Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Mulai Terasa Derita
Empat hari setelah panggilan itu, kehidupan keluarga Arga mulai terasa sangat berbeda. Ratna menatap lembaran tagihan cicilan rumah yang baru saja tiba dengan wajah pucat—angka di sana jauh melampaui apa yang bisa mereka tanggung dengan penghasilan kecil usaha warung makan yang mereka jalankan. Adi, adik laki-laki Arga, datang berlari ke rumahnya dengan wajah marah, menyodorkan pesan singkat dari kampusnya.
“Kak Rania benar-benar menghentikan pembayaran kuliahku! Kantor keuangan kampus bilang kalau tidak membayar dalam seminggu, aku akan dikeluarkan dari kelas!” ucap Adi sambil menendang bantal di sofa ruang tamu.
Di sudut lain ruangan, Arga duduk diam sambil merokok, asapnya melayang ke atas seperti pikirannya yang kacau. Maya ada di sisinya, memijat bahunya dengan lembut tapi wajahnya juga menunjukkan rasa khawatir.
“Kenapa kamu tidak bilang padanya kalau kita butuh uang, mas?” ucap Maya dengan nada lembut. “Kalau kamu mau bicara dengan lebih tegas, pasti Rania akan menyerah seperti biasanya.”
Arga menggeliat, mengingat bagaimana Rania telah berbicara padanya tiga hari yang lalu—tanpa rasa takut, tanpa ada kompromi. “Dia berbeda sekarang, Maya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi dia tidak seperti dulu yang mudah diatur.”
Suara pintu depan terbuka dengan keras, Ibu Ratna masuk membawa tas belanja yang jauh lebih kecil dari biasanya. “Habis-habisan saja! Harga sembako naik, tapi uang kita semakin sedikit. Aku hanya bisa beli barang-barang penting saja, bahkan telur saja aku beli separuh dari biasanya!”
“Bu, tenang saja. Nanti aku cari cara untuk mendapatkan uang,” ucap Arga dengan nada yang tidak terlalu meyakinkan. Ia sudah menghubungi beberapa perusahaan, rumah sakit ataupun sekolah-sekolah untuk menjadikan pelanggan katering di rumah makannya. Namun semua menolak dengan alasan rasa menu masakkan rumah makannya sekarang sudah tidak seenak yang dulu.
Semenjak Rania menghentikan modal untuk rumah makan yang dikelola oleh Arga kualitas bahan-bahan yang di gunakan tidak sebagus dulu.
Pelanggan banyak yang lari ke rumah makan lainnya, selain itu Perusahaan Rania sudah tidak menjadi pelanggan tetap di rumah makan yang dikelola oleh Arga. Karena pendapatan mereka tidak sebesar dulu, Arga menjadi uring-uringan, sehingga melampiaskan kemarahannya ke pegawai-pegawai dirumah makan tersebut akhirnya banyak yang berhenti bekerja di rumah makan tersebut, tak terkecuali Yosef koki rumah makan tersebut.
Setelah pegawai-pegawainya banyak yang mengundurkan diri, Arga dan keluarganya akhirnya turun tangan mengerjakan semua pekerjaan di rumah makan tersebut. Tentu saja cita rasa yang disajikan sangat jauh berbeda dengan masakan yang di olah oleh yosef sehingga pelanggan di rumah makan tersebut banyak yang lari ke tempat lain.
“Sabar? Gimana mau sabar?! Cicilan rumah bulan ini dua puluh lima juta, cicilan mobil sepuluh juta, dan kuliah Adi lima juta lagi! Darimana kita akan dapat uang sebanyak itu?! Kalau tidak bisa membayar, rumah kita akan disita oleh bank!” teriak Ibu Ratna, matanya merah karena marah dan khawatir.
Maya mendekat ke Ibu Ratna, memeluknya dengan lembut. “Bu, jangan marah dulu ya. Mungkin kita bisa pergi ke rumah Rania dan bicara dengan dia langsung. Kalau kita bisa menjelaskan bahwa kita benar-benar butuh bantuan, pasti dia akan mengerti.”
