NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: PENGORBANAN CINTA

#

Lima menit setelah Sari pergi, Arjuna masih berlutut di lantai yang dingin. Tubuhnya gak gerak, kayak patung yang membeku di tengah waktu. Matanya natap pintu dimana Sari terakhir kali dia lihat, berharap mungkin dia akan balik. Mungkin ini cuma mimpi buruk dan dia akan bangun.

Tapi gak ada yang balik. Pintu tetep tertutup. Dan realita tetep sama kejamnya.

"Arjuna," suara Pixel pelan. Hati-hati. Kayak bicara sama bom yang bisa meledak kapan aja. "Kita harus pergi dari sini. Polisi pasti udah dalam perjalanan kesini setelah lihat broadcast tadi."

"Biarkan mereka datang," jawab Arjuna datar. "Biarkan mereka tangkap aku. Aku udah gak peduli lagi."

"Tapi Sari peduli," kata Pixel. "Dia pergi supaya kau bisa hidup. Jangan sia siain pengorbanannya dengan nyerah kayak gini."

Arjuna akhirnya noleh. Natap Pixel dengan mata yang kosong.

"Pengorbanan," ulangnya. Suaranya terdengar asing bahkan untuk telinganya sendiri. "Dia korbankan dirinya. Ayahku korbankan nyawanya. Dan aku? Aku cuma bisa duduk di sini dan gak bisa lakuin apa apa."

"Kau lakuin yang benar," kata Pixel. "Kau biarkan dia pergi supaya ratusan orang bisa hidup. Itu bukan gak lakuin apa apa. Itu..."

"ITU GAK CUKUP!" Arjuna berteriak tiba-tiba. Pukul lantai keras sampe tangannya berdarah lebih banyak lagi. "Gak akan pernah cukup! Berapa banyak lagi orang yang harus aku kehilangan sebelum semua ini berakhir?!"

Pixel diam. Gak ada jawaban untuk pertanyaan itu.

Dari luar terdengar suara sirene. Makin dekat. Makin keras.

"Kita harus pergi sekarang," kata Pixel sambil berdiri. "Lewat jalur ventilasi yang kita pakai tadi. Sebelum mereka kepung gedung ini."

"Pergi kemana?" tanya Arjuna. "Semua orang yang aku sayang udah pergi atau mati. Aku gak punya tempat lagi."

"Kau punya aku," jawab Pixel. "Dan kau punya janji ke Sari. Janji untuk tunggu dia balik. Kau gak bisa tunggu kalau kau di penjara atau mati."

Arjuna menatap tubuh Hendrawan yang masih terbaring di sana. Ayahnya. Yang udah dua kali mati untuk dia.

"Maafin aku Yah," bisiknya sambil berdiri pelan. Jalan ke tubuh itu. Berlutut lagi. "Maafin aku karena aku gak bisa bawa tubuhmu keluar dari sini. Maafin aku karena aku harus tinggalin kau lagi."

Tangannya menutup mata Hendrawan yang masih terbuka. Lalu dia cium kening ayahnya.

"Terima kasih," bisiknya. "Terima kasih untuk segalanya. Untuk semua pengorbanan. Untuk... untuk jadi ayah terbaik walau cuma sebentar."

Dia berdiri. Berbalik. Jalan ke Pixel tanpa noleh lagi karena kalau dia noleh, dia tau dia gak akan sanggup pergi.

Mereka lari keluar ruangan. Lewat koridor yang sekarang sepi. Semua bodyguard udah mati atau kabur. Masuk ke shaft ventilasi yang gelap dan sempit.

Turun tangga besi yang licin. Arjuna hampir jatuh beberapa kali tapi Pixel selalu tangkep. Mereka gak bicara. Cuma fokus turun. Turun ke basement. Keluar lewat manhole ke belakang gedung.

Di luar, kota terlihat beda. Lampu lampu udah nyala semua. Sistem udah kembali normal. The Protocol bener bener mati.

Adrian tepatin janjinya. Setidaknya untuk itu.

