Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelahiran Pangeran
Sylvaine sangat hati-hati dengan kehamilannya itu. Ia mengurangi aktivitas dan pekerjaan selama kehamilannya. Ia memperhatikan semua asupan dan dan makanan yang ia konsumsi. Bahkan menyediakan kamar untuk dokter istana di istana Ratu. Ia pun juga membatasi diri menerima tamu. Semua itu ia lakukan untuk mengantisipasi hal buruk terjadi padanya.
Maerin hanya semakin menjadi pendiam. Perasaan iri dan berasalah bersamaan ia rasakan. Dia iri sebab Sylvaine merasakan kehamilan, sementara ia tak kunjung hamil lagi sejak keguguran sebelumnya. Dan dia merasa bersalah sebab merasakan perasaan iri itu serta keguguran yang pernah dialaminya. Namun Maerin tetap mengharapkan untuk kelancaran kehamilan Sylvaine hingga bayinya terlahir selamat.
***
Beberapa bulan berlalu, tibalah hari Sylvaine melahirkan. Orang-orang menunggu di depan kamarnya, Theo dan bahkan Maerin pun juga berada di sana menantikan kelahiran bayi. Maerin terlihat sangat cemas dan khawatir, ia hanya mondar-mandir gelisah sambil bibirnya bergerak tanpa suara seolah bergumam sendiri. Theopun hanya berdiam diri dan bersandar di dinding sambil melihat Maerin yang mondar-mandir. Ayah serta ibu Sylvaine terlihat sedang duduk bersama saling menenangkan satu sama lain. Serta asisten dan beberapa pelayan kepercayaan Sylvaine pun juga menunggu di dekat pintu kamarnya.
Setelah lama menunggu, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi. Semua orang terlihat lega dan bergegas berkerumun di dekat pintu untuk menunggu pintu dibuka, hanya Maerin yang terduduk lemas dan air mata yang tiba-tiba keluar karena bahagia. Theopun mendekati Maerin dan memeluk hangat sambil mengusap rambutnya dan sesekali menciumnya. Semua orang tak menyadari apa yang sedang dilakukan Theo, semua hanya fokus dan tak sabar ingin melihat Sylvaine dan bayinya.
Pintu terbuka dan dokter mempersilakan mereka masuk namun dokter meminta untuk tak berisik. Dokter melihat Theo dan mendekatinya, "Salam Baginda, selamat... Ratu Sylvaine melahirkan bayi laki-laki. Keduanya, ibu dan bayi selamat."
Theo mengangguk, "Terima kasih atas bantuan dan kerja keras anda, dokter."
"Itu memang tugas saya, Baginda." Jawab dokter.
Theo mengajak Maerin masuk bersama ke kamar Sylvaine, Sylvaine menyadari dan melihat keduanya berjalan ke arahnya. Saat mata Theo saling bertatapan dengan Sylvaine, Sylvaine mengangguk sebagai tanda menghormati Theo.
"Anda sudah berjuang dengan sekuat tenaga untuk melahirkan bayi yang sehat ini, terima kasih Ratu." Ucap Theo.
"Terima kasih atas perhatian anda, Baginda." Jawab Sylvaine dengan sopan.
Maerin hanya menatap ke arah bayi yang sedang tertidur itu. Ia terlihat sangat ingin menyentuhnya namun sebisa mungkin untuk menahan diri. Ia tak ingin menimbulkan kegaduhan yang tak diinginkan.
"Ratu, selamat atas kelahiran bayi anda yang lucu ini." Ucap Ibu Sylvaine sambil menggenggam lembut tangan Sylvaine.
"Terima kasih, ibu. Ini semua berkat perhatian ibu juga." Jawab Sylvaine.
Sylvaine dikerumuni oleh orang-orangnya, sementara Theo dan Maerin sedang menatap bayi yang tertidur di ranjang bayi yang tak jauh dari tempat tidur Sylvaine. Sylvaine menyadari namun hanya sesekali meliriknya saja untuk mengamati.
"Putra anda begitu tampan, Baginda." Ucap Maerin pada Theo.
Theo hanya terdiam tanpa mengatakan sepatah kata. Dalam hatinya terasa berat menyaksikan Maerin yang terlihat memaksakan diri bersikap baik-baik saja.
Sylvaine yang diam-diam mengamati merasa sedikit terganggu dengan tatapan Maerin pada bayinya. "Oh selir Maerin, anda ternyata juga datang."
Ucapan Sylvaine menyadarkan Maerin, ia berjalan sedikit mendekat ke arah Sylvaine, "Maaf terlambat mengucapkan ini, namun dengan tulus saya mengucapkan selamat atas kelahiran bayi anda yang sehat ini, Ratu Sylvaine."
"Terima kasih atas ucapan tulusnya, Selir Maerin." Jawab Sylvaine.
"Oh iya, mohon ijin bertanya Baginda Raja." Ucap Ayah Sylvaine pada Theo.
"Silakan, ayah mertua." Jawab Theo.
