NovelToon NovelToon
PERISAI MALAM

PERISAI MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Kaya Raya / Keluarga / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU

Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LATIHAN PAGI PERISAI MALAM

pagi datang dengan kabut tipis.

Lapangan latihan masih basah oleh embun pagi yang ada di atas rumput yang mengelilingi lapangan latihan. Suasana pagi yang berbeda meskipun hanya ada sedikit kabut yang menyebar di udara.

Enam sosok berdiri berjajar dengan aura tegas yang mereka miliki masing masing, menatap lurus kedepan seakan apa pun tak luput dari pandangan mereka, melihat sekeliling dan memperhatikan, mengamati semua yang ada di depan mereka.

Raven — tubuh besar, bahu lebar, membawa senjata berat.

Varga — mata tajam, tenang seperti pemburu.

Kael — senyum tipis penuh bahaya, spesialis bahan peledak.

Nox — ekspresi datar, langkah nyaris tak terdengar.

Atlas — postur tegap, sorot mata pemimpin.

Nara — wanita berkatana, gerakannya halus namun mematikan.

Sedangkan dua sosok lagi yaitu Adam dan Livia berdiri tak jauh, mengawasi dan memperhatikan apa yang akan di lakukan oleh rekan rekan nya.

Adam menyilangkan tangan di dada nya sembari melihat mereka semua dengan tatapan yang penuh arti beberapa detik kemudian kembali ke agenda sembari berkata kepala ketiga kakak beradik itu, yang tak lain adalah Clarissa, Safira dan Andrian.

“Hari ini kalian tidak dilatih sebagai anak-anak.” ucapnya tegas

Livia menambahkan dingin,

“Kalian dilatih sebagai orang yang suatu hari akan masuk medan perang.”

Setelah mengatakan itu keduanya pun melirik kearah enam orang rekan mereka lalu tersenyum tipis dan memberikan kode .

Nara melangkah maju, mengikat ulang sarung katana .nya. Untuk beberapa detik ia fokus dengan gerakan cepat katana milik nya sudah selesai ia rapikan terlihat kokoh, tajam dan tentunya mematikan.Nara pun melirik sekilas ke arah ketiga kakak beradik itu .

“Kalau kalian ragu,” katanya tenang,

“kalian mati.”

Setelah mengatakan itu Nara kembali ke posisi nya. Sementara Clarissa, Safira Dan Adrian yang mendengar itu mengepalkan tangannya dan menahan agar kata kata kasar tak keluar, terutama Adrian ia adalah orang yang tak suka jika diremehkan oleh orang lain.

Tak lama dari itu semuanya pun bersiap di posisi masing masing .

Sesi Pertama — Fisik

Raven yang bertubuh besar tiba tiba saja membawa sebuah ban besar di punggung nya sedetik kemudian ia melempar ban besar ke depan Safira.

Sontak saja mereka yang tak mengetahui nya merasa binggung dan bertanya tanya sebenarnya untuk apa ban besar itu di bawa. Melihat ke bingungan di wajah Safira Raven pun kembali berbicara dengan suara tegas nya.

“Angkat.”

Safira terkejut mendengar hal yang tiba tiba saja itu

“Ini berat banget…” ujar nya tanpa sadar sembari menatap pria yang cukup seram di depan nya. Namun Raven terlihat tak peduli dan dengan gerakan maju satu langkah ia menatap Safira dengan dingin dan kembali berkata.

“Medan perang tidak peduli keluhanmu,” jawab Raven datar.

Safira menggertakkan gigi, melihat wajah Raven sekilas dan kembali melihat ke arah ban yang masih tergeletak, ia pun berjalan ke arah ban besar itu dan ia pun mulai melihat sebentar dan mulai mengangkat perlahan. Mengangkat kemudian di balik kan ke sisi lain dan kembali di angkat di lakukan secara berulang meskipun kadang Safira terjatuh karena badan nya belum terbiasa dengan hal itu.

Sedangkan Sosok pria yang tak kalah seram dan memiliki aura yang menakutkan juga yang tak lain adalah Kael, ia bertugas untuk melatih Clarissa.

Kael membawa Clarissa ke sisi lain di sana mereka di sambut dengan kawat kawat yang di ikat namun hanya berjarak beberapa centimeter di atas permukaan tanah. Clarissa yang melihat itu memandang ke arah kael.

"Apa yang akan kita lakukan dengan kawat kawat ini?."

"Ini adalah latihan yang akan kau hadapi sebelum ke latihan yang lain." jawab Kael kemudian ia pun menjelaskan bahwa latihan yang aman mereka lakukan adalah merangkak melewati rintangan kawat rendah.

Latihan pun di mulai. Jika untuk Kael ini sangat mudah untuk di lewati namun untuk Clarissa yang biasa nya bekerja di kantor dan sibuk dengan laptop kantor nya, bagi nya ini sangat merepotkan beberapa kali ia tertusuk kawat duri saat mulai melewati nya.

Kael yang melihat itu pun hanya bisa menggelengkan kepala nya.

“Bayangkan ini lorong musuh,” kata Kael.

“Satu suara salah, kepala hilang.” ujar nya kembali. " Fokus Clarissa kau harus tenang dan menguasai Medan, jika kau tidak bisa melewati tahap ini maka kita tidak akan melanjutkan ke latihan lain! Dan kau juga tidak akan bisa menemukan orang tua mu!" ujar Kael mencoba memprovokasi Clarissa.

Dan dugaan nya benar Clarissa langsung bersemangat kembali ia pun mulai kembali merangkak, api dalam diriku kembali hidup meskipun masih terkena tusukan di tubuh nya namun itu lebih sedikit dari pada di awal.

Kael yang melihat itu pun tersenyum tipis rencana nya berhasil.

