Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.
Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 1 - Iblis Itu...
“WANITA KAPAR4T!”
Cacian itu keluar bersamaan dengan suara barang-barang yang dilempar hingga pecah. Namun hal itu tidak membuat Alexa bangkit. Dia bahkan tidak mengalihkan perhatiannya dari buku-buku di hadapannya.
Karena dia telah terbiasa dengan iblis itu.
Ayahnya.
Dia selalu mengamuk setiap kali pulang ke rumah. Dan tentu saja, Alexa dan ibunya menjadi pelampiasan amukan tersebut.
Semua itu telah terjadi sejak Alexa masih kecil, sehingga tak ada lagi yang mengejutkannya mendengar kata-kata buruk yang keluar dari mulut ayahnya.
Baginya, itu makanan sehari - harinya.
"Sedang apa kamu?” Tiba-tiba Alex membuka pintu kamar Alexa dengan membantingnya.
“Menulis,” jawab Alexa tanpa menoleh.
Dengan langkah sempoyongan, Alex mendekat.
Alexa bisa mencium aroma a1kohol yang menyengat dari tubuh ayahnya. Tanpa reaksi berarti, dia menahan napas, muak dengan bau tubuh ayahnya yang kini hanya berjarak sepuluh sentimeter darinya.
"Apa yang kamu tulis?" tanya Alex dengan suara tak cukup jelas.
"Hanya tulisan iseng... A - Ayah." Alexa menjawab ragu menyebut 'Ayah' pada pria yang berdiri di sampingnya itu.
“Kamu pikir tulisanmu itu bisa membuat kita kaya, Alexa?”
“Tidak.”
“Lalu mengapa kamu menulis hal bodoh seperti itu? Kamu tahu kita tidak punya uang, kan? Yang kita butuhkan uang! Bukan tulisan kamu yang tidak berguna itu!” caci Alex.
Alexa menatap mata ayahnya yang sayu dan memerah. Sesaat kemudian dia berkata, “Aku tahu kita tidak punya uang, Ayah. Itu sebabnya aku mengubur semua mimpiku."
“Benar!” Alex mengusap pundak putrinya sambil tertawa kecil. “Untuk menyambung hidup kita, apa kamu mau menjadi pendamping teman ayah selama satu malam?”
Mendengar itu, Alexa langsung bangkit dari kursinya, menjauh dari ayahnya. Kedua matanya melotot penuh amarah, mengerti ke mana arah pembicaraan Alex.
Tidak secara gamblang, tapi Alex jelas meminta Alexa menjadi seorang pelacur.
“Jangan kaget, Sayang. Hanya satu malam, lalu lupakan.” Alex masih membujuk dengan kesadarannya yang tidak sepenuhnya utuh.
“Nggak mau!” sungut Alexa, mulai menunjukkan kewaspadaan.
Meski penolakannya tegas, ketakutan tetap menjalari tubuhnya. Dia takut Alex akan menyeretnya pergi dan memaksanya menjadi pe1acur.
Dan penolakan yang Alexa lontarkan jelas menyulut api amarah Alex.
Tangannya langsung meraih gunting yang ada di atas meja belajar Alexa dan melangkah mendekati putrinya sambil menodongkannya.
“Ulangi!” ucap Alex, memperlihatkan deretan giginya yang rapi saling bertemu dengan mata melotot.
“A–aku nggak mau jadi pe... pe1acur,” jawab Alexa gugup sambil melangkah mundur.
Alexa sempat berpikir ayahnya akan menggunakan gunting itu untuk menusuknya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Alex menjatuhkan gunting itu, lalu menarik tangan Alexa dengan kasar dan tanpa ragu memukul wajahnya sebagai bentuk pelampiasan atas penolakan yang tak mau ia terima.
Satu pukulan mendarat di wajah, disusul tiga lainnya di perut, membuat Alexa ambruk ke lantai dan merintih kesakitan. Namun baginya, itu masih lebih baik daripada harus menjadi pelacur.
Lagi pula, dia sudah terbiasa menerima pukulan dari tangan iblis yang ada di rumahnya itu.
“Ayah nggak bilang kamu harus jadi pelacur. Ayah ulangi pertanyaan Ayah ya?” Suara Alex kembali melembut.
“Ayah minta tolong ke kamu, temani teman Ayah semalam, ya. Kamu mau kan?”
Meski pertanyaannya berbeda, maksud Alex jelas sama. Dia berjongkok dan mencengkeram dagu putrinya tanpa ampun.
