Apa jadinya jika yang menjadi sekretaris di perusahaan adalah istri sendiri? jangankan bisa menggoda karyawan wanitanya bahkan untuk sekedar lirik sana-sini pun tidak akan bisa dilakukan.
Sementara itu, dibalik sikap ceria sang istri ternyata dia harus bertahan menghadapi keluarga suami yang sering menyindirnya karena belum dikaruniai anak. Akankah rumah tangga mereka bisa kuat ataukah harus hancur hanya gara-gara sang istri belum juga dikaruniai keturunan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 Bertemu Teman Lama
4 bulan kemudian....
Semenjak Rio dan Ashika mempunyai rumah sendiri, kehidupan keduanya sangat bahagia. Apalagi Ashika, dia merasa sangat tenang karena tidak ada lagi hinaan dan sindirian yang dia dapat dari mertua dan adik iparnya. Perlakuan orang-orang di kantor pun menjadi lebih baik tidak ada yang menggosipkan dia lagi.
"Sayang, sepertinya kamu harus berhenti bekerja," ucap Rio di sela-sela sarapan mereka.
"Kenapa? Apa Mas sudah tidak mau aku menjadi sekretarismu lagi? Apa kamu sudah punya sekretaris baru?" sahut Ashika dengan wajah sedihnya.
"Sayang, kenapa kamu berpikiran seperti itu. Aku menyuruhmu berhenti supaya kamu bisa istirahat, selama ini kamu sudah terlalu capek mengikuti jadwal kerjaku yang padat mungkin saja selama ini kamu belum hamil karena kamu terlalu kelelahan," sahut Rio dengan menggenggam tangan Ashika.
Ashika terdiam. "Tapi kalau aku keluar, siapa yang nanti akan membantu kamu mengurus pekerjaan?" ucap Ashika.
"Ada Ikbal yang bantu aku, jadi aku mau mulai hari ini kamu jangan bekerja lagi cukup tunggu aku pulang saja," ucap Rio.
Awalnya Ashika merasa tidak mau, tapi setelah dipikir-pikir memang ada benarnya yang diucapkan oleh suaminya. "Baiklah," sahut Ashika.
Setelah selesai sarapan, Rio pun pamit untuk pergi ke kantor. Ashika membereskan bekas sarapan mereka berdua, lalu berniat ingin mengganti bajunya karena tadi dia terlanjur sudah memakai baju kantor. Sampai di kamar, dia melihat tampilan dirinya di cermin.
"Semoga saja aku cepat hamil," gumam Ashika sembari mengusap perutnya sendiri.
Sesampainya di kantor, Ikbal sudah menunggu di depan kantor. "Loh, Ashika mana? Apa dia sakit?" tanya Ikbal kala melihat Rio keluar dari dalam mobil sendirian.
"Mulai hari ini Ashika sudah tidak bekerja lagi, aku sudah menyuruh dia untuk istirahat," sahut Rio sembari terus berjalan menuju ruangannya.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan Rio dan duduk di sofa. "Kenapa kakak menyuruh Ashika untuk istirahat?" Ikbal merasa penasaran.
"Bal, bagaimana pun dalam hati kecilku sangat menginginkan seorang anak, selama ini Ashika begitu sangat bekerja keras jadi aku pikir mungkin selama ini Ashika kelelahan makanya belum mendapatkan keturunan. Maka dari itu, aku menyuruh Ashika untuk istirahat supaya tubuhnya fit dan kita segera diberi keturunan," sahut Rio.
Ikbal mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti. "Pak, ada nomor baru yang menghubungiku katanya itu dari Riki teman lama Bapak. Beliau meminta untuk dicarikan waktu untuk bertemu dengan Bapak, kira-kira kapan Bapak ada waktu?" seru Ikbal.
"Bukanya hari ini jadwal aku gak terlalu sibuk ya? Kamu balas saja nanti sore aku ada waktu untuk bertemu dengannya," sahut Rio.
"Baiklah."
Baru saja Ikbal bangkit dari duduknya, pintu ruangan Rio terbuka. Nirmala datang ke kantor dan Ikbal segera keluar dari ruangan itu.
"Mama, ada apa? tumben datang ke kantor?" tanya Rio.
"Kamu sadar gak? Semenjak kamu pindah rumah, kamu belum datang ke rumah mama," kesal Mama Nirmala.
"Rio sibuk, Ma. Kerjaan Rio banyak sekali maka dari itu Rio belum sempat mampir ke rumah," sahut Rio.
"Bukan karena Ashika melarang kamu 'kan?" Nirmala mulai berpikiran negatif lagi.
"Astagfirullah, kenapa mama selalu menyalahkan Ashika sih? Ashika tidak pernah melarang Rio jadi mama jangan berpikiran negatif terus kepada Ashika," kesal Rio.
