Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Sisi mengambil sebuah kemeja lengan panjang bergaris. Kekesalannya sudah sampai puncak. Sejak tadi mereka berkeliling di bagian pakaian pria, tapi sampai sekarang Jericho belum juga membeli apa pun. Terlalu pemilih.
“Kau tahu, Jericho, aku sudah kesal,” ujar Sisi jengkel. “Beli saja baju bekas.”
Jericho meliriknya datar.
“Aku tidak terlihat miskin. Kenapa harus beli baju bekas?”
“Kau ini terlalu pilih-pilih. Kau laki-laki, tapi ribetnya minta ampun.”
Jericho berhenti melangkah. Tatapannya menajam.
“Iya. Dari sekian banyak pilihan, kenapa aku memilih perempuan yang sudah punya suami?”
Mulut Sisi langsung menganga.
Apa katanya?
Apa itu sindiran?
Mereka masuk ke toko berikutnya. Entah kenapa, Sisi merasa justru dirinya yang terlihat seperti laki-laki di antara mereka. Ia membawa hampir semua kantong belanjaan, sementara Jericho hanya dua dan isinya pun jam tangan. Sisi benar-benar malu.
Jericho jelas sedang kesal. Biasanya pria itu sangat gentleman, tapi sekarang seolah sengaja membuat segalanya sulit.
“Hei, Jericho!” panggil Sisi.
Tidak digubris.
“JERICHO!” bentaknya lagi.
Tetap tidak menoleh.
“BABY BOY-KU!”
Jericho akhirnya menoleh.
Dan sialnya, semua orang di toko ikut menoleh.
Mati aku.
Bisik-bisik langsung terdengar di sekitar mereka.
“Lucu banget pasangannya.”
“Baby boy katanya.”
“Pacarnya ganteng.”
“Enak ya punya pacar.”
Sisi mengumpat dalam hati. Menyebalkan. Tapi Jericho malah menyeringai santai.
Sisi membanting semua kantong belanjaan ke hadapan Jericho.
“Menyebalkan! Aku bilang mau kencan dengan diriku sendiri. Aku mau santai, bukan jadi kuli angkut!” bentak Sisi.
Ia tidak peduli semua mata tertuju padanya.
“Maaf, baby girl-ku,” ujar Jericho lembut.
Aduh.
Hati Sisi langsung melembek.
“Hentikan, Jericho,” balasnya ketus, pura-pura kuat.
“Aku belikan kau Ice Cream.”
Mata Sisi langsung berbinar.
“Ts. Ayo.”
Jericho tertawa kecil, merangkul Sisi, lalu mengambil semua belanjaan mereka.
Lihat? Mudah sekali berbicara dengannya.
Kalau saja Lucien seperti ini juga… mungkin...
Tunggu.
Kenapa ia memikirkan Lucien?
Tidak. Tidak boleh.
Setelah membeli Ice cream, mereka menuju bioskop. Jericho memilih film Kissing Booth 2, katanya bagus.
Saat menunggu, ponsel Sisi berdering.
RAJA NERAKA MENELEPON…
Astaga. Lucien.
Sisi menghela napas sebelum mengangkatnya.
“Kau di mana?” suara Lucien langsung menyerang.
“Kenapa? Kangen aku?” goda Sisi.
“Berhenti berhalusinasi. Jawab pertanyaanku.”
Sisi memutar mata.
“Di hatimu. Lagi ngopi.”
Ia mendengar Lucien mengumpat.
“Jawab dengan benar!”
“Di mall,” jawab Sisi malas.
“Ngapain?”
“Ngopi.”
“Wanita keras kepala,” gerutu Lucien.
Sisi tersenyum kecil.
“Pulang. Ibu terus menanyakanmu,” ujar Lucien frustrasi.
“Ba--”
“Baby girl, ayo.”
Sial.
Sisi langsung memutus sambungan.
Jantungnya berdegup kencang.
“Aku mati. Aku benar-benar mati.”
“Kau pucat. Kau tidak apa-apa?” tanya Jericho khawatir.
Belum sempat Sisi menjawab, ponselnya berdering lagi.
Lucien.
“Suamiku. Aku angkat dulu,” katanya cepat.
“Beraninya kau memutus telepon!” bentak Lucien.
“Tidak sengaja.”
“Pembohong.”
“Aku--”
“Diam.”
Sisi kehilangan kesabaran.
“BISA TIDAK KAU BIARKAN AKU SELESAI BERBICARA? KENAPA KAU TELEPON? KALAU IBU MAU BICARA, KASIH NOMORKU! AKU YANG BICARA DENGANNYA!”
“Apa kau berteriak padaku?”
“Tidak. Itu rayuan, bodoh!”
Lucien terdiam sejenak “Aku tahu kau bersamanya. Pulanglah, Nyonya Alastor.”
Nyonya Alastor.
Jantung Sisi berdegup kencang.
“HEI, WANITA!”
“Iya, iya! Aku pulang! Kau cemburu sekali, sialan!”
Sisi langsung mematikan ponselnya.
Mereka berada di parkiran mall. Bioskop batal.
“Maaf, Jericho. Suamiku menyuruhku pulang. Sepertinya dia bahkan menyuruh orang mengawasiku. Aku ganti rugi lain kali,” ucap Sisi panjang lebar.
Jericho tersenyum tipis, tapi matanya terluka.
“Tidak apa-apa.”
Sisi memeluknya erat. Ini mungkin pelukan terakhir mereka.
“Aku selalu di sisimu,” kata Jericho lirih. “Kalau kau tidak sanggup dengannya, aku siap merebutmu. Tapi untuk sekarang, aku puas dengan apa yang kita miliki.”
Sisi melepaskan pelukan.
“Terima kasih, Jericho. Terima kasih sudah mencintaiku. Aku tidak pantas, tapi kau tetap melakukannya. Kalau aku bisa memutar waktu, aku akan memilihmu lagi dan lagi. Tapi sekarang aku punya kewajiban. Aku tahu kau mengerti.”
Jericho mengangguk “Jaga diri, baby girl-ku. Nikmati liburan lima harimu. Aku akan selalu mencintaimu.”
Ia mencium dahi Sisi sebelum pergi.
Dalam hati, Sisi berbisik,
Maaf, Jericho.