Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan kedua
Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat jendela tinggi mansion Marquess. Tidak ada lonceng perayaan, tidak pula sapaan hangat. Segalanya berjalan seperti biasa, seolah malam sebelumnya hanyalah gangguan kecil yang tak layak diingat.
Elenna bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena ia ingin, melainkan karena tidurnya tidak pernah benar-benar datang. Setiap kali memejamkan mata, ia kembali mendengar bisikan-bisikan itu, nada tuduhan yang samar namun menusuk, tatapan-tatapan yang menilai tanpa perlu kata.
Ia duduk lama di tepi ranjang, menatap tangannya sendiri yang masih sedikit gemetar, lalu menarik napas panjang sebelum akhirnya berdiri.
Lorong mansion telah kembali hidup ketika ia keluar kamar. Para pelayan berlalu-lalang dengan langkah cepat, namun sikap mereka berbeda. Beberapa menunduk terlalu dalam saat berpapasan, beberapa berpura-pura sibuk, dan ada pula yang melirik sekilas lalu berbisik pelan pada temannya. Elenna memilih untuk tidak bereaksi. Ia berjalan seperti tidak mendengar apa pun.
Dari ruang depan, suara Marquess terdengar jelas.
“Pastikan para tamu dari utara mendapat sambutan yang pantas,” katanya tegas. “Mereka akan tinggal beberapa hari.”
“Tentu, Ayah. Aku akan mengurusnya,” sahut Lilith dengan suara lembut yang terdengar hangat.
“Aku akan menemani mereka berkeliling nanti,” tambah Alberto.
Langkah Elenna melambat sesaat.
Ia melanjutkan jalannya tanpa menoleh, seolah percakapan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Taman belakang mansion masih basah oleh embun pagi. Udara dingin menyentuh kulit, tetapi terasa lebih jujur dibandingkan suasana di dalam rumah. Elenna berjalan tanpa tujuan jelas, hanya ingin menjauh dari dinding-dinding yang terasa semakin menekan.
Ia berhenti ketika mendengar suara dedaunan bergeser.
Di atas pohon ek tua yang cabangnya menjulur ke arah tembok batu, seorang pemuda duduk santai. Rambut hitamnya sedikit berantakan, tertiup angin, sementara satu kakinya ditekuk dan kaki lainnya menggantung bebas. Ketika matanya yang biru menuruni halaman taman, pandangannya bertemu dengan Elenna.
Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan.
Elenna langsung mengenalinya. Tatapan itu sama dengan tatapan semalam, tatapan yang melihat tanpa ikut menghakimi.
Ia hendak melangkah pergi ketika suara pemuda itu terdengar.
“Pasti berat, ya.”
Nada suaranya datar, tidak terdengar iba, tidak pula mengejek. Seolah ia hanya menyatakan sesuatu yang ia amati.
Elenna berhenti dan menoleh tajam “Apa maksudmu?” tanyanya dingin
Pemuda itu tidak langsung menjawab. Ia memandang halaman taman sejenak sebelum kembali menatap Elenna.
“Berada di tempat yang ramai,” katanya pelan, “tapi tetap merasa sendirian.”
Jari-jari Elenna mengepal “Jangan sok tahu,” ucapnya. “Kau tidak tahu apa-apa tentangku.”
Pemuda itu mengangkat bahu ringan "Mungkin memang tidak,” katanya singkat.
Keheningan mencekam di antara mereka. Angin pagi menggerakkan daun-daun, sementara dari kejauhan terdengar suara tawa, suara Lilith, disusul suara pemuda lain yang lebih lantang. Louis, anak pertama Duke yang 'sempurna'
Elenna mendengarnya, meski ia berpura-pura tidak peduli.
“Aku tidak butuh simpati,” katanya akhirnya. “Apalagi dari orang yang bahkan tidak mau berbicara.”
Kata-kata itu keluar lebih tajam dari yang ia niatkan.
