NovelToon NovelToon
Aku Anak Yang Kau Jual

Aku Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat / Aliansi Pernikahan / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.

×××××××

"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"

"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.

"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."

Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hasil yang Tak Terduga

Aroma mesiu dan debu kaca masih menggantung di udara saat Aristhide dan Aira melangkah keluar dari gedung Malik Group yang kini dijaga ketat oleh kepolisian dan tim elit Narendra. Di dalam lift yang membawa mereka turun menuju lantai dasar, keheningan menyelimuti keduanya. Aristhide menggenggam tangan Aira begitu erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, gadis itu akan menguap seperti kabut pagi.

"Kau terluka?" tanya Aristhide pelan, jemarinya menyentuh pipi Aira yang tergores serpihan kaca kecil.

Aira menggeleng. "Hanya goresan, Aris. Yang penting kau selamat. Saat aku melihat titik merah itu... aku merasa duniaku berhenti berputar."

Aristhide menarik Aira ke dalam pelukannya di dalam lift yang sempit itu. Ia memejamkan mata, menghirup aroma rambut Aira yang menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Namun, di balik ketenangan itu, pikirannya tertuju pada amplop putih yang kini tersimpan di saku dalam jasnya. Sebuah beban yang terasa lebih berat daripada ancaman sniper Oswald tadi.

Di lantai dasar, Adipati Narendra sudah menunggu di dalam mobil komando. "Tim taktis sudah bergerak menuju Bogor. Lokasi bunker Oswald telah dikepung. Tapi pria itu licin. Dia mengancam akan meledakkan seluruh arsip fisik jika kita melakukan serangan terbuka. Kita butuh pendekatan yang lebih halus."

"Aku akan pergi ke sana," ujar Aira tegas.

"Tidak!" sahut Aristhide dan Adipati secara bersamaan.

"Dengarkan aku," Aira menatap keduanya dengan tatapan yang tak bisa dibantah. "Oswald ingin bicara denganku. Dia terobsesi dengan 'stabilitas Narendra' dan dia menganggapku sebagai kunci. Jika aku datang sebagai putri Narendra yang ingin bernegosiasi, dia akan membuka pintunya. Itulah celah yang kalian butuhkan untuk masuk."

Adipati tampak ragu, namun ia tahu putrinya memiliki keberanian Sofia yang dipadukan dengan logika Aristhide. "Baik. Tapi kau akan mengenakan rompi antipeluru dan pemancar sinyal GPS di bawah pakaianmu."

Perjalanan menuju pinggiran Bogor memakan waktu satu jam. Hujan mulai turun deras, membasahi kaca mobil dan menciptakan suasana yang semakin mencekam. Di kursi belakang, Aristhide tampak gelisah. Ia beberapa kali menyentuh saku jasnya, sebuah gerakan yang akhirnya disadari oleh Aira.

"Ada apa, Aris? Kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Aira curiga.

Aristhide menatap keluar jendela, ke arah pepohonan yang bergerak cepat di balik kegelapan. "Aira, sebelum kita sampai di sana... ada sesuatu yang harus kau ketahui. Sesuatu yang kutemukan saat aku melakukan audit medis pada yayasan yang dikelola Oswald."

Aira mengerutkan kening. "Tentang Ibu?"

"Bukan. Tentang kita." Aristhide mengeluarkan amplop putih itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menyerahkannya pada Aira. "Ini adalah hasil laboratorium independen yang kupesan minggu lalu, setelah kau mengeluh sering merasa pusing dan mual di pagi hari."

Aira menerima amplop itu dengan jantung yang berdegup kencang. Ia membukanya perlahan. Matanya menyisir kata-kata teknis di sana hingga terpaku pada satu kesimpulan di bagian bawah: Positive - Gestational age: 6 weeks.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Aira. Ia menyentuh perutnya yang masih rata. Di tengah perang kekuasaan, di tengah ancaman pembunuhan, dan di tengah tumpukan dendam masa lalu, sebuah kehidupan baru telah bersemi.

"Aris..." bisik Aira, air mata mulai menggenang di matanya. "Kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal?"

"Aku baru menerimanya tadi pagi, tepat sebelum serangan dimulai," Aristhide menunduk, memegang tangan Aira dengan kedua tangannya. "Aku takut, Aira. Aku takut membawa kalian ke dalam kegelapanku. Aku takut anak ini akan mewarisi musuh-musuh yang bahkan belum ia kenal."

Aira menghapus air matanya, sebuah kekuatan baru merayap di dalam dirinya. "Justru karena ada dia, kita harus mengakhiri ini sekarang. Kita tidak akan membiarkan anak ini tumbuh di dunia di mana dia harus takut pada titik merah di jendela. Dia tidak akan menjadi 'jaminan' seperti aku dulu."

Aristhide menatap Aira dengan penuh haru. Keberanian wanita ini benar-benar melampaui logika pria mana pun. "Aku berjanji, Aira. Dengan nyawaku sendiri. Tidak akan ada yang menyentuhmu atau anak kita."

Mobil mereka akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang tua yang ditumbuhi lumut di kaki gunung. Di balik gerbang itu, terdapat sebuah gudang tua yang secara fisik tampak terbengkalai, namun di bawahnya terkubur bunker teknologi tinggi milik Oswald.

Adipati mendekati mereka. "Tim sudah siap. Aira, kau yakin?"

Aira menatap Aristhide, yang memberinya anggukan penguatan, lalu menatap Adipati. "Aku yakin, Ayah. Mari kita selesaikan sejarah berdarah ini."

Aira melangkah keluar dari mobil, mengenakan mantel panjang yang menyembunyikan rompi antipelurunya. Ia berjalan sendirian menuju pintu baja gudang tersebut. Di tangannya, ia memegang kunci perak yang diberikan Ibu Saraswati—kunci yang ternyata bukan hanya untuk brankas di Zurich, tapi juga kunci akses darurat untuk fasilitas penelitian Narendra.

Saat ia berdiri di depan pemindai, suara Oswald terdengar dari speaker di atas pintu. "Selamat datang, Pewaris Narendra. Aku melihat kau membawa keberanian ibumu. Masuklah, tapi ingat... satu langkah tentara ayahmu masuk ke radius sepuluh meter, maka tempat ini akan menjadi kembang api terbesar di Jawa Barat."

Pintu baja itu terbuka dengan desisan udara yang berat. Aira melangkah masuk ke dalam kegelapan, meninggalkan Aristhide yang menatap punggungnya dengan kepalan tangan yang memutih. Di dalam perutnya, Aira merasakan sebuah denyut kehidupan yang memberinya alasan untuk tidak hanya bertahan hidup, tapi untuk menang.

Ia tidak lagi takut. Karena kini, ia bukan hanya bertarung untuk masa lalu Sofia, tapi untuk masa depan anak yang sedang dikandungnya.

"(Apa yang akan ditemukan Aira di dalam bunker Oswald? Dan apakah ia bisa keluar hidup-hidup untuk memberitahu Adipati tentang cucunya?)"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!