Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE DUA
Keesokan harinya, kekacauan terjadi lagi dikeluarga Hartman. Seperti biasa Siena lah dalang dibalik kekacauan itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi dan semua nya sudah bersiap untuk sarapan dan akan melakukan aktivitas masing-masing. Alexander harus segera ke kantor dan Margaret juga harus segera pergi ke butik.
Tapi, berbeda dengan Siena. Gadis 22 tahun itu ternyata masih asyik bergumul dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya dengan mata yang masih terpejam. Sinar matahari yang menyusup melalui celah jendela pun tak bisa membangunkan seorang Siena, apalagi dering alarm dari ponselnya yang sudah berkali-kali berbunyi tapi tetap saja terabaikan.
Diruang makan, Margaret sudah selesai menyiapkan sarapan dengan dibantu oleh asisten rumah tangga. Sedangkan, diruang tamu Alexander tengah mengobrol dengan Rigel dan seorang pria muda.
"Kau sudah tau tugas mu?" tanya Alexander pada pria itu
"Ya tuan, tugas saya melindungi dan mengawasi nona Siena". Jawabnya dengan suara yang terdengar rendah namun tegas
"Bagus". Sahut Alexander seraya melirik kearah pintu kamar Siena yang masih setia tertutup rapat.
"Pasti anak itu belum bangun". Alexander bergumam dalam hatinya lalu menarik nafas panjang. Pandangannya beralih pada Rigel yang berdiri tak jauh dari pria yang akan menjadi bodyguard Siena.
"Rigel..."
"Ya tuan?"
"Ajak dia keluar sebentar dan jelaskan lagi tugas nya lebih detail". Titah Alexander
"Baik tuan, ayo..." Rigel mengajak pria itu keluar sejenak meskipun hanya berkeliling halaman rumah, sambil menjelaskan setiap sudut rumah yang menjadi tempat favorit Siena dan juga kebiasaan perempuan itu, agar pria tersebut lebih paham langkah apa yang harus ia kerjakan untuk menjalankan tugas nya sebagai bodyguard. Tak lupa, Rigel juga menjelaskan sikap dan sifat Siena agar pria itu bisa menyiapkan mental dan berharap bisa bertahan menghadapi nona muda nya itu.
.
.
Sepeninggalan Rigel dan pria yang akan menjadi bodyguard Siena. Alexander langsung beranjak dari duduknya melangkah ke arah dapur, menghampiri istrinya.
"Apa anak itu belum bangun ?" tanya Alexander
Margaret menoleh sambil mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, biar aku lihat dulu keatas".
"Hmm..." sahut Alexander berdehem seraya menarik kursi untuk ia duduki. Sembari menunggu istrinya memanggil Siena, ia pun meraih secangkir kopi yang masih panas lalu meminumnya sedikit demi sedikit.
.
.
Tok..
Tok..
Tok..
"Siena, kau sudah bangun sayang?!" seru Margaret sambil mengetuk pintu kamar Siena pelan.
Namun, tak terdengar sahutan dari dalam. Margaret kembali mengetuk pintu nya. Hingga ketukan ketiga tak kunjung ada sahutan, akhirnya Margaret mencoba membuka pintu nya.
"CK!" Decak nya pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Anak ini kebiasaan sekali tidak pernah mengunci pintu kamar". Margaret mendorong pelan pintu tersebut hingga terbuka setengah.
Matanya menyisir sekitar kamar Siena dan pandangannya seketika langsung tertuju pada ranjang. Margaret menghela nafas panjang saat melihat putri semata wayang nya itu masih memejamkan matanya dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh mungilnya, hanya bagian rambutnya saja yang terlihat.
Margaret melangkah mendekat lalu duduk ditepian ranjang. Tangannya terulur menyikap selimut yang Siena gunakan, terlihat putrinya itu masih tertidur nyenyak dengan bibir yang sedikit terbuka.
"Siena... Bangun sayang..." Margaret menepuk-nepuk pelan lengan Siena mencoba membangunkan perempuan itu.
"Eugghh..." Erang Siena seraya membuka pelan kedua kelopak matanya lalu mengangkat kedua tangannya keatas merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku dan pegal.
"Ibu..." Sapa Siena dengan suara serak khas seperti orang bangun tidur
Margaret melempar senyum hangat pada Siena lalu menarik lembut kedua tangan putrinya itu agar segera bangun.