Ibu Ratna mengangguk perlahan. “Ya sudah, besok pagi kita semua pergi ke rumahnya Rania. Aku akan bicara padanya dengan hati-hati, mungkin dia hanya sedang marah karena sesuatu yang tidak kita ketahui.”
Keesokan paginya, mobil tua keluarga Arga melaju menuju rumah Rania yang terletak di kawasan perumahan elit. Saat mereka sampai, pagar rumah yang selalu terbuka lebar kini tertutup rapat, dan pintu utama hanya sedikit terbuka oleh Bu Sarinah yang sudah menunggu mereka dengan wajah yang tidak terlalu ramah.
“Bu Ratna, mas Arga, mbak Maya, mas Adi. Mbak Rania sedang bekerja di ruang kerjanya. Silakan masuk saja, tapi mohon tidak terlalu bising ya,” ucap Bu Sarinah dengan nada yang formal.
Di ruang kerja, Rania duduk di belakang meja besarnya, mengenakan blazer hitam yang membuatnya terlihat sangat profesional. Ia tidak melihat ke arah mereka ketika mereka masuk, masih fokus dengan layar laptopnya yang menampilkan grafik keuangan perusahaan.
“Rania sayang, kamu sedang sibuk ya?” ucap Ibu Ratna dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya. “Kita datang untuk bicara saja, tidak apa-apa kan?”
Rania akhirnya menoleh, memberikan senyum tipis yang tidak sampai ke mata. “Tentu saja, Bu. Silakan duduk. Bi, tolong bawa minuman untuk semua orang.”
Setelah semua orang duduk dan minuman disajikan, Ibu Ratna mulai berbicara dengan hati-hati. “Rania, kita tahu kalau kamu sedang kesulitan dengan perusahaanmu. Kami sangat menyesal kalau tidak bisa membantu kamu. Tapi tentang cicilan rumah dan mobil kita, serta kuliah Adi… kamu bisa tidak ya sedikit membantu kita dulu? Hanya untuk bulan ini saja, setelah itu kami akan cari cara sendiri, janji!”
Rania menutup laptopnya perlahan, lalu menatap satu per satu wajah orang-orang di depannya. Arga melihat ke arah lain, Maya menunjukkan wajah yang terharu, Adi masih menyimpan wajah marah, dan Ibu Ratna melihatnya dengan mata penuh harapan.
“Bu, saya sudah bilang kan kalau kondisi perusahaan saya tidak baik,” ucap Rania dengan nada yang tenang. “Tapi sebenarnya, saya bisa membantu kalau memang ada keadaan darurat. Namun ada satu syarat yang saya mau sampaikan.”
“Apa saja syaratnya, Rania? Kami akan lakukan apa saja!” ucap Adi dengan cepat, melihat ada harapan kecil.
Rania mengalihkan pandangannya ke arah Arga dan Maya. “Saya tahu kalau mas Arga sedang bekerja sama dengan Maya untuk mengembangkan bisnis baru. Saya sudah membaca proposal yang dia buat beberapa waktu yang lalu. Jika memang benar-benar serius dengan bisnis itu, saya bisa memberikan modal kecil dengan syarat bisnis itu harus terdaftar secara resmi di bawah nama perusahaan saya, dan semua keuntungan yang diperoleh akan dibagi secara adil sesuai dengan kontribusi masing-masing. Selain itu, mas Arga harus mulai bekerja di perusahaan saya sebagai manajer proyek agar bisa mendapatkan penghasilan tetap untuk menafkahi keluarga kita.”
Mata Maya berbinar tapi segera padam ketika Arga menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mau bekerja di perusahaanmu, Rania. Aku ingin membangun bisnisku sendiri tanpa campur tanganmu!”
“Kalau begitu, saya tidak bisa membantu lagi,” jawab Rania dengan tegas. “Saya sudah memberikan kesempatan, tapi kalau mas tidak mau menerima, maka saya tidak punya pilihan lain. Saya sudah menghubungi bank untuk memberitahu bahwa saya tidak akan lagi menjadi penjamin untuk cicilan rumah dan mobil adik kami. Mereka akan segera menghubungimu untuk membahas cara pembayaran selanjutnya. Untuk kuliah Adi, saya sudah menghubungi pihak kampus untuk membantu dia mendapatkan program beasiswa kerja yang bisa membayar sebagian besar biaya kuliahnya, tapi sisanya harus dia tanggung sendiri dengan bekerja.”
