Adven Mahardhika Alkhatiri, seorang lelaki yang penuh rahasia dalam hidupnya. Bahkan keberadaan anaknya juga menjadi rahasia dan teka teki tersendiri untuk keluarga Alkhatiri yang begitu terpandang.
Rahasia besar apakah yang selama ini dia simpan? dan mampukah dia mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya terhadap seorang perempuan bernama Sukma Paramitha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 ( Kembali )
"Mas Dhika!"
"Ayo masuk di luar sudah mulai gerimis"
"Ko lama?"
"Aku tadi mengantarkan Monica dulu, dia kurang enak badan"
"Tapi kak Monica baik baik saja kan?"
"Iya, dia sudah di periksa dokter"
"Hari ini Mitha ada kejutan untuk mas Dhika"
"Apa?"
"Ada deh"
"Jangan buat aku jadi penasaran dong, kan nanti kita akan meresmikan pernikahan kita"
"Tapi... Mitha takut"
"Takut kenapa?'
"Mitha takut keluarga mas Dhika tidak bisa menerima Mitha dan anak ini, karena anak ini hadir tanpa di inginkan"
"Anak... Mitha, kamu.. kamu hamil?"
"Iya mas, Mitha hamil empat minggu, dan Mitha takut karena Mitha baru selesai ujian kenaikan kelas dua belas, Mitha mungkin tidak bisa sekolah nanti"
"Mitha, aku akan jadi seorang ayah? mommy pasti akan sangat senang, tidak peduli anak itu lahir karena aku yang tidak sengaja menarik kamu ke dalam kamar hotel tempat aku menginap saat itu, tapi aku senang, aku senang karena akan jadi ayah, jangan buang janin ini aku mohon, anak ini tidak bersalah"
"Apa mas menerima anak ini?"
"Tentu saja aku menerimanya, dia anakku, anak kita Paramitha Rosyandi"
Terlihat Sukma gelisah dalam tidurnya, dia berkeringat dingin dan terus memanggil nama Dhika, Adven yang merasakan pergerakan dari Sukma segera terbangun, dia mengusap keringat Sukma dan memperbaiki infus yang sempat terjatuh karena gerakan Sukma yang terus meronta.
"Mas Dhika!" pekik Sukma terbangun dari tidurnya.
Sukma memimpikan masa lalunya bersama Adven, Dhika adalah nama panggilan Adven yang di berikan Sukma supaya mereka memiliki nama panggilan untuk satu sama lain. ingatan itu ternyata masuk ke dalam kepala Sukma setelah dia tidak sengaja terpeleset dan jatuh dari tangga rumah Adven saat dia akan berangkat kerja bersama Adven
Adven yang panik segera meminta dokter memeriksa Sukma, bahkan Adven memeriksa CCTV lain di rumah itu yang langsung terhubung ke handphone miliknya. Hasilnya begitu mengejutkan, ternyata salah satu asisten rumah tangga di rumah Adven mengoleskan minyak goreng di tangga dan setelah Sukma jatuh, minyak itu di bersihkan dengan cepat.
"Paramitha, kamu sudah sadar?"
"Pak.. saya mimpi, mimpinya seperti nyata sekali" jawabnya dengan nafas tersengal.
"Ini minum dulu, coba ceritakan pelan pelan" ucap Adven memberikan Sukma air minum
"Akhh.. kepala saya sakit pak"
"Kamu terjatuh di tangga, dan kamu sudah satu hari belum sadarkan diri" jawab Adven
"Jatuh.. astagfirullah, bukankah kita akan ke Bogor untuk tinjauan proyek!" panik Sukma
"Jangan di pikirkan, semuanya sudah di urus kak Adam" bujuk Adven menggenggam tangan Sukma
"Sekarang ceritakan apa yang kamu mimpikan?"
"Saya memakai baju SMA, dan anda menjemput saya pak, saya bilang kalau saya hamil tapi di mimpi saya nama bapak itu adalah Dhika dan saya Paramitha Rosyandi, saya juga hamil"
"Paramitha, aku juga memanggilmu Paramitha kan?" tanya Adven dan Sukma mengangguk.
"Sebutkan nama lengkapku" ucap Adven
"Pak Adven Mahardika Alkatiri" jawab Sukma
"Mahardika, dan kamu memanggilku Dhika supaya orang orang tidak curiga" jawab Adven membuat Sukma terkejut
Seketika itu juga kilasan beberapa ingatan mulai masuk, Sukma kembali memegangi kepalanya yang di perban karena kembali terasa berdenyut.