Pemuda itu menatapnya tanpa tersinggung.
“Aku tidak sedang bersimpati,” jawabnya tenang. “Aku hanya mengamati.”
“Dan itu membuatmu merasa lebih baik?” balas Elenna cepat.
Ia menggeleng pelan “Tidak.”
Jawaban itu membuat Elenna terdiam sejenak. Ia menatapnya beberapa detik, lalu berpaling.
“Jangan bicara seolah kau mengerti. Kau tidak berada di posisiku.”
Pemuda itu tidak menghentikannya. Tidak memanggil. Tidak turun dari pohon.
Namun ketika Elenna mulai menjauh, suaranya terdengar sekali lagi.
“Namaku Kael.”
Langkah Elenna terhenti, meski ia tidak menoleh.
“Dan kau tidak perlu percaya padaku,” lanjut Kael. “Aku juga tidak mempercayai siapa pun di rumah ini.”
Elenna melanjutkan langkahnya, perasaannya campur aduk antara kesal dan tidak nyaman, dengan gangguan kecil yang tidak bisa ia jelaskan.
Di atas pohon, Kael tetap duduk diam, menatap punggung Elenna yang menjauh. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang terlalu dalam untuk seseorang yang dianggap tidak sempurna.
Sementara itu, di dalam mansion, tawa Lilith kembali terdengar, jernih, ringan, dan sepenuhnya diterima oleh dunia.
Dan tanpa disadari siapa pun, hari itu menandai awal sesuatu yang pelan dan nyaris tak terlihat. Bukan pertolongan, bukan pula harapan, hanya dua orang yang sama-sama belajar bertahan dalam diam.
***
Lorong mansion Marquess terasa lebih panjang dari biasanya. Cahaya pagi masuk lewat jendela-jendela tinggi, tetapi tidak memberi kehangatan. Elenna berjalan di belakang Alberto, langkahnya pelan, seolah tubuhnya masih tertinggal di taman tadi.
“Elenna,” kata Alberto akhirnya, menoleh sedikit. Nada suaranya ringan, terlalu ringan untuk pagi seperti ini. “Ayah ingin bicara denganmu.”
Ia berhenti sesaat, lalu menambahkan, “Jangan terlalu tegang. Ini hanya pembicaraan.”
Hanya pembicaraan katanya.
Elenna menunduk kecil. “Aku mengerti.”
Alberto melambatkan langkahnya, menyesuaikan dengan langkah Elenna. “Aku tahu ini tidak mudah,” katanya lagi. “Apa pun yang orang katakan, ayah tidak akan bertindak gegabah.”
Elenna menggenggam ujung lengan bajunya. Ia ingin percaya. Ia sungguh ingin. Namun bayangan semala, tatapan Alberto di taman, gelengan kepalanya yang tenang, masih terlalu dekat untuk diabaikan.
“Aku tidak ada niat buruk padamu.” lanjut Alberto, suaranya lebih lembut. “Kau hanya… berada di tempat yang salah.”
Tempat yang salah.
Kalimat itu membuat dada Elenna terasa sempit.
Ia mengangguk pelan, tidak yakin jawaban apa yang diharapkan darinya. Alberto membuka pintu ruang kerja Marquess dan memberi isyarat agar Elenna masuk lebih dulu.
“Tenang saja,” katanya sambil tersenyum tipis. “Aku di luar.”
Entah kenapa, kata-kata itu tidak membuat Elenna merasa lebih aman.
Ruang kerja Marquess dingin dan rapi. Rak-rak buku menjulang, meja besar berdiri kokoh di tengah ruangan. Marquess berdiri menghadap jendela saat Elenna masuk. Ia tidak langsung menoleh.
“Duduk,” katanya tanpa menatap.
Elenna duduk di kursi di hadapannya. Tangannya terlipat di pangkuan, punggungnya tegak, seperti seseorang yang sedang menunggu vonis.
