NovelToon NovelToon
Sistem Reward 2× Lipat

Sistem Reward 2× Lipat

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Sistem / Mengubah Takdir / Mafia / Romansa
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Loorney

Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.

Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.

Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - Isi Kepala Ayah

Malam sudah tiba ketika Andy melangkah masuk ke rumah setelah seharian beraktivitas. Dahinya berkerut—bukan karena masalah, tapi justru karena melihat sesuatu yang sudah lama tak ia saksikan.

Begitu pintu terbuka, Mawar langsung menyambutnya dengan senyuman lebar.

"Hai, Ayah!" serunya riang sambil melambai kecil, lalu kembali fokus pada ponsel dengan kepala bergoyang-goyang dan senandung lembut yang mengalir tanpa beban.

Andy membeku. Tubuhnya tegang.

Ia menoleh mencari Linda, yang baru saja selesai menutup pagar. Ekspresinya penuh tanya—dan Linda, sebagai istri yang sudah mengenalnya bertahun-tahun, langsung membaca semuanya.

Saat sudah di samping Andy, Linda berbisik pelan, hanya untuk suaminya.

"Tetangga kita sudah pulang."

Senyum tipis mengembang, lalu ia berjalan masuk, meninggalkan Andy di ambang pintu dengan kebingungan yang masih menggelayut.

Dia lagi?

...*•*•*...

Benar, semua karena pria asing itu lagi.

Dua hari setelah kepergiannya yang tanpa kabar, Mawar berubah total. Bukan menjadi lebih buruk—justru lebih aneh. Setiap hari ia terlihat resah, mondar-mandir tanpa tujuan jelas, lalu tiba-tiba keluar rumah sebentar seolah memastikan sesuatu, dan kembali lagi sambil menggigit jarinya.

Andy, yang akhir-akhir ini lebih banyak di rumah karena jadwal rapat yang longgar, jadi saksi bisu atas perubahan itu. Ia duduk di sofa dengan buku di tangan—atau kadang hanya pura-pura membaca—sementara matanya diam-diam mengamati gerak-gerik anaknya dari sudut pandang.

Kenapa dia? pikirnya penasaran. Kayak orang kebelet pipis tapi lupa jalan ke toilet.

Tangannya tanpa sadar mencengkeram buku lebih keras. Halaman yang sama sudah ia baca berulang kali—bolak-balik, maju-mundur—tapi tak ada satu kata pun yang masuk ke kepala. Matanya memang bergerak mengikuti baris demi baris, tapi pikirannya? Jauh. Melayang ke tempat yang tak ada hubungannya dengan huruf-huruf itu.

Sekarang, benaknya sedang bertarung dengan beberapa spekulasi liar:

"Mungkin dia nunggu paket?"

Tapi Mawar tak pernah se-resah ini hanya karena paket. Biasanya ia hanya duduk santai sambil scroll ponsel, tak pernah mondar-mandir seperti orang kehilangan arah.

"Lagi cari angin?"

Di dalam rumah? Dengan kipas angin menyala? Tidak masuk akal.

"Apa mungkin... karena pria asing itu lagi?"

Deg.

Andy mengerjap. Pria asing. Gerard. Tetangga baru yang tiba-tiba membuat anaknya berubah drastis sejak pertama kali bertemu.

Napasnya memburu. Niat untuk beristirahat setelah bekerja kini benar-benar hancur. Ia ikut resah—ikut terbawa arus kecemasan yang bahkan tak jelas sumbernya.

Buku di tangannya terasa semakin berat. Tapi ia tak bisa meletakkannya. Kalau sampai buku itu ditaruh, berarti ia mengakui bahwa perhatiannya sudah sepenuhnya tersita oleh ulah anaknya. Dan itu... tidak boleh.

Hubungan mereka memang baik-baik saja. Sangat baik, bahkan. Tapi semenjak Mawar menginjak usia remaja, sesuatu berubah. Bukan drastis, tapi bertahap—seperti pasir yang merembes di sela jari, perlahan tapi pasti. Jarak di antara mereka mulai meregang, dan Andy tak tahu kapan tepatnya itu mulai terjadi.

Dulu, Mawar selalu tersenyum. Selalu menempel. Kalau Andy pulang kerja, ia akan berlari menyambut, melompat ke pelukan, dan bercerita panjang lebar tentang hal-hal kecil yang membuat matanya berbinar.

Sekarang? Mawar lebih banyak diam di kamar. Kalau keluar, hanya untuk makan atau sekadar "iya" dan "tidak" saat ditanya. Andy sudah mencoba segalanya—mengabulkan setiap permintaan, mengajak jalan-jalan, duduk bersama untuk sekadar mengobrol. Tapi hasilnya tetap sama. Mawar menyimpan sesuatu yang tak bisa ia pahami.

Sudah berkali-kali ia bertanya pada Linda. Dan berkali-kali pula Linda menjawab dengan tenang:

"Tenang, Sayang. Mawar baik-baik saja. Dia cuma udah makin besar. Itu normal.

Normal? Masa pertumbuhan?

Hanya karena itu hubungan kita berubah seratus delapan puluh derajat? pikir Andy kesal bercampur sedih. Itu pasti bercanda.

Karena ia ingat betul—dulu, saat Mawar masih kecil, ia pernah berkata dengan polosnya, "Suatu saat nanti aku mau nikah sama Ayah!"

Saat itu, Andy hanya tertawa dan mengelus rambutnya. Tapi di dalam hati, ia meleleh. Itu adalah salah satu momen paling membahagiakan dalam hidupnya.

