NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: PENGEJARAN DI JALANAN

#

Van Bayu sampai di apartemen Maya lima belas menit kemudian. Tekong parkir di gang belakang. Mesin masih nyala.

Bayu turun cepat. Lihat sekeliling. Gelap. Sepi. Cuma lampu jalan yang nyala redup.

"MAYA!" teriaknya pelan tapi jelas.

Dari bayang-bayang, Maya muncul. Bawa tas ransel besar. Napasnya ngos-ngosan. Wajah pucat.

"Gue... gue udah ambil semua yang penting..."

"Bagus. Naik."

Maya naik ke van. Duduk di belakang. Peluk tasnya erat.

Bayu ikut naik. "GAS!"

Tekong injak gas. Van meluncur cepat keluar gang.

Tapi pas sampe ujung gang...

DOR! DOR! DOR!

Tembakan!

Kaca depan van pecah. Peluru menembus. Nyaris kena kepala Tekong.

"SIALAN!" Tekong injak rem mendadak. Van berhenti.

"TURUN! SEMUANYA TURUN!" teriak Bayu.

Mereka bertiga turun cepat. Berlindung di balik van.

Dari depan, tiga mobil hitam menghalangi jalan. Pintu terbuka. Enam orang keluar. Bersenjata. Pistol. Senapan.

"KENZO SAMUDERA! KELUAR! ATAU KAMI TEMBAK!" teriak salah satu dari mereka.

Bayu mengintip dari balik van. Lihat wajah mereka.

Bukan polisi. Bukan preman biasa.

Ini... tentara bayaran. Profesional.

"Raka... lo kirim orang-orang ini..." gumam Bayu.

Maya menatapnya panik. "Gimana?! Kita kepung!"

Bayu mikir cepat. Lihat sekeliling. Gang sempit. Dinding tinggi kiri kanan. Nggak ada jalan keluar kecuali...

Motor.

Di pinggir gang, ada motor tua. Bebek rusak. Pemiliknya mungkin lagi tidur di apartemen.

"Tekong, lu bawa Maya. Lewat atap. Lompat dari atap ke atap sampai jalan lain."

"Terus lu?!"

"Gue umpan. Gue bikin mereka kejar gue."

"LU GILA?!"

"GUE NGGAK PUNYA PILIHAN!"

Bayu keluar dari balik van. Tangan terangkat. "JANGAN TEMBAK! GUE KELUAR!"

Enam orang itu langsung arahkan senjata ke dia.

"JALAN PELAN! TANGAN TETAP DI ATAS!"

Bayu jalan pelan. Tapi matanya melirik ke motor tua itu.

Lima meter. Empat meter. Tiga meter.

Lalu...

Dia lari!

Cepat! Loncat ke motor. Tendang standar. Nyalain mesin.

Motor nyala sekali coba. Keberuntungan.

"TEMBAK DIA!"

DOR! DOR! DOR! DOR!

Peluru berterbangan. Kena dinding. Kena tanah. Satu nyaris kena kaki Bayu.

Tapi dia udah gas motor. Meluncur cepat keluar gang.

"KEJAR! JANGAN SAMPE DIA KABUR!"

Tiga mobil langsung balik. Kejar motor Bayu.

***

Jalanan malam kota besar. Nggak sepi. Ada beberapa mobil. Taksi. Truk.

Motor Bayu ngebut di antara mereka. Zigzag. Nyalip kiri kanan.

Di belakang, tiga mobil hitam kejar dengan kecepatan tinggi.

Mobil paling depan sejajar dengan Bayu. Jendela terbuka. Seorang pria ngeluarin pistol.

DOR! DOR!

Bayu tunduk. Peluru melewati atas kepalanya.

Dia belok tajam ke kanan. Masuk gang kecil.

Mobil ikut belok. Tapi terlalu lebar. Nabrak tong sampah. Melambat.

Bayu keluar gang. Masuk jalan raya lagi.

Tapi dua mobil lain udah nunggu di depan. Nghalangin.

"Sial!"

Bayu belok keras ke kiri. Motor hampir jatuh. Tapi dia bisa jaga keseimbangan.

Masuk jalan sempit. Pasar malam. Banyak pedagang. Banyak orang.

"MINGGIR! MINGGIR!" teriaknya sambil terus ngebut.

Orang-orang berteriak. Lari berantakan. Dagangan jatuh. Chaos.

Mobil di belakang nggak bisa masuk. Terlalu sempit.

Tapi mereka turunin dua orang. Kejar dengan motor juga.

Bayu lihat dari spion. Dua motor kejar dia.

Dan mereka... lebih cepat.

"Nggak bisa lari terus..."

Bayu belok tajam keluar pasar. Masuk jalan besar lagi.

Di depan, jembatan layang. Panjang. Lurus.

Dia gas motor maksimal. Kecepatan naik. Delapan puluh. Sembilan puluh. Seratus.

Angin menghantam wajahnya keras. Mata perih.

Dua motor di belakang makin deket. Salah satunya ngeluarin pistol.

DOR! DOR! DOR!

