🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 | Cenayang Sang Permaisuri
...----------------{🔖}----------------...
Asap kemenyan dari dupa gaharu berpilin-pilin di udara aula paviliun giok, membentuk bayangan hantu yang menari di dinding. Aku duduk bersila di atas bantalan sutra emas, memejamkan mata, mencoba menyelami aliran Qi yang mengalir di bawah fondasi kota terlarang ini. Selama tiga puluh tahun, aku adalah telinga dan mata tersembunyi bagi Kekaisaran Hao. Kemampuan ku untuk melihat riak emosi dan benang nasib adalah alasan mengapa klan Han tetap berdiri tegak meski kaisar silih berganti.
"Dunia ini adalah kolam yang tenang," gumam ku dalam kegelapan batin, "dan aku adalah laba-laba yang merasakan setiap getaran di atas jaring nya. Namun hari ini... ada seekor predator asing yang terjatuh ke dalam jaring ku. Getaran nya tidak terasa seperti manusia. Ia terasa seperti petir yang terperangkap dalam botol kaca."
Aku membuka mata ku. Pupil ku yang berwarna abu-abu pudar tanda dari sisa-sisa darah cenayang kuno yang menipis bergetar hebat. Di kejauhan, melalui gerbang kota yang tertutup, aku merasakan kehadiran pria itu. Pria bertanda naga yang dibawa Putri Lian dari tambang utara.
"Ibu Suri," sebuah suara parau muncul dari balik tirai bambu. Itu adalah Jenderal Kuno, pemimpin dari The Silent Shadows, unit pembunuh bayaran mistis yang hanya melapor pada ku.
"Kau merasakan nya juga, Kuno?" tanya ku, suara ku sedingin lantai marmer paviliun ini.
"Udara di sekitar gerbang barat menjadi berat, Yang Mulia. Burung-burung berhenti berkicau saat kereta yang membawa nya lewat. Pria itu... dia tidak memiliki Qi yang bisa kami kenali. Energi nya asing, tajam, dan sangat... sangat besar."
Aku berdiri, jubah kebesaran ku yang berat berdesir di lantai. "Dia bukan sekadar sarjana atau pandai besi seperti yang dilaporkan Jenderal Zhao. Dia adalah anomali. Dia adalah orang yang diceritakan dalam ramalan yang seharusnya sudah kita bakar habis seribu tahun lalu. Jika dia mencapai hadapan Kaisar dan menunjukkan kekuatan nya, pengaruh kita atas tahta akan berakhir."
Aku berjalan mendekati kolam teratai di tengah aula. Di permukaan air, aku melihat pantulan bayangan yang mengerikan sebuah naga emas yang menelan seluruh kota terlarang.
"Kirimkan tiga Shadow Walkers malam ini," perintah ku, mata ku menyipit. "Gunakan teknik pemutus jiwa. Jangan biarkan dia bangun untuk melihat fajar esok hari. Ambil mata nya, dan bawa pada ku. Aku ingin melihat apa yang dia lihat."
Kediaman Tamu Istana – Tengah Malam
...----------------{🔖}----------------...
Aku duduk di atas tempat tidur kayu yang keras, mencoba melakukan meditasi kalibrasi. Di zaman ini, malam hari adalah saat di mana energi alami bumi menjadi sangat pekat. Tanpa kebisingan elektromagnetik dari satelit, menara seluler, atau mesin-mesin industri, frekuensi otak ku terasa seperti dipaksa bekerja pada tegangan tinggi.
"Saraf ku berdenyut," batin ku, memijat pelipis yang terasa panas. "The Sovereign tidak hanya mengirim ku ke masa lalu, mereka mengirim ku ke tempat di mana kekuatan ku adalah kutukan bagi tubuh fana ini. Atmosfer ini terlalu pekat. Setiap tarikan napas memaksa ku memproses energi yang belum sanggup ditampung oleh sel-sel ku yang masih beradaptasi."
Tiba-tiba, suhu di ruangan itu turun drastis. Lilin yang menyala di sudut meja padam secara bersamaan, bukan karena angin, tapi karena oksigen di sekitar nya seolah-olah tersedot habis.
Aku membuka mata. Kekuatan ku bereaksi secara instingtif, namun pola emas nya muncul dengan disertai rasa sakit yang menghujam seperti jarum ke dalam otak.
"Keluar," kata ku, suara ku rendah namun mengandung otoritas yang membuat kegelapan di sudut ruangan bergetar.
