Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35.
Aurely masih berdiri terpaku di lorong sempit dekat gudang. Kakinya lemas, seolah menolak kembali melangkah ke depan... Tawa itu akhirnya mereda.
Dan tepat saat Aurely hendak bergerak, jantungnya berdegup lebih kencang. Rizky sudah berdiri di hadapannya. Aurely refleks menundukkan wajah.
“Kenapa kamu ngumpet di situ?” tanya Rizky sambil tersenyum. Suaranya lembut, tidak menuduh. Justru terdengar khawatir.
“Ehmm… i-itu, Mas…” suara Aurely serak, terbata.
Rizky melangkah mendekat. Terlalu dekat untuk sekadar basa-basi. Matanya mengamati wajah Aurely dengan saksama. Keningnya sedikit berkerut.
“Kamu habis nangis?” tanyanya pelan.
Belum sempat Aurely menjawab, tangan Rizky sudah menyentuh pundaknya dengan hati-hati, seolah takut melukainya.
“Kamu capek? Atau sakit?”
Ia mengangkat tangannya, menyentuh kening Aurely, ringan, nyaris seperti angin.
Aurely menggeleng pelan.
“Enggak, Mas.”
“Tapi matamu basah.” Kata Rizky sambil menatap tepat di kedua mata Aurely.
Aurely tersenyum kecil, senyum yang rapuh. “Mungkin kena debu… atau bau bawang merah di gudang.”
Rizky menatapnya beberapa detik lebih lama. Seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi memilih menahannya.
“Ya sudah,” ucapnya akhirnya lembut, sambil menggandeng lengan Aurely, “ayo kita pulang. Ayah kamu sudah menelepon aku.”
“Ayah?” Aurely mendongak.
“Iya. Beliau ke rumah Bu Wiwid, nyari kamu. Ponselmu nggak aktif.” Rizky tetap berjalan pelan, menyesuaikan langkahnya dengan Aurely. “Beliau khawatir. Kamu belum pulang.”
“Oh…” gumam Aurely.
“Mereka sudah pulang ya, Mas?” tanyanya lirih.
“Sudah.” Jawab Rizky singkat.
Rizky mematikan beberapa lampu kios, menyisakan satu lampu redup di ruang depan. Cahaya kekuningan itu jatuh lembut di wajah Aurely, membuat matanya yang sembab terlihat semakin jelas.
Aurely mengambil tas dari laci kasir. Rizky meraih ransel yang sudah berisi uang pemasukan hari itu.
Dan tanpa rencana, pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Aurely.
“Temannya Nurul tadi… pacar Mas ya?”
Rizky tertawa kecil. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa hangat. “Kalau Nelly pacarku, nggak mungkin dia nanya apa kamu pacarku.”
Aurely menatapnya.
“Pasti dia langsung melabrak kamu,” lanjut Rizky sambil tersenyum.
“Hmmm…” Aurely mengangguk pelan. “Terus… pacar Mas Rizky yang mana?”
Rizky berhenti sebentar. Menatap Aurely lekat-lekat. “Nggak ada.”
Degup jantung Aurely sempat terlambat satu ketukan.
“Kamu sendiri?” tanya Rizky lembut.
Aurely menunduk.
“Nggak ada juga,” jawabnya jujur. “Takut.”
Rizky terdiam. Lalu tersenyum, senyum yang berbeda. Lebih pelan. Lebih dalam.
“Ya sudah,” katanya sambil melangkah lagi, “ayo cepat pulang. Aku juga takut… kalau terlalu lama berdua di kios sepi begini.”
Aurely ikut melangkah cepat. Rizky menutup rolling door, mengunci, memastikan semua aman.
Mereka masuk ke mobil.
“Kiosnya kalau malam horor ya, Mas?” tanya Aurely setelah mobil berjalan pelan.
Rizky menoleh sekilas, lalu tertawa kecil.
“Horor kalau kita kelamaan berdua.”
“Ooo…” gumam Aurely, pipinya menghangat.
Mobil melaju membelah jalan desa sekitar kampus. Lampu rumah dan kios menyala di kanan kiri, seperti saksi kecil perjalanan malam itu.
Sesaat kemudian, Aurely mencium aroma parfum Rizky. Hangat. Menenangkan.
Dan bersamaan dengan itu, ia tersadar, dirinya belum mandi, seharian bekerja.
“Mas,” ucapnya lirih, “AC-nya dimatiin aja ya.”
“Kenapa?” tangan Rizky langsung menuju tombol AC. “Kedinginan?”
“Enggak… aku takut aromaku ganggu Mas. Aku belum mandi.”
Rizky tertawa pelan.