Suara itu seperti petir yang menyambar langsung ke hati mereka. Adi berdiri dengan cepat, wajahnya kemerah-merahan. “Kamu benar-benar tidak punya hati, Kak Rania! Aku adalah saudaramu sendiri!”
“Kamu adalah saudara ipar saya, Adi. Dan saya sudah membantu kamu selama tiga tahun penuh. Sekarang sudah saatnya kamu belajar untuk mandiri,” jawab Rania tanpa rasa kasihan. “Untuk mas Arga dan Maya, saya sudah tahu apa yang kalian lakukan. Saya tidak akan mengatakan apa-apa, tapi ingatlah bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Jika kalian ingin terus hidup dengan cara yang salah, maka kalian harus siap untuk menerima hasilnya.”
Arga berdiri dengan wajah pucat, matanya penuh dengan kemarahan tapi juga rasa bersalah. “Bagaimana kamu tahu tentang aku dan Maya?”
Rania hanya tersenyum tipis. “Saya tidak bodoh, mas. Saya melihat dan mendengar semua yang terjadi. Tapi saya memilih untuk tidak mengatakan apa-apa karena saya ingin melihat sejauh mana kalian akan pergi. Sekarang saya sudah tahu jawabannya.”
Maya menangis kecil, menyandar wajahnya ke bahu Arga. “Kita tidak bermaksud menyakiti kamu, Rania. Kami hanya mencintai satu sama lain.”
“Cinta tidak pernah harus menyakiti orang lain, Maya. Terutama tidak dengan mengkhianati orang yang sudah membantu kamu ketika kamu sedang kesusahan,” ucap Rania dengan nada yang dingin. “Sekarang, saya mohon semua orang untuk pulang. Saya punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.”
Bu Ratna tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Rania, dengan brutalnya dia mengatakan kata-kata yang sangat tidak pantas "Dasar perempuan mandul, nggak berguna, kalau Arga tidak menikahi kamu nggak akan mungkin ada yang mau menikah dengan kamu, karena kamu mandul. Pantas saja Arga selingkuh dari kamu, kamu perempuan mandul, Arga memilih maya karena dia akan memberikan cucu untukku. Maya merasa sakit hati, ternyata inilah asli dari ibu mertuanya, dia yang selalu berkata lembut hanya bersandiwara agar Rania bisa dijadikan ATM gratis buat dia. Dengan perasaan tercabik-cabik Rania segera mengusir arga dan keluarganya "Maaf tolong segera pergi dari rumah ini, kalau tidak kalian akan aku laporkan ke kantor polisi atas dasar perselingkuhan."
Tanpa berkata apa-apa lagi, keluarga Arga dan Maya berdiri dan keluar dari rumah Rania. Di dalam mobil pulang, suasana sangat sunyi. Ibu Ratna mengumpat, dia tidak menyadari bahwa itu semua adalah kesalahan mereka yang telah membuat mereka kehilangan dukungan yang selama ini mereka anggap sebagai sesuatu yang pasti ada. Arga menatap jalanan dengan wajah kosong, menyadari bahwa dia telah merusak segalanya—pernikahannya, hubungannya dengan Rania, dan juga masa depan keluarganya. Maya hanya diam, menyadari bahwa impiannya untuk hidup nyaman bersama Arga mungkin tidak akan pernah terwujud.
Sementara itu, di rumahnya, Rania berdiri di depan jendela melihat mobil mereka pergi. Ia mengambil secangkir kopi hangat yang sudah disiapkan Bu Sarinah, lalu tersenyum lembut. Ini baru permulaan dari balasan yang ia rencanakan. Selanjutnya, ia akan memastikan bahwa mereka benar-benar menyadari betapa salahnya mereka mengkhianati kebaikan yang telah ia berikan.