Tiga sosok muncul dari balik bayang-bayang. Mereka tidak berjalan di lantai; mereka meluncur seperti asap hitam. Wajah mereka tertutup topeng porselen putih tanpa lubang mata. Di tangan mereka, belati perunggu yang dilapisi racun mistis berkilau dingin.
"Ibu Suri mengirim salam," bisik salah satu dari mereka, suara nya terdengar dari segala arah.
Tanpa peringatan, mereka menerjang. Kecepatan mereka melampaui refleks manusia normal di zaman ini, mereka adalah pembunuh yang telah memodifikasi Qi mereka dengan sihir hitam.
Aku mencoba menghindar, namun tubuh ku terasa kaku. Koordinasi motorik ku masih terganggu oleh adaptasi atmosfer. Sebuah belati menyayat lengan jas cabikan ku, meninggalkan sensasi panas yang membakar.
"Sial. Fisik ku terlalu lemah untuk bertarung secara konvensional," gumam ku, sementara napas mulai tersengal. "Hanya ada satu cara. Aku harus menggunakan frekuensi gelombang otak untuk menghancurkan kesadaran mereka secara langsung."
Namun, peringatan merah menyala di dalam benak ku. Menggunakan teknik mental di zaman ini, dengan kepadatan energi alami seperti ini, sama saja dengan memasukkan arus listrik satu juta volt ke dalam kabel tembaga tipis.
"Kalian membuat kesalahan besar," kata ku, menatap langsung ke arah pembunuh di tengah.
Aku memejamkan mata sesaat, lalu membuka nya lebar-lebar.
"MENTAL CRUSH: PRIMORDIAL VERSION!"
Dunia seakan berhenti berputar. Dari pupil mata ku, gelombang kejut energi murni memancar keluar. Bukan gelombang yang terlihat secara fisik, melainkan distorsi pada jalinan realitas di dalam ruangan itu.
Bagi para pembunuh itu, lantai di bawah kaki mereka mendadak berubah menjadi lautan api hitam. Langit-langit runtuh dan berubah menjadi ribuan mata yang menatap mereka dengan kebencian abadi. Aku memaksakan seluruh sejarah penderitaan manusia dari masa depanku ke dalam otak mereka yang masih percaya pada mitos dan takhayul sederhana.
"AAARRRGGGHHH!"
Ketiga pembunuh itu menjerit secara bersamaan. Topeng porselen mereka retak, lalu hancur. Darah segar menyembur dari mata, telinga, dan hidung mereka. Mereka tidak sempat menyerang; kesadaran mereka telah di puput habis oleh tekanan mental yang sejuta kali lebih kuat dari sihir apa pun yang pernah mereka temui.
Tapi, harga yang harus kubayar sangatlah mahal.
"AAAGH!" aku tersungkur berlutut, memegangi kepala ku.
Sensasi itu... rasanya seperti otak ku sedang digoreng hidup-hidup. Karena atmosfer yang terlalu murni, gelombang Mental Crush yang kulepaskan memicu resonansi dengan energi bumi, menciptakan umpan balik (feedback) yang menghantam sistem saraf pusat ku sendiri.
"Saraf optik ku... terbakar," rintih ku dalam hati. Aku bisa merasakan pembuluh darah di mata ku pecah. Cairan hangat mengalir di pipi ku, darah merah bercampur dengan pendaran emas cair. Penglihatan ku menjadi putih, lalu abu-abu, lalu gelap.
Ruangan itu sunyi kembali, kecuali suara napas ku yang tersengal dan tiga mayat yang terkapar dengan otak yang sudah menjadi bubur.
...----------------{🔖}----------------...
Aku tersentak dari meditasi, memuntahkan seteguk darah hitam ke lantai marmer. Di depan ku, cermin perunggu yang aku gunakan untuk memantau serangan itu retak menjadi seribu keping.
"Tidak mungkin..." bisik ku, tangan ku gemetar hebat. "Kekuatan apa itu?"
Melalui hubungan mistis ku dengan para Shadow Walkers, aku merasakan detik-detik terakhir mereka. Itu bukan kematian karena senjata. Itu adalah kehancuran eksistensial. Aku merasakan sebuah kehadiran yang begitu luas, begitu dingin, dan begitu maju hingga membuat seluruh pengetahuanku tentang sihir terasa seperti mainan anak-anak.
"Dia bukan manusia," gumam ku, menyeka darah di bibir ku. "Dia adalah dukun yang terluka... atau iblis dari masa depan yang jauh."
Aku merasakan ketakutan yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Pria itu baru saja menghancurkan pembunuh terbaik ku hanya dengan tatapan mata, meskipun aku bisa merasakan bahwa dia juga melukai diri nya sendiri dalam proses itu.
