Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan
Kelas terakhir selesai saat matahari hampir tenggelam. Anak-anak berlarian keluar gedung dengan suara riuh. Serra berdiri di ambang pintu, membalas hormat terakhir sebelum menutup ruangan latihan. Beberapa saat kemudian, si pemilik tempat yang bernama Antonio, muncul dari kantor kecilnya.
"Mau pakai lagi nona June?" tanya Antonio.
"Ah iya, sebentar saja."
Antonio melirik Ethan yang memang sudah sedari tadi menunggu didalam dojang, "baiklah, jangan lupa taruh kunci di tempat biasa. Oh ya, jangan sampai rusak matrasnya," Antonio menoleh secara bergantian ke arah mereka berdua, dengan senyum yang nakal.
"Kau tidak perlu khawatir," Serra yang mengerti maksud dari pria tersebut, segera menggiringnya keluar, lalu menutup pintu. Astaga, dia pasti sudah gila, batin Serra.
Kini didalam ruangan itu hanya ada mereka berdua.Tanpa aba-aba, Ethan mulai melepas jaketnya. Dan saat itulah Serra menyaksikan hal baru. Pemuda yang kesehariannya selalu berpakaian sederhana, kini terlihat tampil beda.
Kaos hitam press body itu menempel rapi di tubuh Ethan. Bahunya tampak lebar dengan lengan yang padat. Garis otot dada dan perutnya terlihat samar tapi jelas terbentuk. Serra bisa menebak jika bentuk otot seperti itu memang terbentuk secara alami karena giat bekerja.
Tanpa sadar, Serra memalingkan wajah, "mulai pemanasan", tegasnya.
...----------------...
Pemanasan pun dimulai, Ethan melakukannya tanpa kesulitan yang berarti. Berlari keliling ruangan, lalu squat jump, push up, sit up, pemuda itu lakukan dengan napas yang tetap stabil. Berbeda dengan beberapa hari sebelumnya, berlari beberapa putaran saja membuatnya hampir kehabisan napas.
Serra berdiri dengan melipat kedua tangan, gadis itu mengamati setiap pergerakan Ethan secara detail. Pada dasarnya pemuda itu sudah memiliki fondasi yang kuat, otot intinya lumayan bagus, ditambah dengan stamina yang juga oke. Namun ada satu hal yang belum terlihat, yaitu teknik.
"Cukup!," Serra menginterupsi, "sekarang kita mulai sparring kecil," lanjutnya.
Ethan mengangkat alis, "apa itu dasar taekwondo?."
"Jika ingin lebih kuat, kau harus memiliki banyak teknik, taekwondo hanya akan membuatmu melawan dengan kekuatan kaki, dan itu sangat mudah dibaca oleh lawan. Sekarang kita mulai dengan keseimbangan," Serra menjelaskan sembari mendorong bahu Ethan dengan pelan.
Secara refleks, Ethan mundur satu langkah. Dorongan kedua sedikit lebih kuat, ia masih bisa menahan namun masih goyah.
"Bagus, tapi.." Serra melangkah lebih dekat, tangannya menyentuh perut bagian bawah Ethan, "disini," Ethan membeku sepersekian detik.
Serra pura-pura tidak sadar, ia berusaha bersikap profesional. "Kencangkan otot inti bagian ini, kau akan merasakan sendiri cara kerjanya," Ethan pun mengangguk, lalu mengikuti saran dari pelatih pribadinya.
Serra mulai mendorong lagi, ia mengulangi dari mendorong perlahan sampai mendorong dengan lebih kuat. Tubuh Ethan yang semula goyah, kini bertahan dengan lebih stabil, pertanda jika pemuda itu benar-benar mengerti maksud dari arahannya.
"Nah, lumayan. Kita masuk ke bagian kontrol tangan, serang aku dengan cepat" kata Serra.
"Kau yakin?," ragu Ethan.
Serra hanya mengangguk, sembari menatap tajam ke arah pemuda itu. Ethan mulai maju mendekat, lalu mulai menyerang Serra dengan satu pukulan.
