Pada kehidupan sebelumnya Ashilla dipaksa menikah dengan seorang pria yang dikabarkan kejam dan diduga sadis namun secara tegas Ashilla melawan keinginan ayahnya itu sehingga ia malah dibebankan hutang yang sangat besar karna sudah dibesarkan oleh keluarga Clinton namun tidak membalas budi.
Bertahun-tahun kemudian saat ia hendak membayar hutang tersebut, ibu tirinya datang dan memaksanya untuk menanggung kesalahan atas putrinya yang menabrak seseorang saat mengendarai mobil dengan ugal-ugalan.
Saat itulah kehidupannya hancur, untungnya waktu kembali berputar pada hari dimana semua tragedi tersebut belum terjadi dan kali ini Ashilla bertekad untuk menikahi pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 4 - Membuatnya Langsung Jatuh Cinta
“Aku sudah menjadi penata gaya selama bertahun-tahun, dan wajah Nona Ashilla adalah yang terbaik yang pernah kulihat! Para selebritas muda itu bahkan tidak bisa dibandingkan dengannya. Apakah Anda puas, Nona Ashilla?”
Setelah menyelesaikan riasannya, sang penata gaya menatap Ashilla dengan penuh kebanggaan.
Saat Laura mendengar pujian itu, senyum di wajahnya sedikit meredup. Namun ketika melihat Ashilla membuka mata dan berdiri, ia tak bisa menahan napasnya sejenak, lalu berkata dengan nada setuju yang terpaksa, “Ya… kamu memang cantik, Ashilla.”
Penata gaya itu menangkap ketidak-antusiasan dalam nada Laura. Rasa puas karena hasil karyanya yang sempurna seketika memudar. Ia tahu, Nona Ashilla tidak disukai oleh Laura, dan perasaan menyesal pun muncul di hatinya.
Meskipun Miller terkenal dingin, ia memiliki penampilan yang menarik—cukup untuk membuatnya memenangkan hati wanita kaya dari keluarga Yao.
Sedangkan Shania, ibu Ashilla, adalah wanita cantik khas Jiangnan. Alisnya melengkung seperti daun willow, matanya berbentuk almond, hidungnya halus, dan bibirnya semerah ceri. Setiap senyum dan kerutan di wajahnya selalu tampak lembut dan menawan.
Ashilla mewarisi kelebihan dari kedua orang tuanya. Wajahnya nyaris tanpa cela, cantik alami tanpa kekurangan berarti.
Dengan teliti, Ashilla menatap pantulan dirinya di cermin, dan berpikir: 'Mungkin inilah alasan mengapa ayah memaksa agar aku merayu Ken di kehidupan sebelumnya. Apalagi Ken adalah seorang seniman. Tentu saja ia akan tertarik pada kecantikanku.'
Di sisi lain, Laura telah menyuruh penata gaya pergi dan bersiap membawa Ashilla ke pesta. Saat keluar, mereka berpapasan dengan Camila yang baru pulang berbelanja.
Camila tertegun saat melihat Ashilla. Gadis yang biasanya hanya mengenakan kaus dan celana jeans itu kini tampak seperti orang yang sama sekali berbeda.
“Kau… si udik itu?!”
Ashilla tidak menanggapi. Ia hanya mengalihkan pandangannya, seolah Camila tidak ada di sana. Anehnya, Camila tidak langsung marah—ia terlalu terkejut untuk bereaksi.
“Sudahlah, Camila, jangan berdiri saja di situ,” kata Laura sambil menepuk bahu putrinya. “Aku akan mengajak Ashilla pergi. Kamu, ayahmu, dan saudaramu makan malam yang enak, ya.”
Camila tetap berdiri di ambang pintu hingga mobil mereka menghilang. Begitu sadar akan perubahan Ashilla yang luar biasa, ia menggertakkan giginya penuh iri.
“Kita punya setengah gen yang sama… lalu kenapa dia jauh lebih cantik dariku?!” Kesalnya ketika Ashilla dan ibunya sudah berlalu.
Di dalam mobil, Laura memanfaatkan waktu untuk menjelaskan aturan-aturan perjamuan pada Ashilla namun ia hanya menatap keluar jendela, membiarkan kata-kata itu masuk dari satu telinga dan keluar dari telinga yang lain.
'Dulu ia terus menjelaskannya untuk membujukku pergi kesana, ini pasti akan mudah'
Sesampainya di tempat perjamuan, Ashilla mengikuti Laura masuk.
Dulu, saat pertama kali datang untuk tinggal dengan ayahnya dan menghadapi dunia kelas atas yang glamor, ia sangat gugup dan bahkan tidak berani melangkah santai di samping Laura.
Laura sendiri tidak berniat memperkenalkannya pada siapa pun, seperti sekarang ini, wanita itu hanya menyapa beberapa kenalan dekat, lalu membiarkan Ashilla berdiri di area yang cukup mencolok, seolah memajangnya begitu saja.
Meski beredar rumor bahwa Ken memiliki kecenderungan sadis, itu tidak mengurangi statusnya sebagai pewaris keluarga Adam. Banyak gadis dari keluarga ternama yang diam-diam bersaing untuk menjadi “Nyonya Adam”.
Dibandingkan mereka, Ashilla hanyalah putri dari mantan istri keluarga kaya kelas tiga—statusnya terlalu rendah untuk diperhitungkan.
Namun bukan berarti ia tak memiliki kelebihan.
Wajahnya begitu menawan. Bahkan hanya dengan berdiri diam, ia tetap menarik perhatian.
Di kehidupan sebelumnya, Ashilla terlalu malu untuk menatap orang lain. Ia duduk di sudut ruangan seperti murid sekolah dasar yang takut menoleh.
Tapi kali ini berbeda.
Ia memegang segelas anggur merah hanya sebagai properti, lalu mengamati sekeliling dengan tenang, tanpa menarik perhatian berlebihan.
Orang-orang tertawa, berbincang, mengenakan pakaian elegan, dikelilingi cahaya lampu dan gelas kristal.
'Aku yakin mereka juga sama munafiknya seperti Laura,' batin Ashilla dingin.
Dalam pandangannya, hampir semua orang di ruangan ini menyimpan perhitungan masing-masing, seperti yang dilakukan Miller dan Laura padanya dulu.
“Ashilla, kamu belum makan malam. Bibi ambilkan sesuatu untukmu,” kata Laura dengan suara lembut, lalu bangkit pergi.
Nada penuh kepura-puraan itu membuat kebencian di hati Ashilla semakin menguat. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyum sinis.
Di koridor lantai dua, seorang pria kebetulan menangkap senyum itu—dan langsung tertarik.
“Ken, bagaimana menurutmu wanita itu?” tanya pemuda di sampingnya sambil menyikut pelan dan memberi isyarat agar ia melihat ke arah aula.
Namun tidak ada respons.
Pemuda itu menoleh heran dan mendapati sahabat masa kecilnya sedang menatap ke satu titik dengan ekspresi yang sulit ditebak—seolah terselip kilatan tajam di matanya.
Ia mengikuti arah pandangan itu.
Seorang wanita berdiri di sana, cantiknya hampir terasa tidak nyata.
Alis yang lembut, mata jernih, dan senyum tipis yang memesona—membuat orang lupa bernapas.
Beberapa detik kemudian, pemuda itu baru tersadar. Ia tertawa kecil saat melihat Ken masih menatap tanpa berkedip.
“Kenapa? Apa kau langsung jatuh cinta?”
Ken tetap tidak mengalihkan pandangan.
Setelah hening sesaat sebelum ia menjawab dengan suara rendah,
“Ya.”