Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Tangis dalam Tidur Panjang
Air mata itu seolah menjadi saksi bisu atas pertarungan batin yang baru saja dialami Rina di alam bawah sadar—tentang cahaya yang mengajaknya pergi dan bisikan Nenek yang memintanya bertahan.
Gus Azkar, yang akhirnya diizinkan masuk oleh dokter setelah kondisi Rina stabil, duduk di samping ranjang. Ia terpaku melihat air mata yang mengalir di pipi istrinya. Dengan tangan yang masih bergetar, Azkar menggunakan ibu jarinya untuk mengusap air mata itu dengan sangat lembut, seolah takut kulit Rina akan hancur jika ia menekannya terlalu keras.
"Dek... kamu dengar Mas?" bisik Azkar parau. Suaranya pecah. "Maafin Mas... Mas janji, nggak akan ada lagi air mata ketakutan setelah ini. Bangun, sayang..."
Kehadiran yang Menenangkan
Ibu Rina yang berdiri di sisi lain ranjang ikut terisak melihat putrinya. Ia mengusap telapak kaki Rina yang terasa sangat dingin.
"Rina, Nak... ini Ibu. Bangun ya sayang, Ibu nggak akan maksa kamu lagi. Ibu cuma mau kamu sehat," ucap sang Ibu dengan penuh penyesalan.
Setiap kata-kata maaf yang terucap di ruangan itu seolah menjadi energi bagi Rina. Meskipun matanya belum mampu terbuka, air mata itu terus mengalir, menandakan bahwa jiwanya yang terluka sedang mencoba memproses semua kasih sayang dan penyesalan orang-orang di sekitarnya.
Gus Azkar kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Rina, ia membacakan lantunan ayat suci Al-Qur'an dengan suara yang sangat rendah dan merdu. Ia berharap lantunan itu bisa menjadi petunjuk bagi jiwa Rina agar tidak lagi merasa tersesat dalam kegelapan atau godaan cahaya putih tadi.
Rina masih berjuang untuk benar-benar terjaga dari tidur panjangnya.
Lantunan ayat suci dari bibir Gus Azkar mengalir begitu merdu, memenuhi setiap sudut ruang ICU yang dingin. Suaranya yang berat namun penuh perasaan itu bergetar, menyalurkan doa dan harapan agar sang istri segera kembali. Namun, meski detak jantung di monitor sudah stabil, Rina tetap tak bergeming. Kelopak matanya seolah terkunci rapat.
Sebenarnya, Rina sudah bisa mendengar. Ia bisa merasakan hangatnya usapan tangan Azkar di keningnya. Ia bisa mencium aroma khas suaminya yang bercampur dengan bau antiseptik rumah sakit. Namun, di dalam hatinya, Rina menolak untuk bangun.
Rina lebih memilih tetap berada di kegelapan yang tenang ini. Baginya, membuka mata berarti kembali ke dunia yang pahit—kembali ke kenyataan bahwa ia adalah seorang istri di usia yang sangat muda, kembali ke tuntutan orang tua, dan kembali menghadapi sosok Gus Azkar yang selama ini ia anggap sebagai tembok yang menghalangi mimpinya.
Aku takut... batin Rina dalam tidurnya yang sunyi. Kalau aku bangun, apakah Mas Azkar akan membentakku lagi? Apakah aku akan dikurung di pesantren? Apakah aku benar-benar kehilangan masa mudaku?
Air mata kembali merembes dari sudut matanya yang terpejam. Ia merasa lebih aman dalam komanya. Di sini, tidak ada yang bisa memaksanya bicara, tidak ada yang bisa menuntutnya menjadi istri sempurna.
Kesabaran Sang Gus
Gus Azkar menghentikan bacaannya sejenak saat melihat air mata Rina kembali mengalir. Ia menyadari sesuatu; istrinya bukan belum mampu bangun secara fisik, melainkan jiwanya sedang bersembunyi karena ketakutan.
Azkar menunduk, meletakkan keningnya di atas punggung tangan Rina yang terpasang infus.
"Rin... Mas tahu kamu dengar," bisik Azkar dengan suara yang amat tulus. "Mas tahu kamu takut bangun karena Mas pernah jahat sama kamu. Tapi tolong, kasih Mas satu kesempatan untuk membuktikan kalau Mas sudah berubah. Mas tidak akan memintamu menjadi istri yang melayani Mas sekarang. Mas hanya ingin kamu menjadi Rina yang dulu... Rina yang punya mimpi."