Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian
Dua hari setelah Lebaran, Arman mengambil keputusan. Ia akan pergi ke kampung, menemui Rani dan Aldi, apa pun risikonya. Nadia tidak setuju, tentu saja. Mereka bertengkar hebat semalam sebelumnya.
"Lo nggak bisa pergi begitu aja!" Nadia berteriak, matanya merah. "Ini rumah lo, Arman! Aku istri lo!"
"Aku cuma mau ketemu anakku, Nad. Itu hakku."
"Hak? Terus hak aku apa? Ditinggal sendirian di sini?"
"Nadia, denger..." Arman mencoba meraih tangannya, tapi Nadia menarik kasar.
"Jangan sentuh aku! Lo pergi aja sana! Tapi jangan harap aku tungguin dengan sabar!"
Pertengkaran itu berakhir dengan Nadia mengurung diri di kamar, sementara Arman mengemasi tas kecil. Pagi harinya, ia berangkat tanpa pamit. Hanya meninggalkan pesan singkat: "Aku pergi. Aku harus lakuin ini. Maaf."
---
Perjalanan ke kampung kali ini terasa lebih panjang. Arman naik bus ekonomi, duduk di dekat jendela, menatap sawah-sawah yang berlalu lalang. Pikirannya campur aduk antara harapan dan ketakutan. Akankah Rani mau menemuinya? Akankah ia diizinkan melihat Aldi?
Bus tiba di terminal menjelang sore. Arman melanjutkan perjalanan dengan ojek. Semakin dekat ke rumah mertua, jantungnya berdebar semakin kencang. Ia turun di depan rumah panggung itu, membayar ojek, lalu berdiri sejenak menatap pintu yang tertutup.
Dari dalam terdengar suara Aldi tertawa. Hatinya langsung hancur.
Ia memberanikan diri mengetuk. Pintu dibuka oleh ibu mertua. Wajah perempuan itu langsung berubah dingin.
"Kamu lagi."
"Bu, saya mau ketemu Rani. Saya mau ketemu Aldi."
Ibu mertuanya memandangnya lama, lalu tanpa berkata apa-apa, berbalik masuk. Arman menunggu di luar, degup jantung makin kencang.
Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Akhirnya, Rani keluar. Ia mengenakan daster rumah lusuh warna cokelat tua, rambutnya diikat asal-asalan. Wajahnya kosong, tanpa ekspresi. Ia duduk di kursi teras, dan memberi isyarat pada Arman untuk duduk di kursi lain—agak berjauhan.
"Duduk," katanya datar.
Arman menurut. Di balik pintu yang sedikit terbuka, ia bisa melihat bayangan mertua dan ipar-iparnya mengawasi. Ini bukan pertemuan pribadi. Ini pertemuan yang diawasi ketat.
"Rani..."
"Gue mau bicara dulu. Dengerin baik-baik." Potong Rani, matanya tajam. "Gue nggak akan teriak-teriak. Nggak akan marah-marah lagi. Capek. Tapi gue mau lo tahu posisi gue."
Arman mengangguk.
Rani menarik napas. "Lo sudah memilih jalan Lo sendiri. Nikah lagi, punya istri baru. Gue sudah terima itu. Bukan karena gue rela, tapi karena gue nggak punya pilihan. Tapi soal Aldi, itu lain cerita."
"Aldi anak gue juga, Ran."
"Iya, gue tahu. Dan gue nggak akan larang Lo ketemu dia. Tapi ada syaratnya." Rani menatapnya lekat. "Kalau lo masih ingin jadi bapak buat Aldi, buktikan. Bukan cuma omong kosong."
"Buktikan gimana?"
Rani menghela napas panjang. "Aldi butuh bapak. Tapi dia juga butuh ketenangan. Gue nggak mau dia bingung dengan situasi ini. Jadi, kalau lo mau ketemu dia, lo harus konsisten. Bukan main datang kapan suka, lalu pergi lagi. Lo harus punya jadwal."
"Jadwal?"
"Iya. Misalnya, dua minggu sekali lo ke sini. Atau sebulan sekali yang pasti. Bukan dadakan kayak gini. Aldi harus tahu kapan bapaknya datang, biar dia nggak kecewa."
Arman merenung. "Itu bisa diatur."
"Tapi ingat," Rani mencondongkan tubuh, suaranya mengeras. "Lo datang ke sini cuma sebagai bapak Aldi. Bukan sebagai suami gue. Jangan harap gue mau balik kayak dulu. Gue butuh waktu. Mungkin lama. Mungkin nggak akan pernah. Gue belum tahu."
Kata-kata itu menusuk. Tapi Arman mencoba bertahan. "Terus... hubungan kita gimana?"
"Kita apa?" Rani menyeringai getir. "Kita sudah nggak ada, Arman. Sekarang cuma ada hubungan orang tua Aldi. Itu saja."
"Tapi lo nggak minta cerai?"
Rani terdiam lama. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahannya. "Gue nggak minta cerai, karena Aldi masih butuh bapak. Tapi jangan harap gue bisa maafin lo dengan mudah. Jangan harap gue bisa langsung percaya lagi. Itu semua butuh waktu. Dan gue nggak bisa janji kapan."
Arman menunduk. Ini bukan yang ia harapkan. Ia ingin Rani kembali, ingin keluarganya utuh lagi. Tapi Rani tidak memberinya itu. Yang ia beri hanyalah celah—celah kecil untuk tetap terhubung dengan Aldi, tapi tidak dengan dirinya.