"Ayo bangun, kau sudah kesiangan pergi ke kampus sayang".
"Ini sudah pukul berapa bu?" tanya Siena, mengulurkan tangannya meraih ponsel nya yang ada diatas nakas.
"Pukul 8 sayang. Bukannya kau ada janji dengan dosen pembimbing mu, pukul 9 nanti?" ujar Margaret mengingatkan Siena akan jadwal anak gadis nya itu.
Mendengar itu, sontak saja bola mata Siena membulat sempurna. Ia melirik lagi kearah ibunya dan segera bangkit turun dari ranjang lalu berlari cepat menuju kamar mandi.
"Astaga aku telat Buu!!!"
Brak!
Siena menutup pintu kamar mandi dengan kencang. Margaret yang melihat tingkah laku putrinya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala gemas.
"Mandi nya jangan lama-lama sayang, Ibu sama ayah tunggu dibawah kita sarapan bersama". Seru Margaret
"Iya Bu". Teriak Siena menyahut ucapan ibunya
Setelah itu, Margaret berdiri dari duduknya melangkahkan kakinya keluar dari kamar Siena. Tak lupa ia juga menutup lagi pintu kamar itu.
.
.
"Dimana Siena, honey?" tanya Alexander saat melihat istrinya itu berjalan sendirian menuruni satu persatu anak tangga
"Sedang siap-siap ayah". Jawab Margaret lembut, lalu menarik kursi dan mengambil duduk disamping Alexander
Mendengar itu, seketika Alexander langsung menghela nafas panjang. Ia tau putri nya itu pasti baru bangun dan jika bersiap-siap pun pasti butuh waktu satu jam untuk selesai. Alexander melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.
satu jam lagi dia harus segera sampai dikantor, ada rapat penting yang harus ia hadiri. Melihat raut wajah cemas suaminya, Margaret pun berinisiatif untuk meminta suaminya itu sarapan terlebih dahulu, sebab jika menunggu Siena pasti akan lama.
"Lebih baik ayah sarapan duluan saja, kalau menunggu Siena pasti lama. Aku ambilkan yaa..." Kata Margaret
Alexander menoleh menatap Margaret, "Tak apa honey. Aku akan tunggu Sie-"
"Aku datangggg!!!!"
belum sempat Alexander menyelesaikan ucapannya, terdengar suara teriakan dari arah anak tangga. Sontak, Alexander dan Margaret pun langsung menolehkan kepalanya bersamaan.
Terlihat Siena berlari menuruni anak tangga sambil membawa beberapa tumpuk buku ditangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk membenahi tali tas yang terus saja terlepas dari sampiran bahunya.
Perempuan itu hanya mengenakan cardigan crop top warna biru muda dengan list putih disepanjang kancingnya yang dipadukan dengan celana jeans panjang. Juga sepatu kets putih. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai begitu saja, namun meskipun hanya berpenampilan sesederhana seperti itu tetap saja tak mengurangi kadar kecantikan seorang Siena Hartman.
"Ayah.. Ibu... Aku dat- ahhhh!!!"
Baru saja hendak menuruni anak tangga terakhir, tak sengaja kaki Siena tersandung kakinya sendiri. Ia jatuh terhuyung kedepan tapi sebelum tubuh Siena jatuh membentur lantai, ada sepasang lengan kokoh yang menahannya.
"Anda baik-baik saja nona Hartman ?" suara berat itu terdengar menyapa indra pendengaran Siena.
Refleks, Siena membuka sebelah matanya dan mendongak melirik kearah sumber suara.
"Nona Hartman ?" suara itu kembali menyapanya, buru-buru Siena langsung menegakkan tubuhnya dan menatap seorang pria yang menahan tubuhnya itu dengan mata yang memicing tajam.
"Y-ya aku baik-baik saja. Siapa kau ?" Siena bertanya dengan nada ketus juga sinis, mata bulatnya menelisik penampilan pria yang berdiri dihadapannya ini dengan teliti.
"Saya -"
"Astaga Sienaaa!!!!" belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya, suara keras Alexander langsung terdengar menegurnya.
.
.
.
Haii jangan lupa dukungannya yaa... Terimakasih 🫶🏻♥️
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut