NovelToon NovelToon
Kupilih Dirimu

Kupilih Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 27 Lelaki yang Jatuh Sampai Dasar

Pagi itu Bagas bangun bukan dari kasur.

Ia bangun dari lantai mushola kecil dekat pasar.

Semalam ia dan Pipit diizinkan tidur di sana oleh marbot yang iba melihat dua koper di tangan mereka.

Karpet tipis itu masih terasa dingin.

Bagas duduk perlahan.

Ia menatap Pipit yang masih terlelap, kepalanya bersandar pada tas berisi pakaian.

Dulu perempuan itu tidur di ranjang empuk.

Sekarang di lantai umum.

Dan semua itu karena dia.

Bagas menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar tidak berguna.

Jam tujuh pagi, ia sudah berdiri di pasar.

Bukan sebagai pembeli.

Sebagai pencari kerja serabutan.

Ia mendekati seorang mandor pengangkut barang.

“Pak, butuh tenaga?”

Mandor itu melirik dari ujung kepala sampai kaki.

“Kamu kuat?”

Bagas mengangguk.

Tanpa banyak tanya, ia diberi satu tugas.

Angkat karung beras dari truk ke dalam gudang.

Beratnya hampir lima puluh kilo.

Bagas mengangkat.

Pundaknya langsung terasa seperti ditusuk.

Ia tidak terbiasa lagi dengan kerja fisik seperti ini.

Tapi ia gigit gigi.

Ia tidak boleh kalah oleh karung.

Karena kalau kalah, ia kalah sebagai suami.

Satu jam kemudian bajunya basah oleh keringat.

Tangan halus yang dulu terbiasa memegang pulpen dan laptop kini memerah karena gesekan tali karung.

Beberapa pedagang mengenal wajahnya.

Bisik-bisik mulai terdengar.

“Itu kan Bagas yang dulu punya perusahaan konstruksi?”

“Lho kok sekarang jadi kuli?”

“Makanya jangan sombong.”

Kalimat-kalimat itu seperti pasir yang dilempar ke luka terbuka.

Bagas pura-pura tidak dengar.

Tapi telinganya tetap menangkap semuanya.

Di sudut lain pasar, dua ibu-ibu sedang membeli sayur.

Bu Siska dan Bu Tuti.

Dan nasib memang kadang kejam.

Mereka melihat Bagas.

“Eh… itu bukan suaminya Pipit?”

“Iya! Astaga… jadi buruh angkut sekarang?”

Tawa kecil keluar.

Mereka mendekat.

Sengaja lewat di depan Bagas.

“Gas!” panggil Bu Siska dengan nada dibuat ramah.

Bagas menurunkan karung dari pundaknya.

“Iya, Bu.”

“Kerja di sini sekarang? Hebat ya… dari direktur jadi kuli.”

Orang-orang mulai memperhatikan.

Bu Tuti menambahkan dengan suara cukup keras untuk didengar sekitar.

“Ya namanya juga hidup. Kalau nggak mampu jaga uang ya begini. Kasihan Pipit.”

Bagas menelan ludah.

“Ini rezeki halal, Bu.”

Bu Siska tertawa.

“Halal sih halal… tapi malunya itu lho.”

Beberapa pedagang ikut tersenyum miring.

Dan yang paling menyakitkan bukan kalimatnya.

Tapi tatapan iba bercampur meremehkan.

Seolah ia bukan lagi manusia utuh.

Hanya contoh kegagalan berjalan.

Sore hari, ia menerima upah.

Seratus lima puluh ribu rupiah.

Tangannya gemetar saat menerimanya.

Dulu angka itu bahkan tidak cukup untuk makan siang klien.

Sekarang…

Itu penyelamat.

Ia berjalan kembali ke mushola.

Pipit sedang duduk di tangga, menunggu.

Melihat Bagas, ia tersenyum.

“Selesai, Mas?”

Bagas mengangguk dan menyerahkan uang itu.

“Lumayan.”

Pipit memegang uang itu seperti memegang harta karun.

“Alhamdulillah.”

Dan di situlah hati Bagas retak lagi.

Karena istrinya bahagia dengan angka kecil yang dulu tak pernah ia lihat.

Belum selesai.

Malamnya, saat mereka sedang makan nasi bungkus berdua, sebuah mobil berhenti di depan mushola.

Mobil hitam mengilap.

Kaca turun perlahan.

Di dalamnya… Rendy.

Ia turun dengan santai.

Jas rapi. Wangi mahal.

Kontras sekali dengan Bagas yang duduk di tangga berdebu.

“Wah… romantis ya makan berdua di sini.”

Nada suaranya menusuk.

Pipit berdiri.

“Ada apa?”

Rendy tersenyum sinis.

“Aku cuma mau lihat sendiri. Ternyata benar. Kalian jatuh sejauh ini.”

Bagas berdiri perlahan.

“Kalau cuma mau mengejek, sudah cukup kemarin.”

Rendy mendekat.

“Gas… kamu tahu nggak? Di keluarga besar, kamu jadi bahan ketawa. Serius. Bahkan Oma bilang dia malu punya cucu seperti kamu.”