"Apakah anda sudah menyiapkan nama untuk putra anda ini?" Tanya ayah Sylvaine.
Theo menoleh ke arah Sylvaine, ia tahu bahwa Sylvaine telah menyiapkan nama untuk bayi ini. Sylvaine pun yang peka langsung menjawab, "Sudah ayah, kami telah menyiapkan nama untuk putra kami ini."
"Wah benarkah? siapa namanya cucuku ini, putriku?" Tanya ibu Sylvaine.
"Leopold, kami memberinya nama Leopold Cyrven." Jawab Sylvaine.
"Nama yang sangat bagus." Ucap ibu Sylvaine.
"Permisi." Ucap dokter yang baru datang.
"Oh dokter, ada apa?" Tanya Theo.
"Sudah waktunya Ratu dan bayi untuk beristirahat." Jawab dokter.
"Ah benar sekali, kami sampai lupa waktu. Baiklah kami akan keluar dari sini." Ucap ibunya Sylvaine.
"Ratu bisa dikunjungi kembali besok." Kata Dokter.
"Dokter? Apakah saya bisa tetap tinggal di sini?" Tanya Theo.
"Tentu saja, Baginda. Kehadiran anda memang yang paling dibutuhkan oleh bayi dan ibunya. Jadi kami permisi." Kata Dokter. Semua orang berjalan keluar tak terkecuali Maerin. Hanya Theo dan Sylvaine serta bayi yang tersisa di dalam kamar itu. Maerin berjalan keluar tanpa menoleh ke arah belakang. Theo ingin sekali menemaninya, namun di sisi lain ia tetap harus bertanggung jawab terhadap bayinya itu.
"Kau tak harus memaksakan diri seperti ini." Kata Sylvaine. Saat hanya berdua saja, Sylvaine tak bersikap formal pada Theo. Theo pun juga melakukan hal yang sama.
"Walau bagaimanapun. Bayi ini adalah putraku. Aku tetap harus bertanggung jawab." Ucap Theo.
"Terserah saja." Ucap Sylvaine dengan dingin.
"Kau akan bermalam di sini?" Tanya Sylvaine.
"Untuk malam ini, ya." Jawab Theo singkat.
"Tapi jangan terlalu sering kau bermalam di sini, itu membuatku tak nyaman." Ucap Sylvaine dengan dingin.
"Setelah Leopold dipindahkan ke kamarnya sendiri, aku tak akan membuatmu tak nyaman seperti ini. Sebagai ayah, aku hanya ingin memberikan perhatian terbaik untuk putraku."
"Kalau begitu, mulai besok Leopold akan memiliki kamar sendiri." Kata Sylvaine.
"Itu lebih bagus, dan akan kuperketat penjagaan serta menambah jumlah penjaga di istana Ratu untuk melindungimu dan putraku." Ucap Theo.
***
Maerin yang telah sampai di kediamannya, langsung menuju kamar. Ia tahu bahwa Theo tak akan menemaninya malam ini. Dia meluapkan perasaan yang ditahannya selama di istana Ratu. Maerin menangis sendirian, teringat rasa sakit dan kehilangan akibat kegugurannya itu. Perasaan sakit itu terasa kembali seolah baru saja terjadi. Ia menangis sambil membenamkan wajahnya di bantal supaya suara tangisannya tak terdengar oleh pelayan-pelayan. Karena cukup lama menangis hingga kelelahan, akhirnya Maerin tertidur di atas bantal yang cukup terasa basah akibat air matanya saat menangis.
***
Keesokan harinya, istana mengumumkan kelahiran putra Raja Theodore dan Ratu Sylvaine. Berita itu membuat rakyat kerajaan bersuka cita. Sebagai rasa syukur karena kelahiran seorang pangeran, pihak kerajaan membagikan makanan gratis untuk semua rakyat kerajaan Cyrven selama tiga hari.
Sementara para bangsawan berdatangan ke istana untuk mengucapkan selamat serta memberikan hadiah atas kelahiran pangeran, mereka bergantian datang hampir selama dua minggu lamanya.
***
Di sisi lain, Maerin semakin hari terlihat semakin murung seolah kebahagiaan telah meninggalkannya. Saat hanya berdua saja, Theopun tak lagi sabar menunggu Maerin untuk membicarakannya. Akhirnya Theo berkata, "Tak ada kata lain yang bisa kukataan selain maaf. Maaf telah perlahan-lahan menghancurkanmu. Maaf tak bisa menepati janji untuk membuatmu bahagia. Maaf telah mengambil kebebasanmu. Pada akhirnya aku menjadi seperti orang yang sama dengan orang yang dulu kulawan untuk membuatmu bebas." Theo tertunduk malu dan tak berani menatap mata Maerin.
Maerinpun tak menatap Theo, ia menatap ke arah jendela. Menatap jauh entah kemana sambil mendengarkan ucapan Theo dengan air mata yang mengalir keluar dari matanya tanpa henti dan berkata, "Saya...
Bersambung...