"Jadi gini aja?" tanya Arman lirih.
"Iya. Ini lebih dari yang pantas Lo dapat." Rani bangkit. "Kalau lo setuju, kita buat kesepakatan. Lo bisa ketemu Aldi mulai minggu depan. Tapi jangan coba-coba macam-macam, atau gue tutup akses selamanya."
Ancaman itu membuat Arman merinding. "Gue setuju, Ran. Gue janji."
“Gak usah janji, jika Lo gak tau Lo bisa tepati”
Rani memandangnya lama. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia berbalik masuk ke rumah. Pintu tertutup, tidak dibanting, tapi lebih dingin dari itu.
Arman duduk sendiri di teras, di kursi yang sama. Angin sore berhembus, membawa aroma tanah dan sawah. Ia memejamkan mata, merasakan getirnya keputusan ini. Ia bisa bertemu Aldi, tapi harus merelakan Rani. Setidaknya untuk saat ini.
Dari dalam, terdengar suara Aldi. "Ma, itu Bapak, Ma? Bapak datang!"
"Bapak cuma sebentar, Nak. Nanti Bapak main lagi sama Aldi," jawab Rani, menenangkan.
"Tapi Aldi mau ketemu Bapak sekarang!"
"Besok, Nak. Sekarang Bapak mau pulang dulu."
Arman mendengar tangis Aldi. Ia hampir berdiri, hampir memaksa masuk. Tapi ingat ancaman Rani membuatnya urung. Ia hanya bisa duduk, mendengar tangis anaknya dari balik pintu, dan menahan air mata yang hampir tumpah.
---
Malam harinya, Arman menginap di rumah saudara jauh di kampung. Ia tak berani kembali ke rumah mertua. Ponselnya bergetar. Pesan dari Nadia:
[Nadia] : Udah sampe? Gimana?
[Arman] : Udah. Aku ketemu Rani. Kami buat kesepakatan.
[Nadia] : Kesepakatan apa?
[Arman] : Aku boleh ketemu Aldi dua minggu sekali. Tapi Rani nggak mau kembali.
[Nadia] : Oh. Terus?
[Arman] : Entahlah, Nad. Aku bingung. Rani nggak minta cerai, tapi juga nggak mau balik. Aku harus gimana?
[Nadia] : Mungkin dia butuh waktu. Sama kayak aku. Kita semua butuh waktu.
Arman membaca pesan itu berulang kali. Ada nada dingin di sana, meskipun kata-katanya terlihat biasa. Nadia juga butuh waktu. Tapi untuk apa?
[Arman] : Nad, aku minta maaf buat semuanya.
[Nadia] : Aku tahu. Tapi maaf aja nggak cukup, Arman. Kita ngomong lagi nanti pas lo balik. Selamat malam.
Percakapan berakhir. Arman meletakkan ponsel, memandangi langit-langit kamar yang asing. Dalam semalam, ia kehilangan dua perempuan. Rani secara emosional, Nadia secara perlahan menjauh. Yang tersisa hanya Aldi—dan itupun dengan akses terbatas.
Ia mulai bertanya pada diri sendiri: Apakah ini semua layak? Apakah impian poligami yang dulu ia kejar, yang ia kira akan membawa kebahagiaan, justru membawanya ke jurang kesepian?
Tidak ada jawaban. Hanya sunyi dan angin malam yang berbisik, seolah menertawakan pilihan-pilihannya.
---
Pagi harinya, sebelum ia berangkat pulang ke Jakarta, seseorang mengetuk pintu. Arman membuka, dan di sana berdiri Rani—sendirian, tanpa pengawalan keluarga. Wajahnya lebih tenang dari kemarin.
"Gue cuma mau ngasih ini," katanya, menyodorkan selembar kertas.
Arman menerimanya. Itu adalah jadwal kunjungan untuk Aldi. Dua minggu sekali, Sabtu-Minggu, dengan catatan-catatan kecil: boleh bawa Aldi jalan, tapi harus antar kembali sore hari.
Tidak boleh menginap. Tidak boleh membawa Aldi ke rumah Nadia. Dan semua komunikasi harus melalui Rani, bukan keluarga.
Arman membaca, lalu mengangguk. "Gue terima."
Rani menatapnya. "Arman."
"Iya?"
"Jangan kecewain Aldi. Dia anak lo, dan dia sayang lo. Tapi kalau lo sakiti dia..." Rani tidak menyelesaikan kalimatnya. Tapi tatapannya sudah cukup.
"Gue nggak akan, Ran. Gue janji."
Rani mengangguk, lalu berbalik pergi. Langkahnya tegas, tanpa keraguan. Arman memandangi punggungnya yang menjauh, dan untuk pertama kalinya ia sadar: Rani yang dulu lembut, penurut, dan selalu menurut, kini telah berubah menjadi perempuan baja.
Perempuan yang tak bisa lagi ia remehkan. Perempuan yang mungkin telah kehilangan cinta padanya, tapi tetap berjuang demi anaknya.
Dan Arman? Ia hanya bisa berdiri di ambang pintu, memegangi secarik kertas yang akan menjadi pedoman barunya sebagai ayah—bukan suami—bagi anak yang paling ia cintai.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.