Alexa menggeleng pelan. Dia tetap pada pendiriannya.
“KATAKAN SESUATU!” bentak Alex, tak mau hanya menerima jawaban dari gerakan tubuh.
“Aku tidak mau, Ayah.”
“JALANG!”
Kini tangan Alex berpindah mencengkeram leher Alexa dengan kekuatan penuh. Tak ada perlawanan dari Alexa. Dia hanya mampu mengeluarkan suara kecil karena rasa sakit yang mencekiknya, tanpa memohon untuk dilepaskan.
“JANGAN, ALEX!”
Claire muncul dengan wajah yang sudah babak belur dan langsung menarik tubuh suaminya menjauh dari putrinya sekuat tenaga.
Beberapa kali usahanya gagal, hingga akhirnya Claire meraih vas bunga dan memukulkannya ke bagian belakang kepala Alex sampai pecah.
Tubuh Alex ambruk seketika.
Begitu tangan Alex terlepas dari lehernya, Alexa segera bangkit meski terbatuk-batuk karena napasnya hampir saja terputus. Dia merangkak mendekati Claire dan memeluknya erat. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal.
Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Alexa. Bahkan rintihan tangis pun tidak.
“Kamu nggak apa - apa, Sayang?” tanya Claire.
Alexa mengangguk pelan. “Bagaimana dengan Ibu?”
“Ibu baik-baik saja.” Claire mengecup ujung kepala putrinya, sedikit lega.
“Aku takut, Bu...” Suara Alexa pecah, tenggorokannya tercekat.
Claire tak langsung menanggapi. Rasa yang mereka rasakan kini bukan lagi sekadar takut. Mereka telah terlalu lelah—dipenuhi luka batin dan fisik—dan hidup di ambang kematian.
Sudah belasan tahun mereka mengalami hal yang sama hampir setiap hari.
Sampai kapan mereka harus bertahan?
“Sialan...” desis Alex yang mulai siuman.
Claire segera melepas pelukannya dan menatap mata putrinya dengan lembut.
“Pergilah dari rumah ini, Alexa,” katanya serius, berbisik.
“Kalau perlu, jangan kembali.”
Alexa menggeleng pelan. “Aku akan pergi jika Ibu pergi bersamaku.”
“Ibu akan baik-baik saja di sini.”
“Aku tidak mau, Ibu.”
“Kita harus tetap hidup, bukan?” Claire merogoh saku bajunya dan memaksakan sejumlah uang ke genggaman putrinya.
Alexa menatap uang itu beberapa saat dengan perasaan remuk. Dia tahu uang itu tak akan cukup berarti untuk kehidupannya di luar sana. Namun justru itulah yang membuat dadanya semakin sesak—melihat ibunya memberikan seluruh yang ia miliki.
Pada dasarnya, Alexa memiliki tabungan karena dia sudah bekerja. Tapi entah mengapa, dia tak sanggup menolak uang dari ibunya.
“Pergilah. Sejauh mungkin. Jemput Ibu saat kamu sudah mampu membayar pengacara agar Ibu bisa lepas dari Ayahmu,” tutur Claire. Suaranya bergetar menahan tangis, tak ingin terlihat lemah di hadapan putri semata wayangnya.
“Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Ibu?” Alexa tetap tak tega meninggalkan ibunya bersama ayah yang lebih kejam dari iblis.
“Mau ke mana kalian?!” Alex mulai bangkit.
Claire segera mendorong tubuh Alexa dan memberi isyarat agar dia segera pergi—menyelamatkan diri dari amukan Alex.
Dengan langkah ragu, Alexa akhirnya bangkit dan berjalan keluar, sesekali menoleh ke belakang memastikan ayahnya tak kembali menyakiti ibunya.
Dia benar-benar tak ingin meninggalkan ibunya bersama iblis itu.
“ALEXA, JIKA KAMU MELANGKAH KELUAR, IBUMU AKAN MATI!” teriak Alex mengancam.
Langkah Alexa seketika terhenti. Tangannya telah menggenggam kenop pintu, namun dia menoleh kembali dan melihat Alex mencengkeram tangan Claire dengan kuat.
“Alexa, pergilah!” teriak Claire.
“DIAM!” hardik Alex.
“Alexa, pergi saja. Datanglah saat Ibu memberimu kabar!”
Mendapatkan keyakinan itu, Alexa akhirnya membuka pintu dan berlari keluar rumah. Tanpa membawa apa pun—kecuali ponsel dan uang dari ibunya yang masih erat dalam genggaman. [ ]