Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lagu dari Jovan
Sementara itu, Ravela melangkah cepat menjauh dari area tenda, mencoba menenangkan diri. Jantungnya masih berdetak tak beraturan.
“Astaga... kenapa jadi begini sih,” gumam Ravela lirih.
Ravela mengatur napas beberapa kali sebelum akhirnya kembali ke tanah lapang. Di sana, para prajurit dan relawan masih menghibur warga. Suasana cukup hangat, penuh suara tawa dan obrolan ringan.
“Udah ke kamar mandinya?” tanya Kirana begitu Ravela duduk di sampingnya.
“Udah,” jawab Ravela singkat sambil mengangguk, ia mencoba bersikap senormal mungkin.
Tak lama kemudian, Kaivan juga terlihat keluar dari tendanya. Pria itu berdiri di pinggir lapangan, matanya langsung menemukan Ravela tanpa perlu mencari lama-lama.
Beberapa kali tatapan Ravela dan Kaivan bertemu, Ravela benar-benar malu jika mengingat hal gila yang baru saja terjadi.
Kaivan saat ini tengah mengawasi Ravela bak elang mengawasi mangsanya. Kadang membuat Ravela jengah namun lebih sering membuatnya salah tingkah.
Maka dari itu lebih baik Ravela mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Bukan tanpa alasan Kaivan terus mengawasi Ravela, Kaivan takut Ravela berbincang dengan laki-laki lain atau lebih tepatnya Jovan menghampirinya istrinya lagi.
Tentu saja jika itu terjadi Kaivan sudah ancang-ancang akan segera menghampiri Ravela.
Di sisi lain, Jovan sudah memegang mikrofon. Begitu suaranya terdengar, perhatian warga langsung terpusat ke depan.
“Bapak, Ibu, terima kasih sudah meluangkan waktu berkumpul malam ini,” ucap Jovan ramah. “Semoga kita semua tetap diberi kekuatan.”
Sorakan kecil dan tepuk tangan terdengar. Beberapa perempuan terlihat heboh, saling berbisik sambil tersenyum.
Ravela hanya menonton sekilas, lalu kembali menunduk. Dari sudut matanya, ia bisa merasakan Kaivan masih mengawasinya.
“Itu bukannya pacarnya Komandan ya?” bisik Bima pelan ke Kirana.
“Udah bukan. Mereka putus sudah lama,” jawab Kirana.
Bima tampak terkejut. “Oh... begitu.”
Dimas melirik Ravela sekilas, lalu kembali menatap ke depan, tentu ia harus menjaga sikap pada Komandannya.
Jovan kembali mengangkat mikrofon. “Saya mau nyanyi satu lagu untuk menghibur kita semua malam ini.”
Jovan berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Dan spesial untuk wanita cantik yang mengenakan kaos hitam yang duduk di sana.”
Beberapa kepala langsung menoleh ke berbagai arah.
Tari yang duduk tak jauh dari Ravela refleks tersenyum kecil. Matanya berbinar, seolah yakin ucapan itu ditujukan untuknya karena saat ini ia mengenakan kaos hitam.
Dalam benak Tari, kejadian siang tadi kembali terputar jelas.
Siang itu, Tari berjalan tergesa sambil membawa beberapa barang. Tanpa sengaja, ia bertubrukan dengan seseorang.
“Ah—!” Barang-barang di tangan Tari jatuh berserakan.
“Maaf, maaf, saya tidak sengaja,” ujar pria itu sambil berjongkok membantu memunguti barang-barang.
Tari baru sadar siapa orang di depannya saat pria itu tersenyum. “Saya Jovan,” katanya. “Nama kamu siapa?”
“Saya Tari, Kang,” jawab Tari malu-malu.
Dalam hati, Tari mengagumi ketampanan Jovan namun tetap saja, menurutnya, Kaivan jauh lebih tampan dari siapa pun.
Jovan menyerahkan barang terakhir. “Sekali lagi, saya minta maaf ya. Semoga kita bertemu lagi, cantik,” ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Ucapan itu membuat pipi Tari langsung memanas.
Ingatan itu membuat Tari semakin yakin jika lagu itu untuknya. Ia merapikan duduknya, tersenyum kecil, dan menatap ke depan penuh harap.
Sementara itu, Ravela justru menggerutu kesal karena dirinya memang sekarang memakai kaos warna hitam. “Kenapa sih harus pakai kalimat begitu...”
“Tau tuh, dasar laki-laki tidak tahu malu!” timpal Kirana yang ikut kesal.
Sedangkan Kaivan jangan ditanya, ia sudah bisa menebak, jika lagu itu ditujukan Jovan untuk istrinya, karena tatapan Jovan jelas tertuju kepada Ravela.
