Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 10: Mobil para pemburu
Hujan turun deras, menyamarkan suara langkah sepatu bot Reggiano di atas beton yang retak. Di sini, tidak ada aroma melati atau biskuit jahe.
Udara hanya berisi bau oli mesin, besi berkarat, dan mesiu.
Reggiano berdiri di atas atap gudang tua, memegang senapan runduk L115A3. Matanya menempel pada lensa bidik, mengunci seorang pria yang dikelilingi belasan pengawal di bawah sana.
Dia bukan target dari Vauclain, melainkan faksi pemberontak yang mencoba menyabotase jalur logistik Organisasi.
"Target terkunci," bisik Reggiano pada alat komunikasi di kerahnya.
"Eksekusi sesuai perintah, Reggiano. Jangan sisakan saksi," suara dingin operator di seberang sana menjawab.
Reggiano menarik napas dalam, menahannya. Jari telunjuknya perlahan menekan pelatuk.
DOR!
Peluru menembus kaca mobil baja, tepat di dahi sang target. Suasana di bawah langsung kacau. Teriakan dan suara tembakan balasan membabi buta ke arah atap, namun Reggiano sudah bergerak. Ia melompat turun dari ketinggian lima meter, berguling, dan langsung menghujamkan pisau taktisnya ke leher pengawal pertama yang ia temui.
Ia bergerak seperti hantu.
Tanpa emosi.
Tanpa ragu.
Seorang pengawal bertubuh besar mencoba menerjangnya dengan kapak. Reggiano menghindar dengan gerakan minimalis, menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu mematahkannya dengan satu entakan kasar. Sebelum pria itu sempat berteriak, Reggiano melepaskan tembakan jarak dekat dari pistol Glock 17 miliknya tepat di jantungnya.
"Satu lagi," gumamnya datar.
Wajahnya terciprat darah hangat, namun matanya tetap dingin. Di momen seperti ini, Reggiano adalah predator puncak. Ia tidak memikirkan Seraphine. Ia tidak memikirkan Elena. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya agar setiap nyawa di depannya berhenti berdenyut.
Setelah lima menit, gudang itu sunyi.
Reggiano berdiri di tengah genangan darah dan selongsong peluru. Ia mengeluarkan sapu tangan, menyeka noda darah di kacamata peraknya hingga mengkilap kembali.
Ia mengeluarkan ponsel, mengirim satu pesan singkat ke pusat: "Area bersih. Logistik aman."
Reggiano berjalan keluar menuju mobilnya yang terparkir di kegelapan. Ia melepaskan sarung tangan kulitnya yang basah oleh darah, membuangnya ke tempat sampah, lalu menyalakan mesin. Saat itulah, ia melihat pantulan wajahnya di spion. Wajah yang penuh kegelapan.
Ia tahu, sebentar lagi ia harus pulang menemui Elena, dan besok ia akan kembali ke toko Seraphine sebagai "pria kantoran yang sopan". Kontras itu mulai terasa seperti pisau yang mengiris kewarasannya.
Pukul 23.45. Langit di atas Sektor Barat tertutup jelaga hitam yang dimuntahkan cerobong pabrik, membuat tetesan hujan yang jatuh terasa asam dan pekat. Reggiano berdiri di balik bayangan pilar beton jembatan layang yang berkarat. Di depannya membentang area galangan kapal tua yang kini beralih fungsi menjadi pasar gelap senjata bagi faksi-faksi pembangkang.
Ini adalah sisi dunia yang dikuasai Reggiano dengan mutlak. Tidak ada sopan santun, tidak ada kacamata perak yang turun ke ujung hidung, yang ada hanyalah Reggiano sang Eksekutor, malaikat maut yang bekerja dalam senyap.
Di bawah lampu halogen yang berkedip-kedip, terlihat sekitar dua puluh orang pria bersenjata lengkap sedang memindahkan kargo dari sebuah kapal kargo kecil. Mereka bukan amatir; mereka adalah mantan tentara bayaran yang disewa untuk mengkhianati Organisasi. Reggiano memperhatikan setiap pergerakan mereka melalui teropong termal. Ia menghitung napas, menghitung sudut tembakan, dan memetakan rute pelarian tercepat.
"Vince, matikan seluruh jaringan listrik di dermaga tujuh. Sekarang," perintah Reggiano melalui earpiece.
