Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Sisa Kerak Dunia
Dunia ini telah membusuk, tergerus oleh ketidakadilan yang merajalela. Di saat para bangsawan berpesta pora di atas singgasana emas mereka, orang-orang dari kasta terendah harus bergulat dengan rasa lapar yang menggerogoti tulang. Selama ambisi untuk berkuasa masih membakar dada para penguasa, selama itu pula peperangan akan terus memuntahkan penderitaan. Satu orang bermimpi menaklukkan dunia, maka seisi dunia pula yang harus membayar harganya dengan darah.
Di tengah pusaran kehancuran itu, Li Yuan hanyalah sebutir debu. Ia lahir tanpa mengenal kehangatan pelukan orang tua. Hidupnya dihabiskan di gang-gang sempit yang berbau busuk, menyambung nyawa dari sisa makanan di tempat sampah yang bahkan dihindari oleh tikus.
Bagi Li Yuan, setiap embusan napas adalah pertarungan. Setiap kali matanya menangkap kemewahan kereta kuda para bangsawan yang melintas, dadanya bergemuruh oleh amarah yang tertahan.
"Mereka membangun surga di atas tumpukan mayat orang-orang lemah sepertiku," gumam Li Yuan sambil berusaha berdiri tegak meski kakinya gemetar. "Mereka menelan segalanya, tanpa menyisakan ruang sedikit pun bagi kami untuk bernapas."
Ia menatap langit malam yang kelam, lalu mengangkat tangannya. Dengan gerakan mantap, ia mengacungkan jempol ke angkasa, lalu memutarnya perlahan ke bawah—sebuah gestur penghinaan terhadap takdir yang sedang mempermainkannya.
"Dunia ini memang kejam. Tapi aku bersumpah, aku tidak akan menjadi serakah dan sombong seperti mereka. Aku akan mengubah dunia ini, tangan ini yang akan menarik mereka yang tenggelam." ucapnya tegas sebelum melangkah pergi menembus keheningan malam yang dingin.
Setiap langkah yang ia ambil adalah pengorbanan tenaga yang kian menipis. Bagi mereka yang lemah, waktu bukanlah uang, melainkan penderitaan yang terus berdetak.
Langkah Li Yuan terhenti. Matanya berbinar melihat sebungkus roti yang tergeletak di tumpukan sampah. Namun, baru saja jemarinya yang kotor hendak meraih harta karun itu—
BRUUK!
Sebuah tendangan keras menghantam rusuknya hingga ia tersungkur di atas aspal dingin.
"Ini milikku, Bocah! Pergi cari sampah lain!" gertak seorang remaja yang bertubuh jauh lebih besar. Tatapannya tajam, penuh ancaman.
Namun, Li Yuan tidak dibentuk dari rasa takut. Ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah dan berdiri kembali dengan tatapan yang lebih tajam dari lawannya.
"Aku lebih baik mati di tangan manusia daripada mati perlahan karena kelaparan. Berikan roti itu, atau hadapi aku!" teriak Li Yuan seraya menerjang maju.
BUGH!
Sekali lagi, ia ditendang hingga terpental. Namun, seolah-olah rasa sakit telah kehilangan kekuatannya, Li Yuan bangkit kembali.
"Pemenang sejati bukanlah dia yang terkuat, tapi dia yang tidak pernah menyerah!" Li Yuan meraung, melompat dengan sisa tenaga yang ada, meski ia kembali dijatuhkan ke tanah.
Satu kali, dua kali, hingga lima puluh kali ia dihantam dan dihempaskan. Tubuhnya kini babak belur, wajahnya lebam kebiruan, namun matanya masih menyala dengan tekad yang mengerikan. Li Yuan tidak akan melepaskan apa yang sudah menjadi haknya.
"Aku yang melihatnya duluan, dan kau datang untuk merampasnya. Aku benci sampah serakah sepertimu!" Dengan langkah sempoyongan dan napas tersengal, Li Yuan menerjang rendah, mengunci kaki remaja itu dengan seluruh kekuatannya.
"Lepaskan aku, bocah gila!"
Li Yuan tidak peduli. Ia menanamkan giginya dalam-dalam ke kaki remaja tersebut. "Rasakan ini, dasar brengsek!"
"AAAARRGGHHH!"
Jerit kesakitan memecah kesunyian malam. Remaja itu panik, melepaskan roti dari genggamannya, dan lari tunggang langgang ketakutan. "Kau benar-benar gila!"
Li Yuan jatuh telentang di atas tanah, menatap langit malam yang kini terasa sedikit lebih bersahabat. Ia terengah-engah, namun sebuah tawa serak keluar dari kerongkongannya.
"Hahaha! Aku... aku menang! Inilah... mental seorang pemenang..."
Perlahan, pandangannya mengabur. Dengan tangan yang masih mendekap erat roti tersebut di dadanya, Li Yuan jatuh pingsan di bawah naungan langit malam yang dingin.