Peluru melesat. Satu kena knalpot motor Bayu. Percikan api.

"SIAL!"

Bayu ambil pistol dari pinggang. Tembak balik tanpa ngeliat.

DOR! DOR!

Nggak kena.

Tapi bikin mereka melambat sebentar.

Bayu lihat ujung jembatan. Belok tajam ke kanan.

Dia belok. Motor miring hampir nyentuh aspal.

Tapi satu motor di belakang nggak sempet belok.

Langsung nabrak pembatas jembatan.

BRAKK!

Motornya meledak. Orangnya terlempar. Jatuh dari jembatan.

Satu lagi masih kejar.

Bayu masuk gang-gang kumuh. Rumah padat. Sempit. Gelap.

Motor di belakang masih setia ngikutin.

"Keras kepala..."

Bayu ambil sesuatu dari saku jaket.

Granat kecil. Dibeli dari Dedi kemarin buat jaga-jaga.

Dia cabut pin. Tahan tuas.

Lihat spion. Motor di belakang makin deket. Lima meter. Empat meter.

Bayu lempar granat ke belakang.

BOOMM!

Ledakan besar. Api menyembur. Motor di belakang kena langsung.

Orangnya terpental. Nabrak tembok. Nggak gerak lagi.

Bayu terus ngebut. Keluar dari gang kumuh. Masuk jalan raya lagi.

Lihat belakang. Nggak ada yang kejar lagi.

Dia melambat. Napas tersengal. Jantung berdegup keras kayak drum.

"Gue... gue selamat..."

Motor berhenti di pinggir jalan. Bayu turun. Duduk di trotoar.

Tangannya gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena adrenalin yang masih tinggi.

Dia ambil handphone. Telepon Tekong.

"Lu aman?" tanya Tekong langsung.

"Aman. Lu?"

"Aman. Gue sama Maya udah di tempat aman. Gudang lama di pelabuhan."

"Bagus. Gue kesana."

Telepon ditutup.

Bayu berdiri. Lihat motor yang udah rusak parah. Knalpot copot. Bodi penyok.

"Maaf, Pak. Gue pinjem motornya."

Dia ninggalin motor itu. Jalan kaki.

Nyari taksi atau angkot.

Sepuluh menit kemudian, dapet angkot. Naik. Duduk di belakang.

Angkot jalan pelan. Musik dangdut kencang dari speaker murahan.

Bayu menatap keluar jendela. Kota yang penuh lampu. Gedung tinggi. Orang-orang sibuk.

Tapi di pikirannya... cuma satu hal.

"Raka udah tau gue masih hidup."

Dia nggak lagi sembunyi di bayang-bayang.

Sekarang... dia target.

Dan Raka... nggak akan berhenti sampai dia mati.

"Perang... makin panas."

Bayu tersenyum pahit.

"Tapi gue nggak akan mundur. Gue udah terlalu jauh."

Angkot berhenti di dekat pelabuhan. Bayu turun. Bayar. Jalan ke gudang lama.

Di sana, Tekong dan Maya udah nunggu. Duduk di kardus bekas.

Maya langsung berdiri pas lihat Bayu. Lari. Peluk dia erat.

"GUE KIRA LU MATI!"

Bayu terdiam sebentar. Lalu balas peluk. Pelan.

"Gue nggak gampang mati."

Maya nangis di dadanya. "Maaf... maaf gara-gara gue, lu hampir mati..."

"Bukan salah lu. Ini... memang risikonya."

Maya lepas pelukan. Usap air mata. "Sekarang gimana? Mereka udah tau kita di mana..."

"Kita pindah. Nggak bisa tinggal di satu tempat lama-lama."

Tekong berdiri. "Gue tau tempat. Rumah tua temen gue. Udah nggak dipake. Jauh dari kota. Aman."

"Oke. Besok kita pindah kesana. Malam ini... tidur dulu. Kita semua capek."

Mereka tidur di gudang itu. Di atas kardus. Dingin. Nggak nyaman.

Tapi... aman.

Untuk sementara.

***

Sementara itu. Mansion Samudera.

Raka dapat telepon dari anak buahnya.

"Mas... kita gagal. Dua orang mati. Satu luka parah. Kenzo kabur."

Raka menggebrak meja. "BODOH! KALIAN ENAM ORANG! NGGAK BISA TANGKEP SATU ORANG?!"

"Dia... dia terlalu cepat. Dan dia punya senjata. Bahkan granat."

"DASAR NGGAK GUNA!"

Telepon ditutup.

Raka berdiri. Jalan mondar-mandir di ruang kerjanya.

"Kenzo... lu emang beda sekarang..."

Dia buka laci. Keluarin pistol. Cek peluru. Penuh.

"Kalau anak buah nggak bisa... gue yang turun sendiri."

Dia tersenyum dingin.

"Dulu gue sering pukul lu. Sekarang... gue akan bunuh lu."

Dan malam itu...

Dua saudara tiri...

Bersiap untuk perang langsung.

Perang yang cuma satu yang bisa hidup.

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!