Dan sekarang? Mawar tampak begitu resah karena suatu hal yang tak mampu ia pahami. Kekhawatiran dan kekesalan bercampur jadi satu di dada Andy—setidaknya sebelum Linda datang membawa segelas teh hangat, duduk di sampingnya dengan senyuman yang menenangkan.

"Sayang, sudah," ucap Linda lembut sambil mengusap bahu Andy, memijatnya pelan. "Mawar lagi mikirin sesuatu. Kita perlu kasih dia ruang."

Andy menyeruput teh itu. Hangatnya merambat ke tenggorokan, perlahan menyadarkannya dari pusaran pikiran yang kacau. Setelah meletakkan cangkir, ia menoleh pada Linda yang kini duduk di sampingnya.

"Mamah tahu dia kenapa?" tanyanya, tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.

Linda termenung sejenak. Matanya beralih ke arah tangga terakhir kali Mawar terlihat, lalu kembali pada Andy yang menanti dengan wajah serius. Situasi seperti ini sudah sering ia hadapi, tapi tetap saja—melihat Andy bergulat dengan egonya sendiri... selalu menyenangkan.

"Hmm~" Linda tersenyum simpul, matanya menyipit penuh arti. Tapi karena tak tega, akhirnya ia menjawab.

"Ayah... Mawar sudah cerita banyak ke Mamah. Katanya, dia khawatir karena temannya menghilang. Tak kunjung memberi kabar. Begitu!"

Linda terdengar bersungguh-sungguh, memaksa Andy untuk mempercayainya. Pria itu mengangguk kecil, enggan, tapi setidaknya harus ia percayai untuk meredakan perasaan rumitnya yang masih berkecamuk.

Benar, mungkin temannya. Bukan pria itu. Batin Andy, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Hampir saja ia bisa mempercayai itu.

Namun di hari berikutnya, Mawar masih menunjukkan sikap yang sama. Saat sarapan, tatapannya kosong, tanpa semangat. Ia hanya memainkan makanan dengan garpu, sesekali menggeser nasi di piring, tanpa benar-benar menyentuhnya.

Hal itu terus berlangsung. Satu hari. Dua hari. Tiga hari.

Bahkan sampai seminggu, suasana hatinya tak kunjung membaik. Semua usaha Andy—mengajak bicara, membelikan makanan kesukaan, duduk di sampingnya tanpa banyak tanya—selalu berakhir dengan penolakan halus yang disertai senyuman tipis dipaksakan.

Andy pikir, ia sudah tak punya tempat di hati anaknya.

Dan itu menghancurkannya.

Pekerjaan yang biasanya jadi pelarian kini terasa hambar. Wajahnya selalu tertekuk. Di sela rapat, di tengah perjalanan, bahkan saat mencoba tidur—satu pertanyaan terus berputar di kepalanya:

Apa salahku? Apakah aku sudah gagal jadi ayah?

Sudah tak ada amarah. Tak ada kekesalan. Tak ada juga kebencian pada tetangga barunya. Hanya seorang pria paruh baya yang merenungkan masa lalu, memutar ulang setiap momen, mencari tahu di mana ia salah.

Tapi ia tak akan pernah menemukan jawabannya.

Karena semua yang terjadi pada Mawar—bukan karena Andy. Bukan karena kesalahan atau kegagalannya sebagai ayah. Tapi karena perasaan pribadi yang menggebu, yang mengkhawatirkan seseorang yang kini begitu berarti dalam hidupnya.

...*•*•*...

"Ayah?"

Suara itu datang dari dekat. Andy yang masih terpaku di ambang pintu mendengar panggilan lembut yang sudah lama tak ia dengar dengan nada seperti itu. Ia mengangkat wajah—Mawar kini berdiri tidak jauh, menatapnya dengan alis berkerut.

"Kenapa masih berdiri di sana?" tanya Mawar, suaranya mengandung kecemasan yang samar.

Andy hanya menggeleng. Ia ingin menjawab, tapi entah kenapa kata-kata tak bisa keluar. Tenggorokannya terasa kering.

Mawar tidak menerima itu sebagai jawaban. Ia berjalan mendekat, langkahnya pelan tapi pasti. Semakin dekat, semakin jelas sorot matanya—dan saat tangannya terulur, meraih tangan Andy, pria itu tersentak.

Hangat.

Hangat yang sudah lama tak ia rasakan. Hangat yang dulu selalu ia sambut setiap pulang kerja, saat Mawar kecil berlari dan melompat ke pelukannya. Hangat yang sekarang hadir kembali melalui genggaman jemari putrinya sendiri.

"Ayah baik-baik aja?" Mawar menatapnya lekat, alisnya menekuk penuh tanya. "Nggak enak badan?"

Andy membeku.

Momen ini... terasa begitu familiar. Seperti kilas balik yang tiba-tiba diputar di depan matanya. Sosok kecil yang dulu selalu bertanya dengan suara cempreng kini menjelma menjadi gadis muda dengan kecemasan yang sama di wajahnya.

Tanpa sadar, sudut bibir Andy terangkat. Bergetar sedikit. Ada sesuatu yang hangat merembes di dadanya, sesuatu yang sudah lama ia kira hilang.

"Tidak, Sayang." suaranya keluar lemah, hampir berbisik. "Ayah baik-baik saja."

1
Loorney
Nulis buru-buru emang bikin kacau, update dulu baru revisi 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!