Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Istana yang Asing
Proses pemulangan itu berlangsung cepat namun dengan pengawalan ketat. Gathan menuntun Alisha dengan sangat protektif menuju mobil sedan hitam yang sudah menunggu di lobi rumah sakit. Meskipun dokter mengizinkan pulang, Gathan tetap memastikan satu tim medis siaga untuk melakukan kunjungan rutin ke rumah.
"Bas, bawa mobilnya pelan saja. Jangan sampai ada guncangan," perintah Gathan saat mereka sudah berada di dalam mobil. Baskara hanya mengangguk patuh di balik kemudi.
Di bangku belakang, Gathan tanpa ragu menarik bahu Alisha, membimbing kepala gadis itu untuk bersandar di bahunya. Alisha kembali tersentak. Jantungnya berdebar, bukan hanya karena takut ketahuan, tapi karena sentuhan Gathan terasa sangat tulus.
Perlahan, Alisha membiarkan tubuhnya rileks. Ada rasa nyaman yang aneh menyelinap di hatinya rasa terlindungi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia memejamkan mata, menghirup aroma parfum kayu cendana dari jas Gathan yang menenangkan.
Namun, ketenangan itu seketika buyar saat mobil memasuki gerbang besar otomatis.
Alisha terperangah. Di depannya berdiri sebuah bangunan megah bak istana modern dengan pilar-pilar tinggi dan halaman yang sangat luas. Penjaga berseragam rapi berdiri di setiap sudut, memberikan hormat saat mobil melintas. Jadi, seperti ini dunia Aruna? batin Alisha ngeri. Rumah ini terlalu besar untuk disebut tempat tinggal, ini adalah sebuah benteng.
Begitu pintu mobil dibuka, Elena, Clarissa, dan Julian sudah berdiri di anak tangga teratas, menyambut dengan senyum lebar yang dipaksakan.
"Syukurlah kamu sudah pulang, Aruna!" seru Elena dengan nada dramatis.
"Kak Aruna, kami kangen sekali!" Clarissa menimpali, mencoba meraih tangan Alisha.
Namun, Gathan segera menghalangi.
"Aruna masih butuh istirahat total. Dia belum ingat siapa kalian, jadi tolong jangan buat dia tertekan dengan banyak pertanyaan," ucap Gathan dingin, suaranya tidak menerima bantahan. Ia merangkul pinggang Alisha, menuntunnya masuk melewati mereka semua tanpa memberi kesempatan bagi Julian atau yang lain untuk bicara.
Gathan membawa Alisha langsung ke lantai dua, menuju sebuah pintu kayu jati besar. Begitu pintu terbuka, aroma mawar dan melati yang segar menyambut mereka. Di dalam kamar yang luasnya mungkin setara dengan seluruh rumah Alisha itu, Mbak Sari sudah menunggu.
Wajah Sari seketika cerah. Keceriaan dan sikap hebohnya yang sempat redup selama tujuh hari ini mendadak meledak kembali.
"Ya Allah, Nona! Nona Aruna!" Sari berlari kecil, tampak ingin memeluk namun tertahan karena melihat perban di kepala Alisha.
"Aduh, Nona... Mbak Sari takut sekali. Mbak sudah siapkan air hangat, baju tidur sutra kesukaan Nona, dan sup ayam jahe. Nona pucat sekali, tapi syukurlah sudah kembali!"
Sari bergerak lincah merapikan bantal dan menyiapkan tempat tidur dengan cekatan. Celotehannya yang ramai seolah menghidupkan kembali suasana kamar yang tadinya mati.
Gathan membantu Alisha duduk di tepi ranjang.
"Ini Mbak Sari, Na. Kamu mungkin belum ingat, tapi dia yang menjagamu sejak kecil. Kamu bisa percaya padanya sepenuhnya."
Alisha menatap Sari, teringat pesan Aruna asli, Jangan percaya siapapun kecuali kakakku dan Mbak Sari.
Alisha memaksakan senyum tipis, "Terima kasih... Mbak Sari."
Mendengar namanya disebut meski dengan nada yang asing Sari tampak hampir menangis bahagia. Namun, di tengah kehebohan Sari dan perhatian Gathan, mata Alisha sempat melirik ke arah pintu yang sedikit terbuka. Di sana, ia melihat Julian berdiri di kegelapan lorong, memperhatikannya dengan tatapan tajam dan penuh selidik.
Alisha tahu, di rumah yang indah ini, setiap dinding memiliki mata, dan setiap senyuman memiliki belati di baliknya.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