"Dimengerti, Tuan Herbert. Selamat berburu."
CTAK!
Seluruh area dermaga mendadak gelap total. Kepanikan pecah dalam hitungan detik. Reggiano menurunkan gawai penglihatan malamnya. Dunia di matanya berubah menjadi gradasi hijau neon yang tajam. Ia melompat dari ketinggian tiga meter, mendarat tanpa suara di atas tumpukan kontainer besi.
Ia tidak menggunakan senapan jarak jauh. Untuk pengkhianat, ia lebih suka menggunakan tangan dinginnya.
Reggiano bergerak secepat bayangan.
Pria pertama yang ditemuinya mati bahkan sebelum menyadari ada seseorang di belakangnya, belati Reggiano menyayat urat lehernya dengan presisi bedah. Tanpa suara, tubuh itu roboh ke genangan air hujan.
Satu per satu, para penjaga di perimeter luar menghilang.
"Ada hantu! Seseorang di sana!" teriak salah satu penjaga yang melihat rekannya menghilang ke kegelapan. Ia melepaskan rentetan peluru senapan mesin ke arah tumpukan kayu, namun Reggiano sudah berada di atas kepalanya.
Reggiano menerjang turun, lututnya menghantam dada pria itu hingga tulang rusuknya remuk.
Di saat yang sama, ia merebut pistol sang penjaga dan melepaskan tiga tembakan beruntun ke arah dua orang lainnya yang mencoba mendekat.
Tepat di mata.
Tepat di tenggorokan.
Tepat di jantung.
Ia tidak membuang satu peluru pun. Reggiano bergerak di antara tembakan musuh dengan ketenangan yang mengerikan, seolah peluru-peluru itu enggan menyentuh kulitnya. Setiap gerakannya luwes sekali.
Saat seorang pria mencoba menghantamnya dengan pipa besi, Reggiano menangkap pipa itu dengan tangan kiri, memutarnya hingga lengan pria itu terpelintir keluar dari sendinya, lalu menghantamkan siku kanannya ke pelipis lawan hingga tak sadarkan diri atau mungkin mati.
"Siapa kau?!" teriak pemimpin kelompok itu, mundur ke arah kapal sambil mengacungkan pistol Desert Eagle.
Reggiano berjalan perlahan keluar dari kegelapan. Cahaya lampu yang tersisa menyoroti mantel hitamnya yang basah oleh air dan darah. Wajahnya tetap datar, tanpa kebencian, tanpa kemarahan. Hanya ada kekosongan yang dalam.
"Aku adalah konsekuensi dari pilihanmu," jawab Reggiano rendah.
Sebelum pria itu sempat menarik pelatuk, Reggiano melempar pisaunya. Senjata tajam itu berputar di udara dan menancap tepat di punggung tangan sang pemimpin yang memegang pistol.
AAAKKKK!!!
Pria itu menjerit, senjatanya terjatuh.
Reggiano sudah berada di depannya dalam sekejap, mencengkeram lehernya dan mengangkatnya hingga kakinya menggantung.
"Katakan padaku," bisik Reggiano, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan.
"Di mana sisa kargo yang kalian sembunyikan?"
Pria itu meludah ke arah Reggiano, darah bercampur air liur mengenai pipi sang Eksekutor. Reggiano tidak berkedip. Ia hanya mempererat cengkeramannya hingga wajah pria itu membiru. Dengan satu gerakan sentakan yang brutal, Reggiano mematahkan tulang selangka pria itu untuk menunjukkan bahwa dia tidak sedang bermain-main.
"Sektor... Sektor Lima... Gudang C..." rintih pria itu kesakitan.
"Terima kasih atas kerja samanya."
KRAK!
Reggiano mematahkan leher pria itu tanpa ragu. Ia membiarkan mayat itu jatuh ke lumpur lalu berdiri di tengah-tengah belasan mayat yang bergeletakan, napasnya tetap teratur, jantungnya berdetak stabil. Inilah dirinya yang asli. Sosok buas yang tidak mengenal belas kasih, mesin pembunuh yang dibangun bertahun-tahun dari ribuan mayat yang memiliki dosa.