"Apa wanita itu sudah ada tanda-tanda hamil?" ketus Mama Nirmala.
"Belum, Ma."
"Rio, sudah Mama bilang berkali-kali Ashika itu pasti mandul dia pasti tidak akan bisa hamil," ucap Mama Nirmala dengan penuh keyakinan.
"Ma, stop. Rio capek jika harus bertengkar terus masalah ini, Mama 'kan tahu jika Rio dan Ashika dalam keadaan sehat hanya Allah belum memberikan kepercayaan saja kepada Ashika untuk hamil," sahut Rio.
"Mau sampai kapan menunggu? Pernikahan kalian sudah lama, bahkan teman-teman kamu sudah ada yang mempunyai anak tiga masa kamu belum punya anak sama sekali," geram Mama Nirmala.
Rio mengusap wajahnya kasar lalu menghembuskan napasnya dengan kasar pula. Rio bangkit dari duduknya dan pindah ke meja kerjanya. "Lebih baik sekarang Mama pulang, aku banyak pekerjaan," ucap Rio dingin.
"Mama hanya mengingatkan kamu saja, memangnya kamu tidak malu jika suatu saat bertemu dengan teman-teman lama kamu dan ditanyakan mengenai anak, pasti kamu akan menjadi bahan ejekan mereka," kesal Mama Nirmala.
Merasa tidak mendapatkan tanggapan, akhirnya Nirmala pun memilih pergi. Rio menghentikan pekerjaannya dan memikirkan semua yang mamanya ucapkan. "Aku bukanya tidak mau punya anak, tapi Allah belum mempercayai Ashika untuk hamil," batin Rio.
***
Sore pun tiba....
Ikbal kembali menemui Rio. "Pak kata Pak Riki, dia menunggu di Restoran Mawar sekarang juga," ucap Ikbal.
"Baiklah."
Rio pun segera bersiap-siap, dia akan bertemu dengan teman di waktu SMA. Dulu Rio tinggal di Semarang, tapi semenjak kuliah dia dan keluarganya pindah ke Jakarta sampai sekarang. Semua teman-temannya tidak ada yang tahu jika dia sudah menikah.
Rio pun menghubungi Ashika, dia memberitahukan jika dia akan bertemu dengan temannya dan kemungkinan pulang malam. Ashika merasa takut dan tidak percaya, dia pun menghubungi Ikbal untuk memastikan dan ternyata memang benar jika Rio akan bertemu dengan temannya. Ashika akhirnya merasa tenang dan tidak khawatir lagi.
Rio sampai di sebuah restoran dan seorang pria melambaikan tangannya ke arah Rio. "Apa kabar, Bro!" sapa Riki.
"Baik, kamu sendiri bagaimana?" tanya Rio.
"Sangat baik. Silakan duduk, aku sudah pesankan makanan kesukaan kamu," ucap Riki.
"Wah, kamu masih ingat ternyata dengan makanan kesukaan aku," seru Rio dengan senyumannya.
"Bukan aku saja, aku rasa semua teman SMA akan ingat dengan makanan kesukaan kamu karena kamu 'kan salah satu siswa populer waktu itu," puji Riki.
"Ah, kamu bisa saja. Oh iya, ngomong-ngomong kamu sudah menikah?" tanya Rio.
"Sudahlah, saat ini istriku sedang mengandung anak kedua," sahut Riki.
"Wuidih, hebat juga kamu," puji Rio.
"Biasa saja. Kalau kamu bagaimana? Sudah menikah belum? Teman-teman SMA sangat penasaran dengan sosok wanita yang beruntung bisa mendapatkan bos muda yang tampan ini," goda Riki.
"Apaan sih, jangan berlebihan seperti itu. Aku sudah menikah, baru satu tahun lebih," sahut Rio.
"Loh, kok kami tidak diundang? keterlaluan sekali," ucap Riki pura-pura marah.
"Maaf, bukanya tidak mau ngundang tapi pernikahan kita tidak dirayakan, hanya keluarga kita berdua saja yang hadir," sahut Rio gugup.
"Kenapa? Apa istri kamu jelek, makanya kamu malu dan tidak mau semua orang tahu? Atau jangan-jangan dia sudah hamil duluan?" bisik Riki.
"Hamil duluan apa? Bahkan sampai saat ini istriku belum hamil juga," sahut Rio sedih.
"Apa? Jadi kamu belum punya anak sama sekali?" tanya Riki tidak percaya.
Rio menggelengkan kepalanya lemah, ada perasaan malu dalam diri Rio. Padahal selama ini Rio tidak terlalu memperdulikan hal itu, tapi untuk saat ini rasanya dia malu. Dia merasa seperti pecundang karena belum bisa menghamili istrinya sendiri.
.lili kyk nya kecintaan sm boy deh..
.ayo lili sadar lah . tunjukan km kuat.. jg nangisan