang hampir tak tertahankan untuk mengoreknya kembali.
Kunci di tangannya terasa dingin dan asing. Benda logam kecil ini ia "pinjam" dari kotak cadangan di ruang administrasi gedung saat petugas keamanan sedang berganti shift. Tapi jejak-jejak di debu lorong servis, bayangan ketakutan di mata Sam, dan desakan di dalam dirinya yang lebih kuat dari logika, semua berkata hal yang sama: tidak ada waktu untuk prosedur.
𝘒𝘭𝘪𝘬.
Bunyi itu, meski hampir tak terdengar, bergema di telinganya seperti tembakan starter. Pintu kayu solid itu terbuka ke dalam, menyambutnya dengan mulut yang gelap dan sunyi. Lisa tidak langsung masuk. Ia membiarkan matanya menyesuaikan diri, mendengarkan dengan seluruh tubuhnya. Hanya suara dengungan sangat rendah dari listrik yang mengalir di dalam dinding, dan desis jauh dari AC sentral gedung.
Dia melangkah masuk, menutup pintu dengan sangat pelan hingga terdengar bunyi klik yang sama, namun kali ini seperti pintu penjara yang mengunci. Kegelapan di dalam ruangan itu berbeda. Bukan kegelapan kosong, melainkan sesuatu yang padat dan basah. Aroma parfum mahal Kim Jina sudah hilang, digantikan oleh bau apek yang kompleks: debu beton dari lorong rahasia yang terbuka, sisa bubuk forensik yang berbau seperti kapur dan bahan kimia, dan di bawah itu semua, sesuatu yang manis dan busuk—seperti bunga yang layu di dalam vas berisi air keruh.
Lisa tidak menyalakan lampu. Ia mengeluarkan senter kecil dari saku jaketnya, tetapi sebelum menyalakannya, ia membungkus kepala senter dengan ujung syal tipisnya, menyaring cahaya menjadi sinar temaram berwarna kuning pucat yang hanya menerangi sedikit di depan kakinya. Cukup untuk melihat penghalang, tidak cukup untuk menembus kegelapan di sudut-sudut ruangan.
"Lisa."
Suara Sam muncul bukan dari satu arah, tetapi dari sekelilingnya, seperti bisikan yang datang dari dalam kepalanya sendiri.
Lisa menahan napas. Sam memanifestasikan dirinya secara perlahan, seolah-olah menarik dirinya keluar dari kegelapan itu molekul demi molekul. Dia tidak terlihat santai seperti biasanya. Tidak ada senyum di wajahnya. Rambut tembaganya, yang biasanya memiliki kilau sendiri, kini tampak kusam dan rata, seperti dicat dengan warna abu-abu. Wajahnya sekarang pucat pasi, dan alisnya berkerut dalam konsentrasi yang sakit. Tubuhnya tidak melayang dengan gaya bebas; ia berdiri dengan kaku, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, bahunya tegang seperti pejuang yang siap menghadapi pukulan.
"Aku tidak suka tempat ini..." Bisik Sam, dan suaranya lebih rendah dan penuh dengan getaran ketakutan yang asing. "Ini... ini salah."
Lisa merasakan bulu kuduk di lehernya berdiri. Sam tidak pernah seperti ini. Sam adalah ketenangan di tengah badai, lelucon di tengah ketegangan. "Apa yang kau rasakan?" Desisnya, mulutnya hampir tidak bergerak.
Sam mengangkat satu tangan, jari-jarinya yang panjang dan transparan meraba-raba udara di depannya, seolah merasakan tekstur yang tak terlihat. "Ada sesuatu yang berat di sini. Sangat berat. Energinya terlalu pekat dan kotor." Ia menggigil. "Bukan kesedihan atau kemarahan biasa. Ini rasa kebencian. Kebencian yang dipadatkan selama bertahun-tahun, dibiarkan membusuk di tempat gelap seperti ini."
Lisa mencengkeram senter yang dibungkusnya lebih erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Dingin yang ia rasakan sekarang bukan berasal dari Sam. Melainkan dari dingin yang merembes dari dinding, dari lantai, menyusup melalui sol sepatunya dan naik melalui tulang kakinya. Dingin yang membawa serta rasa mual yang tiba-tiba ke ulu hatinya, seperti mencium bau daging yang sudah lama membusuk.
Dengan gerakan sangat perlahan, ia mulai bergerak menuju ruang ganti. Setiap langkahnya di atas parket yang mengilap terdengar seperti guntur dalam keheningan itu. Nafasnya ia tahan, lalu ia keluarkan dalam hembusan pendek yang berembun di udara dingin.
"Sam..." Ia berbisik. "Periksa di balik dinding itu. Di balik lemari. Coba lihat apa masih ada sesuatu di lorong itu."
Sam mengangguk, wajahnya berkerut seperti orang yang harus menyentuh sesuatu yang menjijikkan. Ia melayang mendekati lemari pakaian besar yang menempel di dinding. Dengan ragu-ragu, Sam mengulurkan kepalanya ke arah permukaan kayu itu, bersiap untuk menembus materi seperti biasa.
Tapi yang terjadi bukan penetrasi mulus.
Begitu dahinya menyentuh kayu, tubuh Sam tersentak hebat ke belakang, seolah-olah ia baru saja menyentuh pagar listrik bertegangan tinggi. Suara desis pendek keluar dari mulutnya, dan cahaya biru di sekeliling tubuhnya berkedip-kedip tidak stabil. Ia terhuyung mundur, kedua tangannya menekan dahinya dengan ekspresi kesakitan dan keterkejutan yang murni.