Reggiano itu pembunuh, tapi ia tidak pernah membunuh mereka yang tidak memiliki dosa
Ia menyalakan korek api, membakar salah satu tumpukan dokumen pasaran di dekatnya untuk menghapus jejak. Api membumbung tinggi, menerangi sosoknya yang berdiri tegak di tengah kehancuran.
Saat ia berjalan pergi menuju mobilnya, tangannya tanpa sadar meraba saku mantelnya. Di sana, ia merasakan tekstur kasar dari bunga mawar kecil yang diberikan Seraphine tadi sore. Untuk sesaat, bau darah yang amis di tangannya seolah kalah oleh aroma bunga yang samar.
Reggiano terhenti. Ia melihat tangannya yang berlumuran darah kental di bawah cahaya api. Ia merasa aneh. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama sepuluh tahun menjadi Eksekutor. Bagian dari dirinya yang baru saja "disembuhkan" oleh Seraphine seolah mulai menolak nafsu membunuh yang menjadi makanannya sehari-hari.
"Sial," umpatnya lirih.
Ia segera masuk ke mobil, menginjak gas dalam-dalam, mencoba menjauh dari dermaga berdarah itu sesegera mungkin. Ia harus membersihkan diri. Ia harus menghilangkan bau kematian ini sebelum ia kembali ke apartemen dan melihat wajah polos Elena yang sedang tidur.
Reggiano memacu mobil sedan hitamnya, membelah jalanan luar yang sepi.
Jarum kecepatan mobil menyentuh angka 180 km/jam, namun di kaca spion, sorot lampu xenon yang tajam terus membayangi. Para pengawal dari galangan kapal tadi rupanya telah menyiapkan unit pengejar, tiga SUV lapis baja yang kini mengepungnya dari belakang dan samping.
DOR!
DOR!!
DOR! DOR!
Kelasss
Rentetan peluru dari senapan mesin berat mengoyak bodi belakang mobil Reggiano. Kaca belakang hancur berkeping-keping. Reggiano merunduk rendah, memutar kemudi dengan satu tangan sambil membalas tembakan melalui jendela samping yang sudah pecah.
Satu mobil oleng setelah peluru Reggiano menghantam ban depannya, namun dua lainnya semakin menggila. Mereka tidak berniat menangkapnya hidup-hidup mereka ingin meratakan sang Eksekutor di aspal.
"Vince! Jalur evakuasi di jembatan layang Sektor Lima, sekarang!" teriak Reggiano ke alat komunikasi.
"Tuan Herbert, ada barikade di depan! Mereka menjebak anda!"
Reggiano mendongak. Di ujung jalan layang, dua truk besar melintang menutup jalan. Di belakangnya, SUV musuh mulai menabrakkan bumper mereka ke mobil Reggiano, berusaha memutar arah kendaraannya agar terbalik. Reggiano melirik tangki bensin cadangan di kursi belakang yang sudah ia siapkan untuk keadaan darurat. Ia tahu tidak ada jalan keluar dengan cara normal.
"Jika aku harus terbakar, kalian akan ikut denganku," desisnya.
Reggiano menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai. Bukannya mengerem, ia justru memacu mobilnya tepat ke arah truk yang menghalang. Saat jarak hanya tinggal sepuluh meter, ia menendang pintu mobil hingga terbuka lebar, menarik tuas granat asap yang telah ia modifikasi dengan pemantik bensin, dan melompat keluar ke aspal yang basah.
BOOOOMMMM!!!
Ledakan dahsyat mengguncang langit Sektor Lima. Mobil Reggiano menghantam barikade truk dan meledak menjadi bola api raksasa. Gelombang kejutnya begitu kuat hingga melemparkan dua SUV pengejar ke udara dan menghancurkan beton pembatas jalan.
Tubuh Reggiano terlempar seperti boneka kain. Ia menghantam aspal dengan keras, berguling belasan kali sebelum akhirnya menghantam pilar beton jembatan dengan dentuman yang memilukan. Benturan itu membuat tulang rusuknya retak dan kepalanya menghantam sudut tajam semen.
Dunia di mata Reggiano mulai berputar. Cahaya api dari ledakan mobilnya perlahan memudar menjadi kabur. Ia mencoba menggerakkan jarinya, namun tubuhnya menolak untuk patuh. Bau bensin yang terbakar dan bau amis darah dari kepalanya sendiri adalah hal terakhir yang ia rasakan.