Beberapa detik berlalu sebelum Marquess akhirnya berbalik. Tatapannya tajam, menembus, namun tidak emosional.
“Kau tahu kenapa aku memanggilmu,” katanya.
“Aku tahu,” jawab Elenna pelan.
“Bagus,” ujar Marquess. “Maka aku tidak perlu mengulang penilaian orang-orang semalam.”
Ia berjalan ke balik meja, duduk perlahan. “Masalahnya bukan hanya apa yang terjadi di taman. Masalahnya adalah bagaimana itu terlihat.”
Elenna mengangkat kepala sedikit. “Aku tidak berniat—”
“Aku tahu,” potong Marquess singkat. “Atau setidaknya, aku memilih percaya bahwa kau tidak berniat.”
Kepercayaan yang bersyarat. Elenna memahaminya dengan jelas.
“Namun, rumah ini tidak berjalan berdasarkan niat,” lanjutnya. “Ia berjalan berdasarkan kesan. Dan kesan semalam… terlalu buruk.”
Elenna menelan ludah. “Aku disalahkan atas sesuatu yang tidak kulakukan.”
Marquess menatapnya lama. “Dan itu kenyataan yang sering terjadi pada orang yang tidak punya posisi.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan kejam, tetapi justru itulah yang membuatnya lebih menyakitkan.
“Untuk saat ini,” kata Marquess akhirnya, “hukumanmu ditunda.”
Elenna terdiam. Ia tidak merasa lega. Hanya kosong.
“Ditunda?” ulangnya pelan.
“Ya,” jawab Marquess. “Para tamu dari utara masih berada di kediaman ini. Aku tidak akan membuat keributan baru.”
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Namun, mulai hari ini, kau tetap akan ikut makan bersama keluarga. Kau akan hadir, duduk, dan bersikap sebagaimana mestinya.”
“Untuk menjaga citra keluarga,” gumam Elenna.
Marquess mengangguk. “Kau mengerti.”
Elenna menunduk. Ia mengerti terlalu baik. Ia bukan yang dilindungi, melainkan yang ditampilkan.
“Kita akan membicarakan hukumanmu setelah para tamu pergi,” lanjut Marquess. “Sampai saat itu, jangan melakukan apa pun yang bisa mencemarkan nama baik keluarga”
Elenna mengangkat wajahnya. “Dan jika aku tetap disalahkan?”
Marquess tidak langsung menjawab. “Maka kau harus belajar bertahan.”
Tidak ada kemarahan dalam suaranya. Tidak ada belas kasihan.
“Baik, Ayah,” ujar Elenna akhirnya.
Marquess mengangguk kecil, tanda pembicaraan selesai. Saat Elenna keluar dari ruangan itu, Alberto masih menunggu di lorong. Ia segera mendekat.
“Bagaimana?” tanyanya, nada suaranya penuh perhatian.
“Hukuman ditunda,” jawab Elenna jujur.
Alberto menghela napas kecil, seolah lega. “Aku sudah menduganya. Ayah tidak akan bertindak gegabah.”
Ia tersenyum, hangat dan familiar. Terlalu familiar.
“Kau ikut makan siang nanti,” lanjutnya. “Anggap saja ini… sementara.”
Elenna menatapnya. Ia ingin bertanya. Ingin menuduh. Ingin tahu apakah semalam Alberto benar-benar tidak tahu apa-apa, atau hanya memilih untuk tidak tahu.
Namun, yang keluar hanya satu kata, “Ya.”
Saat Alberto berjalan di sampingnya menuju ruang makan, Elenna menyadari sesuatu yang membuat langkahnya terasa berat.
Ia tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap padanya.
Sebagai pelindung.
Atau sebagai seseorang yang telah, dengan tenang, membiarkannya jatuh.
Dan penundaan itu, Ia tahu, bahwa itu bukanlah akhir. Hanya jeda sebelum sesuatu yang lebih dalam menunggunya.