Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Pelabuhan Terakhir
Satu Tahun Kemudian.
Suara tawa kecil dan derap langkah kaki tidak beraturan terdengar di koridor rumah Dago yang kini sudah berdiri megah kembali. Namun, kali ini desainnya berbeda. Tidak ada lagi lorong-lorong gelap atau ruang rahasia yang mencekam. Arlan merancang ulang rumah ini dengan konsep open-space, penuh jendela besar yang membiarkan cahaya matahari menyapu setiap sudut ruangan.
Maya berdiri di taman belakang, menata meja kayu panjang untuk makan siang keluarga. Ia tampak lebih berisi dan bercahaya, mengenakan gaun katun longgar yang nyaman. Di kejauhan, ia melihat Arlan sedang bermain dengan seorang balita laki-laki di atas rumput hijau.
Arlan tampak jauh lebih santai. Bekas luka di wajah dan lengannya masih ada, namun ia tidak lagi menutupinya. Baginya, itu adalah peta perjalanan yang membawanya kembali kepada Maya.
"Ayo, Arlan! Jangan biarkan jagoan kecil kita kelelahan sebelum makan siang," teriak Maya sambil tersenyum.
Arlan mengangkat balita itu—keponakan jauh yang mereka adopsi setelah orang tuanya meninggal dalam kecelakaan, yang kini mereka sayangi seperti anak sendiri—dan berjalan menuju Maya.
"Dia bukan lelah, May. Dia cuma protes karena katanya Papa Arlan kurang jago main bola," canda Arlan sambil mengecup kening Maya.
Ibu Sarah keluar dari dapur membawa nampan berisi ayam goreng dan sambal dadak favorit mereka. Kondisinya sudah pulih total, wajahnya cerah tanpa beban rahasia lagi. "Sudah, ayo makan. Hari ini hari spesial, kan?"
Hari ini memang spesial. Bukan hanya karena perayaan satu tahun pernikahan mereka yang sebenarnya, tapi juga karena pagi tadi Arlan baru saja menandatangani dokumen pembubaran sisa-sisa aset Dirgantara Group yang bermasalah. Semua dana ilegal telah disumbangkan ke yayasan rehabilitasi korban konflik senjata, sebuah penebusan dosa atas nama Proyek Merapi.
Kini, mereka hidup sebagai orang biasa. Arlan mendirikan biro arsitektur kecil yang fokus pada pembangunan rumah ramah lingkungan, sementara Maya tetap sukses dengan bisnis desain interiornya.
"Lan," panggil Maya saat mereka hanya berdua di balkon setelah makan siang, menatap lembah Dago yang mulai berkabut.
"Hm?" Arlan memeluk Maya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu—posisi favoritnya sejak dulu.
"Tadi pagi aku menemukan foto photobox kita yang gosong itu di dalam laci mejamu. Kamu masih menyimpannya?"
Arlan terdiam sejenak, lalu mempererat pelukannya. "Foto itu yang mengingatkanku bahwa seburuk apa pun dunia mencoba menjadikan kita asing, ada satu bagian dari diriku yang selalu mengenali jiwamu. Foto itu adalah kompas-ku, May."
Maya berbalik, mengalungkan tangannya di leher Arlan. "Aku sempat takut kalau kita nggak akan pernah sampai di titik ini. Titik di mana kita bisa bicara tanpa rasa takut ada orang yang menguping atau mencoba membunuh kita."
Arlan tersenyum, lalu mengecup hidung Maya. "Kita sudah membayar harganya, Maya. Sangat mahal. Sekarang, yang tersisa cuma bunga dari kesabaran kita."
Tiba-tiba, Maya merogoh saku gaunnya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah kunci, tapi bukan kunci kuno yang berat dan penuh karat. Ini adalah kunci kecil berwarna emas dengan gantungan berbentuk bayi.
Arlan mengernyitkan kening. "Kunci apa lagi ini? Jangan bilang ada brankas rahasia peninggalan Kakek Richard lagi."
Maya tertawa, ia meraih tangan Arlan dan meletakkan kunci itu di telapak tangannya. "Ini kunci untuk kamar baru di lantai dua. Aku sudah mulai mendesainnya minggu lalu. Temanya biru langit dan awan putih."
Arlan tertegun. Matanya menatap kunci itu, lalu beralih ke perut Maya yang sedikit membuncit di balik gaun longgarnya. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat ia menghadapi todongan senjata Richard.
"May... kamu...?"
Maya mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca. "Selamat datang di tantangan baru, Papa Arlan. Kali ini, musuhmu bukan agen rahasia atau pengusaha korup, tapi bayi kecil yang mungkin akan hobi begadang."
Arlan berlutut di depan Maya, mencium perut istrinya dengan penuh khidmat. Ia menangis—bukan karena luka atau dendam, tapi karena rasa syukur yang tak terhingga. Tuhan telah memberikan kehidupan baru di tempat yang dulu pernah menjadi saksi kematian.
"Terima kasih, Maya. Terima kasih karena nggak pernah menyerah padaku, si orang asing yang menyedihkan ini," bisik Arlan.
Di bawah langit Dago yang tenang, mereka akhirnya benar-benar menutup buku masa lalu. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan. Mereka bukan lagi dua orang asing yang melarikan diri, melainkan sebuah keluarga yang telah menemukan rumah yang sesungguhnya.
Karena pada akhirnya, cinta bukan tentang mencari seseorang yang sempurna, tapi tentang menemukan seseorang yang membuatmu merasa tidak lagi asing di dunia yang luas ini.