"Kemana sekarang?" tanya Arjuna sambil natap langit yang mulai terang. Matahari mau terbit.

"Rumah aman yang Hendrawan siapin," jawab Pixel. "Di pinggir kota. Tempat dimana dia bilang kita bisa sembunyi kalau semuanya jadi chaos."

"Dia siapin semuanya ya," gumam Arjuna. "Bahkan untuk kemungkinan dia mati."

"Dia selalu siapin semuanya," kata Pixel. "Itu yang bikin dia bertahan selama ini."

Mereka naik bis pertama yang lewat. Bis pagi yang penuh dengan orang orang yang mau kerja. Orang orang yang gak tau apa yang terjadi semalam. Yang gak tau berapa dekat mereka dengan kematian.

Arjuna duduk di belakang. Natap jendela. Natap kota yang perlahan bangun dari tidurnya.

Dan dia mikir tentang Sari. Dimana dia sekarang. Apa yang Adrian lakuin ke dia. Apa dia takut. Apa dia nangis.

Apa dia nyesel udah pergi.

Rumah aman ternyata rumah kayu tua di tengah hutan kecil. Terpencil. Jauh dari jalan raya. Pas untuk sembunyi.

Di dalam cuma ada satu ruangan besar dengan kasur tipis di sudut, meja dengan laptop tua, dan lemari yang penuh dengan makanan kaleng.

"Hendrawan bilang kita bisa tinggal di sini sampai situasi aman," kata Pixel sambil buka laptop. "Dia udah bayar listrik dan air untuk setahun ke depan pakai nama palsu."

Arjuna duduk di kasur. Rasanya keras dan dingin tapi dia gak peduli. Tubuhnya capek. Hatinya lebih capek lagi.

"Aku mau tidur," katanya pelan.

"Oke," Pixel ngangguk. "Aku akan jaga. Kalau ada apa apa aku bangunin."

Arjuna berbaring. Mata tertutup. Tapi tidur gak datang. Yang datang cuma ingatan. Ingatan tentang Sari yang tersenyum. Sari yang ketawa. Sari yang bilang dia cinta Arjuna.

Sari yang pergi.

Jam berlalu. Matahari naik tinggi. Siang datang.

Pixel duduk di depan laptop, cari berita tentang apa yang terjadi semalam. Dan dia nemuin banyak.

"Arjuna," katanya. "Kau harus lihat ini."

Arjuna bangun. Jalan ke Pixel. Lihat layar laptop.

Di sana ada artikel berita dengan judul: "ADRIAN MAHENDRA DAN PUTRINYA DITEMUKAN MENINGGAL DI BANDARA SWASTA"

Dunia Arjuna berhenti.

"Apa..." suaranya gak keluar dengan bener. "Apa maksudnya..."

Pixel buka artikel itu. Baca dengan suara yang gemetar.

"Adrian Mahendra dan putrinya Sari Amanda ditemukan meninggal di jet pribadi di bandara swasta sekitar jam enam pagi. Menurut otoritas, Adrian meninggal karena luka tembak yang dia terima sebelumnya. Sementara Sari... Sari meninggal karena overdosis obat yang diduga bunuh diri."

"TIDAK!" Arjuna rebut laptop dari Pixel. Baca sendiri. Baca berkali kali berharap kata katanya berubah.

Tapi kata katanya tetep sama.

Sari meninggal.

Bunuh diri.

"Ini... ini gak mungkin," bisik Arjuna. "Dia bilang dia akan balik. Dia janji. Dia..."

Ada foto di artikel itu. Foto jet pribadi yang diparkir di hangar. Foto polisi yang keluar masuk.

Dan foto yang bikin jantung Arjuna berhenti.

Foto tas tangan yang tertinggal di kursi jet. Tas yang Arjuna kenal. Tas yang Sari selalu bawa.

Di samping tas itu ada surat. Surat yang terbuka. Polisi lagi pegang surat itu tapi kamera berhasil tangkep sebagian tulisannya.

Tulisan tangan Sari.

