Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 - Keputusan Dita
Rangga mendengus kasar. "Kau selalu saja bicara tentang ketidak pantasan itu. Aku udah capek dengarnya..." katanya.
Bertepatan dengan itu, pesanan Rangga dan Dita datang. Tapi Rangga sudah kehilangan nafsu makannya.
"Kalau Kak Dita memang merasa nggak pantas, ya sudah. Aku juga nggak akan maksa. Mulai detik ini aku nggak akan berharap dengan cinta Kakak lagi. Aku akan mencoba mencari perempuan lain," sahut Rangga.
Dita menatap penuh kegelisahan. Tapi dia tidak bisa mengatakan apapun.
"Katakan berapa besar hutang Kakak? Biar aku saja mulai sekarang yang menanggungnya," lanjut Rangga.
"Jangan begitu, Dek. Aku berhutang atas kemauanku sendiri," tanggap Dita.
"Kalau Kakak nggak kasih tahu, aku akan temui rentenir yang kemarin ngejar Kakak. Mudah kok bagiku menemukan mereka."
"Jangan, Dek! Bahaya!" Dita langsung menghentikan. Dia pun terpaksa memberitahu jumlah hutangnya pada Rangga dengan berat hati.
"Kalau begitu, mulai sekarang hiduplah yang tenang, Kak. Kak Dita yakin nggak mau hidup bareng aku lagi?" Rangga menawarkan hatinya lagi untuk memastikan.
"Kau harus mencari wanita yang pantas mendampingimu." Entah kenapa kepercayaan diri Dita semakin mengecil setelah dirinya mengakui kebohongannya.
Jleb!
Hati Rangga kembali dibuat kecewa. Dia kembali menghela nafas panjang. Rangga tak mengerti kenapa Dita selalu merasa begitu.
"Baiklah kalau itu mau Kakak. Mulai sekarang, aku akan berhenti ganggu kehidupanmu. Anggap saja ini kebersamaan terakhir kita," ujar Rangga. Dia memaksakan dirinya untuk menggigit sandwich. Lalu meminum teh hangat sampai habis.
Dita menatap Rangga. Perasaannya berkecamuk. Dia terlalu overthinking memikirkan hubungannya dengan Rangga.
Setelah merasa cukup sarapan, Rangga dan Dita berpisah. Mereka mengakhiri pembicaraan dengan keheningan yang lama. Seolah semua urusan telah selesai.
Kala itu Rangga bahkan sengaja tak mengantarkan Dita karena tak mau membuat wanita itu tidak nyaman. Dia langsung melaju pergi dengan motornya.
"Aaaarghhh!!! Sialan!" Rangga memekik kencang saat mengendarai motor. Dia berani berteriak saat dijalanan sepi.
Rangga benar-benar tak mengerti jalan pemikiran Dita. Namun dari lubuk hatinya yang terdalam, dia sebenarnya sangat berterima kasih dengan kepedulian Dita. Tapi bagi Rangga, Dita menunjukkan kepeduliannya dengan cara yang salah.
Sekarang Rangga bahkan merasa bersalah dengan gelar polisi yang sudah bertahun-tahun dia dapatkan. Jadi semua gelar itu dia dapatkan dengan uang suap. Pak Alun benar, Rangga tak ada bedanya dengan polisi-polisi lain yang masuknya dengan cara jalan pintas.
Rangga langsung pergi ke kantor. Hari itu dia mendapat jadwal jaga siang.
Rangga menemui Ifan yang masih ada di penjara. Ia bahkan membuatkan kopi.
"Apa wajar ngasih kopi sama tahanan?" tukas Ifan.
Rangga tak menjawab. Dia justru berkata, "Aku sudah bicara sama Kak Dita. Dan apa yang kau katakan itu benar, Fan..."
"Lihat! Aku nggak bohong kan? Tunggu dulu, kau sudah menemukan Kak Dita?" tanggap Ifan.
Rangga mengangguk. "Tapi dia bersikukuh nggak mau menjalin hubungan denganku. Katanya dia merasa nggak pantas," ujarnya.
"Bolehkah aku memberi saran?" imbuh Ifan.
"Kalau kau menyarankanku untuk menguntitnya, aku nggak terima!" Rangga menegaskan.
"Ya enggaklah. Biarpun aku penguntit, tapi kan aku bukan psikopat."
"Menurutku penguntit itu agak psikopat loh."
"Kau mau aku kasih saran atau nggak?!"
"Rangga!" tiba-tiba Pak Bagas memanggil. Dia menyuruh Rangga masuk ke ruangannya.
Rangga lantas meninggalkan Ifan sejenak dan pergi ke ruangan Pak Bagas.
"Kasus tentang Pak Alun dan Dian sudah diserahkan ke Polres. Kau sudah tahu tentang itu kan?" timpal Pak Bagas.
"Sudah, Ndan!" sahut Rangga.
"Terus kenapa aku mendapatkan kabar kalau kau masih sibuk menyelidiki kasus itu?!" selidik Pak Bagas.
Rangga terkejut. Setahunya tidak ada orang yang tahu tentang penyelidikannya.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