"Elena... Adikku..." bisiknya tanpa suara.
Kegelapan menyergapnya. Sang Eksekutor yang tak terkalahkan itu tergeletak tak berdaya di pinggir jalan layang yang sepi, pingsan di tengah puing-puing kendaraannya yang masih membara. Hujan turun semakin deras, mencoba memadamkan api, namun tidak bisa menyembuhkan luka-luka di tubuh pria itu.
Asap hitam pekat membubung dari bangkai logam yang membara, mencabik kesunyian malam di jalan layang Sektor Lima. Di tengah puing-puing yang masih memercikkan api, Reggiano tergeletak tak bergerak. Jas abu-abunya yang biasanya rapi kini sobek dan berlumuran darah yang mulai memudar tersapu hujan. Kacamata peraknya hancur beberapa meter di sampingnya.
Suara sirine musuh yang mendekat tiba-tiba senyap. Bukan karena mereka pergi, melainkan karena waktu seolah-olah melambat, lalu berhenti.
Dari balik kabut asap dan rintik hujan yang mendingin, sebuah bayangan muncul. Langkah kakinya tidak menimbulkan suara di atas aspal yang kasar. Seraphine Florence berjalan menembus kobaran api seolah-olah api itu hanyalah dekorasi yang tidak menyengat. Ia tidak mengenakan mantel hujan; gaun tipisnya tetap kering secara mustahil meski badai sedang mengamuk.
Wajahnya yang biasa tenang kini memancarkan kesedihan yang mendalam. Ia berlutut di samping tubuh Reggiano yang hancur. Jemarinya yang pucat menyentuh pelipis Reggiano yang robek, di mana darah segar terus mengalir.
"Aku sudah memperingati mu, Tuan Herbert," bisiknya, suaranya terdengar seperti desiran angin di hutan tua.
"Kenapa nyawamu terlihat begitu mudah sekali..."
Seraphine meletakkan kedua telapak tangannya di dada Reggiano. Seketika, cahaya hijau zamrud yang sangat pekat berpendar dari bawah telapak tangannya, menembus jas hitam yang basah dan masuk ke dalam jantung sang Eksekutor.
Tepat saat itu, tiga SUV musuh yang tersisa tiba di lokasi. Para pria bersenjata melompat turun, menghunuskan senapan mereka ke arah satu-satunya sosok yang berdiri di sana.
"Hei! Siapa kau? Menyingkir dari mayat itu!" teriak salah satu tentara bayaran.
Seraphine tidak menoleh. Ia hanya mengangkat satu tangannya ke udara. Dalam sekejap, retakan di beton jembatan layang mulai mengeluarkan sesuatu yang mustahil. Akar-akar raksasa yang tebal dan hitam menjalar keluar dari bawah aspal, bergerak secepat kilat.
Sebelum para pria itu sempat menarik pelatuk, akar-akar itu telah melilit mobil-mobil mereka, meremas baja lapis baja itu hingga hancur seperti kaleng minuman, dan menghempaskannya ke jurang di bawah jembatan.
Tidak ada teriakan.
Hanya suara tulang yang patah dan besi yang tertekuk, lalu kembali sunyi.
Seraphine kembali memfokuskan energinya pada Reggiano. Luka di kepala pria itu mulai menutup, dan napasnya yang tadinya tersedak mulai kembali teratur. Namun, luka ini terlalu dalam untuk disembuhkan secara instan tanpa menarik perhatian dunia luar lebih jauh.
"Hei, kau belum saatnya pulang ke tanah," gumam Seraphine.
Ia memejamkan mata, dan dalam sekejap, tanaman merambat yang muncul dari celah beton mulai melilit tubuh Reggiano dengan lembut, membentuk semacam kepompong hijau. Seraphine berdiri, lalu dengan kekuatan yang tidak masuk akal bagi tubuh mungilnya, ia memapah tubuh Reggiano yang tidak sadarkan diri.
Beberapa detik kemudian, saat tim pembersih Organisasi tiba di lokasi ledakan, mereka hanya menemukan sisa-sisa mobil yang terbakar dan jejak akar-akar pohon yang menghancurkan aspal.
Reggiano Herbert telah hilang tanpa jejak.