"Untuk Arjuna. Maafkan aku. Aku tidak cukup kuat."

Arjuna jatuh. Laptop jatuh dari tangannya. Tubuhnya roboh ke lantai.

"Tidak," bisiknya. "Tidak tidak tidak ini gak bener. Ini pasti salah. Sari gak akan... dia gak akan ninggalin aku kayak gini."

Pixel ambil laptop. Baca lebih lanjut. Wajahnya makin pucat.

"Ada lebih banyak," katanya pelan. "Polisi bilang... bilang mereka nemuin botol obat tidur kosong di samping Sari. Dan... dan ada catatan dari dokter yang examine tubuhnya. Dia bilang Sari minum obat itu gak lama setelah naik jet. Mati sekitar setengah jam kemudian."

"Kenapa," Arjuna merangkak ke dinding. Punggungnya ke dinding dingin. "Kenapa dia lakuin ini. Kenapa dia gak tunggu. Kenapa dia..."

"Mungkin dia gak sanggup," bisik Pixel. "Mungkin pikiran harus hidup dengan Adrian, harus jadi anak dia, terlalu berat."

"Tapi dia bilang dia akan balik," Arjuna menangis sekarang. Menangis kayak anak kecil. "Dia janji. Dia... dia bohong. Dia bohongin aku."

"Atau mungkin dia gak tau dia gak akan sanggup," kata Pixel. "Mungkin waktu dia bilang janji itu, dia bener bener percaya dia bisa. Tapi kemudian realita terlalu berat dan dia..."

"Dan dia pilih mati daripada hidup," sambung Arjuna. Suaranya kosong sekarang. "Dia pilih mati daripada balik ke aku."

Hening.

Hening yang panjang.

Lalu tiba tiba Arjuna berdiri. Jalan ke meja. Ambil pisau yang ada di sana.

"Arjuna apa yang kau lakukan," Pixel langsung berdiri. "Letakkan pisau itu."

"Kenapa?" tanya Arjuna. "Kenapa aku harus terus hidup kalau semua orang yang aku sayang udah mati?"

"Karena mereka mati supaya kau bisa hidup!" Pixel berteriak. "Karena kalau kau mati sekarang, semua pengorbanan mereka jadi sia sia!"

"Maka biarkan sia sia," kata Arjuna sambil arahkan pisau ke pergelangan tangannya. "Aku capek. Aku capek kehilangan. Aku capek sakit. Aku cuma pengen... pengen berhenti merasa."

Pixel mau lari ke dia tapi tiba tiba ada suara dari luar. Suara langkah kaki.

Mereka berdua berhenti. Natap pintu.

Pintu terbuka pelan.

Dan yang masuk adalah...

Hendrawan.

Hendrawan yang seharusnya mati. Yang tubuhnya mereka tinggalin di gedung Axion tadi.

Tapi sekarang dia berdiri di sana. Hidup. Napas. Mata yang coklat, bukan biru lagi.

"Ayah?" bisik Arjuna. Pisau jatuh dari tangannya. "Tapi... tapi kau mati. Aku lihat kau mati."

"Aku pura pura," jawab Hendrawan. Suaranya lemah. Tubuhnya penuh perban. "Aku pura pura mati supaya Adrian lengah. Supaya dia pikir dia menang."

Dia jalan masuk. Hampir jatuh tapi pegang tembok.

"Rompi anti peluru yang aku pakai punya teknologi khusus," lanjutnya. "Teknologi yang bisa pause detak jantung untuk beberapa menit. Bikin aku terlihat mati. Dan saat Adrian sibuk dengan kalian, aku... aku bangun. Kabur lewat jalur lain."

"Tapi kenapa..." Arjuna gak bisa lanjut. Terlalu banyak pertanyaan.

"Karena ini belum berakhir," kata Hendrawan. Dia duduk di kursi dengan napas berat. "Adrian mati. The Protocol mati. Tapi masih ada satu ancaman. Satu ancaman yang bahkan lebih berbahaya dari Adrian."