Dalam satu gerakan cepat, Serra memutar pergelangan tangan Ethan dan mengunci sikunya ringan, membuat pemuda itu langsung kehilangan keseimbangan.
"Tenaga mu besar, tapi arahmu terbaca dengan jelas," bisik Serra.
Ethan mendesah kecil, ia merasa jika gerakannya sudah cepat. Serra menghindar setengah langkah, memanfaatkan momentum Ethan untuk memutar tubuhnya. Pemuda itu hampir jatuh, namun refleksnya cepat. Ia menahan dengan kaki bagian belakang. Serra berhenti, ia mulai melepaskan kuncian nya.
"Refleks yang bagus, tapi teknik mu sangat berantakan," ujarnya sambil menarik sebuah meja ke dekat matras, lalu menaikinya, "Sekarang lihat aku," lanjutnya.
Ethan mundur perlahan untuk menjaga jarak. Pemuda itu mulai memperhatikan Serra. Gadis itu mulai memperagakan cara jatuh dari posisi depan dan belakang dengan benar. Bahkan tubuhnya menyentuh matras dengan halus.
"Nah cobalah."
BRUK!
Matras bergetar, Serra menutup mata sebentar. Ternyata benar, sesuai perkiraannya jika Ethan sama sekali tidak memiliki teknik. Serra terus mengamati sembari mengarahkan cara yang benar, namun tetap hasilnya tetap sama.
"Tunggu sebentar," Serra kembali menginterupsi, namun kali ini ia ikut menaiki meja tersebut, membuat posisi mereka saling berhadapan.
Serra mulai mendorong dengan kuat, membuat tubuh Ethan kehilangan keseimbangan. Namun refleksnya kembali muncul. Tangan pemuda itu dengan cepat meraih apapun di hadapannya, dan ia berhasil menarik lengan Serra. Tarikan itu tidak terlalu kuat, tapi cukup untuk membuat Serra ikut kehilangan keseimbangan. Namun dengan cepat, Serra memutar tubuhnya, hingga..
BRUKKK!
Kali ini mereka jatuh bersamaan dengan tubuh Serra yang mendarat lebih dulu. Ethan tepat berada di atasnya, kedua tangannya otomatis menahan berat badan di kedua sisi kepala Serra agar tidak menimpa penuh. Kini tubuh keduanya hanya memiliki jarak beberapa sentimeter.
Serra bisa merasakan dengan jelas hembusan napas Ethan yang berat dengan garis rahang yang mengeras. Tak hanya itu, kedua otot lengannya pun jelas menegang.
Ethan menatapnya lekat, entah mengapa ia merasakan debaran aneh yang berhasil memecah fokusnya. Sedangkan Serra membalas tatapan berbahaya itu sambil tetap berusaha bersikap profesional.
"Teknik mu sangat buruk," bisik Serra sambil tetap menatap kedua netra cokelat di hadapannya.
"Aku tahu."
Ethan masih tetap menyelam kedalam dua netra hijau Serra, yang tampak berkilau bagai batuan emerald di tengah lautan luas. Tangannya sedikit bergetar, namun masih menahan berat badan sendiri, memastikan agar tidak benar-benar menyentuh Serra sepenuhnya.
Waktu terasa berhenti sejenak, mereka masih saling menatap, seperti sama-sama enggan untuk cepat beranjak. Hingga beberapa saat kemudian, Ethan mulai tersadar, dengan cepat ia bergeser lalu bangkit berdiri sembari mengulurkan tangan.
"Maaf, apa kau terluka?," ujarnya canggung.
Serra menerima uluran tangan tersebut, "tidak, tapi latihan cukup sampai disini, kita lanjut besok," balas Serra, menahan rasa berdebar.
Latihan tetap dilakukan hingga beberapa minggu kemudian. Perkembangan Ethan dalam berlatih tentu jauh lebih baik dari sebelumnya, ia termasuk cepat belajar. Otot-otot tubuhnya yang semula sempat menegang dan sakit, kini tak lagi pemuda itu rasakan. Ia sudah mulai terbiasa dengan segala rangkaian pelatihan yang Serra berikan.