"Lisa, berhenti!" Teriaknya, suaranya naik satu oktaf, dipenuhi kepanikan yang nyata. Dengan gerakan cepat, ia merentangkan kedua tangannya, berdiri di antara Lisa dan lemari, meskipun Lisa bisa melihat tembus melalui tubuhnya. "Jangan maju lagi! Jangan!"
Lisa membeku di tempat, darahnya seolah membeku di pembuluhnya. "Ada apa? Apa yang terjadi?"
"Dia di sana. Bukan arwah. Bukan hantu seperti aku. Seseorang yang masih hidup dan sangat, sangat haus." Kata terakhir itu diucapkan dengan ngeri. "Aku bisa merasakan denyut nadinya dari sini. Denyutnya begitu pelan. Seperti... seperti predator yang sedang bersembunyi."
Jantung Lisa mulai berdegup kencang. Tangannya secara refleks meraih pinggangnya, mencari kenyamanan dingin dari gagang pistol dinas—dan menemukan kekosongan. Ia ingat. Ia tidak membawanya. Ini adalah penyelidikan liar. Senjata satu-satunya adalah pisau lipat kecil di saku celananya, dan senter yang sekarang terasa seperti mainan.
"Di mana dia tepatnya?" Tarik napas Lisa, mencoba menelan rasa panik yang naik di tenggorokannya seperti asam.
"Di balik lemari ini... ada ruang kosong lagi. Lebih dalam dari yang kita kira. Dia duduk di sana dengan diam. Hanya duduk." Sam memejamkan mata sejenak, berkonsentrasi. "Dia sedang mendengarkan kita. Dia tahu kita ada di sini sedari tadi." Sam membuka mata, dan di matanya Lisa melihat sesuatu yang mirip dengan keputusasaan. "Dia memegang sesuatu... benda logam panjang. Aku bisa merasakan niatnya. Kilatan dingin dari pikirannya menyentuh jiwaku. Dia ingin... memotong. Mengiris. Dia menikmati ketakutan kita."
Tiba-tiba, bukan dari Sam, bukan dari imajinasinya, Lisa mendengarnya.
𝘚𝘳𝘦𝘦𝘦𝘬...
Suara itu.
Halus, panjang, seperti logam yang digosokkan secara perlahan dan sengaja di atas permukaan beton yang kasar. Suara itu datang dari balik dinding kayu, tepat di hadapan mereka.
𝘚𝘳𝘦𝘦𝘦𝘬... 𝘴𝘳𝘦𝘦𝘦𝘬...
Seperti pisau yang diasah. Atau seperti sesuatu yang bergerak pelan, menyeret kakinya.
Lisa mematikan senternya seketika.
Kegelapan total menyergap mereka, begitu pekat hingga Lisa bisa merasakannya di kulitnya. Dalam keheningan yang sekarang menjadi mutlak, indranya yang lain menjadi hiper-akut. Ia bisa mencium bau apek itu lebih kuat sekarang, dicampur dengan aroma keringat manusia yang asam, dan sesuatu yang seperti besi berkarat.
Dan kemudian, yang paling mengerikan: suara napas.
Bukan napasnya yang ia tahan. Bukan napas Sam yang sebenarnya tidak ada. Ini adalah suara tarikan dan hembusan udara yang dalam, berat, dan berirama dari balik dinding itu. Setiap tarikan napas terdengar seperti desahan mesin tua, dan setiap hembusannya seperti angin yang keluar dari gua dalam. Napas itu penuh dengan cairan, basah, dan penuh niat.
"Dia berdiri..." Bisik Sam pelan. "Dia sedang... membuka celahnya dengan perlahan. Lisa, tolong. Lari sekarang."
Insting bertahan hidup Lisa berteriak setuju. Tapi kakinya terkunci. Lututnya terasa seperti terbuat dari agar-agar yang dingin. Pikirannya berputar: Pintu. Jarak lima meter. Lari. Sekarang.
Tapi sebelum impuls itu bisa diterjemahkan menjadi gerakan, sesuatu terjadi di depan matanya dalam kegelapan.
Sebuah garis vertikal cahaya temaram yang sangat tipis muncul di permukaan lemari. Garis itu melebar. Panel rahasia itu terbuka dari dalam, bukan dari luar.
Dan dari celah yang semakin lebar itu, muncul sebuah tangan.
Sebuah tangan manusia yang padat, dengan lengan yang tertutup oleh kain kumal berwarna gelap. Tangan itu besar, dengan buku-buku jari yang menonjol dan kuku-kuku yang kotor dan pecah-pecah. Ia muncul perlahan, meraba-raba udara di depannya dengan gerakan yang hampir lembut, eksploratif, seperti laba-laba yang merasakan getaran di jaringnya.
Jari-jari itu bergerak, meregang, mendekati tempat Lisa berdiri membeku.
Di sebelahnya, Sam membuat suara tercekik. "Lisa!"
Teriakan Sam, atau mungkin sentakan terakhir dari nalurinya, memutuskan kungkungan ketakutan itu. Lisa melompat mundur, tubuhnya menghantam tepi meja rias dengan keras, membuat beberapa botole kecil terjatuh dan berguling di lantai dengan suara berisik.
Tangan itu berhenti meraba. Lalu, dengan tiba-tiba, berubah menjadi cengkraman yang cepat dan agresif, mencakar udara tepat di tempat Lisa berdiri satu detik sebelumnya.
Dan dari dalam kegelapan di balik celah, sebuah suara terdengar.
"Ah... ada tikus lain."
Lisa, dengan jantung yang sekarang berdebar hingga ke tenggorokannya, berbalik dan berlari menyelamatkan diri, meninggalkan kegelapan dan tangan yang menjulur itu, sementara suara tawa rendah dan basah mengikutinya hingga ke pintu.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