"Apa?" tanya Pixel.

Hendrawan ambil napas dalam. Lalu dia bilang sesuatu yang bikin darah mereka beku.

"Putri kedua Adrian. Kembarannya Sari. Yang aku lihat di lab tadi sebelum aku pura pura mati. Dia hidup. Dia terlatih. Dan dia... dia baru aja kabur dari lab."

"Kembarannya Sari?" ulang Arjuna.

"Namanya Keyra," jawab Hendrawan. "Dan dia dibesarkan Adrian untuk jadi pewaris sejati. Dilatih jadi pembunuh. Dicuci otaknya untuk benci sama siapa aja yang lawan ayahnya."

Dia natap Arjuna dengan mata yang serius.

"Dan sekarang ayahnya mati," lanjutnya. "Sekarang dia tau kau yang bunuh dia. Dan dia... dia pasti lagi nyari kau. Nyari untuk balas dendam."

"Maka biarkan dia datang," kata Arjuna. "Aku gak takut mati."

"Tapi kau harus takut," kata Hendrawan. "Karena Sari belum mati."

Arjuna tersentak. "Apa maksudmu? Berita bilang..."

"Berita bohong," potong Hendrawan. "Aku sempet hack kamera bandara sebelum kesini. Aku lihat apa yang bener bener terjadi. Dan yang mati di jet itu bukan Sari."

"Lalu siapa?"

"Keyra," jawab Hendrawan. "Keyra yang pura pura jadi Sari. Bunuh diri supaya dunia pikir Sari mati. Sementara Sari yang asli..."

Dia buka laptop. Tunjukin video dari kamera bandara. Video yang grainy tapi cukup jelas.

Di video itu ada dua orang perempuan yang identik. Sari dan Keyra. Mereka berdiri berhadapan di dalam hangar yang gelap.

Adrian ada di sana tapi dia udah terbaring. Mati beneran kali ini.

Dan dua gadis kembar itu bicara. Gak ada audio tapi dari gerak bibir bisa ketebak mereka lagi argue.

Lalu Keyra ambil pistol. Arahkan ke Sari.

Tapi yang terjadi selanjutnya gak terduga.

Keyra balikkin pistol. Arahkan ke dirinya sendiri.

Dan tembak.

Jatuh.

Sari berdiri di sana, shock, gak gerak. Lalu dia ambil botol obat dari tas Keyra. Taruh di samping tubuh Keyra. Tulis surat dengan tangan gemetar.

Surat yang bilang "Untuk Arjuna. Maafkan aku. Aku tidak cukup kuat."

Lalu dia keluar dari frame kamera. Menghilang.

"Kenapa," bisik Arjuna. "Kenapa Keyra bunuh diri. Kenapa dia..."

"Aku gak tau," jawab Hendrawan. "Tapi yang aku tau adalah Sari masih hidup. Dia di luar sana. Sendirian. Dan dia... dia pikir kau percaya dia mati."

"Maka kita harus cari dia," Arjuna berdiri cepat. "Sekarang. Kita harus..."

"Kita gak bisa," potong Hendrawan. "Belum. Fase dua baru dimulai."

"Fase dua?"

Hendrawan ngangguk. "Fase dimana kita bersihkan semua sisa sisa kerajaan Adrian. Semua anak buahnya yang masih hidup. Semua sistemnya yang masih aktif. Dan kemudian... kemudian kita cari Sari. Bawa dia pulang."

Arjuna menatap ayahnya. Pria yang udah mati dua kali tapi masih berdiri. Masih berjuang.

"Kau yakin dia masih hidup?" tanyanya pelan.

"Aku yakin," jawab Hendrawan. "Dan kau harus yakin juga. Karena kalau kau menyerah sekarang, kalau kau biarkan dia sendirian di luar sana, maka Adrian menang. Bahkan dari kubur dia menang."

Arjuna diam lama.

Lalu dia ngangguk.

"Oke," katanya. "Fase dua. Kita mulai kapan?"

Hendrawan tersenyum. "Sekarang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!