"Maafkan aku Paramitha, aku akan bertanggung jawab, aku di jebak seseorang yang memberikan aku minuman yang di campur obat"
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Paramitha Rosyandi dengan maskawin yang tersebut di bayar tunai"
"Paramitha, aku senang mendengar detak jantung anak kita"
"Paramitha anak kita akan segera lahir, aku akan mengajakmu bertemu kedua orang tuaku setelah anak kita lahir"
Sukma kembali membuka matanya, dia menatap Adven dengan seksama, memang terlihat berbeda dengan saat Sukma bertemu Adven pertama kali, tapi Sukma tetap mengenali Adven.
"Pak... itu.. itu bapak" ucap Sukma dan Adven mengangguk dengan air mata yang mulai mengalir.
"Kamu ingat aku akhirnya, aku sengaja menempatkan kamu di kamar ini Paramitha, ini rumah yang aku siapakah untuk keluarga kecil kita, tapi kamu pergi meninggalkan aku sesaat setelah melahirkan Axel" ungkap Adven
"Axel..."
Sukma meraba perutnya yang rata, kilasan tentang kelahiran Axel juga mulai masuk ke dalam kepalanya, tapi bukan ingatan baik, melainkan ingatan buruk tentang kelahiran Axel.
"Aaakhhh.... dokter perut saya sakit"
"Anda harus di operasi Caesar, di mana suami Anda?"
"Saya saja yang tanda tangan sendiri dokter"
"Oek.. Oek.. Oek.."
"Anak anda laki laki Bu, beratnya tiga koma dua kilo dengan panjang lima puluh centimeter"
"Kamu pikir Adven menginginkan kamu dan akan memperkenalkan kamu pada keluarganya setelah ini? dasar bodoh, dia hanya ingin bayi kamu Paramitha, aku yang akan dia nikahi dan ini surat undangannya, berikan Axel untuk aku rawat dan kamu boleh pergi jauh"
"Tulis surat kalau kamu tidak menginginkan Adven lagi, dan aku akan menjaga anak kamu dengan baik, menjadi ibunya dan merawatnya"
Ingatan saat dia pergi dari rumah sakit setelah melahirkan juga mulai masuk, sampai saat dia sadar kalau Adven bukan orang yang akan mengingkari janjinya, Sukma berniat untuk kembali ke rumah sakit, menemui Axel anaknya dan menelepon Adven yang saat kejadian sedang berada di luar kota.
Brak.
"Aakhhhh... kak... kak Monica" lirih Sukma sebelum dia tak sadarkah diri dengan keadaan kepala yang berlumuran darah dan tubuh yang membentur bahu jalan.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Paramitha, sayang kamu sudah sadar, dokter, kenapa istri saya hanya diam saja?" tanya Adven khawatir.
Sukma kembali jatuh pingsan setelah banyak ingatan yang masuk ke kepalanya, dia yang masih belum kuat secara fisik di paksa untuk terus mengingat masa lalunya karena Sukma penasaran dengan apa yang terjadi di hidupnya selain dari kehidupan lima tahun yang dia jalani sebagai Sukma Paramitha.
"Kondisi jantungnya normal, tekanan darah juga normal, luka di kepalanya sudah mengering, hanya tinggal di kakinya saja yang belum di perbolehkan untuk berjalan" jawab dokter.
"Mitha" bisik Adven saat dokter pamit untuk pulang
"Mitha kamu bisa mendengar ku kan?"
"Sayang..."
"Hiks.."
"Sayang kenapa kamu menangis?" tanya Adven memeluk Sukma
"Lima tahun aku tidak ingat kalian, aku hidup sebagai orang lain dan aku melupakan anak yang aku lahirkan mas" ungkap Sukma membuat Adven melerai pelukannya
"Mitha kamu...."
"Aku ingat semuanya mas, aku ingat semua kejadian yang menimpaku saat kamu pergi ke luar kota dan menitipkan aku pada Kak Monica" jawab Sukma dan Adven mulai ketakutan.
Adven takut kalau Sukma benar benar ingin meninggalkan dia dan Axel saat itu dan sengaja menulis surat perpisahan pada Adven, tapi tidak pernah Adven urus perceraian mereka meskipun dia akan menikahi Monica.
"Kamu... kamu tidak mencintaiku lagi Paramitha, seperti dalam surat kamu yang mengatakan kalau aku terlalu tua untuk kamu, aku tidak bisa mengimbangi kamu yang punya jiwa muda?" tanya Adven