“Sialan!” umpat Kaivan pelan.
Jovan mengetuk mikrofon. “Tes... tes... mohon atensinya.”
Orang-orang terdiam, perlahan hening.
“Saya akan menyanyikan satu lagu dari Noah, yang berjudul Tak Mampu Lupa. Semoga kalian suka,” ujar Jovan.
Petikan gitar terdengar lebih jelas, mengisi keheningan lapangan. Jovan menarik napas pelan, lalu mulai bernyanyi.
“Begitu saja kau pergi dan membuatku terluka...”
Suara Jovan terdengar merdu dan stabil, membuat beberapa warga spontan terdiam. Obrolan kecil perlahan menghilang, berganti perhatian penuh ke arah panggung sederhana di depan tenda.
“Bisakah kau tak hilangkan aku dari ingatanmu?”
Tari menahan senyum. Ia duduk lebih tegak, matanya tak lepas dari Jovan. Setiap bait lagu terasa seperti ditujukan langsung padanya setidaknya begitu yang ia yakini.
“Lumayan bagus juga suaranya,” bisik Kirana pelan.
“Biasa saja tuh,” jawab Ravela acuh. Namun dadanya terasa sedikit sesak. Entah karena lagu itu, atau karena kenangan yang diam-diam ikut muncul.
“Bila ini semua salahku, maafkan aku...”
Di ujung lapangan, Kaivan menyilangkan tangan di depan dada. Rahangnya langsung mengeras saat Jovan kembali melirik ke arah Ravela meski hanya sekilas, namun cukup membuat Kaivan panas.
“Adakah kesempatan, memulai kembali?”
Suara Jovan semakin dalam, penuh penghayatan. Tepuk tangan kecil terdengar dari beberapa sudut, menyusul senyum-senyum yang mulai bermunculan.
Ravela menghela napas panjang. “Ingat kamu sudah nikah, Vela. Ingat pria itu juga pernah menyakitimu," batinnya.
Setelah mempersembahkan satu buah lagu Jovan kembali duduk ditempatnya.
Sebelum duduk Jovan menatap ke arah Ravela, dan mengedipkan sebelah matanya, membuat Ravela dan Kirana mendengus jengkel, ingin sekali rasanya mereka mencolok mata pria itu.
Lain dengan Kaivan, yang sudah sangat kesal, ingin sekali rasanya Kaivan menghampiri Jovan dan menghajar wajah sok tampannya itu. Entah mengapa akhir-akhir ini Kaivan menjadi mudah emosi.
“Terima kasih untuk Bapak Jovan yang sudah mengibur kami semua dan menyumbangkan suara emasnya,” ujar salah satu prajurit.
Setelah itu banyak para relawan maupun warga maju kedepan untuk mempersembahkan suara mereka. Suara para pendengar. Ditemani petikan gitar yang tengah mengalun semarak menghangatkan suasana.
Mereka semua benar-benar terhibur malam ini.
Hingga atensi di depan yang menyerukan nama. Ravela membuat para kaum adam bersorak riuh. Mereka semua meminta Ravela untuk mempersembahkan suara merdunya.
Lain dengan pria tampan di ujung sana, yang sudah menampilkan raut muka tidak bersahabat sama sekali. Pandangannya hanya tertuju pada istrinya yang saat ini tengah menjadi perhatian para kaum Adam, benar-benar membuat Kaivan jengah.
“Ayo kapten Ravela, persembahkan satu buah lagu untuk kami,” sorak salah satu warga yang masih bujangan.
Belum lagi para relawan dan anggota prajurit yang terang-terangan mengagumi istrinya. Saat ini Kaivan ingin sekali menghampiri istrinya dan mengatakan kepada semua orang bahwa Ravela sudah menikah dengannya, agar tidak ada lagi yang mencari perhatian Ravela, tapi sayangnya mereka hanya nikah siri.
Sedangkan Ravela sendiri terkejut saat namanya diserukan untuk maju ke depan, Ravela tentu saja menolak. Ia benar-benar malu jika harus bernyanyi apalagi ada Kaivan yang memperhatikannya, lihat saja tatapan tajam Kaivan saat ini. Membuat Ravela tidak memiliki nyali sama sekali.
“Komandan maju saja. Sudah banyak fans yang nungguin tuh,” pungkas Kirana.
Ravela langsung menggeleng cepat. “Hah! Tidak ah, aku tidak mau,” tolaknya.
“Ayo dong Komandan, saya juga pengen dengar suara merdunya Komandan," timpal Bima. Namun Ravela tetap menolak.