Kalimat itu seperti petir.

Bagas menegang.

“Jangan bawa-bawa Oma.”

Rendy menyeringai.

“Kenapa? Sakit? Sakit dong pasti. Tapi ya kenyataan.”

Ia menatap Pipit.

“Kamu masih mau bertahan sama laki-laki kayak gini? Mau hidup pindah-pindah mushola?”

Pipit menjawab tenang.

“Saya lebih pilih suami miskin tapi jujur, daripada kaya tapi sombong.”

Rendy tertawa keras.

“Jujur? Jujur tapi gagal.”

Ia mendekat lagi pada Bagas.

“Lelaki itu dinilai dari kemampuannya. Kalau nggak bisa kasih rumah, nggak bisa kasih makan layak… ya cuma beban.”

Beban.

Kata itu lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Bagas merasa seperti ditampar berulang kali.

Ia ingin memukul.

Ingin meluapkan semua.

Tapi ia tahu.

Kalau ia melakukannya—

Ia hanya akan terlihat seperti pecundang yang tidak bisa mengendalikan emosi.

Rendy akhirnya masuk kembali ke mobilnya.

Sebelum pergi, ia menurunkan kaca dan berkata pelan:

“Kalau butuh kerjaan, jadi satpam di proyekku juga bisa. Minimal masih ada yang mau pakai kamu.”

Mobil melaju pergi.

Meninggalkan debu.

Dan harga diri yang diinjak-injak.

Malam itu Bagas tidak bisa tidur.

Ia duduk sendirian.

Mengingat semua kalimat hari ini.

Direktur jadi kuli.

Malunya itu lho.

Beban.

Oma malu.

Lelaki dinilai dari kemampuannya.

Setiap kata seperti palu memukul kepalanya.

Ia mulai meragukan dirinya sendiri.

Apa mereka benar?

Apa ia memang gagal total?

Apa Pipit lebih pantas bersama pria lain?

Pikiran itu seperti racun.

Dan racun paling kejam adalah yang datang dari dalam diri sendiri.

Pipit keluar dan duduk di sampingnya.

“Kamu dengar semuanya tadi, kan?”

Bagas tidak menjawab.

Pipit memegang tangannya.

“Mas… jangan biarkan kata-kata mereka jadi suara di kepala kamu.”

Bagas tertawa kecil.

“Gimana caranya? Semua orang bilang aku gagal.”

Pipit menatapnya dalam.

“Gagal itu kondisi. Bukan identitas.”

Bagas diam.

“Identitas kamu bukan bangkrut. Bukan dihapus. Bukan kuli. Identitas kamu itu orang yang tetap berdiri walau dihancurkan.”

Air mata Bagas akhirnya jatuh.

Bukan karena hinaan orang lain.

Tapi karena ia hampir percaya bahwa dirinya memang tidak layak.

Dan saat pembaca mulai merasa sudah cukup pedih—

Takdir belum selesai.

Keesokan paginya, mandor pasar menghampirinya.

“Maaf, Gas. Mulai besok nggak usah masuk.”

Bagas kaget.

“Kenapa, Pak?”

“Katanya kamu anak orang kaya yang bangkrut. Saya nggak mau nanti ada masalah. Orang-orang ngomong kamu bisa bikin pasar ini sial.”

Sial.

Sekarang ia bahkan dianggap pembawa sial.

Bagas tidak membantah.

Ia hanya mengangguk.

Dan berjalan pergi.

Tanpa kerja.

Tanpa rumah.

Tanpa keluarga.

Tanpa nama.

Di sudut jalan, ia berdiri sendirian.

Pipit sedang membeli air minum di warung kecil.

Bagas menatap langit.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Ia merasa benar-benar di dasar.

Tidak ada lagi yang bisa diambil darinya.

Tidak ada lagi yang bisa dihancurkan.

Dan justru di titik itu—

Seseorang memperhatikannya dari jauh.

Pria berjas abu-abu.

Tatapan tenang.

Seolah melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Ia mendekat perlahan.

“Pak Bagas?”

Bagas menoleh.

“Ada yang ingin berbicara dengan Anda. Tentang kesempatan.”

Kesempatan.

Kata yang sudah lama tidak ia dengar.

Dan pembaca tahu—

Saat seseorang datang menawarkan kesempatan pada lelaki yang sudah hancur…

Biasanya itu bukan sekadar bantuan.

Biasanya itu awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

1
Mas Bagus
tenang kak, hidup adalah perjuangan.. tetep semangat...
partini
buset dah ini di gempur dari samping atas bawah macam udah jatuh tertimpa tangga plus pohonnya
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid
partini
berjuang bersama istri dari O,kamu sekolah kan udah pernah pegang kendali biar pun gagal so jadi kan itu pelajaran yg akan menuju kesuksesan buktikan kamu mampu ,ada istri yg full support tapi nanti udah sukses mendua cari lobang lain is no good maaf bacanya loncat thor
Mas Bagus: siap...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!