"Yang Mulia! Apa yang terjadi?" Jenderal Kuno masuk dengan wajah panik.
"Panggil tabib klan kita," kata ku, mencoba berdiri dengan sisa kekuatan ku. "Dan siapkan rencana kedua. Jika kita tidak bisa membunuh nya dengan kekuatan, kita akan menggunakan racun politik. Kita harus meyakinkan Kaisar bahwa pria ini adalah pertanda kiamat bagi dinasti Hao. Dia sedang lemah sekarang... aku merasakan nya. Dia telah membayar mahal untuk kemenangannya malam ini."
...----------------{🔖}----------------...
Aku terbaring di lantai, dikelilingi oleh kegelapan dan aroma kematian. Seluruh tubuhku mati rasa. Setiap saraf di wajah ku berdenyut dengan rasa sakit yang tumpul.
"Aku buta... untuk sementara," pikir ku, mencoba menggerakkan jari-jari ku. "Kekuatan ku ini mencoba melakukan penguncian darurat untuk mencegah kerusakan permanen pada otak ku. Aku terlalu memaksakan diri."
Aku tertawa pahit dalam kesunyian malam itu. Seorang penguasa dunia, kini terbaring tak berdaya di lantai kayu sebuah zaman kuno, terluka oleh kekuatan nya sendiri.
Tiba-tiba, aku mendengar langkah kaki yang terburu-buru mendekat. Pintu kamarku didobrak terbuka.
"Satya! Apa yang terjadi?!" Itu suara Putri Lian.
Aku merasakan tangan nya yang lembut menyentuh bahu ku, lalu dia terkesiap saat melihat tiga mayat di lantai dan kondisi ku yang bersimbah darah.
"Siapa yang melakukan ini? Satya, buka mata mu!" suara nya bergetar karena panik, sesuatu yang jarang terjadi pada seorang putri yang dingin.
"Jangan... jangan suruh aku membuka mata, Lian," bisik ku serak. "Jika aku membuka nya sekarang, sisa energi di dalam nya akan membakar ruangan ini... dan kau juga."
Lian terdiam. Aku merasakan dia merobek bagian dari jubah sutera nya dan mulai menyeka darah di wajah ku dengan sangat hati-hati. "Kau bodoh. Kau bilang kau adalah masa depan, tapi kau hampir mati di malam pertama di istana ini."
"Masa depan tidak datang dengan gratis, Putri," kata ku, mencoba tersenyum meskipun bibir ku pecah. "Ibu Suri mu baru saja mengirimkan kartu nama nya. Dan aku... aku baru saja membalas pesan nya."
"Ibu Suri Han?" Lian berbisik ngeri. "Kau berurusan dengan wanita paling berbahaya di kerajaan ini. Kau tidak tahu apa yang telah kau mulai."
"Aku tahu persis apa yang aku mulai," kata ku, membiarkan kepala ku bersandar di pangkuan Lian yang hangat. Untuk saat ini, aku butuh perlindungan nya. "The Sovereign mengirim ku ke sini untuk mati. Ibu Suri ingin mata ku. Tapi mereka semua lupa satu hal: naga tetaplah naga, bahkan saat ia buta dan sayap nya patah."
Lian mendekatkan wajah nya ke telinga ku. "Aku akan menyembunyikan kejadian ini dari penjaga istana untuk sementara. Tapi kau harus pulih dengan cepat, Satya. Besok pagi, Ayahanda Kaisar akan memanggil mu untuk menunjukkan busur silang mu. Jika kau tampil dalam keadaan seperti ini, mereka akan menganggap mu sebagai penyihir terkutuk dan membakar mu."
"Beri aku waktu empat jam," kata ku, mulai memasuki teknik tidur hibernasi cenayang. "Aku akan berdiri di depan kaisar mu besok pagi. Dan aku akan memberikan dia dunia... agar aku bisa memiliki kekaisaran nya."
Di balik kegelapan mata ku yang terbakar, aku mulai memetakan rencana baru. Politik adalah medan perang yang tidak membutuhkan kekuatan fisik. Dan di zaman di mana takhayul adalah hukum, aku akan menjadi nabi yang mereka puja sekaligus mereka takuti.
Ibu Suri Han telah melakukan satu kesalahan fatal: dia membiarkan ku hidup. Dan di dunia Satya Samantha, tidak ada kesempatan kedua bagi musuh yang gagal.
...----------------{🔖}----------------...
Udh diusahakan, diperjuangkan penuh cinta malah begini balasannya?!😓.
Emosii ak🙏😭
inspirasi yeee