Sementara itu di sisi lain Nox membawa Adrian ke sisi lain jauh dari Safira maupun Clarissa.Nox akan melatih Adrian bergerak tanpa suara.

Mereka berlatih di atas sebuah dinding kayu yang jika di injak sembarangan akan mengeluarkan bunyi bunyi yang dapat menggangu meskipun suara kecil namun jika di Medan perang sekecil apa pun suara bisa menentukan hidup dan mati.

Nox pun memberikan arahan awal ia menunjukan beberapa gerakan berjalan di atas dinding kayu itu dengan lihai dan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun seakan akan ia melayang di atas nya.

Adrian yang sifat narsis nya tiba tiba keluar pun berpikir hal itu kan mudah juga bagi nya. Baru saja ia melangkah namun suara pijakan sudah keluar.

"Ah itu hanya percobaan tenang saja aku bisa melakukan nya" ujarnya mencoba meyakinkan diri sedangkan Nox tidak beraksi apa apa dan hanya memandang Adrian.

Adrian pun kembali mencoba nya beberapa kali namun hasil nya sama saja ,ia pun hampir menyerah akan hal itu.

"Hei , seperti nya kayu ini memang sudah rusak di injak sedikit saja sudah mengeluarkan bunyi, aku tidak bisa melakukan nya! Lihat badan ku, jika aku melangkah di atas nya berat badan ku akan menekan kembali lantai itu dan kembali berbunyi." ujar Adrian

Nox yang mendengar ocehan Adrian pun melangkah kedepan Adrian. Lalu dengan gerakan perlahan ia pun kembali mengajari Adrian , ia kembali menaiki lantai itu sembari berkata.

“Tarik napas perlahan. Rasakan lantai. Jangan melawan bayanganmu sendiri.”

Adrian yang melihat itu pun mengangguk, kemudian mulai mencoba meniru langkah Nox.

Awal nya ia ragu namun dengan beberapa kerja keras dan tekat nya ia sudah mulai bisa merasakan gerakan nya dan mengikuti instruksi dari pelatihan yang tak lain adalah Nox.

...****************...

Sesi Kedua — Teknik Tempur

Setelah latihan fisik kini mereka pun melanjutkan ke latihan berikut nya atau latihan kedua.

Kali ini yang akan mengajari Safira bukan lagi Raven. Namun satu sosok wanita tangguh ber katana yang memiliki rambut pendek.

Nara maju kedepan berdiri berhadapan dengan Safira. Tatapan keduanya bertemu saling mengunci satu sama lain .

“Serang aku.” ucap Nara

Safira ragu sesaat.

Dalam satu gerakan cepat Nara memanfaatkan ke raguan Safira.

BRAK!

Safira jatuh ke tanah.

"Ah sial'' ujar Safira yang tiba tiba mendapat serangan tiba tiba itu. Badan nya terjatuh menghantam keras nya lantai.

“Ragu adalah celah kematian,” ucap Nara dingin.

Safira bangkit perlahan, matanya menyala menatap ke arah Nara yang menjadi lawan nya saat ini.

Ia menyerang lagi.

Lebih cepat.

Lebih berani.

Nara yang melihat itu tersenyum tipis sembari meladeni perlawanan Safira.

Clarissa dilatih Atlas membaca formasi dan skenario evakuasi. Ia mulai menunjukan beberapa rekaman penyerangan dan menjelaskan beberapa hal yang bisa membantu membawa formasi musuh atau formasi yang akan digunakan jika mau melawan balik musuh.

Clarissa memperhatikan dengan baik apa yang di sampaikan dan di ajarkan oleh Atlas dan ia lebih cepat menangkap hal itu. Terbiasa dengan pekerjaan pekerjaan kantor yang sulit memudahkan nya lebih cepat memahami.

Ilustrasi

Atlas yang melihat jika Clarissa merupakan orang yang sangat cepat beradaptasi dan cepat mengingat pun tersenyum bangga dan berkata

“Pemimpin bukan yang paling kuat,” kata Atlas.

“Tapi yang membuat semua selamat.” ujar nya yang membuat Clarissa bersemangat untuk lebih banyak belajar dan berkembang ia ingin melindungi kedua adik nya. Seketika wajah Safira dan Andrian muncul di ingatan nya.

Sedangkan Varga mengajarkan Adrian teknik bidik dasar. ia tau bahwa Adrian sudah pernah memegang pistol sebelum nya, ia sudah memiliki keterampilan alami hanya perlu di asah saja pikir Vergan.

“Napas mu adalah pelatuk pertama.”ujar Varga dan mulai menunjukkan skill nya dengan mulai menembak ke arah patung manusia yang sudah di berikan titik titik sasaran.

Dor

Dor.

Dengan gerakan cepat semua peluru yang keluar tepat sasaran.

Adam memperhatikan dari jauh. Semua gerakan dan cara menembak atau membidik dengan benar

Adrian pun kemudian mengambil pistol yang ada di sana dan mulai menembak.awal nya satu pistol lama kelamaan ia menggunakan 2 pistol sekaligus dan mengganti nya dengan pistol lain.

Ilustrasi

Kemampuan nya berkembang pesat dari pada orang pada umur nya yang jika belajar.Awal awal akan melakukan banyak kesalahan.

Tak jauh dari sana dua orang sedang memperhatikan semua nya pun saling menukar tatapan

“Mereka berubah.” ujar Adam

Livia mengangguk. Setujuh dengan perkataan rekan nya itu.

“Karena mereka punya alasan untuk bertahan.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄
Lanjut ....
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄
Hadir untuk mendukung ceritamu, Thor ...😊
SAF.A.NAPIT: okay Thor makasih yah love deh buat kamu 😍
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!