“Nggak masalah,” katanya santai. “Aku suka kok… aroma yang jujur.” Ucap Rizky menoleh sekilas sambil bibir masih tersenyum.
Aurely terdiam. Jantungnya mencair sedikit.
“Tapi kalau kamu mau angin malam,” lanjut Rizky yang pandangan matanya sudah fokus ke jalan, “buka aja jendelanya.”
AC dimatikan. Angin malam masuk, membawa dingin yang lembut, dan perasaan Aurely yang tak lagi sesak.
Ia benar benar tidak percaya diri, berdua bersama Rizky di dalam mobil yang tertutup. Sementara ia belum mandi.
“Besok lagi, aku bawa peralatan mandi.” Gumam Aurely di dalam hati.
“Maaf ya kamu pulang sampai malam.” Ucap Rizki, “Kios baru belum ada sift malam. Perkiraan ku jam delapan kios tutup, saat istirahat bisa digunakan sebaik baiknya.” Ucap Rizky lagi.
“Iya Mas, nggak apa apa.”
Mobil melaju lebih pelan saat memasuki jalan kecil menuju rumah Aurely. Aspal halus berubah menjadi jalan aspal sangat kasar, di kiri kanannya pepohonan dan beberapa rumah rumah sederhana dengan lampu temaram.
Angin malam masuk dari jendela yang sedikit terbuka. Dinginnya menyentuh kulit, tapi entah kenapa dada Aurely justru terasa hangat.
Rizky menyetir dengan satu tangan. Yang lain bertumpu santai di dekat persneling. Sesekali matanya melirik jalan, sesekali ke arah Aurely. Tanpa benar-benar menatap lama, tapi cukup untuk membuat Aurely sadar bahwa keberadaannya diperhatikan.
“Capek banget ya hari ini?” tanya Rizky akhirnya, memecah keheningan.
Aurely mengangguk pelan.
“Lumayan… tapi nggak apa-apa.” Jawab Aurely.
Rizky tersenyum tipis. “Kamu dari pagi sampai malam di kios. Jarang ngeluh pula.”
Aurely menatap keluar jendela. “Kalau ngeluh juga nggak mengubah apa-apa, Mas.”
Rizky terdiam sejenak.
“Kamu sering begitu ya?” tanyanya pelan. “Nyimpen sendiri.”
Aurely tak langsung menjawab. Jemarinya saling bertaut di pangkuan. “Mungkin… ” jawab Aurely lirih, “tapi ada Santi untuk sedikit curhat kok.” Lanjutnya .
Mobil melambat saat melewati polisi tidur. Tanpa sadar, tangan Rizky sedikit bergerak, menahan tubuh Aurely agar tidak terdorong ke depan. Sentuhan singkat itu membuat Aurely menegang sesaat, lalu justru merasa aman.
“Rel,” panggil Rizky lembut, matanya tetap ke jalan, “kalau capek… bilang. Nggak harus kuat terus.”
Aurely menoleh menatapnya.
“Mas juga,” balasnya lirih. “Jangan terlalu baik ke semua orang sampai lupa sama diri sendiri.”
Rizky terkekeh kecil. “Itu nasihat… atau perhatian?”
Aurely tersenyum samar. “Mungkin dua-duanya.”
Lampu rumah kayu Aurely mulai terlihat dari kejauhan. Rumah sederhana dengan teras kecil, dinding kayu yang sudah agak pudar, tapi terlihat hangat, seperti penghuninya.
Mobil berhenti perlahan di depan pagar kayu yang sedikit miring. Rizky mematikan mesin, tapi tidak langsung turun.
“Sudah sampai rumah mu ” tanyanya, menatap bangunan itu.
“Iya, terima kasih Mas.” jawab Aurely. “Rumahku sangat sederhana.” lanjut Aurely saat melihat Rizky masih menatap rumah kayunya .
Rizky menoleh padanya.
“Rumah yang hangat,” katanya . “Keliatan kayak orangnya.”
Aurely tersenyum kecil, pipinya terasa menghangat lagi.
Ia membuka pintu mobil, tapi sebelum benar-benar turun, Rizky memanggilnya.
“Rel.”
Aurely berhenti, menoleh.
Rizky membuka pintunya sendiri dan turun. Udara malam menyelimuti mereka berdua. Di bawah lampu teras yang redup, Rizky berdiri di hadapan Aurely, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Aurely kembali menunduk.
“Hari ini…” Rizky menghela napas singkat. “Makasih ya.”
“Untuk apa, Mas?” tanya Aurely bingung.
“Udah nemenin aku. Udah kerja keras. Dan… udah jujur sama perasaan kamu sendiri, meskipun aku tahu itu nggak mudah.”
Jantung Aurely berdegup kencang. “Aku nggak bilang apa-apa, Mas.”
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting